Virgin (True Love)

Virgin (True Love)
Bab 62



Di atap sebuah hotel, Ernan mengajak Vanya untuk melihat indahnya malam dengan pemandangan kota dan bintang yang bertaburan. Jika yang lain sibuk menikmati pesta pertunangan Carla dan Ian, lain halnya dengan sepasang suami istri yang terlihat selalu begitu romantis. Ernan lebih memilih untuk melewati malam berdua bersama dengan istrinya di sebuah atap.


"Haaahhh.. apa setelah ini semuanya akan baik-baik saja?" Ucap Vanya sambil menengadah menatap langit malam.


"Tentu saja, karena aku akan selalu menjaga mu dan calon anak kita." Sahut Ernan yang kemudian mengecup leher Vanya.


"Nghh.. bisakah kau jangan lakukan itu?" lenguh Vanya yang merasa geli akibat sentuhan bibir suaminya.


"Kau telah membuat ku candu sampai aku tak bisa menahannya setiap berada di dekat mu." Sahut Ernan yang memeluk Vanya.


"Ayo, kamu gak mungkin kan melakukannya disini?" Ucap Vanya yang kemudian menarik tangan suaminya.


Mereka pun masuk kedalam salah satu kamar hotel VIP yang telah di pesan oleh keluarga Addison. Setelah keduanya berada di dalam kamar yang sama, dengan cepat Ernan meraup bibir Vanya dan menggiringnya ke sebuah ranjang, perlahan ia baringkan istrinya itu tanpa melepas pautannya. Kecupan demi kecupan ia berikan di setiap jenjang leher Vanya hingga membuatnya mengerang merasakan sensasi nikmat dan geli.


Tak puas bermain di bagian atas, kini Ernan mulai turun menelusuri dua bukit kembar yang menjadikannya mainan favorit, balutan kain yang di kenakan Vanya pun kini berhasil ia lepaskan dan melemparkannya ke sembarang arah. "umhh~" satu suara bershasil Vanya keluarkan ketika Ernan berada di titik sensitif nya.


"Ahh~ cepatlah, kenapa kau begitu suka menyiksa ku?" Ucap Vanya di sela-sela erangannya.


"Segera sayang." Sahut Ernan yang telah siap dengan pedang pusaka nya.


"Bermainlah dengan pelan, ingat bayi mu dalam perut." Ucap Vanya.


Pria itu hanya tersenyum, kemudian dengan perlahan ia memasukan pedang kedalam sangkarnya hingga membuat Vanya melenguh panjang dan memejamkan matanya. Malam yang semula terasa dingin kini mulai perlahan terasa panas serta seprei yang tertata rapi kini berubah menjadi acak-acakan hanya dalam hitungan menit.


Ernan terus memaju mundur kan pedangnya hingga membuat Vanya tak hentinya mengerang merasakan sensasi yang luar biasa.


"Ouch.. fuckk! kau membuatku gila sayang ahh~" Ucap Ernan di sela-sela pekerjaannya.


"Asshhh~" Des*h Vanya yang menikmati permainan suaminya.


Berbagai posisi mereka lakukan hingga Vanya telah mencapai pelepasan beberapa kali, namun lain hal nya dengan Ernan yang masih dengan kuat memompa jalan keluarnya si bayi. Vanya terus merancau dan sesekali ia meremas punggung suaminya sampai akhirnya Ernan mengerang merasakan kenikmatan ketika mencapai perasannya dan terkulai lemas di atas tubuh Vanya sebelum akhirnya ia mencabut pedang pusaka nya.


"Kau selalu membuatku merasa puas." Ucap Ernan berbisik di telinga Vanya dan mengecup pipinya.


Ia pun beralih posisi tidur di samping Vanya dengan sebelah tangan yang mengelus perut istrinya yang semakin terlihat membuncit.


