
"kau baik-baik saja?" Tanya Ernan yang masih melindungi Vanya dari amukan para wanita gila itu.
Vanya hanya mengangguk kecil tanpa melepas tatapannya yang memandang wajah Ernan. Entah itu kebetulan atau bukan yang pasti Vanya merasa beruntung karena Ernan datang untuk melindunginya.
"Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu begitu mencemaskan dan mau melindungi aku?" Batin Vanya yang bertanya-tanya tentang diri Ernan.
Baju yang kotor, rambut yang berantakan serta darah yang mengalir dari pelipis gadis itu ia hiraukan. Kini hanya ada kehangatan dan perasaan nyaman yang ia rasakan, bahkan Vanya tidak menyadarinya kalau Ernan telah menggendong dan membawanya masuk kedalam rumah yang berada di lantai 2 itu.
Pria itu menurunkan Vanya di dalam sebuah kamar mandi tepatnya di bawah shower, ia menyalakan keran air hingga kini Vanya telah basah karena percikan dari air shower tersebut.
"Gadis yang malang, maaf aku datang terlambat." Ucap Ernan membelai wajah Vanya.
"Bersihkan tubuh mu, aku tunggu di luar." Sambung Ernan kembali yang bergegas pergi meninggalkan kamar mandi.
Plakk... "Astaga otak mesum! Apa yang telah aku pikirkan?" Ucap Vanya yang menampar pipinya sendiri.
Selagi menunggu Vanya, Ernan menghubungi Leo untuk membawakannya baju ganti karena kemejanya kotor terkena pecahan telur dan lain sebagainya.
Cklek... Gadis itu pun telah selesai membersihkan dirinya, ia keluar dan masuk kedalam kamarnya tanpa melirik Ernan sedikitpun. Setelah berpakaian Vanya duduk di tepi ranjang dan masih terpikirkan siapa Ernan sebenarnya?
Cukup lama menunggu, Vanya tak kunjung keluar dari kamarnya sampai akhirnya Ernan berinisiatif untuk masuk kedalam kamar gadis itu.
"Mau sampai kapan kau mengurung diri disini?" Tanya Ernan dari ambang pintu.
"Yak! Kenapa kau tidak mengetuk pintu sebelum masuk? Bagaimana kalau aku belum memakai baju?"
"Itu bahkan lebih bagus." Ucap Ernan tersenyum jahil.
Pria itu melangkah masuk dengan membawa sebuah kotak obat, ia duduk di samping Vanya dan menatap wajahnya dengan begitu lekat, bahkan pria itu membolak balikan wajah Vanya dengan sebelah tangannya untuk memastikan tidak ada luka lain selain pada pelipisnya.
"Hei apa yang kau lakukan? Aku bukan boneka! Berhentilah memainkan kepala ku!" Ucap Vanya.
"Syukurlah tidak ada yang lain." Ucap Ernan yang kemudian membuka kotak obat yang sedari tadi di genggamnya.
Sementara di sisi lain, Leo telah sampai di rumah Vanya, ia langsung menerobos masuk tanpa menekan bel atau mengetuk pintu terlebih dulu. Sesampainya di dalam rumah Leo mencari keberadaan Ernan ke setiap sudut sampai ia terhenti tepat di depan sebuah kamar.
"Ahh sakit..."
"Lakukan perlahan kau menyakitu ku!" Rancau Vanya yang menahan rasa perihnya.
"Tahan sebentar ini gak akan lama."
"Cukup, hentikan! Apa kau tidak bisa lembut sedikit?"
"Nanggung sebentar lagi selesai."
Suara desahan serta rintihan Vanya membuat pikiran Leo hilang entah kemana, ia masih berdiri di depan pintu kamar itu dengan pikiran yang benar-benar ambigu serta perasaan yang panas dingin menjalar ke seluruh tubuhnya. Leo menelan salivanya dengan cepat serta mengelus dadanya setelah mendengar sesuatu yang membuat pikiran nya hilang.
Ceklek... Sebuah pintu terbuka, Ernan keluar dari kamar Vanya dengan hanya mengenakan kimono handuk karena bajunya yang kotor serta basah, tentu saja hal itu membuat pikiran Leo semakin menjauh.
"Orang yang gak pernah menyentuh wanita, apa sekasar itu kah dia dalam melakukan hal itu?" Batin Leo.
"Kau.. ngapain diam di situ?" Tanya Ernan menatap datar Leo.
