
Hari berganti hari Vanya pun telah berhenti dari pekerjaannya atas kemauan Ernan, kini ia hanya perlu fokus pada kuliah nya yang hanya tinggal sebentar lagi. Semua beban yang di pikulnya kini telah hilang berkat kehadiran Ernan dalam hidupnya, bahkan ia tidak perlu lagi membayar biaya sewa rumahnya karena telah di beli oleh pria itu dan menjadi hak paten miliknya.
Di sebuah kampus di saat waktu senggang Vanya, Michel dan Joe menghabisakan waktunya di roof top kampus yang hanya sekedar minum-minum dan merokok serta di temani canda tawa dari ketiga orang tersebut.
"Tumben gak merokok?" Tanya Michel pada Vanya yang tidak biasanya.
"Seseorang meminta ku untuk berhenti." Sahut Vanya yang meneguk minumannya.
"Hah? Seorang Vanya menuruti permintaan orang lain? Apa itu tidak salah?" Ucap Michel kaget.
Ya, karena Vanya memiliki prinsip hidupnya sendiri untuk tidak di ikut campuri orang lain, ia bahkan terkadang mengabaikan orang-orang yang menasehatinya dan menjalani kehidupannya sesuai yang dia mau, namun apa kali ini? Perlahan Vanya terlihat mulai berubah dan tentu saja membuat Michel bertanya.
"Pria mana yang udah membuatmu berubah?" Sambung Michel.
"Tentu saja si pria tampan dan mapan yang hanya memiliki satu ekspresi." Sahut Joe.
"Kak Ernan kah? Apa benar dia?"
"Terlalu banyak omong!" Ucap Vanya dengan wajah yang berubah menjadi merah.
Tok tok tok. . .
"Permisi tuan, nyonya Liu ingin bicara dengan mu, berulangkali dia menghubungi mu namun tak satupun panggilan yang tuan jawab." Ucap Leo memberikan ponsel miliknya.
Ernan yang tengah sibuk dengan laptopnya menyuruh Leo untuk membesarkan volume telpon nya.
"Hei anak muda.. apa benar mama akan segera mempunyai cucu?" Tanya nyonya Liu dalam sambungan telponnya.
"Tidak." Jawab Ernan datar.
"Bagaimana Leo bisa memberikan informasi yang salah? Kemarin dia bilang mendengar kalian melakukan itu."
Pria itu pun menghentikan aktivitasnya, ia melirik ke arah Leo dengan wajah datarnya dan tatapan yang seolah ia akan mencekiknya. Dengan ketakutan Leo menelan salivanya dan menggelengkan kepalanya dengan perlahan.
"Hanya salah paham, aku tidak melakukan apapun dengan nya." Sahut Ernan.
Pria itu pun memutuskan sambungan telponnya walau ibunya belum selesai bicara.
"Lain kali jangan menyebar gosip dengan terburu-buru!" Ucap Ernan mengembalikan ponsel milik Leo.
"Maaf tuan, tapi kemarin aku jelas mendengarnya dengan begitu jelas."
"Aku hanya mengobati luka nya bukan karena hal lain."
"Lalu bagaimana dengan sebuah kimono handuk yang menutupi tubuh mu?" Tanya Leo kembali.
"Sejak kapan kau jadi bawel?"
Leo pun langsung menutup rapat mulutnya dan segera pergi meninggalkan ruangan Ernan dengan langkah terburu-buru.
*
"Gimana ma?" Tanya Carla si ratu kepo.
"Dia bilang hanya salah paham." Sahut nyonya Liu.
"Ahh, ku kira aku beneran akan segera punya keponakan."
"Kita masih harus sabar." Ucap nyonya Liu.
Di tengah obrolan ibu dan anaknya itu, seorang pelayan rumah menghampiri mereka dan memberitahukan atas kedatangan keponakan nyonya Liu yang ingin menemuinya. Dengan segera wanita itu berjalan menuju ruang tamu yang di ikuti oleh Carla. Terlihat seorang pria yang telah berada di ruangan itu dan duduk dengan begitu santai.
"Apa kabar Tante?" Tanya Lucas.
"Seperti yang kau lihat."
"Hallo gadis kecil." Sapa Lucas.
"Hai kak, tumben main kesini? Gak sibuk kah?" Sahut Carla.
"Hanya kebetulan lewat, habis ketemu klien." Jawab Lucas.
