Virgin (True Love)

Virgin (True Love)
Bab 69



Satu bulan berlalu Arumi bekerja sebagai pengasuh baby Vale, ia terlihat begitu menyayangi Valerie layaknya anak sendiri tak jarang Arumi mengajak Valerie jalan-jalan keluar rumah di saat Vanya dan Ernan sibuk dengan pekerjaannya.


Hati itu bertepatan dengan hari libur dimana Vanya dan Ernan menghabiskan luangnya hanya untuk bermain dengan putri semata wayang mereka, dan di saat itu juga mereka memberikan wktu istirahat untuk Arumi yang selalu di buatnya sibuk oleh tingkah Valerie yang mulai aktif.


"Vale sayang.. sini gendong papa." Ucap Ernan.


Vanya yang sedang menggendong Valerie memberikannya pada Ernan, ia duduk di samping suaminya yang sedang bersantai di sebuah ruangan keluarga.


"Emm... sayang kayaknya aku punya ide brilian untuk asisten mu itu." Ucap Vanya.


"Hm? Leo maksud kamu?" Sahut Ernan.


"Emang kamu punya asisten berapa?"


"Hanya Leo seorang." Sahut Ernan yang kemudian mengajak Valerie bicara.


"Sibuk aja terus sama anak nya aku di cuekin." Ucap Vanya.


"Hei.. kenapa kamu cemburu sama putri mu sendiri hm?"


"Kenapa dengan Leo?" Sambung Ernan memegang dagu Vanya dan kemudian mengecup bibirnya yang sedikit di majukan.


"Gimana kalau kita memberi nya waktu luang untuk bersama Arumi?" Ucap Vanya.


"Kamu ingin menjodohkan mereka?" Tanya Ernan.


Vanya hanya mengangguk dan tersenyum menjawab pertanyaan suaminya itu, ia pun bersandar di bahu suaminya itu dan memainkan tangan Valerie yang begitu mungil dan menggemaskan.


"Aku hanya kasihan aja gitu, lagian mereka sama-sama sendiri gak asa salahkan nya kan kalau mereka bersama?" Tanya Vanya.


"Kita atur semuanya." Sahut Ernan.


Mereka pun melanjutkan bermain bersama dengan Valerie mulai dari bermain boneka, musik, tengkurap bersama sampai kejar-kejaran satu sama lain di dalam rumah, hingga akhirnya baby Vale merasa lelah dan tertidur dalam pangkuan papa nya. Ernan membawa putrinya kedalam kamar dan menidurkannya di atas ranjang yang cukup besar untuk ukuran seorang bayi.


Dengan kebetulan, Arumi yang baru selesai dengan pekerjaannya membantu beberapa pelayan rumah hendak masuk kedalam kamar Valerie untuk merapikan bajunya, namun di saat ia melihat Ernan berada di kamar itu, Arumi mengurungkan niatnya dan berbalik badan, di sat ia akan melangkah kembali tiba-tiba Ernan memanggilnya dari ambang pintu kamar Valerie.


"Sejak kapan kau berada disini?" Tanya Ernan.


"Baru saja tuan, maaf saya hanya ingin membereskan baju non Vale tapi saya melihat tuan di dalam." Sahut Arumi.


"Masuklah, sekalian jaga dia di saat tertidur." Ucap Ernan.


"Baik tuan, permisi." Sahut Arumi membungkuk.


"Ahh... tunggu." Ucap Ernan yang menghentikan langkah gadis itu.


"Nanti malam bersiaplah sekitar jam 8, saya akan mengajak Valerie untuk jalan-jalan dan kamu harus ikut."


"Baik tuan." Sahut Arumi.


Ernan pun bergegas pergi meninggalkan kamar putrinya, ia segera menghubungi Leo untuk melancarkan aksinya yang sekongkol bersama dengan istrinya.


Sementara itu di tempat lain, dua sejoli yang sedang di mabuk cinta menghabiskan weekend nya bersama di sebuah taman bermain, meski keduanya telah tumbuh dewasa dan merintis karir nya masing-masing di bidang yang berbeda namun sikap kekanakan dari keduanya tidak bisa hilang begitu saja. Ya, siapa lagi mereka kalau bukan Carla dan Ian, mereka menghabiskan waktu liburnya dengan menaiki beberapa wahana dan berfoto bersama.


