Virgin (True Love)

Virgin (True Love)
Bab 66



Di sebuah perusahaan, Ernan berjalan masuk menggandeng istrinya dengan perut yang terlihat semakin membuncit karena ada makhluk hidup di dalamnya. Beberapa karyawan menunduk menyapa dan menghormati keduanya, sampai akhirnya mereka tiba di sebuah ruangan pribadi.


"Kamu tunggulah disini aku akan menghadiri meeting dulu." Ucap Ernan.


"Baiklah, semoga sukses." Sahut Vanya.


Ernan pun melangkah pergi menuju ruangan meeting, sementara dengan Vanya hanya duduk manis di sebuah sofa sambil melihat sebuah majalah. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dan masuk dengan membawakan secangkir teh untuk Vanya.


Seorang wanita bertubuh seksi dan berparas cantik dengan kemeja yang cukup ketat serta rok mini yang memperlihatkan paha mulusnya kini berdiri di hadapan Vanya. Ia menaruh cangkir itu di atas sebuah meja dan sesekali melirik ke arah meja kerja Ernan. Dengan tatapan sinis nya Vanya memperhatikan wanita itu dari atas hingga bawah.


"Siapa kamu? dan posisi apa yang kamu tempati?" Tanya Vanya.


"Nama saya Bella, saya sekretaris nya tuan Ernan." Sahut wanita itu.


"Ahh... begitu, apa cara berpakaian mu seperti itu setiap hari?" tanya Vanya.


"Ya, apa ada yang salah nona?" Sahut Bella.


"Tidak, hanya saja... kau lebih terlihat seperti wanita malam di banding seorang sekretaris." Cetus Vanya sambil meneguk teh nya.


"Aw.. ini terlalu panas, apa kau sengaja?" Ucap Vanya.


"Maaf nona, biarkan saya ganti yang baru." Sahut Bella.


"Tunggu sebentar, saat kamu kembali kesini aku ingin kamu mengganti pakaian mu." Ucap Vanya.


"Tapi saya tidak bawa baju ganti nona." Sahut Bella.


"Hmm... sepertinya ada, tunggu sebentar." Ucap Vanya.


Vanya pun beranjak dari duduknya dan bergegas menuju ruangan office girl, ia mengambil setelan office girl yang masih baru dan segera kembali ke ruangan suaminya.


"Kamu bisa pakai ini seenggaknya sampai jam pulang, dan untuk hari berikutnya kamu harus biasakan memakai baju yang layak terutama di hadapan suami ku dan para karyawan lainnya karena aku tidak mau terjadi hal gang tidak di inginkan di perusahaan ini! paham?" Ucap Vanya.


"Tapi nona...."


"Pakai atau kau kehilangan posisi mu?" Tanya Vanya.


"Baik nona, saya permisi dulu." Ucap Bella.


Tak lama kemudian Bella pun kembali ke ruangan Ernan dengan mengenakan seragam office girl dan membawa secangkir teh yang baru untuk Vanya, setelah memberikan teh itu ia bergegas kembali dan berpapasan dengan Ernan juga Leo yang telah selesai meeting. Kedua pria itu menatap aneh dengan apa yang di kenakan sekretaris seksi itu, Ernan pun mempercepat langkah nya dan masuk kedalam ruangan pribadinya sementara dengan Leo menyusul Bella untuk menanyakan apa yang di telah terjadi.


"Bella tunggu..." Ucap Leo menghentikan gadis itu.


"Hm, ada apa?" Sahut Bella.


"Apa yang terjadi? kenapa kau memakai seragam office girl?" Tanya Leo.


"Hahhh.. ini semua gara-gara nyonya muda yang menyuruh ku mengganti baju." Sahut Bella.


"Ffttt... hahahaha..." Leo pun tertawa lepas ketika mendengar apa yang di ucapan Bella.


Dengan tatapan yang malas campur kesal, wanita itu bergegas pergi meninggalkan Leo yang masih menertawakannya. Sementara yang berada di dalam ruangan tengah asik menikmati teh nya yang kini di temani sang suami. Awalnya Ernan tidak berani untuk menanyakan apa yang terjadi pada Bella dan istrinya itu karena ia tau perasaan wanita hamil sangat begitu sensitif, namun karena rasa penasaran yang begitu besar mendorongnya untuk membuka suara.


