
Ernan melepaskan tangannya dari pegangan pintu dan membalikkan badannya ke arah Shita, ia menghampiri wanita licik itu dan tak segan-segan Ernan mendorongnya ke sebuah tembok dengan satu tangan yang mencekik Shita. Pria itu menatap tajam Shita dengan cengkeraman nya yang semakin kuat.
"Kau boleh saja membunuh ku Ernan, tapi kita lihat apa yang akan terjadi dengan istri murahan mu itu!" Ucap Shita dengan suara yang terputus-putus.
"Berani menyentuhnya aku pastikan semua keluarga mu tidak akan selamat!" Sahut Ernan dengan suara yang menekan.
Ia melepaskan cengkeramannya dan menghempaskan Shita ke lantai dengan begitu kasar hingga membuat wanita itu tersungkur. Ernan mengambil langkahnya dan hendak meninggalkan kamar hotelnya.
"Berani kamu melangkah, aku pastikan Vanya mati!" Teriak Shita yang masih terduduk di lantai.
Pria itu tersenyum miring, sepertinya ia tau betul apa yang telah di rencanakan wanita gila itu. Meski mereka teman sejak kecil namun apa yang di lakukan nya sangatlah diluar batas. Ernan kembali berbalik dan mengulurkan tangannya untuk membantu Shita bangun, sifat yang di keluarkan nya kini berbanding terbalik dengan sebelumnya yang terlihat marah dan seperti ingin membunuh Shita.
"Hentikan, maka aku akan mengikuti semua kemauan mu." Ucap Ernan.
Shita pun segera mengubungi bawahannya untuk menghentikan aksinya, namun Shita bukan wanita bodoh yang bisa menuruti kemauan Ernan begitu saja, tak lama setelah menelpon bawahan nya ia mengirimi nya sebuah pesan untuk tetap menjalankan tugasnya.
Sampai akhirnya acara pertemuan itu pun tiba, Ernan bersama dengan Shita serta Leo bergegas menuju tempat yang telah di tentukan untuk memulai hubungan kerjasamanya.
**
Sementara dengan keberadaan Vanya, ia menjalani aktivitas seperti biasanya. Sampai suatu hari nyonya Liu mengajak Vanya untuk bertemu di sebuah pusat perbelanjaan di kotanya. Vanya keluar rumah dengan menggunakan sebuah taksi, kali ini ia keluar seorang diri karena Carla yang tengah sibuk dengan aktivitas kuliah nya. Tidak ada firasat apapun yang di rasakan nya saat ini, hanya ada rasa damai dan bahagia yang ia rasakan.
"Mama..." Ucap Vanya ketika melihat mama mertuanya yang telah menunggu.
"Vanya sayang..." Sahut nyonya Liu yang memeluk menantu kesayangannya itu.
Mereka pun pergi masuk ke sebuah supermarket, Vanya mengambil sebuah troli dan mendorongnya, namun tidak ingin menantunya yang sedang hamil muda itu kelelahan nyonya Liu mengambil alih troli yang di dorong Vanya.
"Ehh.. gak papa biar aku aja ma." Ucap Vanya.
"No, urusan ini biar mama aja kamu ambil apa yang kamu inginkan." Sahut nyonya Liu.
Vanya hanya tersenyum dan mengangguk, ia mengambil beberapa bahan makanan untuk stok di rumahnya. Selesai berbelanja, nyonya Liu mengubungi Carla untuk makan siang bersama di tempat yang telah biasa mereka kunjungi.
Di sebuah restoran Vanya dan nyonya Liu telah duduk bersama sampai akhirnya gadis kecil yang di tunggu mereka pun datang yang tidak hanya seorang diri, ia mengajak Ian yang telah menjadi kekasih resminya dan bahkan acara pertunangan keduanya akan di selenggarakan dalam waktu dekat.
"Hai Vanya.. apa kabar?" Tanya Ian.
"Ya, panggil aku dengan sebutan kakak." Sahut Vanya.
"Ahh, baiklah kakak." Ucap Ian tersenyum seperti biasanya.
"Kak Ernan kapan pulang?" Tanya Carla.
"Mungkin besok, kemarin sih bilangnya cuma dua hari tapi belum pasti juga." Sahut Vanya.
"hahh.. baiklah, nanti malam aku menginap di rumah kakak." Ucap Carla.
"Good girl" Sahut Vanya mengacungkan jempolnya.
Ya, Vanya memanglah begitu akrab dengan semua keluarga suaminya bahkan ia telah menganggap Carla sebagai adik kandungnya dan nyonya Liu mama nya sendiri. Selesai dengan makan siangnya, mereka pun bergegas meninggalkan tempat itu dan masuk kedalam mobil masing-masing, kini Vanya ikut bersama dengan mama mertuanya.
