
1 Bulan kemudian. . .
Semua nya kini telah membaik dan kembali normal, tiba saatnya dimana acara pertunangan Carla dan Ian. Di dalam sebuah hotel mewah tepatnya di dalam aula semua telah berkumpul untuk menyaksikan pertunangan putri dari keluarga Addison dan keluarga yang terbilang biasa saja. Mendengar pertunangan Carla dan seorang pria dari kalangan biasa menjadi pusat perhatian beberapa orang hingga menimbulkan pro kontra di antaranya.
Pasalnya Carla yang begitu cantik dengan kecerdasan yang dimiliknya bisa saja mendapatkan seorang pria dewasa yang telah mapan dan merupakan keturunan dari keluarga yang sederajat dengan keluarga Addison. Hal itu sangat mereka sayangkan karena gadis itu lebih memilih pria yang biasa-biasa saja. Berbeda dengan yang lainnya, yang memahami Carla bahwa harta bukanlah segalanya, mereka begitu salut dan mengacungkan jempol atas tindakan Carla yang mampu dengan tulus mencintai seseorang tanpa memandang apapun.
Sampai akhirnya, keluarga Ian masuk kedalam aula tersebut yang di barengi dengan Vanya dan juga Ernan. Semua mata tertuju pada Ian yang memiliki visual tak kalah tampan dari para pria kalangan atas, begitu melihat Ian mereka yang awalnya merendahkan dan mencibir kini berbalik memuji.
"Kalau modelnya kayak dia ya mana bisa nolak?"
"Kelihatannya juga dia anak yang pintar."
"Carla benar-benar gadis beruntung bisa mendapatkan hatinya."
"Wajahnya gak kalah tampan dari seorang aktor."
Ya, begitulah kira-kira ucapan demi ucapan yang di lontarkan para tamu undangan yang awalnya meremehkan sosok Ian.
Sambutan demi sambutan telah di berikan dari kedua keluarga, kini saatnya mereka masuk kedalam acara inti yang tak lain adalah pertunangan Carla dan Ian, mereka saling memasangkan cincin satu sama lain. Suara gemuruh tepuk tangan mereka yang menyaksikan berikan untuk keduanya, serta kilauan dari lampu kamera tak hentinya memotret pasangan yang baru saja resmi bertunangan itu.
Di saat para tamu tengah asik dengan jamuan dan obrolan nya tiba-tiba terdengar suara rekaman Ernan yang sedang berbincang dengan Shita di hotel tempo lalu. Sontak semua itu membuat mereka yang mendengar kaget dan melihat ke arah Ernan yang sedang bersama dengan istrinya.
"Hahh.. kenapa dia masih nekat dan belum juga menyerah?" Ucap Vanya.
"Kamu lihat saja nanti, setelah ini dia tidak akan pernah berani lagi menampakkan dirinya." Sahut Ernan.
Nyonya Liu yang berdiri cukup jauh dari putranya itu pun bergegas menghampiri Ernan dan meminta penjelasannya. Namun dengan santainya Ernan hanya tersenyum menjawab pertanyaan dari mamanya.
"Hei bocah, kenapa kau malah tersenyum? apa semua itu benar? kau telah menghabiskan malam dengannya hanya untuk memulihkan perusahaan?" Beberapa pertanyaan nyonya Liu lontarkan kembali.
"Ma, jika benar aku melakukan itu apa mungkin sampai saat ini aku masih bersama dengan Vanya?" Sahut Ernan.
"Lalu apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya tuan Richard.
"Kalian tenang aja, kita tunggu dia keluar aku akan kasih kejutan untuknya." Ucap Ernan.
"Kejutan apa yang kau maksud?" Tanya tuan Richard.
"Kejutan yang akan membuatnya tidak berani untuk muncul di hadapan ku lagi." Ucap Ernan tersenyum miring.
Tak lama setelah itu, sebuah pintu terbuka lebar dan datanglah seorang wanita yang dengan rasa percaya dirinya melangkah masuk untuk meminta pertanggung jawaban Ernan sekaligus menjatuhkannya di depan semua tamu yang tak lain adalah kerabat dan rekan bisnisnya. Sementara dengan Vanya hanya terdiam duduk manis untuk menyaksikan sebuah drama yang akan di mainkan seorang figuran.
