Virgin (True Love)

Virgin (True Love)
Bab 36



Pagi hari pun tiba, sinar mentari pagi telah menembus masuk kedalam sebuah jendela kamar yang di dalamnya terdapat dua sejoli yang masih terlelap dalam tidurnya.


"Dimana mereka?" Tanya nyonya Liu yang telah tiba di kediaman Ernan.


"Dia masih di dalam kamar non Vanya." Sahut Leo.


Dengan segera nyonya Liu melangkah ke arah kamar tamu yang di tempati oleh Vanya. Sesampainya di depan sebuah kamar, ia mencoba membuka pintu dengan perlahan yang kebetulan tidak di kunci. Walaupun pintu tidak terkunci Ernan tidak khawatir karena tidak ada seorangpun yang berani masuk kedalam ruangan yang ia tempati tanpa seizinnya.


Ceklek. . .


Akhirnya pintu kamar itu pun terbuka sedikit, nyonya Liu mengintip dengan begitu antusias untuk membuktikan ucapan Leo benar atau hanya gosip semata.


"Kenapa gelap? padahal ini udah siang." Gumam nyonya Liu sambil mengucek matanya.


Tanpa ia sadari, Ernan telah berdiri di hadapannya dan menghalangi pandangan mamanya itu, sampai akhirnya pria itu berpura-pura batuk dan menyadarkan mamanya hingga nyonya Liu mendongak dan terlihatlah wajah tampan sang putra yang kini telah memperhatikan tingkah aneh mamanya. Dengan wajah yang tak berdosa nyonya Liu nyengir di hadapan Ernan.


"Mama ngapain pagi-pagi udah disini?" Tanya Ernan yang kemudian berjalan keluar dan menutup pintu kamar.


"Itu... em.. mama.... apa kamu telah berhasil mencetak keturunan?" Sahut nyonya Liu dengan gugup dan akhirnya berbisik.


"Tidak, aku hanya menemaninya." Ucap Ernan.


"Aishh.. dasar si tukang gosip!" Gumam nyonya Liu.


"Leo.....!!!!" Teriak nyonya Liu.


"Siap nyonya, ada yang bisa di bantu?" Ucap Leo yang langsung melesat menghampiri wanita awet muda itu.


"Bagus kamu ya! sudah ku bilang jangan membuat gosip!" Ucap nyonya Liu.


"T-tapi nyonya...." Ucapan Leo terputus ketika melirik Ernan yang tersenyum miring dan menaikkan alisnya.


"Jadi semalam tidak terjadi apa-apa?" Tanya Leo.


"Berapa kali aku harus mengatakan ini? Cuci otak mu! jangan kebanyakan nonton film ---"


Terdengar suara gaduh dari luar, membuat Vanya terbangun dari tidurnya hal pertama kali yang ia cari ketika membuka matanya adalah sebuah ponsel untuk melihat jam. Waktu menunjukan pukul 07.15 gadis itu pun bergegas turun dan berjalan ke arah pintu, ia membuka pintu dan melihat tiga orang yang tengah berbincang.


"Heuh?" Mata Vanya seketika melotot ketika melihat sosok wanita yang mungkin akan menjadi ibu mertuanya.


"Aiyoo.. Vanya, apa aku telah membangunkan mu hm?" Tanya nyonya Liu yang melihat Vanya di belakang Ernan.


"Ahh.. tidak Tante, aku sudah bangun dari tadi." Sahut Vanya tersenyum malu.


"Bagaimana bisa dia ada disini sepagi ini? apa jangan-jangan dia melihat aku tidur bersama putranya?" Batin Vanya.


**


Hari menjelang siang, di area kampus tepatnya di sebuah tangga Vanya berpapasan dengan pria yang pernah ia sukai namun tak pernah ia miliki. Ya, siapa lagi pria itu kalau bukan Nic, ia mencoba menyapa Vanya namun gadis itu mengabaikannya begitu saja setelah ia melihat apa yang di lakukan nya bersama dengan Sheila.


"Apa kau tidak tau siapa Ernan sebenarnya?" Ucap Nic yang berhasil menghentikan langkah Vanya.


"Aku hanya percaya dengan apa yang ku lihat bukan ucapan orang lain yang mungkin hanya ingin menjatuhkannya." Sahut Vanya.


