
Ernan menghentikan mobilnya di sebuah area parkiran tempat bermain ice skating, ia menuntun Vanya untuk masuk kedalamnya dan bermain bersama. Suasana yang seharusnya ramai oleh pengunjung karena hari libur, namun kali ini berbanding sebaliknya, tempat itu begitu sunyi tidak ada satupun orang yang bermain dan hanya ada seorang penjaga yang telah menunggu kedatangan Ernan bersama dengan istrinya.
"Kau serius ingin mengajak ku bermain ini?" Tanya Vanya.
"Kenapa? apa kau tidak menyukainya?" Sahut Ernan balik bertanya.
"Tidak, hanya saja... aku tidak bisa bermain ice skating." Ucap Vanya.
"Aku akan mengajari mu." Sahut Ernan sambil memasangkan sepatu Vanya.
"Ayo, pegang tangan aku." Ucap Ernan menyodorkan tangannya.
Mereka pun mulai berjalan bersama dan bermain, Vanya yang benar-benar tidak pandai bermain tidak berani melepaskan genggaman tangan suaminya yang telah begitu lihai dalam bermain ice skating. Suasana romantis pun terjadi dari keduanya, Ernan mulai melepaskan tangan Vanya dan meninggalkannya di tengah-tengah lapangan.
"Yak! Ernan kenapa kau melepaskan tangan ku?" Teriak Vanya.
Pria itu tertawa kecil melihat wajah istri nya yang ketakutan.
"Ayo kemari." Balas teriak Ernan.
"Kalau nanti aku jatuh bagaimana?" Sahut Vanya. .
"Aku akan menangkap mu, percayalah kamu pasti bisa." Ucap Ernan.
Vanya pun mulai melangkah perlahan dan meluncur ke arah suaminya seraya berteriak, hingga akhirnya ia terpentok sebuah dada bidang Ernan yang telah siap memeluknya. Vanya mendongak menatap wajah suaminya begitu juga sebaliknya, Ernan menunduk membalas tatapan istrinya, perlahan ia mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir tipis yang membuatnya candu.
"Tunggu.. kenapa aku tidak melihat seorangpun disini?" Tanya Vanya yang baru menyadari tidak ada orang lain di sekelilingnya.
"Entah, mungkin semua orang berlibur ke tempat lain." Sahut Ernan.
"Mana mungkin dari sekian banyak orang tidak ada satu pun yang berkunjung kesini kecuali...." Ucapan Vanya terputus.
"Kecuali apa hm?" Sahut Ernan yang masih memeluk pinggang Vanya.
"Kau menyewa semua tempat ini, agar orang lain tidak bisa masuk, benar begitu bukan?" Ucap Vanya.
"Hmm.. tidak, untuk apa aku melakukan itu?" Sahut Ernan.
"Karena sebelumnya kamu bilang akan mengajak aku ke tempat yang hanya ada kita berdua." Jelas Vanya.
"Sepertinya aku ketahuan, ternyata istri ku begitu pandai." Ucap Ernan tersenyum.
"Ch, dasar menyebalkan." Sahut Vanya memukul kecil dada suaminya sambil tersenyum.
Ia pun memeluk Ernan kembali, rasanya terlalu nyaman untuk ia melepaskan pelukannya. Setelah puas bermain di tempat itu, Ernan mengajak Vanya untuk bermain ke tempat lainnya yang mungkin akan di sukai seorang wanita. Ya, itu adalah pantai dengan hamparan pasir putih serta deburan ombak kecil dan hembusan angin yang menerpa keduanya hingga menyibakkan rambut Vanya dan menutup wajahnya.
Dengan view yang indah, Ernan menggunakan momen itu untuk mengambil beberapa foto istrinya. Kebahagiaan dari keduanya terasa begitu nyata hingga membuat beberapa orang iri melihat keharmonisan pasangan itu, canda tawa serta gurauan tak hentinya Vanya keluarkan.
Bukan hanya sekali dua kali Vanya mengerjai suaminya namun telah beberapa kali hingga membuat Ernan ingin menerkamnya, dengan sengaja Vanya berlari menelusuri tepian pantai yang di kejar oleh suaminya sampai akhirnya Ernan berhasil menangkap Vanya dan menggelitiknya dengan sebuah candaan.
