Virgin (True Love)

Virgin (True Love)
Bab 41



Beberapa hari berlalu, hari-hari yang di lalui Vanya kini lebih baik dari sebelumnya. Tidak enak terus tinggal bersama Ernan ia pun memutuskan untuk kembali tinggal di rumah sewa nya karena dalam pikirannya orang yang mengejarnya telah berhenti.


"Kenapa kau memutuskan untuk pergi? apa aku membuat kesalahan?" Tanya Ernan.


"Tidak, aku hanya merasa tidak enak aja terlalu lama tinggal disini." Sahut Vanya.


"Bukannya sebentar lagi kita akan menikah? kenapa harus merasa tidak enak?"


"Sebentar lagi final perlombaan desainer, aku gak mau mendengar omongan mereka karena kita tinggal bersama." Jelas Vanya.


"Baiklah aku mengerti, hanya saja kamu masih harus hati-hati karena aku belum bisa menemukan orang yang mengincar kamu." Ucap Ernan.


"Em, kalau ada apa-apa aku pasti hubungi kamu." Sahut Vanya.


Pria itu memeluk Vanya sebelum akhirnya ia mengantarkan gadis itu ke kampusnya bersama dengan Leo. Sesampainya di area kampus , Vanya bergegas turun dan melambaikan tangannya pada Ernan yang duduk di kursi belakang, beberapa langkah ia berjalan Vanya di kagetkan dengan tangan seseorang yang tiba-tiba merangkul dirinya. Vanya pun menoleh ke arah sampingnya yang ternyata Michelle lah yang merangkulnya.


"Tumben, Joe mana?" Tanya Vanya.


"Dia ada kelas, jadi kita harus terpisah dulu." Sahut Michelle yang sok sedih.


"Dihh lebay! gak usah pasang muka kayak gitu kesel aku lihatnya." Ucap Vanya yang berjalan duluan.


"Yak! Vanya..! dasar teman laknat..! " Teriak Michelle mengejar gadis itu.


Mereka pun berjalan bersama menuju sebuah kelas sambil bercanda dan tertawa bersama. Sementara di tempat lain, Joe yang telah selesai dengan kelasnya bergegas meninggalkan kampus dan pulang ke rumah utama atas dasar perintah ibunya.


Ketika sampai di depan rumah, dengan langkah yang malas Joe mulai melangkahkan kakinya menuju dalam rumah, kedatangan nya di sambut oleh seorang pelayan dan mengantarkannya menemui Lingga di dalam sebuah ruangan pribadinya.


"Mama kira kamu gak akan datang." Ucap Lingga yang duduk di sebuah kursi di balik meja kerjanya.


"Katakan langsung, aku tidak punya waktu banyak." Ucap Joe.


"Apa kamu puas melihat Ernan yang berhasil mendapatkan semuanya? apa kamu gak pernah berpikir bagaimana perasaan mama?" Tanya Lingga.


"Ma, sudah berapa kali aku bilang, aku gak menginginkan semua itu! apa semua yang kita punya masih kurang?" Sahut Joe.


"Tentu saja mama ingin kamu yang meneruskan perusahaan itu! mama ingin yang terbaik buat kamu!" Ucap Lingga dengan setengah membentak.


Dengan wajah yang malas dan kesal, Joe pun keluar dari ruangan itu dan pergi meninggalkan rumahnya kembali. Di depan sebuah pintu ia berpapasan dengan Lucas yang dengan sengaja datang untuk menemui lingga. Joe hanya melirik kakak sepupunya itu tanpa sebuah kata yang ia ucapkan.


Setelah Joe pergi, Lucas pun masuk menemui tantenya yang terlihat begitu marah, ia menarik perhatiannya dengan cara menenangkannya seolah-olah ia berada di pihak yang sama. Entah punya motif apa Lucas datang menemui lingga dengan secara khusus dan tanpa sebuah janji terlebih dulu.


*


"Apa kelas mu telah selesai?" Tanya Ernan dalam sambungan telponnya.


"Baru selesai, ada apa?" Sahut Vanya.


"Leo dalam perjalanan untuk menjemput mu, aku tunggu di butik." Ucap Ernan.


"Baiklah."


Sambungan telpon pun terputus, Vanya bergegas menuju parkiran bersama dengan Michelle.


