
Masih dalam suasana yang tegang Vanya menutupi wajahnya sampai akhirnya si pemilik buku itu datang dan merebutnya dari tangan gadis itu secara paksa.
"Jangan mendekat! ku mohon pergilah!" Teriak Vanya sambil menutup matanya.
"Vanya!" Ucap si pemilik buku yang ternyata mengenali sosok Vanya.
Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat sosok pria yang ada di hadapannya saat ini. Entah itu kebetulan atau bukan yang jelas Vanya beruntung bertemu dengan nya meski ia masih di bilang anak kecil karena statusnya yang masih sekolah. Ya, dia adalah Ian yang sedang mengisi waktu luangnya di kedai tersebut sambil belajar.
"Astaga Ian, kamu membuat ku kaget tau gak!" Ucap Vanya mengelus dadanya dan bernafas lega.
"Kenapa? seperti di kejar setan." Ucap Ian yang duduk di hadapan Vanya.
Vanya hanya terdiam dan mengingat kembali kejadian beberapa tahun lalu, ia menunduk dan menangkup kepalanya ketika ia tak sanggup lagi membendung air matanya.
"Hei.. apa kau menangis? katakan ada apa? atau dia menyakiti mu?" Beberapa pertanyaan Ian lontarkan.
Dengan segera Vanya menyeka air matanya agar tidak di lihat oleh Ian.
"Dia kembali!" Ucap Vanya yang sedikit mulai tenang.
"Dia? dia siapa maksud kamu?" Tanya Ian yang tidak mengetahui apa yang di maksud Vanya.
"Bisakah malam ini aku tidur di rumah kamu? aku benar-benar takut kalau dia akan datang kembali ke rumah." Ucap Vanya tanpa menjawab pertanyaan Ian.
"Ayo, mama juga pasti mengijinkan kamu tidur di rumah." Ajak Ian mengulurkan tangannya.
Ian pun mengambil sepeda motor nya yang terparkir di depan kedai tersebut, dengan mengenakan Hoodie milik pria itu Vanya menyembunyikan wajahnya untuk berjaga kalau orang itu masih ada di sekitar sana.
Sementara di sisi lain, seorang pria menghubungi mantan bosnya untuk memberitahu keberadaan Vanya yang ternyata masih hidup.
"Gadis itu masih hidup." Ucap seorang pria dalam sambungan telponnya.
"Bagaimana kau mengetahuinya? apa kamu yakin dia putri Edric?"
"Aku yakin, karena saat pertama dia melihat ku dia begitu ketakutan." Jawab si pria.
"Bawa dia ke hadapan ku dalam keadaan hidup! setelah itu aku akan mengirim mu ke kota lain dengan jaminan dan semua fasilitas."
"Baik nyonya." Sambungan telpon pun terputus.
**
Di dalam sebuah rumah yang cukup luas Vanya di sambut oleh wanita yang tampak awet muda dan begitu ramah, ya dia adalah Anggie ibu dari pemilik nama Ian sekaligus pemilik minimarket tempat dimana Vanya bekerja dulu. Melihat Vanya yang terlihat begitu lelah, Anggie menyuruh Ian untuk mengantarkan nya ke dalam kamar tamu.
"Kalau perlu apa-apa panggil aku, kamar ku di depan sana." Ucap Ian menunjuk sebuah kamar yang terletak tak jauh dari kamar tamu.
"Makasih Ian, maaf merepotkan." Sahut Vanya.
"Santai aja lagi, bukankah kita sudah seperti keluarga? kenapa begitu canggung?" Ucap Ian.
"Kalian begitu baik, suatu saat aku akan membalas kebaikan kalian." Ucap Vanya.
"Hehehe... yaudah aku istirahat dulu." Ucap Vanya.
