
Satu hari sebelum final, Ernan pergi meninggalkan kota itu dan kekasihnya tercinta, ia pergi ke kota x untuk urusan bisnisnya. Hari-hari di yang biasa Vanya lewati bersama Ernan kini terasa sepi. Setelah identitas dirinya yang sebenarnya terungkap kehidupan Vanya perlahan menjadi tenang, bahkan pria yang masih mengejarnya kini telah menghilang selama beberapa hari.
Aneh... ya, sungguh sangat aneh, dia muncul secara tiba-tiba setelah sekian lama dan menghilang begitu saja tanpa ada yang mengetahui bahkan Ernan dan Leo pun belum berhasil mengungkap siapa dia sebenarnya. Satu-satunya cara adalah dengan Vanya sendiri yang harus memancingnya kembali keluar, jika ia berhasil menangkapnya maka dalang di balik semuanya akan segera terungkap.
"Aku harus mengatur sebuah perangkap untuknya, tapi bagaimana caranya?" Gumam Vanya.
" Ayo Vanya pikirkan sesuatu... kau pasti bisa mengungkap semuanya." Ucap gadis itu pada dirinya sendiri.
Gadis itu pun beranjak dari posisi tidurnya dan melangkah menuju kamar mandi, 10 menit Vanya menghabiskan waktunya untuk mencuci muka dan menggosok giginya, ia kemudian menuju meja makan dan mengambil selembar roti serta menghangatkan segelas susu yang akan menjadi menu sarapannya.
Vanya mengambil ponselnya untuk mengecek ada pesan masuk dari pria yang di rindukannya atau tidak. Seketika senyum nya melebar ketika membaca sebuah pesan masuk dari Ernan yang selalu memberikannya perhatian lebih meski terpisahkan oleh jarak. Bayangan yang di laluinya bersama dengan Ernan di setiap penjuru rumah membuat Vanya semakin merindukan nya dan mengingat semua hal yang telah di laluinya.
Ting tong. . . Seketika suara bell membuyarkan lamunan nya.
"Sialan, siapa yang berani menganggu ku?!" Ucap Vanya sambil berjalan ke arah pintu.
Ia pun membuka pintu rumahnya dan terlihat sosok pria yang sangat akrab di kehidupannya. Ya, siapa lagi kalau bukan Ian, ia sengaja datang ke rumah Vanya karena beberapa hari ini mereka tidak saling bertemu. Ian yang membawa beberapa camilan dan minuman langsung menerobos masuk di menaruh bawaan nya di atas meja, ia mengeluarkan semua isi dari kantong yang di bawanya dan mengajak Vanya untuk minum bersama.
"Hei bagaimana kau tau aku ada disini?" Tanya Vanya.
Pria itu pun langsung mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah rekaman kamera cctv yang terhubung langsung dengan ponselnya.
"Kau... kapan memasang nya?" Tanya Vanya kembali.
"Beberapa hari yang lalu ketika kak Ernan membawa mu pergi dari rumah." Jawab Ian.
"Bisa kamu cek rekaman beberapa hari kebelakang?" Ucap Vanya.
"Tentu, dan aku sudah melihatnya." Sahut Ian memutar rekaman cctv.
Setelah melihat semua rekaman itu terlihat seseorang menunggu di dekat depan rumah Vanya dengan mengenakan baju serba hitam dan tentunya orang yang sama. Terbesit dalam pikiran Vanya untuk menggunakan kamera pengintai itu sebagai alat untuk menangkap pria bertato. Ia pun membuat rencana bersama dengan Ian dan juga akan meminta bantuan Leo untuk menangkapnya.
Belum sempat menghubungi Leo, dengan secara kebetulan ia menghubungi Vanya lebih dulu dengan memberi sebuah kabar tentang keadaan Ernan saat ini, setelah mendengar berita tentang kekasihnya itu dengan tidak sengaja Vanya menjatuhkan ponselnya dan di susul dengan air mata yang menetes.
"Hei.. ada apa? kenapa kau menangis dan menjatuhkan ponsel mu?" Tanya Ian.
