Virgin (True Love)

Virgin (True Love)
Bab 64



Sesampainya di rumah, seperti biasa Ernan membukakan pintu mobil untuk Vanya dan menggandengnya masuk kedalam, namun jika biasanya ia selalu memasang wajah yang terlihat senang berbeda dengan kali ini yang terlihat masih kesal. Vanya melepaskan gandengan nya dan memberikan kotak makanan pada pelayan rumah untuk di taruh nya di meja makan yang kemudian ia menyusul suaminya masuk ke dalam kamar.


Dengan wajah polos tanpa dosa Vanya menghampiri suaminya dan membantu membukakan sebuah jas yang masih di kenakan Ernan, ia juga melonggarkan dasinya dan membuka satu kancing kemeja bagian atas, namun tak seperti biasanya Ernan terlihat begitu cuek terhadap istrinya.


"Haahhh... sepertinya malam ini aku akan tidur sendiri tanpa sebuah pelukan yang membuat ku nyaman, kamu yang sabar ya baby karena papa mu tidak menganggap keberadaan Mama mu ini." Ucap Vanya yang menyindir Ernan sambil mengelus perutnya.


Melihat Ernan yang tidak bergeming sedikitpun meski Vanya telah menyindirnya, akhirnya ia memutuskan untuk keluar kamar dan menuju sebuah ruangan bioskop pribadi yang berada di rumah itu, Vanya menyalakan sebuah film horor dengan ruangan yang cukup gelap dan sengaja mematikan lampunya.


Di awal film ia terlihat biasa saja dan dengan santainya memakan sebuah cemilan di tangannya, sampai setengah film berjalan aura horor mulai terasa hingga ia menemukan sebuah ide untuk menarik perhatian suaminya yang kini masih merajuk.


"Aaaahhhh...."


Teriakkan Vanya yang cukup kencang tentu saja membuat para pelayan rumah kaget, salah satu dari mereka langsung menuju ruangan tempat dimana Vanya berada untuk melihat keadaannya, namun apa yang di lihatnya benar-benar di luar dugaan ia melihat Vanya sedang asik duduk dan sambil tertawa kecil.


"Nona kenapa berteriak?" Tanya pelayan tersebut.


"Sssttt.. cepat beri tuan mu kalau aku berteriak histeris di dalam sini dan aku akan mengunci pintunya." Ucap Vanya mengajak kerjasama si pelayan.


"Baiklah, tapi apa yakin nona baik-baik saja? bukan kah film nya begitu menakutkan?" Tanya pelayan itu yang sempat melihat film yang di tonton Vanya.


"Aku bukan wanita lemah yang takut akan hal seperti itu, cepat sana pergi." Ucap Vanya.


"Baiklah."


Pelayan rumah pun pergi dari ruangan itu untuk menemui Ernan, sementara dengan Vanya segera mengunci pintunya dan bersiap untuk menjalankan aktingnya.


"Rusak pintu satu gak papa kali ya? dia kan sultan." Gumam Vanya yang telah yakin kalau Ernan akan mendobrak pintunya.


Di lantai atas tepatnya di depan sebuah kamar, seorang pelayan mengetuk pintu kamar tersebut dan memanggil nama tuannya berulangkali sampai akhirnya Ernan membuka pintu tersebut.


"Ada apa?" Tanya Ernan.


"Maaf tuan, non Vanya..." Ucap pelayan tersebut dengan gelagapan.


"Vanya? kenapa dengannya?" Tanya Ernan yang biasa saja.


"Non Vanya.. dia... berteriak histeris dalam ruangan bioskop tuan." Ucap pelayan itu.


"Paling juga gara-gara film yang di tonton nya." Ucap Ernan yang masih tenang.


"Tapi dia berteriak berulang kali tuan, dan bahkan pintu nya pun terkunci saya hanya cemas jika sesuatu terjadi padanya." Ucap pelayan itu yang terus memancing Ernan.


Tanpa berbicara lagi, Ernan langsung melesat pergi dan setengah berlari menuju ruangan yang berada di lantai satu itu, dan benar saja terdengar suara Vanya yang berteriak memanggil suaminya.


