Virgin (True Love)

Virgin (True Love)
Bab 70



"Kak Vanya..." Ucap Carla yang berlari dan memeluk kakak ipar nya itu.


"Hei... Carla, apa kabar sayang?" Sahut Vanya.


"Seperti yang kakak lihat, aku baik-baik saja." Ucap Carla.


Jika kedua wanita bicara soal perawatan dan kehidupan dalam berkeluarga, lain hal nya dengan para pria yang sibuk membicarakan masalah perusahaan dan bisnis yang sedang di jalani mereka masing-masing, terlebih lagi Ian yang telah di promosikan langsung oleh nyonya Liu untuk menduduki posisi direktur eksekutif di perusahaan nya.


Di tengah kesibukan perbincangan mereka, Vanya dan Carla pun datang menghampiri keduanya dengan membawa sebuah cemilan dan minuman, di susul dengan Arumi yang menggendong Valerie turun dari sebuah tangga.


"Unch... baby Vale.. kamu sudah bangun sayang? apa suara Tante membangunkan mu?" Ucap Carla yang langsung mengambil Valerie dari gendongan Arumi.


"Suara mu kayak bom meledak, bagiamana tidak membangunkannya?" Sahut Ernan yang kemudian meneguk minumannya.


"Dasar kakak lucknut! bisa kah kau jaga bicaramu itu?" Ucap Carla.


Vanya dan Ian yang melihat bercandaan kakak beradik itu hanya tersenyum.


"Ah iya, kapan kalian akan melangsungkan pernikahan? bukan kah hubungan kalian sudah cukup lama?" Tanya Vanya.


"Entahlah, mama masih mengujinya dalam mengurus perusahaan, tau sendiri kan setelah kek Ernan jadi Presdir dan sibuk dengan perusaan utama mama mendesak aku untuk kelola perusahaan itu, karena aku gak mau jadi Ian yang bertanggungjawab hehe..." Jelas Carla.


"Hmm.. ternyata adik aku sudah besar, bisa menerima tantangan seberat itu." Ledek Vanya pada Ian.


"Demi dia aku lakukan semuanya." Sahut Ian.


"Ku pegang kata-kata mu, jika aku menemukan mu dengan wanita lain, bersiaplah untuk mati konyol!" Ucap Ernan.


Ian hanya terdiam mendengar apa yang di katakan calon kakak ipar nya itu, ia tau betul bagaimana sikap Ernan yang bisa membuat musuhnya terjun bebas dalam hitungan menit.


**


Malam hari, sesuai dengan rencana mereka pergi ke sebuah restoran yang telah di siapkan dengan segala sesuatunya untuk mengatur kencan buta antara Leo dan Arumi. Vanya menyuruh Arumi untuk masuk kedalam sebuah ruangan VIP terlebih dulu dengan alasan ia harus mengambil sesuatu yang tertinggal di mobilnya, begitu juga dengan Leo setelah Arumi masuk, Ernan menyuruh asistennya untuk masuk kedalam ruangan itu.


Setelah berhasil mempertemukan mereka di dalam ruangan yang sama, Ernan dan Vanya bergegas pergi dari tempat itu dan kembali ke rumah. Ernan menghubungi sopir lain untuk menjemputnya karena sebelumnya mereka pergi berempat dalam mobil yang sama.


Cukup lama Arumi dan Leo berada di dalam ruangan itu, namun tuan dan nyonya nya tidak juga kunjung datang sampai akhirnya Leo memutuskan untuk mengubungi Ernan dan menanyakan keberadaan nya, panggilan telpon pun berlangsung begitu singkat, akhirnya Leo duduk kembali bersama dengan Arumi yang berpenampilan sedikit berbeda atas bantuan Vanya.


"Dimana tuan dan nyonya? kenapa mereka tidak kembali?" Tanya Arumi.


"Mereka bilang ada urusan lain dan langsung kembali ke rumah." Sahut Leo.


"Lalu bagaimana dengan semua ini? kenapa kita tidak menyusul mereka?" Tanya Arumi.


"Duduk dan makanlah, sepertinya tuan dan nyonya sudah dari awal menyiapkan semua ini." Ucap Leo.


"Tapi untuk apa mereka menyiapkan semua ini? bahkan ini terlalu mewah." Sahut Arumi.


