
Dua bulan kemudian. . .
Semakin hari hubungan di antara Vanya dan Ernan semakin romantis dan harmonis tanpa ada nya gangguan dari luar maupun dalam, sampai suatu hari Ernan mengalami suatu masalah di perusahaan nya yang menerima langsung serangan dari perusahaan yang bersaing dengannya.
Tok tok tok. . .
"Permisi tuan, beberapa pemegang saham menuntut Anda untuk segera mencari solusinya, jika tidak kemungkinan mereka akan meminta ganti rugi yang cukup lumayan besar." Ucap Leo.
"Aku akan segera mencari solusinya, minta bantuan perusahaan di negara C untuk bekerjasama dengan kita." Sahut Ernan.
"Beberapa perusahaan telah saya hubungi, namun tidak satu pun dari mereka yang mau bekerjasama, stelah mendengar apa yang terjadi disini." Jelas Leo.
"Sambungkan telpon ke perusahaan x, aku sendiri yang akan meminta bantuannya." Ucap Ernan.
"Baik tuan."
Dengan masalah yang sedang di hadapinya saat ini, Ernan lebih di sibukkan dengan pekerjaannya hingga ia jarang pulang ke rumah atau bahkan tidak pulang sama sekali dan menghabiskan waktunya di perusahaan. Vanya yang tidak mengetahui apapun tentang pekerjaan suaminya sempat memiliki pikiran yang negatif tentang Ernan yang mulai jarang pulang, namun ia selalu menepis semua pikiran kotornya itu.
Ingin rasanya Vanya menanyakan semuanya, namun tidak ada waktu luang untuk ia berbincang karena Vanya tidak ingin terlalu mencampuri urusan suaminya. Walau mereka telah menikah namun mereka selalu menjaga dan menghargai privasi masing-masing.
Malam semakin larut, untuk yang kesekian kalinya Vanya menunggu kepulangan Ernan hingga ia tertidur di sebuah sofa ruang tengah di temani kucing kesayangannya yang belum lama di beli nya.
Tap tap tap. . .
Suara langkah kaki seseorang menghampiri Vanya dan berlutut di samping nya. Perlahan Ernan mengusap lembut pipi istrinya dan membenarkan selimutnya, ia kembali membuka laptopnya dan melanjutkan pekerjaan yang masih belum selesai sampai akhirnya ia tertidur dengan posisi terduduk dan bersandar pada sofa yang di tiduri Vanya.
*
Pagi menjelang, Vanya yang mendengar suara gaduh dari dapur segera membuka matanya dan melihat Ernan yang masih terpejam. Perlahan ia bangun dan menatap wajah suaminya yang selalu ia rindukan selama beberapa hari ini. Vanya menarik selimutnya dan menutupi tubuh suaminya dengan perlahan agar tidak membangunkan nya.
Ia melihat sebuah laptop yang masih dalam keadaan menyala dan sempat melihat pekerjaan suaminya sebelum akhirnya Ernan terbangun dan membuatnya kaget.
"Ahh maaf, aku tidak bermaksud untuk mengagetkan mu dan membaca semuanya." Ucap Vanya.
"Kenapa kau harus minta maaf? aku yang seharusnya minta maaf karena beberapa hari ini selalu membiarkan mu sendiri." Sahut Ernan.
"Gak papa, aku ngerti dengan kesibukan mu hanya saja kamu jangan terlalu banyak bekerja, tubuh kamu butuh istirahat." Ucap Vanya.
Vanya pun beranjak dari duduknya dan hendak melangkah menuju kamarnya untuk bersih-bersih namun dengan cepat tangan Ernan menariknya hingga ia terjatuh di pangkuan suaminya. Pria itu mengecup lembut bibir istrinya yang perlahan turun ke leher hingga membuat Vanya kegelian.
"Hey... apa yang kamu lakukan?" Tanya Vanya yang sedikit menghindar.
"Apa kau tidak merindukan ku?" Tanya Ernan balik dengan tangan yang menyelusup masuk ke dalam baju yang di kenakan istrinya.