"Ahh.. ini aku membawakan pakaian ganti untuk mu tuan." Ucap Leo memberikan sebuah paper bag.
"Dasar aneh, apa yang ada di pikirannya?" Gumam Ernan yang kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah Leo kembali dan Ernan masuk ke kamar mandi, Vanya pun keluar dari kamarnya.
"Apa seburuk itu dia dalam melakukan hal medis? Luka di pelipis ku tidak begitu parah kenapa dia melilit kepala ku dengan sebuah perban? Di pakein plester juga bukannya udah cukup?" Gerutu Vanya yang berjalan menuju dapur untuk mengambil makanan ringan.
Di depan sebuah pantry Vanya membuka sebuah Snack potato dan memakannya dengan begitu lahap. Ernan yang telah selesai mandi dan melihat Vanya yang sedang asik dengan snacknya ia melangkah menghampiri gadis itu dan mendekapnya dari belakang. Seketika mulut Vanya yang sedang mengunyah pun langsung terhenti, ia melirik ke arah Ernan hingga bibirnya hampir menempel di pipi pria itu.
Dengan cepat Vanya melepaskan tangan Ernan yang melingkar di tubuhnya dan mundur beberapa langkah.
"Apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Vanya.
"Aku mau itu." Jawab Ernan yang menunjuk ke arah dada Vanya dengan menggunakan bibirnya
"Yak! Dasar mesum!" Ucap Vanya melempar pria itu dengan sandalnya.
"Hei apa yang kau pikirkan? Aku ingin Snack yang kamu pegang." Sahut Ernan yang berhasil menangkap sandal Vanya.
"Heuh?" Vanya baru menyadari kalau ia memegang Snack itu tepat di dadanya.
Wajah yang tadinya putih kini berubah kemerahan karena rasa malu dengan pikirannya sendiri. Pria itu pun kembali menghampiri Vanya hingga gadis itu terpentok di sebuah meja, Ernan menghimpit Vanya dengan kedua tangan di sisi kiri dan kanannya.
"Apa yang kau pikirkan hm? Apa kau menginginkan sesuatu?" Bisik Ernan dengan suara yang berat hingga membuat bulu kuduk Vanya merinding.
Sungguh sangat aneh, Vanya yang biasanya selalu menghindar ketika di dekati oleh seorang pria, kini ia bahkan tidak bisa menolak ketika Ernan mendekatinya. Ia seolah menyukai setiap sentuhan yang Ernan berikan pada tubuh nya termasuk kali ini ia sampai tidak menyadari kalau bibir Ernan telah menyapu habis bibir mungilnya. Ia memejamkan matanya dan mengikuti irama permainan pria yang telah membuatnya hanyut dalam sensasi yang luar biasa.
Sampai akhirnya kini bibir Ernan telah menelusuri leher Vanya dan memberikan sebuah tanda kepemilikan, ia menghisap serta mengigit kecil hingga membuat gadis itu mengeluarkan desahan nya.
"Ernannhhh..." panggil Vanya dengan suara tak karuan.
Pria itu tersenyum miring melihat wajah Vanya yang terlihat imut dan seolah menginginkan lebih darinya. Ernan pun menghentikan aktivitas nya dan berbalik berjalan menuju kamar untuk memakai bajunya. Melihat Ernan yang pergi begitu saja membuat Vanya sedikit kesal, entah itu karena ia kecewa pada Ernan yang mengentikan aktivitas nya di tengah-tengah atau karena hal lain.
Gadis itu pun mengambil minuman dan duduk bersandar di sebuah sofa ia menyulutkan sebatang rokok dan bermain dengan kepulan asap yang keluar dari mulutnya.
"Sudah berapa kali aku bilang, berhenti merokok!" Ucap Ernan yang merebut rokok di jari Vanya dan membuangnya ke sebuah wastafel.
"Apalagi yang sekarang kau inginkan?" Tanya Vanya.
"Hei.. kenapa muka mu terlihat begitu kesal? Apa kau marah karena aku menghentikan permainannya?" Goda Ernan.
"Ch, pulang sana! Ini udah malam aku juga harus bekerja "
"Mau kerja dimana? Tempat itu gak akan menerima kamu lagi."
"Yak! Apa yang kau lakukan dengan pekerjaan ku?"
"Jika aku gak bekerja gimana dengan kebutuhan aku? Tempat tinggal bahkan biaya kuliah dan...."
Cup... Ucapan Vanya terhenti ketika pria itu mencium kilat bibir Vanya yang membuatnya candu.
***
Bersambung. . .