Virgin (True Love)

Virgin (True Love)
Bab 60



"Permisi tuan, mereka telah menemukan siap pelakunya." Ucap Leo.


"Siapa di balik semua ini?" Tanya Ernan.


"Wanita itu, dia yang menyuruh orang untuk mencelakai non Vanya." Sahut Leo.


"Bangshat! Hancurkan perusahaan nya seperti punya adiknya jangan beri celah untuk mereka bangkit kembali!" Ucap Ernan yang terlihat begitu marah.


"Baik tuan." Sahut Leo yang kemudian pergi untuk menjalankan tugasnya.


Sementara itu di tempat lain, seorang gadis baru terbangun dari tidurnya karena lelah dengan aktivitas malam yang begitu panas dan penuh gairah. Terdengar suara percikan dari kamar mandi yang di sangka Shita itu adalah Ernan, ia beranjak dari tidurnya dan dan berdiri menatap keluar jendela dengan segelas air putih di tangannya, suasana hati yang begitu senang kini ia rasakan karena telah mendapatkan apa yang diinginkannya.


"Kau sudah bangun?" Tanya seorang pria yang keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah dan sebuah handuk yang melilit di pinggangnya.


Dengan rasa percaya diri dan bangga, Shita membalikkan tubuh nya yang dilengkapi dengan sebuah senyuman. Namun raut wajahnya seketika berubah ketika ia melihat sosok pria asing yang berdiri di hadapannya, ia menjatuhkan gelas yang di ganggamnya hingga terdengar bunyi nyaring dari gelas yang pecah tersebut.


"Siapa kamu?" Tanya Shita menunjuk pria itu.


"Bagaimana kamu bisa melupakan ku secepat itu? bukan kah semalam kita telah melakukan sesuatu yang begitu panas dan bahkan kau sangat menyukai itu." Ucap pria itu.


"Brengsek!! dimana Ernan?!" Bentak Shita.


"Tuan Ernan sudah pulang sebelum kita melakukannya." Ucap pria itu.


Ia pun segera berpakaian dan mengambil sebuah kamera yang berisi video dirinya bersama dengan Shita.


"Sialan! Ernan....!!" Teriak Shita yang begitu frustasi dengan apa yang terjadi padanya.


Tak lama setelah itu, Shita menerima sebuah telpon dari asistennya yang memberitahukan keadaan perusahaan yang di pimpinnya saat ini mengalami kehancuran seperti apa yang di alami adiknya. Shita membanting ponselnya dan menangkup kepalanya, ia berteriak sekencang mungkin tidak percaya dengan apa yang terjadi padanya saat ini.


*


Di sebuah rumah sakit, nyonya Liu telah siuman dan terlihat baik-baik saja setelah ia melewati masa kritisnya. Vanya yang masih merasa bersalah terus menemani di sampingnya tanpa meninggalkannya satu langkah pun.


"Vanya.. apa kau baik-baik saja? bagaimana dengan calon cucu mama?" Tanya nyonya Liu.


"Ma, yang seharusnya di cemaskan itu mama bukan aku." Sahut Vanya.


"Mama baik-baik aja, kamu gak ada yang luka kan?" Tanya nyonya Liu.


"Berkat mama aku baik-baik aja, maafkan aku udah buat mama seperti ini." Ucap Vanya.


"Hey.. semuanya bukan salah kamu. Syukurlah jika kamu dan calon cucu mama baik-baik aja." Sahut nyonya Liu.


"Bagaimana semua itu bisa terjadi?" Tanya tuan Richard.


Flashback. . .


Vanya turun dari sebuah taksi, tanpa di sadari sebuah mobil terus mengintainya semenjak ia keluar dari tempat Michelle sampai akhirnya ia berhenti di tepi jalan yang bersebrangan dengan toko yang sudah di tentukan nyonya Liu. Vanya melihat ibu mertuanya telah menunggu di seberang sana, ia melambaikan tangannya dan hendak menyeberang.