"Ayo kita jalan sebelum pulang." Ucap Michelle.


Belum sempat Vanya menyelesaikan ucapannya, sebuah mobil menghampirinya dan terlihatlah seorang pria yang lumayan tampan membukakan pintu untuk Vanya.


"Ahh.. aku mengerti, pergilah selamat bersenang-senang." Ucap Michelle.


"Sampai bertemu nanti Michelle sayang.. mwah.." Ucap Vanya mengeluarkan fly kiss nya ke arah sahabatnya.


Ia pun masuk kedalam mobil dan pergi bersama dengan Leo menuju sebuah butik. Selama dalam perjalanan tidak ada percakapan diantara Leo dan juga Vanya, pria yang fokus dengan kemudinya serta Vanya memikirkan sebuah cara untuk mengungkap insiden di masalalu nya. Bayangan orang yang mengincarnya selalu terlintas di pikiran Vanya, rasa takut memanglah masih menyelimuti dirinya tapi amarah dan dendam yang lebih besar bisa mengalahkan rasa takut itu.


Tanpa di sadari Vanya mengepalkan kedua tangannya hingga menarik perhatian Leo yang sesekali memperhatikan nya dari sebuah kaca spion.


"Apa ada sesuatu yang kau takutkan?" Tanya Leo.


"Ahh.. tidak, aku hanya sedikit gugup karena lusa final perlombaan." Sahut Vanya.


Leo pun hanya tersenyum, jelas ia mengetahui kalau Vanya telah berbohong untuk menutupi perasaannya saat ini. Tak lama kemudian mereka pun telah sampai di depan sebuah toko yang baru selesai dan akan segera launching itu. Vanya pun bergegas masuk untuk menemui Ernan yang telah menunggunya beberapa menit yang lalu.


Tanpa pria itu duga, Vanya yang terkenal dengan wanita kuat, pemberani dan sedikit nakal itu tiba-tiba memeluk Ernan yang sedang berada di depan sebuah manekin dengan tatapan pada sebuah gaun yang terpajang. Ia menunduk melihat kedua tangan wanita telah melingkar di pinggang nya, Ernan pun meraih tangan Vanya dan melepaskan pelukannya yang kemudian ia berbalik hingga mereka berhadapan.


"Ada apa? kenapa tiba-tiba manja seperti ini?" Tanya Ernan.


"Apa aku tidak boleh memeluk calon suami aku sendiri?" Sahut Vanya yang berbalik bertanya.


"Tentu saja boleh, hanya saja apa kau tidak ingin menjelaskan sesuatu?" Tanya Ernan kembali.


"Apa yang harus aku jelaskan?" Sahut Vanya.


"Lupakan, aku menyuruh mu kesini hanya ingin memberikan ini." Ucap Ernan menunjukkan sebuah gaun yang terpajang.


"Tapi untuk apa? apa akan ada acara besar lagi?" Tanya Vanya.


"Aku ingin kamu mengenakan gaun itu di acara final nanti, ya.. walau mungkin aku gak bisa datang secara langsung seenggaknya aku masih bisa lihat kamu dalam sebuah siaran live." Ucap Ernan.


"Loh bukannya kamu menjadi salah satu tamu undangan dalam acara itu?" Tanya Vanya.


"Hm, kau benar tapi aku ada urusan ke luar kota jadi aku tidak bisa menghadiri acara itu." Ucap Ernan.


"Berapa lama kamu akan pergi?" Tanya Vanya dengan wajah yang begitu cemas.


"Hanya dua hari, setelah selesai aku akan langsung kembali dan menemui kamu." Jawab Ernan.


Entah sebuah firasat atau hal semacamnya, kini Vanya merasakan ada sesuatu yang aneh dalam hati dan pikirannya. Namun ia selalu mencoba berpikir positif dan menafsirkan semua itu kalau ia hanyalah lelah.


"Apa kau akan pergi bersama Leo?" Tanya Vanya kembali.


"Tidak, aku pergi sendiri dan aku menyuruh dia untuk mengawasi kamu agar kamu tidak sendiri." Ucap Ernan.


Vanya hanya mengangguk dengan wajah yang tidak seperti biasanya.


***


Bersambung. . .