
Di sebuah mansion. . .
Setelah membersihkan dirinya Vanya bergegas turun ke lantai bawah dan menuju sebuah dapur yang terdapat beberapa pelayan sedang menyiapkan untuk makan malam. Ia sempat di hentikan oleh kepala pelayan agar tidak memasuki dapur yang mungkin akan membahayakan dirinya. Walau Vanya adalah wanita dewasa namun Ernan pernah berpesan pada kepala pelayan agar tidak membiarkan Vanya memasak atau menyentuh barang apapun yang cukup bahaya karena ia tak ingin istrinya terluka atau lecet sedikit pun.
"Apa yang kau lakukan? kenapa aku tidak boleh ke dapur?" Tanya Vanya.
"Maaf nona, tapi ini perintah tuan untuk anda tidak memasuki daerah berbahaya." Sahut kepala pelayan.
"Hah? bahaya? kamu pikir dapur adalah tempat perang? aku bukan anak kecil, aku seorang wanita dewasa yang bahkan telah mengandung seorang bayi." Tegads Vanya.
"Tapi nona..."
Belum sempat kepala pelayan itu berbicara, Vanya telah menerobos masuk dan melihat beberapa orang yang tengah sibuk dengan tugas nya masing-masing. Vanya mulai ikut berkecimpung di dalam sana, ia mengambil sebuah pisau dan mulai memotong sayuran serta bahan lainnya, meski dari beberapa mereka telah menghentikan nya namun Vanya tidak mendengarkan apa yang di katakan mereka karena semua tidaklah masuk akal.
"Apa dia pikir dengan aku hanya memegang pisau akan mati?" gumam Vanya.
"Maaf nona, semua ini biar kami yang mengerjakan, nona beristirahat lah sebelum tuan Ernan melihatnya." Ucap kepala pelayan.
"Diam atau ku iris jari mu!" Sahut Vanya yang tengah serius dengan pekerjaannya.
Tak satupun dari mereka yang berani mencegah nya lagi setelah mendengar apa yang di katakan Vanya. Para pelayan itu pun kembali melanjutkan tugasnya masing-masing.
"Ngomong-ngomong apakah hari ini adalah hari besar? kenapa kalian masak begitu banyak?" Tanya Vanya.
"Hari ini tuan memberitahu kami bahwa nyonya Liu akan makan malam bersama disini jadi kita menyiapkan hidangan istimewa untuknya." Sahut kepala pelayan.
"Ahh.. benarkah? kalau gitu aku akan buatkan sesuatu untuk mama." Ucap Vanya.
Ia mengambil beberapa bahan dan peralatan kue, mulai dari mengaduk sampai finishing Vanya kerjakan sendiri tanpa minta bantuan sedikitpun, sekalinya salah satu dari mereka ingin membantu ia tidak mengijinkannya. Sampai akhirnya Ernan masuk ke tempat itu untuk mencari istrinya yang tidak ada di manapun, dengan cepat Vanya bersembunyi di bawah meja dengan niat untuk mengagetkan suaminya.
Di saat Ernan lengah, tiba-tiba Vanya muncul di sampingnya dan menoyor pipi Ernan dengan butter cream di telunjuknya hingga membuat wajah tampan suaminya sedikit kotor. Vanya tertawa lepas melihat Ernan yang begitu kaget dengan tingkahnya.
"Astaga Vanya! aku cari kesana sini kamu ngapain disini?" Ucap Ernan.
"Lilian! sudah ku bilang jangan biarkan dia masuk ke dapur, apa kau sengaja melanggar perintah ku?!" Ucap Ernan pada si kepala pelayan.
"Ini bukan salah dia, kamu gak boleh memarahinya! karena aku yang memaksa untuk masuk kesini." Sahut Vanya.
"Jika kamu marah, marahi saja aku!" Sambung Vanya.
"Gak gitu sayang, aku cuma gak mau tangan kamu lecet atau terluka." Ucap Ernan yang memegang kedua bahu istrinya.
"Oh ayolah, aku bukan ratu atau putri kerajaan, aku hanya gadis biasa yang telah biasa mengerjakan semuanya, kamu gak perlu secemas itu, ok sayang?" Sahut Vanya mengedipkan satu matanya.
