
"Hei calon kakak ipar, apa kau punya seorang adik perempuan?" Tanya Ian yang tak hentinya mengoceh.
"Kalaupun ada aku gak akan memberikannya sama kamu!" Sahut Ernan yang fokus pada sebuah jalanan.
"Dasar pelit! lagian siapa juga gang mau jadi adik ipar mu?!"
"Perlu kau tau, selera ku wanita seperti dia." Sambung Ian kembali menunjuk Vanya yang kini tengah tertidur.
"Baiklah, akan ku nikahkan kau nanti dengan putri ku." Sahut Ernan yang tak hentinya menggoda Ian.
"Sialan! kenapa ucapan mu sama dengan nya?!"
"Karena kita mempunyai hati yang sama." Sahut Ernan tersenyum miring melihat raut wajah Ian yang kalah telak.
Tak lama kemudian Ernan menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah yang tak jauh dari minimarket tempat Vanya bekerja dulu.
"Cepatlah turun." Ucap Ernan.
"Awas aja kau kalau sampai mengambil kesempatan dalam kesempitan!" Sahut Ian yang hendak turun.
"Tidak, aku hanya akan menidurinya." Ucap Ernan yang langsung menginjak gasnya dan melesat begitu saja.
"Yak! dasar pria mesum!!" teriak Ian.
"Apa kau masih waras?" tanya seorang wanita yang terlihat masih muda berdiri di belakang bocah lelaki itu.
Mendengar suaranya yang tidak asing, ia segera menoleh ke belakangnya dan benar saja, wanita yang sangat ia kenal telah berdiri dengan sebuah tongkat di tangannya.
"Ehhh mama.. hehe..." Ucap Ian cengengesan.
"Darimana saja kamu jam segini baru pulang hah?!" tanya sang ibu yang memainkan tongkatnya.
"Itu loh ma anu em..." Ucap Ian yang gugup dan terbata-bata.
Wanita itu pun melihat dengan seksama wajah putranya yang sedikit lebam, ia mengangkat dagu Ian dengan tangannya dan meneliti wajah tampan putranya.
"Apa kau berkelahi? siapa yang memukul mu?" Tanya ibunya.
Sambil berjalan masuk Ian pun menceritakan kejadian dari awal sampai dia meminta bantuan Vanya karena takut di marahi ibunya.
"Dasar bocah nakal! kenapa kau selalu merepotkan nya?!"
"Karena baku menyukainya, hahaha..." Teriak Ian yang langsung kabur menuju kamarnya.
Ya, keluarga itu memang selalu penuh dengan kehangatan canda tawa meski dalam rumah hanya ada mereka berdua. Vanya yang telah dekat dengan keluarga itu telah di anggap sebagai keluarga sendiri, serta Ian yang terkadang terlihat dewasa di luar namun ia terkadang kekanak-kanakan sesuai dengan usianya.
Di sebuah halaman depan bangunan yang terdiri dari beberapa lantai Ernan menghentikan mobilnya, melihat Vanya yang tertidur lelap membuat ia tidak tega untuk membangunkannya, sampai akhirnya pria itu memutuskan untuk menggendong Vanya masuk kedalam rumahnya dan menidurkannya di sebuah kamar. Dengan sangat hati-hati ia menurunkan Vanya agar tidak membangunkan nya.
"Aku akan selalu menjaga mu, penderitaan mu selama ini telah berakhir sudah saatnya untuk kamu bahagia." Ucap Ernan yang kemudian menarik selimut dan menutupi tubuh gadis itu.
Ia melangkah ke arah meja belajar dan menatap sebuah foto Vanya dimana saat ia masih sangat kecil yang sedang duduk di sebuah ayunan bersama dengan pria di sampingannya. Ernan yang masih menatap foto itu mengulas senyumnya dan megusap foto Vanya yang terlihat begitu manis, ia pun sesekali melirik Vanya yang kini telah tumbuh dewasa.
*
Kriiing.... kriiing... suara alarm pun berdering, Vanya mengeluarkan sebelah tangannya dari dalam selimut untuk mematikan alarm tersebut, ia kembali menarik selimutnya dengan mata yang masih terpejam. Tak lama setelah bunyi alarm, ponsel Vanya berdering dilihatnya beberapa panggilan tak terjawab dengan sederetan pesan masuk.
