
Tap... tap.. tap... Suara langkah kaki seseorang mengikuti Liora yang menghampiri Vanya dan juga Leo. Vanya yang membelakangi posisi mereka dengan segera membalikkan badannya dan melihat dua orang yang kini berdiri di hadapannya. Tatapan yang tidak percaya dengan apa yang di lihatnya membuat ia mengabaikan uluran tangan Liora yang sedang menyapanya.
"Ernan.." Ucap Vanya dengan suara lirih.
Pria itu tersenyum dan melangkah mendekat ke arah Vanya, Dengan segera Ernan memeluk wanita nya yang selalu ia rindukan, namun dengan tiba-tiba Vanya mendorongnya hingga membuat pria itu mundur beberapa langkah.
"Hei.. ada apa? apa kau tidak merindukan ku?"Tanya Erman.
"Bagaimana aku bisa merindukan orang yang telah membohongi ku?!" Ucap Vanya.
"Gak ada yang membohongi mu, aku benar mengalami kecelakaan tapi aku berhasil menyelamatkan diri, dan merekalah yang membantu aku." Jelas Ernan menunjuk Liora dan juga kakak laki-laki nya.
"Tuan Ernan benar, aku bertemu dengannya di tepi danau dengan beberapa luka di tubuhnya, aku dan kakak yang membawanya kesini untuk merawatnya." Jelas Liora.
"Lalu untuk apa kamu bersembunyi? selama ini aku tersiksa sendiri merindukan kamu." Ucap Vanya.
"Semua untuk mengungkap kebenaran nya, selama aku disini aku tidak hanya tinggal diam, aku selalu memiliki koneksi dengan Leo untuk untuk mencari bukti." Jelas Ernan.
"Lalu bagaimana dengan perusahaan dan keluarga kamu?" Tanya Vanya.
"Aku akan kembali setelah waktunya tiba."
"Lucas meminta aku untuk menikah dengan nya dalam waktu yang cepat, apa kau akan membiarkan semua itu terjadi?" Ucap Vanya.
Mendengar apa yang di katakan Vanya mengenai adik sepupunya membuat amarah Ernan memuncak, bagaimana bisa ia membiarkan wanita yang begitu di cintai nya sejak kecil menikah dengan adik sepupunya sendiri.
"Kamu tenang aja, aku udah merencanakan sesuatu untuk membuka semua kedok mereka." Ucap Vanya.
"Rencana apa yang kamu punya?" Tanya Ernan.
Gadis itu pun menjelaskan semua rencananya dari awal sampai akhir. Pertemuan yang singkat mengobati rasa rindu diantara kedua insan yang harus terpisah untuk sementara waktu, Vanya dan Leo harus segera kembali ke pusat kota karena suatu waktu Lucas akan mencari Vanya.
Sesampainya di depan sebuah gedung, Vanya bergegas turun dan melangkah menapaki beberapa anak tangga untuk sampai di rumah nya. Tanpa ia ketahui seseorang terus mengintai nya dan membekap Vanya dari belakang dengan sebuah sapu tangan yang telah di beri obat bius. Sempat gadis itu melawan namun tak lama kemudian pandangannya kabur dan jatuh pingsan.
Di sebuah bangunan kosong Vanya di sekap dengan keadaan tangan dan kaki yang terikat serta mulut yang di tutupi oleh sebuah lakban. Vanya tersadar dari pingsannya dengan pandangan yang samar-samar melihat seorang pria bertubuh kekar di hadapannya.
"Baguslah kalau kamu sudah sadar, seenggaknya kamu bisa melihat dunia sebelum menutup mata untuk selamanya." Ucap pria itu menyeringai.
Vanya langsung membelalakkan matanya ketika ia melihat dengan jelas pria bertato lah yang telah membawanya ke tempat itu. Ingin rasanya Vanya berteriak untuk meminta tolong namun apalah daya dengan keadaan mulut yang tertutup ia tidak berbuat apa-apa, Vanya hanya berusaha menggesekkan kedua tangannya untuk melepaskan tali yang mengikatnya.
"Sungguh gadis yang liar! betapa sulitnya aku untuk menangkap mu!" Ucap pria itu.
"Bangshat! kau melakukan semua ini sama saja dengan kau mencari mati!" Batin Vanya.