Kini Shita telah berdiri tepat di hadapan Ernan, dengan rasa yang tidak punya malu ia menggandeng tangan Ernan dan meminta untuk segera menikahinya.
"Sebaiknya cepat bangun sebelum aku mempermalukan mu di depan semuanya." Ucap Ernan dengan tanpa melihat gadis di sampingnya sedikitpun.
"Benarkah? coba saja kalau berani jika kamu ingin istri dan anak mu tidak selamat." Bisik Shita.
Ernan melirik ke arah Vanya yang duduk di belakangnya, dan benar saja ia melihat seorang pria asing berdiri di belakang Vanya dengan sebuah senjata di tangannya. Tidak ingin gegabah, ia pun mencoba untuk mengikuti alur yang di mainkan Shita. Dengan tiba-tiba Ernan memeluk Shita di hadapan semuanya dan membuat mereka kaget termasuk istri dan keluarganya.
Di balik pelukan itu Ernan memberikan kode pada Leo untuk memberikannya sebuah pistol, hingga sebuah pistol pun Leo lemparkan ke arah Ernan, dengan cepat ia memutar balikkan Shita dan menodongkan pistol di kepalanya.
"Hentikan anak buah mau maka kau akan selamat!" Bisik Ernan.
Suasana yang seharusnya bahagia kini berubah menjadi tegang karena kehadiran gadis itu.
"Putar video nya!" Ucap Lucas yang datang dari belakang Ernan dengan membawa Vanya di sampingnya.
Salah seorang dari bawahan Ernan memutar video yang merekam aksi panas Shita bersama dengan pria bayaran Ernan. Sontak semua itu membuat mereka kaget, Shita pun bergegas untuk melarikan diri namun usahanya sia-sia karena telah di kepung oleh beberapa bawahan Ernan, Lucas dan juga Joe serta polisi yang datang untuk menangkapnya karena kasus tabrak lari yang terjadi pada nyonya Liu.
"Aku akan membalas mu lebih dari ini Ernan...!!!" Teriak Shita yang di seret oleh beberapa polisi.
Suasana yang sempat menegang kini kembali normal, dan semua orang menikmati acaranya.
"Bagaimana kau tau tentang video itu?" Tanya Ernan.
"Leo dan istri mu yang pintar ini yang memberitahu ku." Sahut Lucas.
"Untung Lucas datang tepat waktu, jika tidak mungkin aku udah jadi tawanan orang itu." Ucap Vanya.
"Gak usah sok lemah, kau juga yang telah menangkap dia." Sahut Lucas.
"Hei.. apa yang kau lakukan dengan nya?" Tanya Ernan.
"Aku hanya menyodorkan pisau yang sedang ku pegang karena kebetulan aku akan memotong kue." Jawab Vanya.
"Itu bahkan sangat berbahaya, bagaimana kau bisa melakukannya? dan ingat kamu sedang hamil anak aku!"Ucap Ernan.
"Ayolah sayang, yang mereka gunakan hanya pistol mainan seperti yang kamu pegang, benar kan?" Ucap Vanya.
"Bagaimana kamu mengetahuinya?" Tanya Ernan.
"Bukan hal yang sulit." Sahut Vanya yang kemudian pergi untuk mengambil sebuah cup cake.
Pria itu hanya menggelengkan kepalanya, karena apa yang di lakukan istrinya benar-benar di luar dugaan. Bukan hanya Ernan, tapi Lucas dan yang lainnya pun salut di buatnya.
"Kakak ipar benar-benar wanita pemberani." ucap Carla.
"Jelas, kakak siapa dulu." Sahut Ian membanggakan dirinya.
"Dia bukan kakak kamu!" Ucap Carla.
"Akhirnya bakat yang tersembunyi dia keluarkan juga." Ucap Michelle.
"Hei.. udah berapa banyak uang kamu makan?" Tanya Ernan ketika menghampiri istrinya.
"Satu... dua... Lima! kue nya begitu enak sampai susah untuk berhenti memakannya." Sahut Vanya dengan mulut penuh.
"Sudah cukup, ayo ikut aku." Ucap Ernan yang menarik tangan Vanya dan membawanya pergi ke tempat lain.
***
Bersambung. . .