
" Kak Vanya..." Teriak Carla dari dalam rumah menyambut kedatangan Vanya.
Langkah Vanya seketika terhenti ketika melihat Carla yang berlari kecil ke arah nya dan memeluk dirinya.
"Hei bagaimana kau bisa ada disini?" Tanya Vanya.
"Ini rumah kakak ku, kenapa kau bertanya seperti itu?" Sahut Carla.
"Ehm.. bukan gitu maksudnya...." Ucapan Vanya terputus ketika Carla menyela nya.
"Ahh sudahlah, besok adalah hari ulangtahun perusahaan utama sekaligus pemindahan pemegang perusahaan jangan lupa pakai perhiasan yang mama berikan." Ucap Carla.
"Satu lagi, mama akan mengumumkan acara pernikahan kalian dalam acara besok malam dan sekarang aku akan mengajak mu ke butik untuk mencari sebuah gaun." Sambung Carla.
Ya, apa yang di katakan Carla sangatlah benar, sebuah acara besar akan di selenggarakan dalam hitungan jam mendatang dan di saat itu juga detik-detik Vanya untuk menjadi istri Ernan semakin dekat, ia tak bisa membayangkan berapa banyak orang yang akan protes dengan keputusan yang di buat oleh nyonya Liu dan putranya itu.
Berawal dari sebuah drama yang dimainkannya hanya demi mendapatkan uang hingga akhirnya terjerumus dalam hubungan asmara yang nyata, kini Vanya harus benar-benar siap dengan semua kondisi yang akan ia terima di masa depan.
"Hei kak Vanya!" Ucap Carla menepuk pundak gadis di depan nya yang masih bengong dengan sejuta lamunan.
"Ehh, iya?" Sahut Vanya yang tersadar.
"Kenapa masih diam? ayo pergi." Ucap Carla menarik Vanya masuk kedalam mobilnya.
"Tunggu Carla, sepertinya aku gak bisa ikut untuk saat ini." Ucap Vanya menolak ajakan Carla.
"Kenapa?" Tanya Carla.
"Ernan udah menyiapkan semuanya." Sahut Vanya dengan sebuah alasan.
Untuk saat ini Vanya tidak boleh gegabah pergi keluar tanpa Ernan atau Leo yang menemaninya karena bisa saja ia bertemu dengan pria bertato itu dan membawanya kembali untuk mengurungnya seperti beberapa tahun yang lalu. Rasa kecewa terlihat pada raut wajah Carla karena Vanya menolak ajakannya, tapi mau bagaimana lagi ia tidak bisa memaksa Vanya untuk mengikuti kemauannya.
"Ahh yaudah, kalau gitu aku pulang dulu sampai bertemu besok." Ucap gadis kecil itu yang melangkah gontai masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan kediaman Ernan.
Rasa tidak enak hati pun timbul dalam diri Vanya karena telah menolak ajakan gadis yang telah menganggap dirinya sebagai kakaknya sendiri, tapi mau bagaimana mana lagi itu adalah keputusan yang harus dia ambil demi kelangsungan hidupnya.
Vanya pun masuk kedalam rumah namun langkahnya terhenti ketika ia mengingat barang pemberian nyonya Liu berada di dalam rumahnya.
"Haisshh sial! bagaimana aku mengambilnya?" Gumam Vanya.
Ia pun membalikkan badannya dan hendak melangkah keluar kembali. Tidak ingin menganggu pekerjaan Ernan ataupun Leo ia menuju rumahnya dengan mengenakan sebuah taksi serta memakai sebuah masker dan topi untuk menutupi wajahnya. Sesampainya di rumah itu, Vanya segera mengambil barang yang di perlukan nya dan mengemasi beberapa baju ganti untuknya, tak lupa juga ia membawa foto kedua orangtuanya yang selalu ia rindukan.
Tok tok tok. . . Setelah selesai dan hendak keluar dari rumah itu, Vanya di kagetkan dengan sebuah ketukan pintu yang tak menutup kemungkinan kalau itu adalah orang yang sama yang ingin membawa Vanya.
"Astaga... bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan?" Gumam Vanya yang terlihat begitu panik.
