Virgin (True Love)

Virgin (True Love)
Bab 47



Di sebuah cafe, Leo telah duduk sendiri dengan secangkir kopi di hadapannya, ia terlihat sedang fokus pada layar ponselnya sampai akhirnya Ian dan Carla pun sampai di tempat itu. Kedua orang itu menarik kursinya dan duduk di sisi kanan kiri Leo. Ian mengeluarkan alat perekam yang berhasil di dapatkannya beserta dengan rekaman kamera yang mereka pasang.


"Agen yang luar binasa." Ucap Leo.


"Biasa pak, ya kali binasa!" Sahut Carla.


"Hehe.. canda dikit elah, serius terus bikin tegang kayak si anu." Ucap Leo.


"Anu apa?" Sahut Carla yang tidak mengerti.


"Anak kecil perboden gak boleh tau." Sahut Ian.


"Yak! siapa yang kau bilang anak kecil? usia ku bahkan di atas mu satu tahun!" Ucap Carla mengerucutkan bibirnya dan menyilangkan tangan di dadanya.


Melihat tingkah kedua anak itu membuat Leo tersenyum tipis.


"Sudah, kita kembali ke topik utama." Ucap Leo.


"Pak topik lagi tugas di pos ronda. " Sahut Ian.


"Bukan nya dia lagi mancing ya?" Sahut Carla.


Bercandaan dari keduanya membuat Leo terus menggelengkan kepalanya, bisa-bisanya ia bekerja satu tim bersama dengan anak-anak absurd. Setelah cukup dengan candaan nya kini giliran Leo memberitahukan mereka tentang keadaan Vanya saat ini yang membuat keduanya kaget dan geram dengan tingkah Lingga.


"Kenapa Tante sampai melakukan hal itu? apa tujuan sebenarnya?" Ucap Carla.


"Tentu saja dia ingin kedudukan yang di tempati Lucas saat ini jadi dia menggunakan Vanya untuk menyingkirkan nya, dan kemungkinan bukan hanya itu tapi dia ingin menyingkirkan Vanya karena dia putri dari mendiang nyonya Milly." Jelas Leo.


"Dasar wanita iblis!" Ucap Ian.


"Ayo kita selamatkan kak Vanya." Ucap Carla.


"Kita gak bisa gegabah, aku udah mengatur semuanya, kalian gak perlu cemas." Ucap Leo.


*


Malam hari tiba, suasana di bangunan kosong itu sangatlah sepi hanya ada sedikit penerangan di ruangan tempat Vanya di sekap. Dengan kondisi beberapa luka di tubuhnya gadis itu masih bisa bertahan, sampai akhirnya seseorang berpakaian serba hitam dan tertutup datang menghampiri nya. Vanya hanya bisa menatap sinis ke arah orang itu dengan tatapan penuh kebencian.


Orang itu berjongkok di hadapan Vanya dan menatapnya dengan begitu dalam serta mata yang berkaca-kaca. Ia melepaskan ikatan kaki Vanya dan membantunya berdiri untuk keluar dari tempat itu. Dengan mulut yang masih tertutup Vanya tidak bisa berkata apapun dan hanya berontak menggunakan tubuhnya.


"Siapa kau? mau bawa dia kemana?" Tanya pria bertato.


"Nyonya Lingga menyuruh aku untuk membawa ke rumahnya." Sahut pria itu.


"Tunggu, biar ku telpon nyonya sebelum kalian pergi." Ucap bawahan Lingga.


"Tidak perlu, biar aku yang menghubunginya." Sahut orang itu.


Setelah sambungan telpon berakhir, akhirnya ia mengijinkan orang itu untuk membawa Vanya pergi. Cukup jauh Vanya berjalan dari tempat itu, akhirnya orang yang berada di sampingnya membuka ikatan tangan Vanya dan penutup mulutnya hingga akhirnya ia bisa melawan orang di sampingnya dan hendak melarikan diri namun rencananya gagal ketika orang itu menarik tangannya.


Sebelum Vanya semakin berontak, orang itu membuka penutup wajahnya hingga membuat Vanya membelalak kaget tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Sampai akhirnya sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka, belum sempat Vanya bicara ia ditarik masuk kedalam mobil dan segera meninggalkan tempat itu sebelum ketahuan.


