
Di sebuah kantin Michel telah duduk manis dengan satu mangkuk Jajangmyeon dan tteokbokki makanan favorit Vanya serta choco drink yang menjadi minuman favoritnya.
"Nyangkut dimana? Lama banget." Ucap Michel.
"Habis nonton live sebentar." Jawab Vanya sambil menyesap minuman favorit nya.
Gadis itu pun mulai menyantap makanannya dengan begitu lahap, dengan tak biasanya Vanya makan seperti itu membuat Michel mengeluarkan tanda tanya dalam benaknya. Sebelum gadis itu bertanya, Vanya telah membuka obrolan dengan ia mengatakan suatu hal yang membuat temannya itu kaget bukan main.
"Kamu serius? Nic bersama dengan Sheila?" Ucap Michel kaget dan tidak menyangka dengan semuanya.
"Hm, aku bahkan tadi nonton live mereka."
"Jadi yang kamu maksud live itu mereka? Astaga untung kamu gadis pintar gak masuk kedalam perangkapnya."
"Ya, kau emang gak masuk kedalam perangkap dia tapi aku masuk kedalam perangkap mu!" Ucap Vanya.
"Kenapa jadi aku? Aku bahkan tidak melakukan apapun." Sahut Michel.
"Lupakan! Rupanya kau tidak sadar telah membawa ku kedalam dunia malam." Gerutu Vanya yang melanjutkan makannya.
Mendengar Vanya menggerutu membuat temannya itu tertawa geli. Selesai dengan makan siangnya kedua gadis itu berjalan menuju perpustakaan untuk mengerjakan sebagian tugas nya yang harus segera di setorkan. Di dalam sebuah perpustakaan yang begitu hening, ponsel Vanya berdering cukup kencang hingga membuat beberapa pasang mata melihat ke arahnya.
Dengan segera gadis itu menjawab panggilan telponnya yang tak lain adalah dari Carla. Gadis kecil itu memberitahu Vanya kalau ia kini telah berada di kampusnya. "Apa?" Ucap Vanya dengan begitu kaget dan membuat semua orang yang berada disana kembali melihat ke arahnya. Dengan segera Vanya membereskan semua buku serta laptop nya dan bergegas pergi dari tempat itu.
"Hei kamu mau kemana?" Tanya Michel.
"Ada urusan penting, bye aku duluan." Ucap Vanya.
Di sebuah taman kampus Carla duduk seorang diri dengan mengenakan mini dress berwarna putih yang bermotif bunga kecil, parasnya yang begitu cantik dan merupakan orang asing di tempat itu membuat sebagian mahasiswa melirik ke arahnya. Tak lama kemudian Vanya pun sampai dengan nafas yang tersengal-sengal karena jarak dari perpustakaan ke taman cukup jauh di tambah Vanya berlari agar Carla tidak lama menunggunya.
"Carla.. ada apa? Kenapa kamu datang kesini?" Tanya Vanya.
"Duduklah dulu, nih minum." Ucap Carla memberikan satu kaleng minuman.
"Makasih." Sahut Vanya yang langsung meneguk minuman itu.
"Sebelumnya aku minta maaf kalau udah menganggu belajar kakak, aku di suruh mama untuk menemui kakak langsung tanpa sepengetahuan kak Ernan."
"Katakan langsung, untuk apa Tante menyuruh kamu menemui aku?"
"Mama menyuruhku untuk memberikan ini." Jawab Carla memberikan sebuah kotak yang cukup besar pada Vanya.
"Apa ini?"
"Kakak buka aja, dan lihat sendiri isinya."
Vanya pun membuka kotak tersebut, dan betapa kagetnya dia ketika melihat satu perangkat perhiasan yang begitu cantik dan terlihat elegan dalam kotak tersebut.
"Astaga.. ini pasti salah, semua ini gak mungkin buat aku." Ucap Vanya.
"Tapi aku gak bisa menerima semuanya, ini terlalu berharga buat aku bahkan jika di bandingkan dengan aku sendiri, semua ini lebih berharga dari pada aku."
Dengan segera Carla beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Vanya, dengan langkah yang mundur gadis itu melambaikan tangannya ke arah Vanya sampai akhirnya ia memutarkan tubuhnya dan tidak sengaja menabrak seorang pria yang tak asing di matanya. Melihat kejadian itu Vanya pun menghampiri keduanya yang saling beradu tatapan.