Setelah lulus kuliah, kini Carla bekerja di sebuah rumah sakit terbesar di kotanya sebagai dokter spesialis jantung. Sementara Ian, sesuai dengan keinginan calon mama mertuanya, ia bekerja di perusahaan keluarga Addison langsung di bawah pimpinan nyonya Liu.


"Hm? kenapa sayang nya aku?" Sahut Ian.


"Aku capek, kaki ku pegel." Ucap Carla dengan begitu manja.


"Yaudah kita duduk istirahat disini." Sahut Ian dengan polosnya dan tidak peka dengan apa yang di maksud gadisnya.


"Ch, emang dasar gak peka ya? gak ada sikap romantisnya." Ucap Carla mengerucutkan bibirnya.


Ian hanya menatap gadis di hadapannya dengan mengangkat sebelah alisnya, sepertinya ia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang di maksud Carla, sampai akhirnya gadis itu menemukan petunjuk ketika melihat seorang anak kecil yang di gendong oleh papanya. Carla menunjuk anak kecil itu dengan bibir manyunnya dan berhasil mengalihkan perhatian kekasihnya.


"Kamu mau seorang anak? tapi kita belum nikah sayang." Ucap Ian.


"Astaga.. pengen telen kamu rasanya!" Ucap Carla yang begitu geram dengan kekasihnya.


Setelah lewat beberapa detik dan melihat dengan seksama anak yang di gendong itu akhirnya Ian mengerti dengan apa yang di maksud Carla, ia pun berjongkok di hadapan Carla tanpa sebuah kata.


"Hei.. apaan nih?" Tanya Carla yang pura-pura tidak mengerti.


"Gak ada penawaran dua kali hitungan tiga gak naik, aku akan berdiri meninggalkan kamu disini." Ucap Ian.


"Satu... dua..." belum selesai Ian menghitung, dengan cepat Carla naik ke punggung Ian dan mengalungkan tangan di lehernya.


"Kenapa gak bilang? pake nunjuk-nunjuk anak kecil segala." Ucap Ian yang berjalan menuju area parkiran.


"Kamu nya aja yang gak peka, dimana-mana kalau seorang wanita bilang capek di saat lagi jalan itu artinya di minta gendong." Jelas Carla.


"Ahh, gitu.. lalu bagaimana kalau aku yang capek? apa kau akan mengendong ku?" Tanya Ian.


"Yak! kamu bahkan seorang pria dan stamina mu juga cukup bagus gak akan merasa lelah hanya karna jalan-jalan." Sahut Carla.


"Pria juga manusia sayang." Ucap Ian.


"Gak ada yang bilang robot " Sahut Carla.


Tak ingin berdebat Ian mengakhiri pembicaraan yang entah mengarah kemana itu. Dan akhirnya mereka sampai di sebuah parkiran, Ian pun menurunkan Carla dan membukakan pintu mobil untuk gadis yang di begitu di cintai nya. Dalam sebuah perjalanan keluar dari area taman bermain, tiba-tiba Carla teringat dengan keponakan kecilnya ia mengajak Ian untuk bermain ke rumah kakak nya.


Kurang dari 1 jam, Ian dan Carla pun telah sampai di rumah yang bagaikan istana itu, mereka bergegas masuk dan langsung di sambut oleh Lilian yang selaku kepala pelayan.


"Valerie... Tante datang..." Teriak Carla di dalam rumah.


Lagi-lagi kedatangannya di sambut langsung oleh sentilan di dahinya yang di lakukan oleh Ernan sang kakak kesayangan.


"Yak! kakak! bisakah kau hilangkan kebiasaan mu itu?" Ucap Carla mengusap dahinya.


"Wahai tuan putri, bisakah kau tidak berteriak? Valerie sedang tidur!" Sahut Ernan.


"Ah baiklah, maafkan gadis imut ini yang terkadang gak bisa mengontrol mulutnya." Ucap Carla.


Carla pun pergi menemui Vanya yang sedang berada di ruangan lain, sementara dengan Ian hanya duduk manis di ruang tamu yang di temani langsung oleh Ernan dengan muka datarnya.


***


Bersambung. . .