Virgin (True Love)

Virgin (True Love)
Bab 56



Satu hari sebelum kepergian Ernan untuk masalah bisnis nya, musim salju pertama kalinya turun di kota itu. Sesuai dengan apa yang di katakan Vanya sebelumnya bahwa ia ingin mengunjungi suatu tempat dimana pas pertama salju datang. Vanya telah bersiap dengan pakaian tebal serta sebuah syal yang melingkar di lehernya, sementara dengan Ernan masih duduk santai di ruang kerjanya.


"Apa kau lupa akan suatu hal?" Ucap Vanya menghampiri suaminya.


Erman menarik tangan Vanya dan mendudukkan di atas pangkuannya, ia menatap wajah Vanya yang sama sekali tidak bosan untuk di lihatnya.


"Hei.. kenapa kau menatapku seperti itu?" Ucap Vanya dengan suara manjanya.


"Kemana kau akan membawaku pergi?" Tanya Ernan.


"Aku akan memberimu petunjuk setelah kita jalan, ayo." Ucap Vanya beranjak dari duduknya.


Lagi-lagi Ernan menarik pinggang Vanya dan enggan untuk melepaskannya, ia mengecup bibir Vanya sebelum akhirnya mereka pergi ke tempat yang ingin istrinya kunjungi. Selama satu jam lebih perjalanan mereka lewati akhirnya Vanya menyuruh suaminya untuk menepikan mobil nya di area sebuah pemakaman, Vanya bergegas turun dengan membawa dua buket bunga di tangannya yang akan ia berikan pada mendiang kedua orangtuanya.


Ini untuk pertama kalinya Vanya mengajak sang suami berkunjung ke pemakaman kedua orangtuanya. Vanya menaruh bunga yang di genggamnya di atas makam orangtuanya. Tak lupa juga ia berkunjung ke pemakaman mendiang nenek nya dan memberikan bunga yang dibawakan oleh suami nya.


"Aku telah berhasil menangkap pelaku yang telah mencelakai kalian, da kini aku sudah hidup bahagia bersama dengan orang yang kalian juga kenal, semoga mama dan papa selalu bahagia disana." Ucap Vanya.


Selesai dari pemakaman, Vanya mengajak Ernan untuk pergi ke sebuah restoran yang selalu dikunjungi bersama keluarganya di masa lalu. Ia memesan makanan yang menjadi favorit nya dari dulu sampai sekarang. Di tengah menyantap makanannya Vanya menghentikan suapannya karena tiba-tiba ia merasa mual dan tidak ***** lagi untuk melanjutkan makannya.


"Kenapa tidak kamu habiskan?" Tanya Ernan.


"Hmph.. tiba-tiba aku mual dan tidak berselera." Sahut Vanya ubah menutup mulutnya di saat ia ingin muntah.


"Apa kau baik-baik saja?"


"Em.. aku lelah ayo pulang." Sahut Vanya.


Selama perjalanan kembali ke rumahnya, Vanya merasakan pusing dan rasa mual yang tak ada hentinya. Ernan pun menepikan mobilnya, ia mengambil kotak p3k yang terletak di kursi belakang dan mengoleskan minyak angin pada tengkuk leher Vanya serta memijitnya dengan perlahan.


"Kita ke rumah sakit ya?" Ajak Ernan.


"Aku benci rumah sakit." Sahut Vanya.


"Aku gak bisa membiarkan mu sakit seperti ini, terlebih besok aku harus pergi meninggalkan mu selama beberapa hari." Ucap Ernan yang begitu cemas dengan keadaan istrinya.


"Aku gak papa, minum obat juga nanti sembuh ayo pulang." Sahut Vanya.


Ernan pun kembali mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali ia melihat dan mengusap lembut pipi istrinya yang terlihat sedikit pucat. Sesampainya di rumah ia menggendong Vanya ke dalam kamarnya, tak lupa ia juga menyuruh pelayan rumah nya untuk membuatkan teh hangat.


"Aku akan suruh Carla untuk menemani kamu selama aku gak ada." Ucap Ernan.


"Gak usah aku gak papa, Carla juga mungkin sibuk dengan kuliahnya." Sahut Vanya.


"Aku gak akan bisa pergi dengan tenang melihat kamu seperti ini." Ucap Ernan.


