
Masih dalam sebuah acara yang sama, Ernan memberikan ruang untuk Vanya bercengkrama bersama dengan Michelle dan juga Joe. Sungguh kebetulan yang di luar dugaan pertemuan Vanya dan Ernan mempersatukan kembali hubungan yang telah putus selama bertahun-tahun.
Sementara di sisi lain, Lingga yang masih tidak percaya dengan kenyataan bahwa Vanya adalah putri dari Edric dan Milly terlihat begitu kesal di tambah dengan Shita yang terus merengek padanya.
"Tante.. apa semuanya sudah berakhir? kenapa rencana kita selalu gagal?" Ucap Shita.
"Diam lah! semuanya belum terlambat, masih ada harapan untuk Joe mengambil alih semuanya." Sahut Lingga.
"Lalu bagaimana dengan aku? Ernan sebentar lagi akan menikahi gadis itu! aku gak akan membiarkan semua itu terjadi!" Ucap Shita.
"Kamu gak perlu cemas, masih ada waktu dan kita gunakan kesempatan itu sebaik mungkin untuk menyingkirkan gadis itu dari samping Ernan." Sahut Luna yang ikut bergabung bersama dengan mereka.
Vanya yang bercengkrama dengan Michelle, Joe, serta keluarga Ernan terlihat begitu bahagia canda tawa serta gurauan mereka keluarkan. Kini Vanya benar-benar berada didalam keluarga yang begitu hangat dan melengkapi kesendiriannya selama ini.
Jika semua itu mimpi, maka jangan biarkan untuk dirinya terbangun namun jika itu nyata maka biarkan bahagia selamanya, itu lah harapan Vanya saat ini.
"Hey.. apa dunia ini begitu sempit? kenapa harus mantan mu yang brengsek itu yang menjadi pacar kakak ipar ku?" Ucap Michelle.
"Entahlah, aku juga heran kenapa dia bisa masuk kedalam perangkap Regan." Sahut Vanya meneguk minuman di tangannya.
"Sudahlah biarkan, itu urusan dia kita gak perlu ikut campur." Ucap Joe.
"Hello sayang, itu kakak kamu loh masa iya mau di biarkan gitu aja?" Ucap Michelle.
"Percuma kita bicara, dia gak akan percaya sebelum dia melihatnya sendiri jadi biarkan saja." Sahut Joe yang seolah tidak peduli dengan kehidupan kakak nya.
Vanya pun meninggalkan mereka berdua tanpa permisi karena terburu-buru ingin ke toilet dan tanpa sepengetahuan siapapun. Vanya berdiri depan sebuah wastafel dan menatap dirinya dengan seksama dalam sebuah cermin yang ada di hadapannya.
Swuushhh...
Sekelibat bayangan melintas di belakang Vanya, namun ketika ia menoleh ke belakangnya tidak ada satu orang pun di tempat itu selain dirinya, Vanya pun segera menyelesaikan cuci tangannya dan merapikan hiasannya semakin lama ia disana semakin mencekam suasana yang ia rasakan. Ketika gadis itu menatap sebuah cermin ia melihat sosok misterius di belakangnya dengan pakaian serba hitam serta penutup kepala dan masker yang menutupi wajah orang itu.
"Aaaaaahhh...." Dengan spontan Vanya berteriak karena kaget.
Bugghhh.... Tiba-tiba seseorang memukul orang itu hingga tersungkur.
"Ernan..." Ucap Vanya.
"Kamu baik-baik aja?" Tanya Ernan memegang kedua bahu Vanya yang begitu mencemaskannya.
Vanya pun mengangguk menandakan kalau ia baik-baik saja, di saat Ernan ingin kembali menghajar orang tadi dengan cepat orang itu menggunakan kesempatannya untuk kabur meninggalkan gedung itu. Dengan segera Ernan menghubungi Leo untuk memblokir semua akses jalan keluar, namun sangat di sayangkan orang itu berhasil lolos sebelum semua akses di blokir oleh para penjaga.
"Sial! siapa dia? kenapa bisa berada disini?" Ucap Ernan.
"Entah kenapa aku punya felling kalau dia orang yang sama." Sahut Vanya.
"Maksud kamu pria bertato yang mengejar mu?" Tanya Ernan.
"Hmm.. tapi jika itu dia bagaimana bisa dia masuk kesini?" Sahut Vanya.
"Sudahlah, ayo kembali." Ucap Ernan merangkul Vanya.