"Tubuh mu begitu ringan, makan dengan baik aku udah siapkan sarapan, makan dengan perlahan dan semangat lah."
"Oh astaga.. apa semalam dia tidur disini? tapi bagaimana bisa?" Gumam Vanya yang seketika lupa dengan kejadian semalam.
Ia memutar bola matanya sambil mengingat apa yang telah terjadi beberapa jam kebelakang antara dia dan Ernan.
"Vanya bodoh! apa yang kau lakukan? itu pasti sangat memalukan." Rengek Vanya menutup wajahnya setelah ia ingat dengan kejadian semalam.
"Bisa-bisanya aku tidur seperti orang pingsan, bahkan ia menggendong ku pun aku gak merasakannya." Sambung Vanya.
Saat akan menyantap sarapannya, ponsel yang baru saja ia simpan kembali berdering, dengan cepat gadis itu menerima panggilan tersebut.
"Apa kau mencoba mengabaikan ku?" Tanya Ernan dalam sambungan telponnya.
"Tidak." Sahut Vanya.
"Lalu kenapa kau tidak menjawab pesan ku?"
"Ahh.. baru mau aku jawab, makasih untuk semuanya." Ucap Vanya.
"Baiklah, aku suruh Leo untuk menjemput mu dan mengantarkan ke kampus."
"Tidak, jangan.. aku bisa pakai bus, yaudah aku tutup dulu telponnya." Sahut Vanya yang langsung memutuskan sambungan telponnya.
"Gila.. kenapa semakin hari sikapnya semakin aneh? seolah dia telah berperan sebagai seorang suami bahkan pernikahan itu belum di gelar." Gumam Vanya.
*
Di sebuah kampus, dengan seperti biasa Vanya berjalan menuju kelasnya seorang diri karena Michel yang selalu nempel dengan Joe.
"Astaga.. aku hampir lupa, bukan kah hari ini hari Jum'at? itu artinya lusa acara itu di gelar, ahh shit! aku malas bertemu dengan orang-orang menyebalkan." Gumam Vanya seraya menaruh kepalanya di atas meja.
Tok tok tok... Suara ketukan meja terdengar begitu jelas, gadis itu pun mengangkat kepalanya dan melihat seseorang yang telah berada di hadapannya.
"Bukan kah kau sudah tidak bekerja, kenapa terlihat begitu lelah?" Tanya Michel.
"Hm.. kau benar kali ini bukan lelah fisik tapi batin." Sahut Vanya.
"Seperti nya aku mencium bau-bau gosip, ayo katakan apa yang terjadi?" Ucap Vanya.
"Jika seseorang mendekati mu dengan penuh perhatian dan kelembutan apa orang itu benar menyukai mu? atau hanya ada maksud dan tujuan tertentu?" Ucap Vanya.
"Jelas kak Ernan benar menyukai mu, percayalah dia gak akan seperti mantan mu itu, apa kau masih meragukannya?" Sahut Michel.
"Entah, yang jelas jika aku bersamanya aku harus menyiapkan mental ekstra, kamu sendiri tau cabe kriting yang tak terus mengejarnya belum di tambah kak Luna dan ibunya sepertinya mereka gak menyukai aku." Jelas Vanya.
"Hei.. sejak kapan kamu peduli dengan sikap orang lain? ini sama sekali bukan Vanya yang aku kenal, hiduplah sebagai diri kamu sendiri ayo semangat kebahagiaan kamu di depan mata." Sahut Michel.
"Kau benar, aku gak perlu jadi orang lain untuk mencari kebahagiaan ku, abaikan mereka fokus pada masa depan." Ucap Vanya tersenyum.
Selesai kelas, kedua gadis itu pergi bersama menuju sebuah kantin. Seperti biasa Vanya dan Michel duduk di tempat yang selalu mereka tempati, tanpa di ketahui dengan secara tiba-tiba seseorang mengantarkan seorang pria menuju meja Vanya dan juga Michel.
Siapakah orang itu?
***
Bersambung. . .