Saat Vanya ingin menarik Carla untuk menjauh dari pria itu saat itu juga gadis itu mengucapkan nama pria yang kini berada di hadapannya. Sontak hal itu membuat Vanya kaget, bagaimana bisa Carla mengenal Nic?
"Kamu kenal dengannya?" Bisik Vanya.
"Tentu, aku bahkan sangat mengenalnya. Dia pria brengsek yang mengencani banyak wanita dan juga dia adalah adiknya kak Shita." Jelas Carla dengan tatapan yang masih menatap lekat wajah Nic.
Ctarrr.... Apa yang di katakan Carla tentu saja membuat Vanya tidak percaya, rasa penasaran nya terhadap hubungan Nic dan Shita kini terungkap sudah.
"Berhati-hatilah terhadap nya, karena mereka orang yang licik." Ucap Carla kembali.
"Dia benar, aku harus lebih berhati-hati dengan kakak beradik itu, jika aku salah mengambil satu langkah saja kemungkinan dia akan membongkar semuanya." Batin Vanya.
"Aku pulang dulu kak." Ucap Carla yang pergi menjauh.
"Kau terlihat begitu akrab dengannya, apa hubungan mu dengan keluarganya?" Tanya Nic seolah mengintrogasi Vanya.
"Bukan urusan mu!"
Di saat Vanya hendak melangkahkan kakinya, tangan Nic berhasil menghentikannya.
"Kenapa terburu-buru sayang? Aku ingin berbicara lebih dengan mu." Ucap Nic mencengkeram tangan Vanya dengan begitu kencang.
Vanya pun menggigit tangan Nic dan berhasil melarikan diri. "Haahhh... Sungguh dunia begitu sempit, kenapa mereka berhubungan antara satu dengan yang lainnya? Masalah apa lagi yang akan aku hadapi? Oh Tuhan... Selamatkan lah gadis kecil yang malang ini." Gerutu Vanya dalam langkahnya.
Sepulang dari kampus Vanya berniat untuk bersantai sejenak di dalam rumahnya sebelum ia bekerja sampai larut malam. Ketika langkah kakinya menginjak halaman gedung dimana ia tinggal, Vanya melihat segerombolan wanita yang terlihat begitu marah, dengan penuh kehati-hatian Vanya melangkah dan menghampiri mereka, belum sempat gadis itu bertanya ia telah di serbu lebih duluan oleh para wanita yang telah memendam amarahnya.
Vanya pun hanya berjongkok pasrah karena ia tidak bisa melarikan diri dari amukan para istri pria yang selalu di temani nya di bar. Setelah emosinya meluap akhirnya Vanya pun berdiri dan berteriak sekencang mungkin. "Diam...!!!" Teriak Vanya hingga menghentikan semua tindakan para wanita itu.
"Kalian dengar semuanya, aku bukan wanita malam yang seperti kalian kira! Aku hanya bekerja di tempat itu! Dan jika masalah dengan suami kalian, sebaiknya kalian bercermin! Tanya diri sendiri kenapa bisa suami kalian pergi ke sebuah bar hanya untuk kesenangan mereka! Karena seorang pria gak mungkin meninggalkan istrinya jika kalian pintar merawat diri!" Tegas Vanya.
"Aishh... Sial! Benar-benar menyebalkan." Sambung Vanya.
Di saat ia akan melangkahkan kakinya, amukan para wanita itu semakin menjadi karena mereka tidak menerima dengan apa yang di katakan Vanya yang seolah meremehkan mereka dalam merawat diri. Satu demi satu mereka melempar Vanya dengan telur, tomat bahkan sebuah batu yang di barengi dengan cacian dan hinaan.
"Tuhan... Jika aku harus mati saat ini aku ikhlas." Gumam Vanya yang telah pasrah dengan keadaan.
"Cukup! Apa yang kalian semua lakukan?!" Bentak seorang pria yang kini melindungi Vanya dengan tubuh kekarnya.
Seketika mereka pun berhenti ketika melihat wajah Ernan yang terlihat begitu marah seperti kesetanan.
***
Bersambung. . .