"Tapi setelah menikah dengan ku, kau adalah ratu di rumah ini." Ucap Ernan yang langsung menggendong Vanya dan membawanya keluar dari dapur.
"Yak! Ernan.. kau tidak bisa melakukan semua ini, Lilian... tolong selamatkan aku..."
"Hwaaa... gimana dengan kue aku..." Sambung Vanya berteriak seperti anak kecil.
Sesampainya di dalam kamar, Ernan menurunkan Vanya di sebuah ranjang dan menyuruhnya untuk mengganti baju karena cukup kotor saat berada di dapur terkena tepung terigu dan bahan lainnya.
"Aishhh... dasar gak sehat!" Gumam Vanya.
"Tidak, aku tidak mengatakan apapun." Sahut Vanya.
Di saat Ernan terus mendekati dan hendak menciumnya, di saat itu juga Vanya melesat ke arah berlawanan hingga membuat Ernan terjatuh di atas ranjang empuknya dengan posisi tengkurap, lagi-lagi hal itu membuat Vanya tertawa geli. ia pun bergegas masuk ke ruang ganti sebelum Ernan terbangun dan kembali menerkamnya.
"Dasar istri nakal." Gumam Ernan.
**
Malam hari.. tiba saatnya dimana nyonya Liu dan Carla menapakkan kakinya di rumah yang begitu besar milik putra pertamanya. Mereka datang hanya berdua karena tuan Richard yang selalu sibuk berada di luar negeri untuk mengurus bisnis nya. Kedatangan keduanya di sambut para pelayan rumah da juga Ernan serta Vanya yang telah menunggunya di ruang tamu.
"Woahh... menantu mama makin cantik dan tambah..." Belum sempat nyonya Liu menyelesaikan ucapannya, Vanya telah menyela nya lebih dulu.
"Tambah gemuk gemuk gitu?" Sahut Vanya.
"Siapa bilang kamu gemuk? wanita hamil itu seksi tau." Ucap nyonya Liu.
"Hahhh... sepertinya mama ingin hamil kembali agar bisa di manjakan si papa." Sambung nyonya Liu.
Kedua anaknya dengan kompak memutar bola mata tak mengerti dengan apa yang ada di pikiran mama nya yang terkadang absurd itu.
"Kak Vanya udah lapar kan? ayo kita makan gak usah dengerin mama." Ucap Carla yang menarik Vanya menuju ruang makan dan si susul oleh Ernan.
"Yak! dasar anak nakal!! kembalikan menantuku!!" Teriak nyonya Liu.
Sampai akhirnya kini mereka pun berkumpul di depan sebuah meja makan yang cukup panjang dan muat untuk beberapa orang, semua pelayan telah menyiapkan semua hidangan makan malam termasuk cake yang di buat langsung oleh tangan Vanya. Selesai makan, Vanya memotong cake nya dan memberikan untuk ibu mertua tercinta nya.
"Ma cobain deh, enak loh buatan aku." Ucap Vanya menyombongkan dirinya meski ia sendiri tidak tau bagaimana rasanya.
"Wahh benarkah? ini kamu sendiri yang buat?" Tanya nyonya Liu.
"Heem, ayo coba dan ini buat Carla." Ucap Vanya memberikan sepotong kue untuk Carla.
Keduanya pun mulai mencicipinya dengan perlahan dan penuh perasaan sampai akhirnya mulut mereka di buat meledak oleh rasa cake buatan Vanya yang begitu lembut dan lumer saat di kunyah.
"Ernan kau wajib memakan ini!" Ucap nyonya Liu.
"Tapi ma, mama sendiri tau aku gak suka manis." Sahut Ernan.
"Ini beda, mama yakin kamu pasti ketagihan ayo cepat." ucap nyonya Liu dengan kehebohannya.
Ia bangga punya menantu yang bisa membuat karya lain selain desain nya. Melihat Ernan yang tidak mau memakan cake nya walau sedikit, dengan gemas nyonya Liu beranjak dari duduk nya dan menyuapi Ernan dengan paksa hingga akhirnya satu sendok cake berhasil masuk ke mulut Ernan dan memanjakan lidahnya.
"Gimana? ketagihan bukan?" Tanya Vanya dengan wajah yang menggoda suaminya.
"Kau... memanglah sempurna." Bisik Ernan yang membuat Vanya merinding bercampur salting.
**
Bersambung. . .