Vanya sudah memastikan jalan itu sepi dan tidak ada satu kendaraan pun yang lewat karena bukan jalan raya yang begitu ramai. Namun di saat ia melangkahkan kakinya untuk menyebrang tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang dan hendak menabrak Vanya, tapi semuanya di gagalkan oleh nyonya Liu yang langsung berlari dan mendorong menantunya itu hingga akhirnya ia yang tertabrak. Beruntungnya salah seorang penjaga toko disana berhasil memotret plat nomor mobil tersebut hingga bisa dengan mudah bawahan Ernan untuk mencari buktinya.


Flashback off


Bukan hanya Carla, tapi juga Ernan, Vanya dan tuan Richard ikut memeluk wanita yang berhati malaikat itu.


"Sudah sudah.. mama baik-baik aja kalian gak perlu sedih ok?"


"Ahh ya Ernan, bagaimana dengan perusahaan kamu saat ini?" Sambung nyonya Liu.


"Semuanya udah kembali normal." Sahut Ernan.


"Syukurlah, sekarang ajak istri kamu untuk pulang, suruh dia istirahat mama yakin dia gak pulang dari kemarin,m iya kan?" Ucap nyonya Liu.


"Dengarkan kata mama? ayo kita pulang." Ucap Ernan.


Vanya hanya mengangguk mengiyakan ucapan suaminya, mereka pun berpamitan untuk pulang. Sesampainya di rumah, Vanya teringat dengan apa yang di lakukan suaminya pada Shita si wanita ular itu, ia mengajukan beberapa pertanyaan secara beruntun sampai suaminya bingung sendiri harus menjawab yang mana dulu alhasil Ernan hanya terdiam.


"Hei.. aku serius bertanya kenapa kamu hanya diam?" tanya Vanya.


Ernan tersenyum dan menarik tubuh Vanya masuk kedalam pelukannya, ia mengelus rambut panjang istrinya dan mengecup lembut pucuk kepalanya.


"Apa kau begitu penasaran dengan apa yang aku lakukan terhadapnya?" Tanya Ernan.


Vanya mengangguk seraya menatap suaminya. "Ayo cerita, bagaimana caranya kamu mengatasi dia yang begitu licik." Ucap Vanya.


"Emm... aku hanya mengikuti kemauannya dengan melewati malam yang romantis, dinner penuh Lilin serta bunga yang bertaburan dan kamar yang indah." Ucap Ernan yang sengaja ingin menggoda istrinya.


"Katakan yang sebenarnya atau malam ini kamu tidur di sofa!" Sahut Vanya yang mencubit perut suaminya.


Ernan meringis ketika Vanya me cubit perutnya. "Aku serius, apa kau masih tidak percaya?" Ucap Ernan.


"Baiklah, tunggu surat cinta dari pengadilan!" Ucap Vanya yang langsung berbalik dan hendak melangkah meninggalkan suaminya.


Dengan tertawa geli, Ernan kembali menarik Vanya dan memeluknya dengan begitu Erat, tanpa sebuah kata ia mengecup bibir Vanya yang ia rindukan selama beberapa hari, sampai akhirnya sebuah pesan masuk di ponsel Ernan dan menghentikan aktivitasnya. Ia mengambil ponselnya dan tersenyum melihat apa isi dari pesan tersebut.


"Aku memang melakukan itu untuk membuatnya masuk kedalam perangkap, tapi apa kamu tau apa yang aku lakukan selanjutnya?" Tanya Ernan.


"Apa?" Tanya balik Vanya.


Ernan pun memperlihatkan isi pesan yang baru saja ia terima, sebuah video permainan panas Shita bersama dengan pria yang telah di bayar oleh Ernan.


"Dasar licik!" Ucap Vanya tertawa dan menoyor bahu suaminya.


"Jika aku tidak licik apa kau rela suami mu bermain dengan wanita lain?" Goda Ernan.


"jika kau melakukan itu, bersiaplah untuk kehilangan istri dan anak mu, satu lagi mendapatkan murka dari nyonya Liu." Ucap Vanya.


Ernan pun tersenyum mendengar ucapan istrinya itu, ia kembali meraup bibir mungil istrinya dan memimpin sebuah permainan lembut yang akan berubah menjadi panas karena rasa rindu yang sudah menggebu. Tanpa menghiraukan pelayan yang berlalu lalang, Ernan menggendong Vanya masuk kedalam kamarnya dengan tanpa melepas pautannya.


***


Terimakasih yang udah selalu mendukung 🙏