"Ernan? bagaimana kamu bisa..." Ucapan Vanya terputus ketika melihat orang yang mengendarai mobil itu adalah Leo.


"Jadi kalian merencanakan semua ini? lalu siapa tadi yang kamu telpon?" Tanya Vanya.


"Teman kamu, yang aku telpon." Sahut Ernan.


"Lalu bagaimana dengan aku yang mengetahui kamu di sekap? apa aku harus diam aja? sekarang kamu adalah prioritas aku ingat itu!" Ucap Ernan.


Sementara itu di tempat lain, keberadaan Michelle dan Joe, gadis itu masih bingung dengan orang yang menelponnya tadi, meski Leo yang menyuruhnya berperan sebagai Lingga namun Michelle sekilas mengenali suara yang berada di balik telponnya. Ya, tidak ada orang lain yang mengetahui kalau Erman masih hidup.


"Bagiamana bisa? tapi itu tidak mungkin." Gumam Michelle.


"Hei apa yang kau gumam kan?" Tanya Joe.


"Aku seperti tidak asing dengan suara yang tadi meneleponku." Jawab Michelle.


"Bukankah itu orang suruhannya Leo untuk menyelamatkan Vanya?" Ucap Joe.


"Hm, tapi kenapa suaranya mirip... ah sudahlah, mungkin aku lelah." Sahut Michelle yang beranjak dari duduknya dan menuju kedalam sebuah kamar.


"Gak mungkin kalau itu kak Ernan kan? kalau itu benar dia... bersembunyi dimana dia selama ini?" Gumam Joe.


**


Malam telah berlalu, suasana pagi hari di rumah kecil dengan luasnya perkebunan buah terasa begitu sejuk. Ernan yang telah bangun terlebih dulu membawakan sarapan kedalam kamar Vanya, ia duduk di tepi ranjang dan mengusap wajah Vanya dengan begitu lembut.


Merasakan sentuhan yang telah lama ia rindukan membuatnya terbangun dari mimpi indahnya dan melihat kenyataan yang lebih indah dari mimpinya.


"Apa aku membangunkan mu?" Tanya Ernan tersenyum.


"Hm, kau membangunkan mimpi indah ku." Sahut Vanya.


"Ahh, maaf aku tidak bermaksud untuk membangunkan mu." Ucap Ernan.


"Tidak apa, karena kenyataan yang sekarang jauh lebih indah dari mimpi aku." Sahut Vanya.


"Ayo sarapan, setelah ini aku ajak jalan-jalan keliling kebun." Ucap Ernan.


"Ch, udah sok jadi tuan rumah aja." Ledek Vanya dalam candaannya.


"Hei apa kau lupa siapa aku? jika menginginkannya aku bahkan bisa membeli semua ini." Ucap Ernan yang kemudian keluar dari kamar Vanya.


Vanya hanya tersenyum mendengar apa yang di katakan pria itu, ia segera menyantap sarapannya dan bersiap untuk pergi. Setelah semuanya siap Vanya pun keluar dari kamar nya dan dengan tidak sengaja ia melihat keakraban Ernan bersama dengan Liora.


Gadis itu menghela nafasnya melihat kekasihnya berbincang dengan wanita lain begitu akrab, ia melangkahkan kakinya menghampiri keduanya yang sedang bercanda.


"Aku udah siap." Ucap Vanya yang berdiri di samping Ernan.


"Ayo, Yora aku pergi dulu." Sahut Ernan yang kemudian berpamitan.


Mereka pun mulai berjalan bersama menelusuri jalan menuju kebun buah, selama berjalan tak sepatah katapun yang Vanya ucapkan, ia hanya terpikir dengan kedekatan Ernan dan Liora selama ini. Entah itu rasa cemburu atau hanya kecemasan akan kehilangannya, Vanya tidak bisa menafsirkan semua itu.


"Apa ada sesuatu yang kamu pikirkan?" Tanya Ernan.


"Bagaimana kau bisa akrab dengannya?" Tanya balik Vanya.


Alih-alih menjawab pertanyaan kekasihnya itu, Ernan malah tertawa geli dengan pertanyaan yang di katakan Vanya.


***


Bersambung. . .