Detik demi detik terus berlalu, malam semakin larut para tamu undangan pun mulai pergi meninggalkan gedung itu termasuk dengan Ernan dan juga Vanya.
**
"Maafkan saya, lain kali saya usahakan tidak akan gagal." Ucap orang tersebut.
"Pergi dari sini dan jangan pernah kembali sebelum kamu melenyapkannya!" Ucap orang itu pada bawahannya.
Pria itu pun bergegas pergi meninggalkan rumah mewah itu. Sementara di tempat lain, setelah mengantarkan Vanya pulang, ia kembali ke rumah utama untuk menemui papanya sebelum ia kembali ke luar negeri untuk mengurusi bisnisnya. Ernan menanyakan beberapa poin penting mengenai keluarga Vanya untuk mengungkap kasus kecelakaan di masa lalu.
Setelah mendapatkan semua jawaban dari pertanyaannya ia bisa menyimpulkan semua kemungkinan yang terjadi, namun Ernan tidak bisa bersikap gegabah sebelum ia mendapatkan bukti nyata dan hanya satu yang bisa di jadikan kunci untuk membuka semuanya yaitu dengan menangkap pria bertato yang mengejar Vanya.
Di dalam sebuah apartemen Joe dan Michelle melepas lelahnya dengan bersantai di sebuah sofa, sampai akhirnya pikiran mengenai Vanya terlintas di benak Michelle.
"Joe.. boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Michelle.
"katakan apa yang ingin kamu tanyakan?" Sahut Joe.
"Kenapa mama kamu begitu membenci Vanya? sampai nekat merusak acara tadi." Ucap Michelle.
"Entahlah, mungkin karena pengaruh Shita dan juga mama ingin merebut posisi kak Ernan." Sahut Joe.
"Tapi apa tadi kamu lihat ekspresinya ketika mengetahui kalau Vanya putri dari tuan Edric? kenapa mama kamu terlihat begitu syok?" Tanya Michelle.
"Haahhh.. sudahlah, untuk apa kamu sibuk mengurusinya? aku tinggal disini untuk menghindarinya kenapa kamu malah membahasnya?" Sahut Joe.
"Bukan maksud aku seperti itu Joe, tapi terasa ada yang aneh aja."
"Akan aku cari tau nanti." Sahut Joe yang membaringkan tubuhnya di atas sofa.
*
Setelah kembali ke rumahnya, Ernan mendapati Vanya yang telah tertidur di sebuah sofa ruang tengah, awalnya gadis itu menunggu kedatangan Ernan untuk menanyai kemana dia pergi dengan begitu terburu-buru bahkan di tengah malam dan dalam keadaan lelah karena dia karena belum beristirahat, namun karena tidak kuat Vanya pun akhirnya tertidur.
"Bagaimana bisa kalian membiarkan dia tidur disini?" Tanya Ernan pada beberapa pelayan rumah nya.
"Maaf tuan, kami sudah menyuruhnya untuk tidur dalam kamar namun nona tetap bersikeras menunggu tuan pulang." Sahut salah satu pelayan.
Mendengar suara orang berbincang, Vanya pun membuka matanya dan terbangun dari tidurnya, ia mengucek matanya serta meregangkan badannya yang terasa pegal karena tidur dalam posisi leher yang menekuk.
"Uuhhh... kau sudah pulang?" Tanya Vanya mengalungkan tangannya di leher Ernan.
"Hm.. kenapa kau menunggu ku?" Sahut Ernan.
"Karena aku penasaran kemana kamu pergi dengan begitu terburu-buru bahkan belum sempat beristirahat." Ucap Vanya.
"Apa kau sedang mencemaskan calon suami mu hm?" Tanya Ernan menggoda Vanya dan memeluk pinggangnya.
Pria itu pun langsung menggendong Vanya layaknya pengantin baru dan membawanya masuk kedalam kamar Ernan yang berada di lantai atas. Di dalam sebuah kamar, Ernan menurunkan Vanya tepat di atas ranjang, ia pun mulai membuka jas dan melonggarkan dasi nya yang di lanjutkan dengan membuka satu kancing kemeja bagian atas serta yang berada di kedua tangannya.
Saat akan menyerang Vanya, dengan cepat gadis itu melesat turun dan berlari ke arah pintu, "Aku akan kembali ke kamar ku, bye pria tampan." Ucap Vanya memberikan sebuah fly kiss dengan kedipan sebelah matanya, ia pun membuka pintu dan keluar dari kamar Ernan, sementara dengan pria itu hanya tersenyum melihat tingkah gadisnya.
***
Bersambung. . .