
Plakkk... Sebuah tamparan yang cukup keras mendarat di salah satu wanita itu. Dengan kebetulan lewat, Michel mendengar mereka menggosipkan temannya, tentu saja hal itu membuat Michel tidak terima dengan apa yang mereka ucapkan mengenai Vanya.
"Yak!! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tiba-tiba menampar ku?" Bentak wanita yang telah di tampar Michel.
"Berani sekali lagi bergosip tentang Vanya, ku robek mulut mercon mu itu!" Ucap Michel.
"Ahh.. aku baru ingat kau temannya si wanita malam yang berhasil menggaet Presdir ternama itu, bukan begitu?"
Saat Michel mengangkat sebelah tangannya dan hendak memukul gadis di hadapannya dengan waktu yang tepat Joe datang dan menahannya, ia menyeret Michel untuk pergi dari sana.
"Yak!! Joe apa yang kau lakukan?! Biarkan aku memberinya pelajaran bedebah itu!" Berontak Michel sambil berjalan mundur.
Dengan santai Joe memasukkan Lolly pop yang sedang di makannya kedalam mulut Michel agar dia terdiam. Dan benar saja, Michel yang sedari tadi tak hentinya nyerocos akhirnya terdiam.
"Yash.. kau bahkan memberikan ku Lolly pop bekas!" Ujar Michel.
"Rasanya lebih manis bekas aku daripada kau memakan yang utuh, benar bukan?"
"Lebih enak Lolly yang berada di balik celana mu." Cetus Michel dengan ekspresi wajah nakalnya.
"Apa kau sedang menggoda ku hm?"
"Tidak, aku hanya..... Ah sudahlah lupakan."
Joe hanya tersenyum miring melihat tingkah menggemaskan kekasihnya itu.
Sementara itu di tempat lain, Ernan menghentikan mobil nya tepat di depan sebuah toko yang belum selesai sepenuhnya dan baru mencapai kurang lebih 85%.
"Bagaimana menurut mu?" Tanya Ernan.
"Lumayan, tapi untuk apa kamu mengajak aku kesini?" Sahut Vanya.
"Karena aku ingin memperlihatkan toko ini sama kamu."
"Dengan tujuan?" Tanya Vanya.
"Aku ingin kamu menyalurkan bakat mu disini, secara khusus aku beli dan mendekor ulang toko ini buat kamu." Ucap Ernan.
"Aku gak bisa menerima semua ini, karena aku gak mau berhutang sama kamu." Sahut Vanya mencoba menolak semuanya.
"Hei.. siapa juga yang akan memberikannya secara cuma-cuma?"
"Lalu?"
"Bukankah kemarin kamu bilang butuh biaya untuk bayar kuliah dan yang lainnya?"
"Dan satu lagi, kamu tetap harus membayar uang sewa rumah seperti biasanya di tambah bonus setiap hari, jadi aku akan mempekerjakan mu disini, gimana? Adil bukan?" Sambung Ernan.
"Adil pala mu!" Gumam Vanya memutarkan bola matanya.
Setelah Vanya berkeliling dalam toko tersebut, ia pun akhirnya menyetujui permintaan Ernan untuk bekerja di tempat itu sebagai karyawan paling spesial.
"Tunggu.. yang di maksud bonus setiap hari itu apa?" Tanya Vanya.
Pria itu pun mendekatkan wajahnya dengan bibir yang sedikit maju serta menggerakkan kedua alisnya. Menyadari dengan situasi yang cukup ramai, gadis itu pun mendorong wajah Ernan dengan telunjuknya.
"Dasar pria licik! Kenapa kau menggunakan segala cara untuk menjerat ku?" Ucap Vanya.
"Karena aku tidak akan membiarkan mu pergi satu langkah pun dari ku." Sahut Ernan.
"Tentu, katakanlah." Sahut Ernan.
"Dari dulu aku begitu penasaran, kenapa kamu begitu tertarik dengan ku? Apa kamu menyembunyikan sesuatu?" Kedua pertanyaan itu akhirnya Vanya lontarkan.
Pria itu pun menarik pinggang Vanya kedalam pelukannya dan berbisik "Karena sebelum nya aku belum pernah menemukan wanita yang bisa membuat aku bergairah ketika di dekatnya."
Seketika ucapan Ernan membuat wajah gadis itu berubah menjadi merah padam. Sadar akan posisinya Vanya pun mendorong pria yang kini telah memeluknya dan bergegas masuk kedalam mobil yang terparkir cukup dekat.
