
Resepsi pernikahan berjalan dengan sebagaimana mestinya, Ernan kembali ke perusahaan nya dan Vanya masih lanjut mengembangkan toko yang di bangun suaminya dengan berbagai karya nya. Sementara dengan Lingga, Luna dan Regan harus menerima hukumannya di dalam jeruji besi dengan waktu yang cukup lama.
Bagaimana dengan Ian dan Carla? Ya, Ian melanjutkan kuliah di universitas yang sama dengan Carla. Mereka menjalin hubungan yang masih di rahasiakan dari kedua orangtua Carla. Lalu bagaimana dengan Joe, Michelle dan Leo? sepasang kekasih itu berencana untuk segera melangsungkan pernikahannya dalam waktu yang dekat, sedangkan dengan Leo masih nyaman dengan posisi lajang nya dan mengabdi pada Ernan.
Tap tap tap. . . Langkah kaki menuju sebuah ruangan dengan di batasi sebuah kaca untuk bertatap muka. Joe menemui mamanya yang berada di dalam sana untuk menjalankan hukumannya.
"Untuk apa kau datang kesini?" Tanya Lingga dengan tatapan kebencian.
"Syukurlah mama terlihat baik-baik saja, aku hanya ingin meminta restu untuk menikah dengan Michelle." Sahut Joe.
"Kau benar-benar gila Joe! beraninya kamu bahagia sementara mama dan kakak kamu terkurung disini!" Bentak Lingga.
"Itu hukuman yang harus mama terima atas semua kesalahan yang mama perbuat, aku tidak punya banyak waktu, permisi." Ucap Joe yang kemudian keluar dari tempat itu.
Michelle yang berada di dalam mobil, melihat Joe keluar dari tempat itu dan berjalan ke arahnya dengan wajah yang sedikit menunduk dan terpancar kesedihan di matanya, karena bagaimana pun juga Lingga adalah ibu kandung yang telah merawat dan membesarkannya.
*
Malam telah tiba, ini bukan pertama kalinya untuk Vanya tidur satu kamar bersama dengan Ernan, namun perbedaannya kali ini ia adalah istri dari pria yang telah di cintai nya. Selesai membersihkan diri, Vanya memakai sebuah gaun malam yang terlihat sedikit transparan hingga membuat Ernan membelalak melihat lekuk tubuh istrinya yang begitu indah.
Pria itu beranjak dari posisi nya dan menghampiri Vanya yang tengah duduk di depan sebuah meja rias sedang merapikan rambutnya. Dengan perlahan Ernan menyentuh rambut istrinya itu dan menyingkap kan nya ke depan sebelah kiri.
"Apa kau sengaja sedang menggodaku hm?" Tanya Ernan yang menatapnya lewat sebuah cermin.
Gadis itu hanya tersenyum miring dan berkedip secara perlahan seolah ia mengiyakan ucapan suaminya. Vanya pun berdiri dari duduknya dan berbalik menghadap ke arah suaminya, ia mengalungkan kedua tangannya di leher Ernan.
"Apa kau menginginkannya?" Tanya Vanya dengan suara seksi.
Tanpa basa basi Ernan langsung melahap bibir Vanya dengan begitu lembut dan menuntun sebuah permainannya. Sampai akhirnya kecupan demi kecupan itu turun ke leher Vanya dan membuat gadis itu melenguh kegelian. Vanya memejamkan matanya dan menikmati setiap sentuhan yang di berikan suaminya itu.
Perlahan Ernan menggiring Vanya ke tepi ranjang dan mendorongnya hingga posisi Vanya terbaring, dengan cepat pria itu menindihnya dan memimpin permainannya kembali dengan tangan yang tidak mau diam hingga sampai pada titik sensitif dan sesekali memainkannya. Vanya yang baru pertama mendapatkan semua itu benar-benar tidak bisa menahannya, ia menggeliat layaknya seekor cacing.
"Uhm.. ahhh~" Satu suara yang terdengar begitu seksi Vanya keluarkan ketika suaminya berhasil mengobrak-abrik aset terpenting nya.
