
Hari demi hari terus berganti, Vanya yang tengah di sibukkan dengan aktivitasnya tiba-tiba di kagetkan dengan sosok seorang pria yang kini telah berada di sampingnya. Ia menyimpan pekerjaan nya dan berbalik mengarah kepada orang tersebut yang tak lain adalah Nic, teman semasa kuliah Vanya dan juga pria yang sempat di sukainya.
"Kau.. apa ingin memesan sebuah gaun?" Tanya Vanya.
"Tidak, aku kesini hanya ingin menemui mu sudah cukup lama setelah hari kelulusan kita tidak bertemu satu sama lain." Sahut Nic.
"Ahh.. begitu rupanya, tapi hari ini aku cukup lumayan sibuk jadi maaf tidak bisa berlama-lama untuk menemani mu." Ucap Vanya.
"Tak apa, aku ngerti dengan kesibukan mu, lanjutakanlah aku akan menunggu mu sampai jam makan siang." Sahut Nic.
"Apa kau berniat untuk makan siang dengan ku?" Tanya Vanya.
Pria itu hanya mengangguk dan mengulas senyum nya. Sampai akhirnya pekerjaan Vanya telah selesai mereka pun pergi ke sebuah restoran bersama, tak lupa Vanya mengirim sebuah pesan pada suaminya dan memberitahukan kalau kini ia sedang bersama dengan Nic untuk mencegah kesalahpahaman. Tak cukup lama Vanya bercengkrama dengan Nic, sebuah mobil hitam mengkilat parkir di depan restoran tersebut dan terlihatlah sosok pria tampan keluar dari mobil itu yang menjadi pusat perhatian beberapa tamu karena visual dan postur tubuhnya yang menjadi idaman setiap wanita.
Tap tap tap. . . Langkah kakinya semakin lama semakin kuat dan terdengar oleh Vanya, bukan hanya dari suara langkah kaki tapi juga dari bau parfum yang di pakainya membuat Vanya langsung mengenali sosok pria itu. Ernan menarik kursinya dan mengecup pipi Vanya yang kemudian ia duduk di sampingnya.
"Apa ini pertemuan yang kebetulan?" Tanya Ernan.
"Sepertinya begitu, kamu ngapain disini?" Tanya balik Vanya yang berlagak tidak tau apa-apa.
"Emm... aku hanya ingin makan siang bersama dengan klien ku, dan gak sengaja aku melihat kamu duduk disini."
"Setelah sekian lama ternyata hubungan kalian begitu akrab sampai harus makan siang berdua dan melupakan suami mu." Sambung Ernan.
"Kak Ernan tenang aja, aku tau kok siapa Vanya sekarang gak perlu cemas aku akan merebutnya karena itu hal yang gak mungkin." Ucap Nic.
"Baguslah kalau nyadar diri." Gumam Ernan.
Dengan rasa gemas terhadap suaminya, Vanya mencubit kecil perut Ernan hingga membuatnya meringis kecil. Dengan sengaja mereka berdua pun mengeluarkan keromantisannya di hadapan Nic hingga membuatnya geram sendiri. Tak... Sebuah gelas Nic simpan dengan cukup kencang hingga mengagetkan dua orang yang sedang bermesraan.
"Aku lihat sepetinya kamu cukup santai untuk bermesraan dengan istri mu disini, sementara di perusahaan bukannya kamu berada di ambang kehancuran?" Ucap Nic yang kini sedang berada di puncak bisnisnya dan mengalahkan Ernan.
Sementara dengan Ernan ia hanya tersenyum miring mendengar apa yang di ucapkan bocah di hadapannya itu. Ya, memang benar dalam suatu permasalahan bisnis tak luput dari tindakan permainan curang di antara para pesaingnya begitu juga dengan apa yang di lakukan Nic untuk menjatuhkan Ernan.
"Emm... ya kau benar, mungkin aku terlalu sibuk dengan istri ku sampai aku lupa kalau ada benda tajam yang mengancam ku." Ucap Ernan.
"Ayo sayang, kita pergi sebelum terbunuh." Sambung Ernan yang menggenggam tangan Vanya dan pergi meninggalkan tempat itu.