"Sialan! Apa yang dia lakukan di depan umum benar-benar membuat ku malu!" Gerutu Vanya.
Tak lama setelah Vanya masuk kedalam mobil, Ernan pun menyusulnya masuk dan duduk di samping gadis itu, sambil mengemudikan mobilnya ia sesekali melirik Vanya yang terlihat cemberut dan begitu menggemaskan layaknya seorang anak kecil yang minta mainan tidak di turuti, pria itu pun mengusap kepala gadis di sebelahnya dan mengulas senyumnya.
"Kenapa?" Tanya Ernan dengan begitu lembut.
Entah kenapa setiap pria itu bersikap lembut, Vanya selalu dibuat tak berdaya olehnya. Kehangatan serta kenyamanan selalu ia rasakan dari dalam diri Ernan, rasanya Vanya tak ingin mengalihkan pandangan dari wajah yang katanya seorang pria dingin dan tak pernah mengenal wanita sebelumnya. Namun hal itu berbeda dengan yang Vanya rasakan, ia mendapatkan kehangat dari sosok Ernan dan bahkan ia menganggap Ernan seperti sosok hot Daddy yang selalu membuatnya melayang dengan sentuhan yang pria itu berikan.
"Hey.. mau sampai kapan kamu menatap ku seperti itu hm? Apa ada sesuatu di wajah ku atau..." Ucapan Ernan terhenti ketika Vanya mengecup pipi nya dengan secara tiba-tiba.
Vanya yang awalnya enggan untuk menjalin hubungan dengan siapapun karena rasa trauma di masa lalu perlahan kini ia mulai mencoba kembali membuka hatinya untuk pria yang kini duduk di sampingnya.
Mendapatkan satu bonus sebuah kecupan dari Vanya membuat Ernan cukup merasa senang, akhirnya ia berhasil meluluhkan hati wanita yang di inginkan nya.
"Apa itu barusan?" Tanya Ernan.
"Gak usah GR! Bukankah aku harus memberikan bonus seperti yang kamu bilang? Anggap aja itu sebagai ucapan terimakasih untuk semuanya!" Jawab Vanya.
Ernan hanya tersenyum tipis mendengar jawaban dari Vanya, dengan keadaan yang masih mengemudikan mobilnya ia menarik tengkuk leher Vanya dan mengecup bibirnya yang untuk kesekian kalinya. Vanya yang kaget akan serangan yang mendadak itu mencoba mendorong Ernan untuk melepaskan pautannya namun pria itu malah semakin asik bermain sampai akhinya gadis itu mengigit bibir Ernan dengan cukup kencang.
"Yak! Apa kamu gila? Bagaimana kalau kamu menabrak kendaraan lain?!" Bentak Vanya yang mengkhawatirkan dirinya dan juga pria di sampingnya.
Alih-alih terdiam pria itu malah tertawa mendengar bentakan dari wanitanya. Terlihat jelas dari raut wajahnya kalau ia takut kehilangan sosok Ernan yang perlahan telah mengubah hidupnya.
"Apa kau mencemaskan ku?" Tahya Ernan yang tak berhenti menggodanya.
"Tidak, aku hanya mencemaskan diriku sendiri!" Sahut Vanya.
Tanpa menyauti lagi ucapan Vanya, kini pria itu mengemudikan mobil nya dengan begitu serius.
"Kenapa dengan perasaan ku saat ini? Kenapa aku tak bisa berhenti menatap wajah tampannya?" Batin Vanya.
Di tengah perjalanan mereka, ponsel Ernan berdering beberapa kali, ia pun menerima panggilan tersebut menggunakan sebuah earphone. Hanya beberapa menit Ernan berbincang dengan Leo dalam sambungan telponnya, ia pun memutar balikkan mobilnya dan bergegas menuju kediamannya.
"Masuklah, tunggu disini sampai aku kembali." Ucap Ernan yang menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah.
"Tapi kamu mau kemana? Apa ada hal penting sampai kau harus pergi?" Tanya Vanya yang seolah ia tak inginkan Ernan pergi satu langkah pun dari sampingnya.
"Apa kamu gak ingin aku pergi hm?" Sahut Ernan.
"Bukan seperti itu... Pergilah!" Ucap Vanya yang terlihat gugup.
"Hanya sebentar, aku akan segera kembali." Ucap pria itu mengusap kepala Vanya dan kemudian melajukan mobilnya kembali.
***
Bersambung. . .