"Tapi Van, dia adalah...." Ucapan Nic terputus ketika Vanya menyelanya.


"Perlu ku ingatkan satu hal, jangan pernah bermain api jika kamu gak mau terbakar, sekuat apapun usaha dia untuk merebut Ernan dia gak akan pernah mendapatkan nya." Sambung Vanya yang kemudian pergi menuju kelasnya.


Kling... Sebuah notifikasi pesan masuk di ponsel Vanya, dengan segera ia membuka pesan tersebut yang berisi pemberitahuan kalau dirinya lulus dalam sebuah acara perlombaan desainer dan masuk ke tahap final yang akan di gelar beberapa hari lagi. Vanya pun tercengang ketika ia membuka pesan tersebut, pikirannya langsung tertuju pada Michelle yang mungkin telah berbuat sesuatu tanpa sepengetahuannya.


Gadis itu berlari ke kelasnya untuk mencari keberadaan sahabatnya itu namun tak ada tanda-tanda Michelle disana, ia melanjutkan pencariannya ke tempat yang biasa mereka kunjungi, dimana lagi kalau bukan di atap gedung kampus. Dengan nafas yang tersengal-sengal akhirnya Vanya sampai di atap namun ia juga tidak mendapati Michelle disana. Lelah untuk mencari akhirnya ia merogoh sakit celananya mengambil sebuah ponsel dan mengubungi sahabatnya.


"Katakan dimana kamu sekarang?" Tanya Vanya dalam sambungan telponnya.


"Ada apa? sepertinya ku mencium aroma gosip." Sahut Michelle.


"Cepat katakan!" Ucap Vanya.


"Baiklah, aku di taman belakang kampus, ayo kesini." Sahut Michelle.


Dengan segera Vanya pun melesat ke taman belakang kampus, dan benar saja ia mendapati sosok gadis yang di carinya sedang mengotak-atik laptop di pangkuannya. Tanpa basa basi atau sepatah kata, Vanya menarik leher Michelle dengan tangannya.


"Yak!! Vanya... lepaskan aku bisa mati!" Ucap Michelle.


Gadis itu pun melepaskan Michelle dan duduk di sampingnya.


"Apa yang kau lakukan hah? bukannya aku telah menolak acara itu bahkan batas waktunya udah lewat? lalu kenapa bisa aku mendapatkan pesan lolos masuk final?" Ucap Vanya.


"Bukan aku serius." Sahut Michelle mengacungkan dua jarinya.


"Jika bukan kamu lalu siapa?"


"Ahh.. aku ingat, mungkin calon mertua kamu karena dulu Carla datang menemui ku untuk meminta beberapa hasil karya kamu, mungkin dengan itu mereka memasukan kamu dalam acara lomba." Jelas Michelle.


"Aishh.. kenapa dari mereka gak ada yang bilang satu orang pun?"


"Entah, coba aja kamu tanya Carla. Tapi bukannya itu kabar baik? aku yakin kamu akan jadi juaranya, terlebih kak Ernan ikut berpartisipasi dalam acara itu." Ucap Michelle.


"Entah masalah apa lagi yang akan terjadi, yang pasti mental ku harus lebih kuat." Ucap Vanya tersenyum palsu.


Waktu berlalu begitu cepat, semua kelas telah Vanya lewati dengan baik, kini saatnya ia kembali untuk beristirahat di rumah yang selalu membuatnya nyaman, Vanya pulang bersama dengan Michelle dengan menggunakan mobil pribadi sahabatnya itu.


Setengah jalan berlalu Vanya baru ingat kalau saat ini ia belum bisa pulang ke rumahnya, alhasil ia menyuruh Michelle untuk memutar balikkan mobilnya menuju ke rumah Ernan.


"Sejak kapan kalian tinggal bersama?" Tanya Michelle.


"Tadi malam." Jawab Vanya.


"Ckckck, apa ini artinya kalian udah..." Ucap Michelle terputus ketika Vanya menyela ucapannya.


"Jangan berpikir yang aneh-aneh! semua terjadi karena ada sedikit masalah yang harus aku selesaikan."


"Baiklah, aku tunggu kabar baiknya." Sahut Michelle.


***


Bersambung. . .


Mohon maaf jika ceritanya masih datar karena belum sampai ke tahap konfliknya... mohon dukungannya.. πŸ™πŸ˜Œ