"Apa yang telah kamu lakukan?" Tanya Ernan.


"Tidak ada, dari tadi aku hanya duduk baca majalah." Sahut Vanya.


"Bukan itu sayang, tapi..."


Belum sempat Ernan melanjutkan ucapannya Vanya telah menyela nya.


"Hm? maksud kamu Bella?" Tanya balik Ernan.


"Ada yang lain kah?" Tanya Vanya dengan begitu ketus.


"Tidak, hanya dia dan itu juga belum begitu lama." Sahut Ernan.


Vanya menoleh ke arah suaminya dan menatap dengan begitu begitu serius hingga membuat Ernan sedikit cemas. Ya, semenjak benih yang di tanam nya tumbuh di rahim Vanya ia sedikit lebih takut terhadap istrinya yang terkadang sedikit galak daripadanya, sikap Ernan kini bertolak belakang dengan dirinya yang dulu jauh sebelum menikah.


"Kenapa kau menatap ku seperti itu?" Tanya Ernan yang sedikit menggeser kan posisi duduknya.


Dengan agresif Vanya terus mendekat hingga membuat Ernan terbaring.


"Apa kau begitu menyukainya?" Tanya Vanya.


"Huh? apa yang kau maksud?" Tanya balik Ernan.


"Wanita itu, apa kau menyukainya karena dia begitu seksi?" Ucap Vanya yang berada di atas Ernan.


Pria itu pun tersenyum miring, mendorong tubuh Vanya dengan perlahan dan membalikkan posisinya hingga kini istrinya lah yang berada di bawah.


"Bagaimana jika aku mengatakan ya? apa kau akan melabraknya? atau memarahi suami mu ini?" Ucap Ernan yang berbisik sembari mengecup leher Vanya hingga membuatnya kegelian.


"Ahh~" dengan tidak sengaja Vanya mengeluarkan suara seksinya yang membuat Ernan candu.


"Aku... akan memotong aset mu!" Ucap Vanya dengan suara tak karuan karena Ernan yang terus menelusuri setiap inci leher mulusnya.


"Haahhh.. kamu tidak perlu secemas itu, karena hati aku cuma buat kamu, secantik dan seseksi apapun dia gak akan ada yang bisa menggantikan posisi kamu." Jelas Ernan yang kemudian mengecup bibir Vanya.


"Hm.. minggir lah, bagaimana jika Leo tiba-tiba masuk dan melihat kita?" Ucap Vanya yang mencoba mendorong suaminya.


"Tak apa, bukan kah itu sudah biasa?" Sahut Ernan.


"Tapi posisi kita tidak baik untuk dilihat kaum jomblo sepertinya, kamu mau besok terdengar berita seorang asisten bunuh diri karena iri melihat bos nya?" Ucap Vanya.


Seketika Ernan tertawa dan melepaskan istrinya, Vanya pun membenahi posisi nya dan tak lama kemudian Leo pun benar masuk kedalam ruangan itu. Pria itu menatap aneh bosnya yang tertawa begitu kencang.


"Tuan kenapa?" Tanya Leo.


"Udah gak waras mungkin." Sahut Vanya yang terlihat kalem.


"hahaha... kenapa Leo?" Ucap Ernan yang akhirnya bisa menghentikan tawa nya.


"Cuma mau kasih ini." Sahut Leo memberikan sebuah berkas.


Sebelum Leo kembali keluar, Ernan menatap asistennya itu dengan begitu seksama dari ujung kaki sampai ujung rambut tak ia lewatkan sedikitpun.


"Apa ada yang salah tuan?" Tanya Leo.


"Kapan kau akan menikah?" Tanya Ernan yang secara tiba-tiba dan membuat Leo kaget.


"Heuh? kenapa tuan tiba-tiba menanyakan hal itu? Usia ku bahkan masih... maaf, muda untuk menikah." Sahut Leo.


"Aishh, ayo pulang." Ucap Ernan yang langsung menarik Vanya dan menggandengnya.


Ya, usia Ernan dan Leo memanglah terpaut beberapa tahun, hingga jika berbicara masalah usia Ernan begitu sensitif karena memang dirinya sudah cukup berumur di banding dengan Leo.


****


Bersambung. . .