Dengan kesal Nic mengepalkan kedua tangannya menatap Ernan yang membawa Vanya pergi begitu saja. Dalam sebuah perjalanan ponsel Ernan tak hentinya berdering, ia segera menjawab panggilan tersebut yang tak lain adalah Leo. Ia memberikan sebuah kabar bahwa kontrak kerjasamanya dengan perusahaan x akan segera di tandatangani hanya saja Ernan yang harus pergi menemuinya langsung tanpa di wakilkan. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan bagus ia pun menyetujuinya dan akan segera berangkat dalam waktu dekat.
"Apa kau akan pergi?" Tanya Vanya.
"Sepertinya begitu, tapi itu gak akan lama." Sahut Ernan.
"Baiklah, aku akan menunggu mu kembali." Ucap Vanya.
"Itu harus." Sahut Ernan.
**
Di sebuah mansion tempat tinggal nyonya Liu, dengan memberanikan diri Carla membawa Ian ke rumahnya yang berniat untuk mengenalkannya pada sang ibu. Di sebuah ruang tamu Carla duduk seorang diri dan menyuruh Ian untuk menunggunya di luar selama beberapa menit karena ia tau betul sifat mama nya seperti apa.
"Hei gadis nakal, apa kau salah minum obat hari ini? kenapa seolah menjadi seorang tamu di rumah sendiri?" Tanya nyonya Liu.
"Emm.. itu loh ma, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan." Ucap Carla dengan penuh hati-hati.
"Katakanlah, apa yang ingin kau bicarakan."
"Carla kan udah gede, kuliah juga sebentar lagi selesai."
"Heem... lalu?"
"Aku ingin minta restu mama untuk menikahkan aku dengan pria yang aku cintai." Ucap Carla dengan mata yang tertutup karena takut mama nya marah.
"Aishhh.. mama kira mau ngomong apa? ternyata soal pacar?"
Carla mengangguk pelan, ia pun meminta izin untuk keluar sebentar dan membawa Ian masuk kedalam rumahnya untuk bertemu langsung dengan mamanya. Sontak nyonya Liu kaget di buatnya, ia tercengang ketika melihat sosok Ian yang berdiri di samping putrinya itu. Bukan kenal atau karena hal lain yang membuatnya kaget tapi dengan visual yang di miliki pria itu membuat nyonya Liu terkagum.
Ia menghampiri Ian dan menyentuh lembut wajah nya serta meneliti dengan begitu seksama.
"Ya Tuhan.. sungguh indah ciptaan mu, darimana kau menemukan model seperti ini?" Tanya nyonya Liu pada putrinya.
"Heuh?!" Carla tercengang dengan tingkah mama nya yang di luar dugaan.
Nyonya Liu pun langsung menginterogasi Ian sedetail mungkin, mulai dari keluarga sampai jurusan pendidikan yang di ambilnya. Merasa klop keduanya langsung terlihat akrab dan mengabaikan keberadaan Carla yang berada di antaranya.
"Baguslah akhirnya, aku punya menantu yang akan meneruskan keluarga Addison, gak seperti dia yang tidak mau menuruti apa kemauan mamanya." Ucap Liu dalam candaannya.
"Yak!! mama...! jangan mencoba menjelekan aku di depan calon suami ku.." Teriak Carla.
Melihat kegaduhan antara nyonya Liu dan kekasihnya itu membuat Ian tertawa kecil.
"Mama mu begitu baik, kenapa kamu seolah takut terhadapnya?" Tanya Ian berbisik.
"Mama sebenarnya orang yang tegas, hanya saja dia selalu bisa menyesuaikan dimana saat harus bercanda dan dimana saatnya serius." Jelas Carla.
"Gak usah gosip! mama disini loh mengawasi kalian." Ucap nyonya Liu.
"Yeee... siapa juga yang gosip, aku berkata yang sebenarnya." Ucap Carla.
"Apa yang kau katakan padanya?"
"Mama galak, jadi dia harus berhati-hati." Ucap Carla yang langsung melesat pergi menuju kamarnya.
"Yak!! dasar anak nakal..!!" Teriak nyonya Liu.
***
Bersambung. . .