"Hahaha... sudah cukup perut ku sakit." Ucap Vanya yang tak hentinya tertawa.
"Yash! coba saja kalau kau bisa." Sahut Vanya yang kemudian pergi ke arah lain.
Setengah berjalan ia baru menyadari kalau kalung yang di pakainya terjatuh entah dimana, ia meraba lehernya yang telah polos tanpa sebuah benda yang melingkar. Langkahnya terhenti dengan suasana hati yang begitu cemas, kalung pemberian suaminya itu begitu berharga untuknya jika sampai itu benar-benar hilang ia tidak tau akan semarah apa Ernan terhadapnya.
Vanya kembali memutar balikkan badannya dan menelusuri tempat yang telah ia lalui tadi dengan pandangan yang mengarah ke bawah mencari kalung tersebut. Namun setelah cukup lama ia berjalan hasilnya nihil Vanya tidak berhasil menemukan kalungnya yang mungkin telah di bawa ombak atau di temukan oleh orang lain.
"Ahh.. sial! bagaimana bisa aku menghilangkannya? dasar ceroboh, menjaga barang seperti itu aja gak bisa." Ucap gaya pada dirinya sendiri.
"Apa yang sedang kamu cari?" Tanya Ernan menghampiri Vanya.
"Emm... itu... sepertinya aku telah menghilangkan barang berharga milik ku." Sahut Vanya.
"Bukankah barang berharga ada di depan kamu?" Canda Ernan.
"Yak! sejak kapan kamu menjadi barang? aku serius." Ucap Vanya.
"Apa artinya barang itu untuk kamu?" Tanya Ernan.
"Lebih dari apapun, karena kalau aku sampai benar menghilangkannya aku gak tau apa yang akan terjadi." Ucap Vanya menunduk.
"Orang seperti apa aku di mata kamu?" Tanya Ernan kembali.
"Maksudnya? kenapa kamu tiba-tiba bertanya sepeti itu?" Sahut Vanya yang tidak mengerti dengan pertanyaan suaminya.
"Apa aku terlihat seperti suami yang kejam yang akan memarahi istri nya hanya karena menghilangkan sebuah kalung? buka kah itu yang kamu takutkan?"
Pertanyaan Ernan membuat Vanya terdiam, ternyata dia telah mengetahui kalau Vanya sedang mencari barang pemberiannya. Merasa bersalah, Vanya menundukkan kepalanya dan mencoba terus mencari barang kecil namun berharga itu, sampai akhirnya tangan Ernan menarik tubuhnya dan membuat keduanya beradu dalam tatapan yang sama.
Ernan mengangkat sebelah tangannya dengan kalung yang berada dalam genggamannya, sontak Vanya membelalak kaget melihat kalung nya berada dalam genggaman tangan suaminya.
"Bukankah ini yang kamu cari?" Tanya Ernan.
"Dimana kau menemukannya?" Tanya balik Vanya.
"Tepat di saat kita berada disana, di saat kamu mulai berlari dia saat itu juga kamu menjatuhkannya." Ucap Ernan.
Senyum Vanya pun kembali melebar, kini perasaan nya jauh lebih tenang dari sebelumnya, Ernan membantu Vanya untuk memasangkan kembali kalungnya.
"Jika suatu saat hilang kembali, jangan pernah kamu membuang waktu untuk mencarinya, aku bisa membelikan kamu yang baru." Ucap pria itu.
"Hey.. tidak semua bisa diganti dengan yang baru, aku tau kamu mampu membeli apapun yang aku atau kamu inginkan, tapi barang pemberian itu adalah sebuah amanat yang harus di jaga dengan baik." Jelas Vanya.
Sebuah kecupan manis Ernan berikan di kening istrinya. Ia benar-benar beruntung bisa memiliki Vanya walau diluar dia terlihat seperti gadis nakal yang tidak punya sopan santun namun di dalam ia memiliki hati yang lembut dan tau bagaimana cara menghargai orang lain.
Hari mulai gelap, setelah melihat sunset di sore hari mereka pun segera kembali untuk beristirahat karena lelahnya seharian bermain.
***
Bersambung. . .