Mendengar suara istrinya serta wajah yang terlihat begitu menggemaskan membuat Ernan tersenyum miring dan semakin tak sabar untuk ke tahap yang lebih dari itu. Belum juga ia memasukan pedang pusaka nya namun Vanya telah mencapai pelepasan untuk pertama kalinya karena permainan yang di lakukan suaminya sangatlah bergairah.
"Apa kau lelah?" Tanya Ernan.
"Sepertinya aku masih sanggup untuk meghadapi adik kamu yang telah berdiri." Sahut Vanya.
"Dasar gadis penggoda, kau harus bertanggung jawab dan bertahan sampai aku puas." Ucap Ernan.
Ia pun memulai aksinya, dengan melepas kain yang di kenakan nya dan melemparkan ke segala arah hingga kini hanya terbalut selimut yang cukup tebal. Di saat Ernan telah siap untuk menancapkan pedang pusaka nya, Vanya memejamkan matanya dan meremas sprei sekuat mungkin, perlahan Erman mendorongnya hingga membuat Vanya meringis kesakitan dan mengigit sedikit bibir bawahnya.
"Apa kau masih segel?" Tanya Ernan.
"Pertanyaan macam apa yang kau ajukan? jelas aku masih virgin, jika tidak aku tidak mungkin kesakitan seperti ini." Sahut Vanya yang masih menahan rasa perihnya.
"Hmm.. ternyata aku telah berpikir hal lain." Ucap Ernan.
"Baiklah, kamu boleh mencakar punggung ku jika kamu merasa sakit." Sambung Ernan kembali.
Ia pun melanjutkan aktivitasnya yang di awali dengan perlahan hingga tempo yang tidak beraturan, Vanya yang di awal merasakan sakit dan perih berlanjut menjadi sesuatu yang terasa begitu nikmat dan membuatnya ketagihan. Vanya terus mengerang merasakan sensasi yang luar biasa untuk pertama kalinya ia rasakan.
Suasana malam yang awalnya terasa dingin kini terasa semakin panas dengan kegiatan yang di lakukan oleh keduanya, keringat yang bercucuran serta sedikit membasahi sedikit rambut Ernan membuatnya terlihat lebih seksi.
"Ahhh~ Ernanhhh... kau sungguh gila!" Ucap Vanya hampir sampai pada titik akhir.
"Tubuh mu yang telah membuat aku gila." Sahut Ernan di sela-sela aktivitas nya.
Cukup lama mereka berolahraga akhirnya yang di tunggu pun tiba, sepasang suami istri itu melakukan pelepasan secara bersamaan, mungkin ini adalah pelepasan pertama untuk Ernan namun tidak untuk Vanya yang mungkin telah melepaskannya untuk kedua atau tiga kalinya. Setelah lelah, Ernan terkulai lemas dengan posisi yang masih di atas Vanya.
"Hei.. mau sampai kapan kau di atas sana? cepat turun." Ucap Vanya.
"Tidak mau, sungguh posisi yang begitu nyaman." Sahut Ernan.
Vanya pun memiringkan tubuhnya hingga suaminya tergelincir dan jatuh di sampingnya, dengan cepat Vanya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Semoga benih yang ku tanam segera berkembang." Ucap Ernan mengelus perut rata Vanya dan memeluknya.
Susana malam yang panas telah berlalu, mentari pagi telah menerobos masuk kedalam jendela sebuah kamar yang dimana pemiliknya masih terlelap karena lelah bekerja lembur. Sampai terdengar suara samar-samar yang cukup berisik dari luar kamar, Ernan membuka matanya dan memakai piyama untuk melihat keluar kamar.
Tap... tap.. tap... Suara langkah kaki menuruni tangga hingga langkahnya terhenti ketika melihat beberapa orang telah berkumpul di ruangan itu untuk sebuah pesta kecil di hari libur. Ya, siapa lagi kalau bukan nyonya Liu yang merupakan dalang di balik semua itu.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Ernan dengan wajah datarnya.
"Pagi sayang... gimana tidur mu? nyenyak? apa kita membangunkan mu?" Tanya nyonya Liu yang menghampiri Ernan.
Pria itu hanya menggelengkan kepalanya dan kembali masuk kedalam kamar.
***
Bersambung. . .