Sementara di sebuah aula, nyonya Liu sibuk mencari keberadaan putra dan menantunya yang sedari tadi tidak terlihat. iA mencari ke seluruh penjuru aula namun tidak berhasil menemukannya.


"Mama cari siapa?" Tanya Carla.


"itu loh.. setelah kejadian tadi mama gak melihat kakak kamu, dimana mereka?" Sahut nyonya Liu.


"Halahh mama ngapain juga sih di cari? mereka udah dewasa palingan juga di kamar" Sahut Carla.


"Ahh, kau benar mungkin mereka lelah dan beristirahat." Ucap nyonya Liu.


"Jika mereka udah masuk kamar, kemungkinan bukan istirahat tapi kerja lembur." Ucap Carla yang kemudian pergi meninggalkan mama nya.


**


Pagi hari...


"Mama gak sabar menunggu kehadiran mu sayang, sehat-sehat lah di dalam sana." Ucap Vanya yang mengelus perutnya.


Tiba-tiba kedua tangan yang cukup besar menyelusup dari belakang Vanya dan mengusap lembut perutnya. Ya, siapa lagi kalau bukan tangan Ernan yang selalu dengan tiba-tiba memeluk istrinya dimana pun mereka berada. Diluar terlihat dingin dan berwibawa namun lain hal nya jika telah bersama dengan Vanya, Ernan bisa berubah menjadi sosok pria yang lembut dan manja.


"Cepat bersihkan dirimu, apa hari ini kau tidak ke perusahaan?" Tanya Vanya.


"Hm, tapi sebelum itu aku akan membantumu untuk mengeringkan rambut." Sahut Ernan.


Ia pun mengambil alih hair dryer yang di genggam Vanya dan mulai mengeringkan rambut istrinya dengan perlahan. Setelah selesai, Ernan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, sementara dengan Vanya menghubungi Leo untuk mengambilkan baju ganti suaminya.


Tak lama kemudian, sebuah ketukan pintu terdengar dari luar dengan segera Vanya membukakan pintunya dan mendapati Leo yang membawa sebuah paper bag berisi pakaian Ernan.


"Apa tuan sudah bangun?" Tanya Ernan.


"Aku disini, ada apa?" Sahut Ernan di balik istrinya.


"Hari ini ada meeting bersama dengan tuan Daniel dari perusahaan GM group." Ucap Leo.


"Jam berapa?" Tanya Ernan.


"jam 10 tuan harus sudah berada di perusahaan." Sahut Leo.


"Baiklah, kamu boleh pergi sekarang dan tinggalkan mobil untuk ku." Ucap Ernan.


"Lalu bagaimana dengan ku?" Tanya Leo.


"Taksi banyak, bus ada atau kamu bisa panggilkan Dion untuk menjemput mu." Ucap Ernan.


"Ah, baiklah." Sahut Leo yang kemudian pergi.


Setelah menyelesaikan sarapan di hotel itu, Vanya dan Ernan pun bergegas pergi menuju parkiran, Sebelum ke perusahaan, Ernan mengantarkan Vanya terlebih dulu ke rumahnya.


"Ehh.. bukankah hari ini jadwal kamu untuk check up?" Tanya Ernan.


"Astaga aku lupa, biar aku ke rumah sakit sendiri." Sahut Vanya.


"Tidak, aku gak akan membiarkan mu pergi sendiri." Sahut Ernan.


"Yaudah aku akan menghubungi dokternya dan mengubah jadwal pertemuannya." Ucap Vanya.


"Aku pergi dulu, kamu baik-baik di rumah." Ucap Ernan yang kemudian mengecup kening istrinya dan mengusap lembut pucuk kepalanya.


Dengan langkah gontai nya Vanya masuk kedalam rumah yang yang cukup besar itu. Sementara dengan Ernan kembali melajukan mobilnya menuju perusahaan.


***


Bersambung. . .


Maaf gaje πŸ˜ŒπŸ™