Vanya pun menutup pintu kamarnya, ia bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, sebelum Vanya datang Anggie telah menyiapkan sebuah pakaian miliknya di dalam kamar tersebut, karena putranya telah memberitahu kalau Vanya akan menginap di rumahnya. Selesai mandi Vanya duduk di atas sebuah ranjang dengan memeluk kedua lututnya, sempat ia berpikir kalau masalah hidupnya telah benar-benar selesai semenjak kedatangan Ernan, namun semua itu ternyata salah karena kemungkinan masalah baru akan segera di mulai.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? dia kembali membawa trauma ku di masa lalu, tapi aku gak boleh menyerah sebisa mungkin aku harus melawannya."
"Ya, benar kamu harus melawannya Vanya jika dulu kamu takut karena kamu masih kecil berbeda hal nya dengan sekarang, kamu telah tumbuh dewasa dan menjadi gadis yang kuat."
"Aku harus mencari tau siapa dalang semuanya yang telah merenggut papa dan mama!" Ucap Vanya yang bicara pada diri sendiri.
Flashback. .
Beberapa tahun yang lalu, di saat Vanya baru berusia 6 tahun, ia pergi bersama dengan kedua orang tuanya untuk makan malam bersama di sebuah restoran. Bukan hanya keluarga mereka tapi juga dengan keluarga teman papanya, acara makan malam berjalan dengan begitu lancar tanpa kendala atau firasat apapun. Bukan kemauan papa atau mama nya yang mengajak makan malam tapi atas permintaan Vanya sendiri.
Sampai acara itu selesai, entah apa yang terjadi tiba-tiba mobil yang di kendarai tuan Edric tiba-tiba oleng di saat jalan pulang sampai ia bilang kendali hingga menabrak pembatas jalan dan terjadilah kecelakaan yang merenggut kedua orangtua Vanya. Vanya yang di nyatakan selamat di rawat di rumah sakit selama beberapa hari sampai akhirnya ia di nyatakan sembuh dan di bawa oleh seorang pria yang mempunyai tatto di tangan kirinya.
Vanya ingat betul kalau ia sempat mendengar pembicaraan orang itu dengan seseorang yang menyuruhnya untuk menyabotase mobil papanya agar terlihat seperti kecelakaan biasa. Setelah mendengar pembicaraan itu Vanya mulai mencari cara untuk melarikan diri dan meminta bantuan orang lain, hingga akhirnya ia berhasil kabur dan dengan bantuan polisi Vanya bisa bertemu dengan mendiang neneknya.
Ia hidup bersama dengan neneknya sampai usia 16 tahun, dan si saat itu Vanya hidup sebatang kara, beruntungnya dengan kecerdasan yang ia miliki ia bisa menggunakan waktu sebaik mungkin untuk sekolah dan bekerja.
Flashback off
"Hahhh... sungguh aku tak ingin mengingatnya, tapi gara-gara pria sialan itu aku harus mengingatnya kembali semua kenangan yang begitu menyakitkan." Gumam Vanya.
Di tengah lamunan nya, ponsel Vanya terus berdering hingga akhirnya ia tersadar kalau Ernan telah mengubungi nya berkali-kali.
"Mampuss.. untuk apa dia menelpon ku sebanyak ini?"
Di saat Vanya akan menekan nomor Ernan, dengan kebetulan ponselnya kembali berdering yang beralih ke panggilan video. Dengan segera Vanya merapikan rambutnya sebelum menjawab panggilan tersebut.
"Darimana saja kamu? kenapa gak menjawab panggilan ku?" Tanya Ernan.
"Aku ketiduran." Jawab Vanya.
"Ketiduran dimana?"
"Di rumah lah, dimana lagi?" Sahut Vanya.
"Mulai berani bohong hm? kamu pikir aku anak kecil yang bisa di bohongi?" Ucap Ernan yang mulai terlihat marah.
"Baiklah, aku di rumah Ian ada sedikit masalah sampai aku ga bisa pulang ke rumah." Sahut Vanya yang akhirnya berkata jujur karena ia tidak mau membuat masalah dengan pria yang telah memberikan hati untuk nya.
Setelah Vanya mengatakan semuanya, tanpa permisi Ernan langsung memutuskan sambungan video call nya.
"Sudah ku duga akan seperti ini." Gumam Vanya yang kembali mengganti bajunya agar siap jika di seret Ernan nanti.
***
Bersambung. . .