"Astaga sayang.. aku beneran gak papa lagian di rumah juga ada pelayan aku gak sendiri." Sahut Vanya.


"Mulai berani melawan suami kamu hm? atau kamu punya rencana lain di saat aku pergi?" Tanya Ernan.


Pertanyaan yang tidak masuk akal itu tentu saja membuat Vanya kesal sampai ia beranjak dari duduknya dan berdiri tepat di hadapan suaminya.


"Apa maksud kamu aku punya rencana lain? sejak kapan aku suka menyembunyikan sesuatu dari kamu?!" Tanya balik Vanya.


Ernan pun menghela nafasnya dan meminta maaf pada istrinya, ia tidak bermaksud untuk mencurigai Vanya atau membentaknya hanya karena mencemaskan keadaannya pikiran Ernan menjadi tidak begitu tenang. Sampai akhirnya suara ketukan pintu mengentikan perseteruan mereka, Vanya berniat untuk membuka pintu kamarnya namun tangan Ernan menariknya dan menyuruhnya untuk duduk kembali.


"Aku akan menyuruh Leo untuk memanggilkan dokter." Ucap Ernan.


Vanya hanya mengangguk mengiyakan ucapan suaminya, Ernan pun kembali menggendong Vanya yang terlihat semakin lemas. Setelah menghubungi dokter pribadi Ernan, Leo segera menghubungi nyonya Liu untuk bergosip dan mengatakan bahwa Vanya sedang mengandung anak Ernan.


"Apa kau serius? Vanya hamil?" Ucap nyonya Liu yang sedikit berteriak di balik telponnya.


"Sepertinya begitu nyonya, tadi aku melihatnya sendiri kalau dia muntah-muntah." Sahut Leo.


"Apa dokter sudah memeriksa nya? bagaimana keadaannya?" Tanya nyonya Liu.


"Belum, mungkin dokter Ling masih dalam perjalanan." Sahut Leo.


"Baguslah, segera kabari saya secepat mungkin." Ucap nyonya Liu.


"Siap nyonya."


Sambungan telpon pun terputus, karena begitu bahagia dengan refleks nyonya Liu joget-joget sendiri tanpa ia sadari kalau putrinya sedari tadi memperhatikannya bahkan sempat merekam kelakuan mama nya untuk di kirimkan pada papanya yang berada di luar negeri.


Sambil cekikikan, Carla mengirim rekaman video itu pada papa nya sampai akhirnya nyonya Liu menyadari akan kehadiran Carla, ia segera menghentikan aksinya dan menghampiri putrinya.


"Apa yang kau tertawakan?" Tanya nyonya Liu.


"Tiak ada, aku hanya chating sama papa." Sahut Carla.


Tak lama kemudian tuan Richard pun menghubungi putrinya lewat sebuah panggilan video, Carla yang langsung menerima panggilan itu mengarahkan kameranya ke arah nyonya Liu yang tidak mengetahui apapun.


"Sepertinya mama terlihat lebih sehat." Ucap tuan Richard.


"Apa secara tidak langsung papa mengatai mama tidak sehat?" Sahut nyonya Liu.


"Tidak, bukan seperti itu tapi goyangan mama mengingatkan papa pada masa muda." Ucap Richard.


"Yak!! Carla...!!" Teriak nyonya Liu.


Carla pun segera melesat pergi sambil membawa ponselnya dengan sambungan telpon yang masih terhubung. Ayah dan anak itu tak hentinya tertawa melihat ekspresi wajah nyonya Liu yang terlihat malu.


"Dasar anak nakal...!! awas kau Carla...!" Teriak nyonya Liu.


"Hahahaha... mama lucu banget si pa." Ucap Carla.


"Apa yang dia dapatkan sampai joget-joget seperti itu?" Tanya Richard.


"Entah aku tidak tau pasti tapi tadi ku dengar kalau gak salah mama lagi telponan sama kak Leo, pasti mereka bergosip tentang kakak." Ucap Carla.


"Dasar mama kamu ini ada-ada aja, yaudah papa tutup dulu telponnya."


"oke"


Sambungan telpon pun terputus, dan Carla masih tertawa hingga masuk kedalam kamarnya.


***


Bersambung. . .