"Apa aku tidak menyadari sesuatu?" Tanya Leo.


"Sesuatu apa maksud kamu?" Tanya balik Arumi.


Seketika wajah Arumi terlihat memerah, ia pun mengalihkan pandangannya dari Leo karena ini untuk yang pertama kalinya ia mendapatkan pujian seperti itu dari seorang pria. Acara makan malam berlangsung seperti biasanya, sesuai dari perintah Ernan sebelum kembali ke rumah ia menyuruh Leo untuk pergi ke sebuah bioskop dan mengambil tiket yang telah di pesan nya lengkap dengan pop corn dan cola untuk mereka berdua.


Sesampainya di bioskop, Leo langsung si sambut oleh salah satu petugas dan menyuruhnya masuk serta duduk di tempat yang telah di siapkan. Keduanya cukup begitu heran dengan apa yang mereka dapatkan hari ini namun karena tidak bisa menolak mereka pun mengikuti apa yang telah menjadi perintah Ernan.


Sebuah film bergenre horor pun di putar, kenapa Ernan memilih film genre horor? tentu nya untuk membuat suasana romantis terjalin di antara keduanya karena ia pikir wanita lebih takut dengan hantu dan akan terjadi sesuatu diantara Arumi dan Leo. Namun ternyata semua dugaan Ernan salah, alih-alih takut dengan apa yang di lihatnya Arumi justru begitu antusias menunggu kemunculan hantu dalam film tersebut, lain hal nya dengan Leo yang terlihat tidak ingin menonton film itu karena cukup menyeramkan.


"Apa kau takut?" Tanya Arumi.


"Tidak, bukankah seharusnya kau yang takut?" Tanya balik Leo.


"Biasa aja, bahkan aku sering menemukan mereka di kehidupan nyata." Sahut Arumi.


"Benarkah? apa kau bisa melihat mereka?" Tanya Leo kembali.


"Hm, sejak usia ku 10 tahun aku bisa melihat makhluk lain selain manusia." Sahut Arumi.


"Waw.. bukankah itu sangat menyeramkan?" Ucap Leo.


"Lihatlah, bahkan itu tidak seram sama sekali." Ujar Arumi yang menunjuk ke arah layar bioskop.


"Kyaaaaa...." Dengan refleks Leo berteriak dan menutup matanya ketika melihat hantu dalam film tersebut muncul.


Sontak saja teriakan Leo membuat semua orang yang berada di dalam ruangan itu melihat ke arahnya dan menyuruhnya untuk tidak berisik. Lain halnya dengan Arumi yang tertawa cekikikan melihat tingkah Leo yang ketakutan.


Film pun selesai, mereka berjalan bersamaan keluar dari bioskop itu menuju sebuah parkiran. Selama perjalanan hanya keheningan yang menemani mereka, tidak ada percakapan dari keduanya sampai akhirnya mobil yang di kemudikan Leo melewati sebuah toko bunga. Ia pun mengehentikan mobilnya di depan toko tersebut dan bergegas keluar tanpa mengajak Arumi.


Tanpa rasa curiga Arumi hanya duduk manis di dalam mobil tersebut menunggu Leo kembali, sambil menunggu Leo ia memotret dirinya sendiri dan mengunggah nya di salah satu akun medsos nya sampai salah seorang mengomentari postingannya dengan ucapan yang cukup pedas karena Arumi memang terlahir dari keluarga yang sederhana, ia hanya tersenyum tipis dan mengabaikan komentar tersebut.


Sampai akhirnya Leo kembali dengan membawa satu buket bunga berukuran kecil dan memberikannya pada gadis yang kini duduk di sampingnya.


"Apa ini atas perintah tuan Ernan lagi?" Tanya Arumi.


"Tidak, ini aku berikan untuk kamu."


"Terima jika kau suka, buang jika tidak suka." Sambung Leo.


"Baiklah, akan ku buang." Ucap Arumi yang hendak membuka kaca jendela mobil.


"Tapi sayang, ini pasti cukup mahal." Sambung Arumi kembali ketika melihat ekspresi wajah Leo yang terlihat kecewa di saat Arumi akan membuang bunga itu.


"Gak usah tegang aku hanya bercanda, makasih ya." Ucap Arumi kembali.


Leo pun tersenyum lega, ia pun kembali melajukan mobilnya.


***


Bersambung. . .