"Tentu saja ku merindukan mu, tapi jangan lakukan ini disini bagiamana jika pelayan melihat kita? bukankah itu tidak baik?" Sahut Vanya yang mencoba menghentikan aksi suaminya.
"Baiklah, kita lakukan di tempat lain." Ucap Ernan yang langsung menggendong Vanya dan membawanya masuk kedalam kamar.
Di dalam sebuah kamar yang terlihat rapi Ernan menjatuhkan tubuh istrinya di atas ranjang dan langsung melancarkan aksinya, ia mulai melucuti semua kain yang menutupi Vanya dan juga dirinya serta melemparnya ke sembarang arah. Dengan hasrat yang menggebu, pria itu terus menyerang wanita mungil yang berada di bawahnya tanpa memberikan jeda sedikitpun hingga membuat Vanya bergetar hebat karena setiap sentuhan yang di berikan suaminya.
Di tengah aktivitasnya sesekali pria itu memainkan dan menyesap kedua gunung kembar yang selalu membuatnya candu hingga membuat menggelinjang hebat dan melenguh panjang.
"Ouch.. kau selalu membuatku ketagihan sayang." Bisik Ernan.
"Umhh... aahhhh... aku gak tahan lagi..." Ucap Vanya.
Mendengar yang di ucapkan istrinya, Ernan mempercepat temponya hingga membuat Vanya menjerit mengalami pelepasan yang kesekian kalinya yang tak lama di susul dengan pelepasannya hingga ia terkulai lemas di atas tubuh istrinya.
*
Jika pagi hari suami istri di awali dengan sarapan yang begitu panas, lain halnya dengan sepasang kekasih yang masih menyembunyikan hubungannya dari orangtua mereka. Ya, siapa lagi mereka kalau bukan Ian dan Carla, dua sejoli yang berada di kampus yang sama namun beda jurusan itu selalu mengisi waktu luangnya dengan kebersamaan, layaknya pagi ini Carla yang selalu membawa bekal untuk sarapan bersama dengan Ian menunggu kedatangan kekasihnya di sebuah taman kampus.
"Sayang..." Ucap Ian setengah berteriak dan menghampiri Carla yang telah menunggu nya.
"Ehh tunggu-tunggu..." Sahut Carla yang mengendus-endus baju Ian.
"Ada apa? kenapa kau seperti kucing?" Tanya Ian.
"Kenapa kau bau parfum wanita? siapa yang kau ajak boncengan bersama?" Tanya Carla.
"Mama aku, kenapa? cemburu sama calon mertua sendiri?" Sahut Ian.
"Ah, ku kira wanita jalanan yang butuh kehangatan pria." Ucap Carla.
"Sudah berapa lama kau mengenal ku? aku gak pernah dekat dengan wanita lain selain kamu dan..." Ucapannya terputus.
"Dan? siapa yang kau maksud?" Tanya Carla.
"Kakak ipar mu." Sahut Ian dengan wajah yang nakal.
"Yak! dasar bocah nakal! awas aja kalau kamu berani menggoda kak Vanya ku tebas kepala mu!" Ucap Carla.
"Mana berani? sebelum aku menggodanya, keburu di mutilasi duluan sama kakak mu yang arogan itu." Sahut Ian.
Mereka pun bercanda dan tertawa bersama sambil menyantap sarapan yang di bawakan Carla. Aksi keduanya yang saling menyuapi dan romantis menjadikan beberapa orang yang berlalu lalang iri di buatnya. Di tengah keharmonisan mereka, muncul lah seorang pria yang sempat Carla sukai di masa lalu dan duduk di antara keduanya.
"Sayang.. ayo pindah gak nyaman ada lalat." Ucap Carla yang beranjak dari duduknya.
"Carla.. aku minta maaf untuk masalah waktu itu." Ucap pria itu.
"Aku sudah melupakannya, dan satu hal meski kita satu kampus jangan pernah berani menunjukkan wajah menyebalkan mu itu di hadapan ku lagi!" Ucap Carla yang kemudian pergi bersama dengan Ian.
***
Bersambung. . .