"Ku dengar kak Ernan akan mengambil alih perusahaan utama, benar begitu?" Tanya Lucas.
Dan ya, benar saja apa yang ada di pikiran nyonya Liu, tanpa basa-basi Lucas telah mengeluarkan pertanyaan pertama nya yang langsung mengarah kepada warisan mendiang kakeknya.
"Jika itu benar, lalu kau akan apa? Menyingkirkannya? Atau menjadi saingannya?" Sahut nyonya Liu.
"Pikiran tante terlalu jauh, jelas aku akan mendukungnya aku percaya kalau kak Ernan bisa menjalankan perusahaan itu dengan baik, hanya saja..." Ucapan Lucas terhenti.
"Hanya apa?" Tanya Carla.
"Dia belum menikah, jadi belum memenuhi syarat untuk menjadi ahli waris mendiang kakek." Ucap Lucas.
"Kamu gak perlu mencemaskannya, dia akan menikah setelah acara ulangtahun perusahaan utama di gelar." Sahut nyonya Liu.
"Ahh, baguslah aku doakan yang terbaik untuknya, kalau gitu aku permisi"
"Sampai bertemu di acara nanti." Sambung Lucas yang kemudian pergi dari rumah itu.
"Mau bersaing dengan kak Ernan? Oohh tidak semudah itu Verguso!"
"Kenapa jadi Verguso? Namanya kan Lucas." Tanya nyonya Liu bingung dengan ucapan putrinya.
"Ish mama, itu kayak semacam kata... Apa ya? Itulah pokoknya masa mama gak tau?" Sahut Carla.
"Untuk apa mama mengetahuinya? Bukankah itu tidak penting?"
"Beginilah kalau kebanyakan bisnis pikiran mama isinya hanya seputaran dunia bisnis."
Pletakkk... Sebuah sentilan mendarat di kening Carla hingga membuat gadis kecil itu meringis dan mengusap keningnya.
"Belajar sana! Suatu saat nanti kamu harus mengikuti jejak mama."
"No! Au mau jadi dokter bukan jadi pengusaha...!!" Teriak Carla yang berlari masuk kedalam kamarnya.
"Punya gadis satu sifatnya keturunan papa nya, ckckck." Gumam nyonya Liu.
**
Di sebuah kampus, dimana Vanya sedang mendesain sebuah gaun tiba-tiba suara gemuruh terdengar dari luar ruangan tempat ia berada. Tentu saja hal itu membuat konsentrasi Vanya buyar dan berantakan, sampai akhirnya seorang pria yang banyak di kagumi para kaum wanita dan menjadi suami idaman itu muncul di ambang pintu tempat Vanya berada. Perlahan ia menghampiri Vanya dan berdiri di hadapannya, gadis itu pun mendongak hingga akhirnya keempat mata saling beradu tatapan.
"Sial, kenapa aku berhalusinasi tentangnya?" Gumam Vanya.
"Kau tidak sedang berhalusinasi, suami mu nyata di hadapan mu." Ucap Ernan yang kemudian mengecup bibir Vanya yang di saksikan oleh mahasiswa lainnya.
Seketika suara gemuruh sorakan pun terdengar, mereka di buat iri oleh perlakuan Ernan yang begitu manis kepada gadis yang menjadikannya candu.
"Sialan! Kenapa kau melakukan itu di depan mereka?"
"Kenapa? Bukankah itu lebih baik agar mereka tau kalau aku hanya milikmu"
"Shit! Aku bahkan belum menerima kamu sebagai lelaki ku!"
"Itu gak penting, yang penting kamu hanya milik ku." Sahut Ernan yang lagi-lagi mengecup bibir Vanya untuk kesekian kalinya.
"Ayo pergi." Sambung pria itu yang menarik Vanya dan membawanya masuk kedalam mobil miliknya.
"Aaahh gila... kenapa dia seberuntung itu bisa mendapatkan pria tampan dan mapan seperti Ernan?"
"Wajar sih dia cantik, body perfect, otaknya juga lumayan hampir mendekati kata sempurna."
"Tapi sayang, pekerjaannya kotor dia hanya wanita malam yang menemani para om-om gatal, siapa tau dia mendekatinya hanya karena ingin mencicipinya secara gratis bisa jadi kan?"
Beberapa ucapan keluar dari mulut para wanita yang iri terhadap Vanya.
***
Bersambung. . .