Setelah terus berusaha akhirnya Vanya bisa mengambil ponselnya yang kebetulan ia menaruhnya di saku belakang jeans yang di pakainya. Vanya menoleh kebelakang nya untuk melihat ponselnya dengan susah payah ia menghubungi Leo dengan sebuah panggilan video ketika pria bertato itu pergi.
Sebuah panggilan video pun terhubung, Leo memanggil Vanya berulangkali namun tidak ada jawaban, ia hanya menggerakkan ponselnya ke berbagai arah hingga terlihat sedikit wajahnya dengan mulut yang tertutup lakban.
Ceklek... Seseorang datang menghampiri Vanya, dengan beruntungnya ia berhasil mematikan sambungan telponnya tanpa menaruh rasa curiga mereka. Akhirnya orang yang berada di balik semua itu muncul dengan sendirinya. Lingga berjongkok di hadapan Vanya dengan satu jari yang mengangkat dagu gadis itu.
Tatapan amarah Vanya terpancar jelas di matanya ketika Lingga menghina mendiang mamanya, wanita itu pun melepas penutup mulut Vanya.
"Apa yang ingin kau katakan hm? katakanlah sebelum semuanya terlambat." Ucap Lingga.
"Kau boleh menghina ku tapi tidak dengan mama ku!" Bentak Vanya.
"Apa kamu tau siapa Milly di masa lalu?" Tanya Lingga.
"Dia adalah wanita yang telah merebut Edric dari aku! dia tak lebih dari seorang jal@ng yang mengejar pria kaya!" Teriak Lingga yang sampai kini masih belum bisa melupakan masa lalunya.
"Jadi benar kamu yang sengaja menyabotase mobil papa?!" Tanya Vanya.
"Ya, itu semua benar aku yang telah menyuruh dia untuk melakukan semuanya, dan aku juga yang menyuruh dia untuk mengurung kamu karena kamu selamat!" Ucap Lingga yang menunjuk pria bertato.
"Sial! ini semua bukti besar tapi sayang aku gak bisa merekamnya." Batin Vanya.
Dengan amarah yang telah meluap, Vanya pun menendang Lingga dengan posisi kedua kaki yang terikat hingga membuat wanita itu terjatuh.
"Dasar wanita sialan! beraninya kamu menendang ku seperti itu!" Bentak Lingga.
Wanita itu pun menampar Vanya dengan cukup kencang hingga ia tersungkur, tidak sampai disitu Lingga menjambak Vanya agar terbangun kembali dan melakukan hal yang sama berulang kali hingga membuat bibir Vanya sedikit berdarah. Setelah puas menyiksa Vanya, wanita itu pun bergegas keluar.
"Jagain gadis ini sampai dia datang memohon!" Ucap Lingga pada pria bertato.
"Baik nyonya."
Sementara di luar bangunan, Leo yang telah tiba tiba-tiba di seret ke tempat yang cukup aman oleh pria yang memakai Hoodie beserta dengan masker. Leo yang hendak memukul pria itu tiba-tiba tangannya terhenti ketika orang itu membuka maskernya yang ternyata adalah Joe.
"Joe! apa yang kau lakukan?!" Ucap Leo.
"Sssttt.. tenanglah, tadi aku diam-diam mengikuti mama ke tempat ini, kita gak bisa bertindak gegabah." Ucao Joe.
"Lalu bagaimana dengan Vanya? apa dia di dalam?" Tanya Leo.
"Ya, mama menyekapnya di tempat itu yang di jaga orang suruhannya." Sahut Joe.
"Tapi kamu tenang aja, aku berhasil merekam videonya untuk di jadikan sebuah bukti, tapi kemungkinan masih ada tujuan lainnya di balik semua ini." Ucap Joe.
"Kirimkan videonya, kita kembali dan memikirkan caranya untuk menangkap mereka semua." Ucap Leo.
Joe hanya mengangguk menyetujui apa yang di ucapkan Leo. Walau Lingga adalah ibu biologis nya Joe tapi karena tindakan nya yang di luar batas ia lebih memilih untuk membenci dan memberinya pelajaran agar dia sadar kalau apa yang di lakukan nya adalah tindakan kriminal.
***
Bersambung. . .