Malam hari pun tiba, sebelum Carla tiba di rumah Vanya seseorang mengirimkan nya sebuah paket dan menitipkannya pada pelayan rumah, Di saat Vanya keluar dan turun dari kamar nya pelayan itu memberikan paket itu pada Vanya. Tanpa rasa curiga apapun Vanya membuka kotak tersebut.
"Aaaaahhh...." Teriak Vanya seraya melempar kotak itu.
Tangan Vanya sedikit tergores benda tajam yang berada dalam kotak itu. Sebuah boneka yang tercabik penuh darah berada dalam kotak itu dan membuat Vanya kaget sampai berteriak.
"Non Vanya, ada apa?" Tanya salah satu pelayan rumah.
"Siapa yang mengirim itu?" Sahut Vanya yang berbalik bertanya.
"Saya tidak tau non, disana tidak tertera siapa namanya." Sahut pelayan itu.
"Biar saya obati dulu lukanya." ucap sang pelayan.
"Aku bisa sendiri." Sahut Vanya yang kembali berjalan masuk kedalam kamarnya.
Sementara itu di luar rumah, Carla yang baru sampai sampai melihat sosok pria yang cukup mencurigakan dengan pakaian serba hitam menatap rumah kakak nya itu, namun dengan cepat pria itu menghilang meninggalkan kediaman Ernan. Carla pun bergegas masuk dan menemui Vanya di dalam kamarnya yang kebetulan sedang mengobati jarinya.
"Astaga.. kak Vanya kenapa? kok bisa luka?" Tanya Carla.
"Gak papa, tadi hanya tergores pisau." Sahut Vanya.
"Ehh iya kak, apa barusan ada tamu yang datang kesini?" Tanya Carla kembali.
"Tidak, emangnya kenapa?" Sahut Vanya.
"Emm... tadi aku gak sengaja lihat orang di depan tapi ada yang sedikit aneh darinya."
"Aneh bagaimana?"
"Cara berpakaiannya dan cara dia menatap rumah ini, seolah menginginkan sesuatu." Sahut Carla.
Vanya terdiam dan sejenak berpikir, ia kemudian melihat rekaman cctv yang terhubung dengan laptopnya, namun Vanya tidak bisa melihat apapun disana karena kemungkinan pria itu berdiri jauh dari jangkauan cctv.
"Sudahlah mungkin hanya orang iseng, kakak mau istirahat kamu mau tidur disini?" Tanya Vanya.
"Tidak, aku akan tidur di ruang tamu, kalau gitu aku ke kamar dulu selamat malam." Ucap Carla.
"Malam, jangan lupa mimpi indah." Sahut Vanya.
Setelah Carla pergi, Vanya berjalan ke arah jendelanya dan melihat ke arah luar.
"Sepertinya ada yang ingin bermain-main dengan ku." Gumam Vanya.
Ia mengambil ponsel nya dan berniat untuk menghubungi suaminya, namun dari beberapa panggilan yang Vanya lakukan tidak satupun panggilan yang Ernan jawab. Vanya hanya berpikir positif dan mengerti dengan kesibukan suaminya, ia kembali menaruh ponselnya dan berbenah di atas ranjang king size nya. Di saat akan tertidur, ponsel Vanya berdering dan sebuah panggilan masuk dari suami tercinta.
"Apa kau belum tidur?" Tanya Ernan dalam sambungan telponnya.
"Belum, aku merindukan mu kapan akan kembali?" Tanya Vanya dengan suara manjanya.
"Lusa aku kembali, apa telah terjadi sesuatu?" Tanya Ernan.
"Hanya sedikit, sepertinya ada yang ingin bermain dengan ku, apa kau mengetahui itu?" Tanya balik Vanya.
"Hm, dia mulai berulah berhati-hatilah, aku akan segera mengurusnya." Ucap Ernan.
"Bagiamana kamu mengurusnya sementara kamu.... jangan bilang dia bersama kamu disana?" Ucap Vanya.
"Itu benar."
"Kenapa kamu tidak bilang dari sebelumnya?"
"Aku juga gak tau ini semua jebakannya aku hanya akan mengikuti alur yang dia mainkan kamu gak perlu cemas."
"Hahhh.. baiklah aku percaya kamu." Sahut Vanya.
Sambungan telpon pun terputus tanpa di akhiri sebuah kata, namun sepertinya Vanya tau apa yang terjadi di tempat suaminya sampai ia memutuskan telponnya dengan tiba-tiba.
***
Bersambung. . .