"Vanya... buka pintunya Vanya..." Teriak Ernan dari luar sambil mengetuk pintunya.


Sementara yang di dalam, Vanya hanya tertawa cekikikan tanpa menyauti suaminya yang terdengar begitu panik. Sampai akhirnya Ernan berhasil membuka pintu tersebut dan mendapati istrinya yang tengah duduk sambil memeluk kedua lututnya dan menenggelamkan kepalanya. Ernan segara menghampiri Vanya dan menepuk pundaknya, alih-alih diam Vanya kembali berteriak ketika ada yang menyentuhnya.


"Sayang tenanglah ini aku." Ucap Ernan.


Ia pun mengangkat kepalanya dan langsung memeluk pria yang kini berada di hadapannya dengan begitu erat. Vanya juga mengedipkan sebelah matanya dan mengacungkan jempol ke arah pelayan yang berada di belakang suaminya. Pelayan itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan absurd sang majikan.


"Semua baik-baik aja, gak ada yang perlu jamu takuti, aku gak akan ninggalin kamu." Sahut Ernan yang masih memeluk Vanya dan mengusap punggungnya dengan lembut.


"Maafin aku sayang, tapi ini satu-satunya cara agar kamu gak marah lagi, hehe..." Batin Vanya.


"Ayo kita keluar." Ucap Ernan.


"Aku gak berani buka mata, bisakah kau menggendong ku?" Ucap Vanya dengan begitu manja.


Dengan segera Ernan pun menggendong istrinya layaknya pengantin baru, ia membawa Vanya kembali ke dalam kamarnya.


"Lihatlah bagaimana tuan memperlakukan istrinya, sungguh manis bukan?"


"Ya, mereka terlihat begitu serasi, pria yang cerdas dan wanita yang tak kalah cerdas."


"Bisa-bisanya non Vanya mengerjai tuan seperti itu haha."


"Mungkin trik nya bisa kita tiru jika kita punya suami nanti hehe."


Ya, begitulah kira-kira obrolan para pelayan yang melihat keharmonisan majikannya.


Di dalam sebuah kamar, Ernan menurunkan Vanya di atas ranjang king size nya, ia mengambil segelas air dan memberikannya pada Vanya agar lebih tenang.


"Kenapa kau menonton film seperti itu sendirian jika kau merasa takut?" Tanya Ernan.


"Ku kira tak seseram itu." Sahut Vanya.


"Lain kali minta aku untuk menemani mu, ingat kamu lagi hamil bagaimana jika sesuatu terjadi pada mu?" Ucap Ernan.


"Bagaiman aku meminta kamu untuk menemani ku, sementara kamu masih marah sama aku." Ucap Vanya yang sedikit memajukan bibirnya.


"Hahhh... aku minta maaf, aku gak berniat untuk mengabaikan mu." Ucap Ernan mengusap pipi Vanya.


Vanya pun melebarkan senyumnya dan kembali memeluk suaminya, kini rencananya telah benar-benar berhasil bukan berniat untuk membohonginya melainkan untuk mendapatkan perhatiannya.


"Sekarang tidur lah, ibu hamil yang gak baik tidur larut malam." Ucap Ernan.


"Peluk... aku gak mau tidur sendiri." Ucap Vanya dengan begitu manja.


Ernan pun mengangguk, ia segera mengambil posisi di tempat tidur nya dan memeluk Vanya yang tertidur di atas dada nya sebagai pengganti bantal. Tak lama kemudian Vanya terlelap dalam mimpinya, dan sebuah kecupan pun Ernan berikan sampai akhirnya ia pun ikut tertidur.


***


Weee... baper sendiri ngetik nya hiks 😭 Mak mau suami idaman kayak Ernan 🤧


Dahlah jangan lupa dukung terus othor receh ini ya.. kasi like nya kalo ada sih sama gift dan vote nya, tapi karena vote terbatas othor gak maksa kasih aja buat novel kesayangan para bunda-bunda.


To be continued