Matanya menelusuri ke setiap sudut rumah sampai akhirnya terhenti ketika ia melihat sebuah tongkat besi, Vanya pun mengambil tongkat itu serta barang bawaannya menuju pintu, dengan perlahan ia membuka pintu itu dan hendak memukul orang yang di baliknya.
"Hiyaaaatttt..." Teriak Vanya yang langsung memukul orang di balik pintu.
Bughh... Sebuah pukulan yang cukup kencang mendarat tepat di kepala orang itu hingga membuatnya oleng dan tersungkur kesakitan.
"Aaakhh... sial! kenapa kau memukul ku?" Ucap pria itu yang masih tersungkur di lantai.
"Astaga! Leo?" Ucap Vanya yang kaget melihat Leo.
"Maaf, aku gak sengaja aku kira kamu dia, dan juga bagaimana bisa kamu tau aku disini?" Tanya Vanya.
"Untung kepala ku gak pecah." Sahut Leo.
"Tuan menyuruhku untuk menjemput mu ketika dia tau kamu berada disini." Sambung Leo.
"Tapi bagaimana bisa dia tau kalau aku disini? bahkan aku tidak mengiriminya pesan." Ucap Vanya.
"Itu karena jaringan kalian saling terhubung, selama ponsel kamu nyala dia akan mengetahui dimana kamu berada, begitu juga sebaliknya." Jelas Leo.
"Kapan dia memasangnya?" Gumam Vanya.
"Sudahlah, ayo cepat sebelum orang misterius itu datang kemari." Ucap Leo.
*
Di sebuah mansion, Vanya masuk kedalam kamarnya dan membereskan beberapa barangnya, sejenak ia menatap foto kedua orangtuanya dengan tatapan yang begitu sayu.
"Aku janji, aku akan membalaskan semuanya pada orang yang telah merenggut kalian, gak peduli siapapun orangnya dia harus merasakan apa yang aku rasakan." Ucap Vanya yang memeluk foto tersebut.
Malam menjelang, Vanya keluar dari kamarnya dan menuju sebuah dapur untuk mencari makanan ringan, ia membuka beberapa lemari namun tidak menemukan satu bungkus Snack pun di dalamnya, akhirnya Vanya hanya mengambil satu kaleng minuman beralkohol dari dalam lemari es dan membawanya ke atap rumah.
"Tumben jam segini dia belum pulang." Ucap Vanya yang melihat jam dari ponselnya.
" Darimana aku harus mengumpulkan semua buktinya? bahkan sampai sekarang Ernan belum memberi kabar tentang orang itu."
Glup.. Vanya meneguk minumannya berulang kali dan menatap indahnya bintang yang bertaburan di atas sana sampai akhirnya kehangatan tangan seseorang membalut pinggangnya dan sebuah kecupan mendarat di bahunya yang kebetulan Vanya mengenakan baju dengan bagian atas yang terbuka.
Gadis itu pun langsung menoleh ke belakangnya karena ia di kagetkan dengan sentuhan seseorang yang membuatnya candu. Terlihat sosok pria tampan yang tersenyum manis ketika keduanya saling bertatapan.
"Kamu.. bagaimana tau kalau aku disini?" Tanya Vanya.
"Aku pergi ke kamar mu dan kamu gak ada di tempat lalu aku cek ponsel dan ternyata kamu disini."
"Kenapa kamu pulang ke rumah itu sendirian? bagaimana kalau terjadi sesuatu sama kamu?" Sambung Ernan.
"Emm... itu... aku tidak mau mengganggu pekerjaan kamu dan juga Leo lagian aku hanya pergi sebentar kok, cuma mengambil barang yang aku butuhkan." Jelas Vanya.
"Lain kali jangan ulangi, jika kamu ingin pergi ke suatu tempat kamu harus minta bantuan siapa?" Tanya Ernan.
"Polisi." Jawab Vanya dalam candaannya.
"Siapa?" tanya Ernan tegas.
"Kamu." Jawab Vanya menunduk malu.
Pria itu pun tersenyum dan meraih kedua tangan Vanya, ia menariknya masuk kedalam pelukannya. suasana dinginnya malam karena hembusan angin yang menerpa kini terasa lebih hangat gadis itu rasakan.
***
Bersambung. . .