"Gak mungkin, semuanya pasti salah.. gak mungkin Ernan kecelakaan!" Teriak Vanya.
"Apa? kek Ernan?" Ucap Ian yang kemudian mengambil ponsel Vanya yang masih terhubung dengan Leo.
Gadis itu pun bergegas mengambil sebuah tas dan meminta Ian untuk mengantarkannya ke lokasi kejadian dimana Ernan menghilang. Hanya dalam waktu kurang dari 2 jam Vanya dan Ian sampai di tempat itu, ia menghampiri sebuah kerumunan polisi yang sedang melakukan pencarian di tepi sungai.
"Ernan... semua ini gak mungkin.. baru tadi pagi dia mengirim ku pesan kenapa semuanya bisa terjadi?!" Teriak Vanya yang begitu histeris.
*
"Ini semua gak mungkin! Ernan gak mungkin meninggal! terlebih lagi polisi tidak menemukannya." Ucap Liu.
"Aku yakin ada sesuatu di balik semua ini!" Sambung Carla.
Tak tak tak. . . Suara langkah kaki beberapa orang masuk kedalam rumah tuan Richard yang berpakaian serba hitam untuk menunjukkannya rasa berduka nya atas kepergian Ernan.
"Kakak yang sabar ya, aku turut berduka cinta." Ucap Lingga.
"Tante, aku juga turut berduka cita atas kepergian kak Ernan." Sambung Luna.
"Cukup! hentikan semua omong kosong kalian! Ernan belum meninggal!" Bentak nyonya Liu.
"Tante, sudah jangan buang tenaga untuk hal yang tidak penting, ayo aku antarkan ke kamar." Ucap Vanya yang mengajak nyonya Liu untuk beristirahat dan menenangkan dirinya.
Beberapa tamu berdatangan silih berganti untuk mengucapkan belasungkawa mereka termasuk Shita dan beberapa kerabat lainnya. Gadis itu terlihat begitu terpukul ketika mengetahui kalau Ernan di nyatakan telah meninggal, ia sempat menyalahkan Lingga atas kejadian itu namun tidak ada bukti nyata atas tuduhan yang di lakukan Shita hingga semua itu tidak bisa membuktikan kalau Lingga adalah pelakunya.
*
Dua hari berlalu, keadaan perusahaan utama sangatlah kacau karena tidak adanya Ernan yang mengendalikan semuanya. Dalam sebuah ruang rapat beberapa orang telah berkumpul untuk membicarakan siapa yang pantas menggantikan posisi Ernan, disana juga terlihat Richard, Diego, dan juga Lingga bersama dengan putranya Jonathan.
"Bagaimana kita bisa secepat ini mengambil keputusan sedangkan jenazah Ernan aja belum ketemu!" Ucap Richard.
"Ayolah kak, udah berapa hari ini tim kepolisian dan yang lainnya tidak bisa menemukan Ernan, bagaimana kalau dia hanyut terbawa arus hal itu tidak menutup kemungkinan." Sahut Lingga.
"Kini saatnya Joe yang akan memimpin perusahaan, bukan begitu?" Ucap Lingga yang bertanya pada beberapa orang di tempat itu.
"Tidak bisa begitu Tante, aku bahkan masih ada disini dan lebih berhak menduduki posisi sebagai pemimpin." Sahut Lucas.
"Sial! apa rencananya? harusnya Joe yang duduk di kursi itu, kenapa jadi dia?" Gumam Lingga.
Ya, pada akhirnya Ernan di nyatakan telah meninggal dan Lucas berhasil menduduki posisi yang di inginkan nya sebagai pengganti kakak sepupu nya. Sementara dengan Vanya ia membatalkan untuk mengikuti final perlombaan nya dan fokus pada kuliahnya yang hanya tinggal hitungan hari mencapai kelulusan.
Lalu apakah sebenarnya yang terjadi pada Ernan? dan siapa yang berada di balik semuanya? apa kejadian itu ada sangkut pautnya dengan masalalu Vanya?
***
Bersambung. . .