Virgin (True Love)

Virgin (True Love)
Bab 35



Ting tong. . .


Tak lama setelah Vanya mengganti bajunya sebuah bel rumah pun berbunyi, sebelum Vanya keluar dari kamar seseorang telah membukakan pintu, ya siapa lagi kalau bukan Ian yang posisinya lebih dekat dengan pintu utama. Tatapan malas ia keluarkan ketika melihat Ernan yang berada di balik pintu tersebut.


"Dimana Vanya?" Tanya Ernan.


"Dia gak disini." Jawab Ian.


Pria itu hanya menatap Ian dengan tatapan yang membuatnya ketakutan sendiri.


"Canda ailah.. gitu amat tatapan nya hehe.." Ucap Ian cengengesan.


Tak lama setelah itu Vanya pun keluar dari kamarnya dan menghampiri kedua pria yang berada di ambang pintu. Tidak mau menunggu lama, Ernan pun menerobos masuk dan menarik Vanya keluar dari rumah itu bahkan tanpa pamit pada Anggi yang selaku pemilik rumah.


"Hey.. tunggu! aku belum berpamitan pada Tante Anggi." Ucap Vanya menepis tangan Ernan.


"10 detik" Sahut Ernan.


"Ian tolong sampaikan terimakasih ku untuk Tante Anggi, kalau dia tanya aku kemana bilang aja di bawa di bawa ayah angkat." Ucap Vanya setengah berteriak karena jarak ia dan Ian cukup jauh.


"Bilang apa kau barusan? ayah angkat?" Ucap Ernan.


"Hm, karena Kau lebih tua tuan, hehe.." Sahut Vanya nyengir.


"Aku tidak setua itu!"


"Tapi kamu tetap lebih tua dari aku! wle." Ucap Vanya menjulurkan lidahnya yang kemudian masuk ke dalam mobil.


Dalam sebuah perjalanan Vanya tidak berbicara sepatah katapun ia sibuk menggigit kuku jarinya sambil memikirkan sebuah cara untuk ia menghadapi pria bertato itu, karena bagaiman juga tubuhnya cukup kekar untuk dia lawan sendiri. Walaupun ia punya dasar bela diri namun tidak semahir layak nya para pria.


"Kenapa jadi pendiam?" Tanya Ernan.


"Tidak, aku hanya lelah bolehkah aku tidur?" Sahut Vanya.


Pria itu hanya mengangguk kecil dan kembali fokus pada jalanan. Tak butuh waktu yang lama ia pun telah sampai di rumahnya, disaat Ernan akan menggendong Vanya gadis itu telah terbangun namun ia berpura-pura tidur untuk mengerjai Ernan, sampai akhirnya pria itu hendak menurunkan Vanya di sebuah ranjang kamar tamu dengan segera ia membuka matanya dan tersenyum nakal.


"Apa-apaan ini? apa dari tadi kamu udah bangun?" Tanya Ernan.


"Hehe... maafkan aku tuan aku hanya ingin kau mengendong ku, karena cara mu menggendong ku membuat aku ketagihan." Bisik Vanya yang membuat hati Ernan menjadi dag dig dug ser.


Tanpa menunggu lagi pria itu menurunkan Vanya dengan sedikit melemparnya ke atas ranjang yang begitu empuk dan wangi, ia pun langsung mengunci kedua tangan Vanya dengan tangannya yang cukup besar. Ia menatap wajah cantik Vanya dengan begitu dalam hingga akhirnya satu kecupan pun berhasil ia berikan di bibir gadis yang kini berada di bawahnya.


Berawal dari sebuah kecupan yang berlangsung menjadi lu.ma.tan keduanya saling menyukai setiap sentuhan yang di berikan nya satu sama lain. Dengan tangan jahilnya Vanya menggelitik pinggang Ernan hingga membuatnya kegelian dan terjatuh di samping Vanya dengan posisi yang telentang. Kesempatan itu ia gunakan untuk menukar posisinya hingga kini Vanya yang berada di atas tubuh Ernan.


"Haahhh.. aku tak pernah menyangka kehidupan ku akan menjadi seperti ini." Ucap Vanya masih dalam posisi yang sama..


"Jika aku boleh tau, kehidupan seperti apa yang kamu inginkan?" Tanya Ernan.


"Terlepas dari semua masalah dan hidup dengan damai, tidak perlu mewah asal aku bisa bersama dengan orang yang akan selalu melindungi ku." Jawab Vanya yang kemudian turun dari tubuh Ernan dan duduk di atas ranjang.


Pria itu pun terbangun dan duduk di hadapan Vanya.


"Orang itu kembali lagi."


"Siapa maksud kamu?" Tanya Ernan yang tidak mengetahui siapa yang di maksud Vanya.


"Pria bertato yang telah menyabotase mobil papa dan melenyapkan mereka, tapi sayangnya aku tidak mengetahui siapa dia dengan jelas, aku hanya mengingat wajahnya." Jelas Vanya.


"Aku akan membantu mu untuk mencari tau siapa dalang di balik semuanya, kamu gak perlu cemas dan untuk sementara waktu kamu tinggal disini sampai keadaanya benar-benar aman." Ucap Ernan.


Setelah pembicaraan yang cukup serius di antara keduanya, mereka pun bermain game bersama yang di selangi dengan kehangatan canda tawa dari keduanya layaknya pengantin baru yang begitu bahagia. Ernan memanglah pria dewasa yang selalu serius dalam segala hal terutama masalah pekerjaan, namun di saat bersama dengan Vanya ia bisa menjadi sosok pria yang menggemaskan yang tak kalah dari bayi.


"Sepertinya aku mencium bau-bau gosip yang akan membuat nyonya senang." Ucap Leo yang dengan sengaja menguping di depan kamar Vanya.


Drrtt... drrtt... ponsel milik seorang wanita bernama nyonya Liu terus berdering, ia yang baru menyelesaikan ritual mandinya di malam hari bergegas menghampiri ponselnya yang terletak di atas sebuah meja rias.


"I'm coming my sweete..." Teriak heboh nyonya Liu yang di kiranya telpon dari sang suami tercinta.


Sesampainya di depan sebuah meja rias, ia menatap malas layar ponselnya yang ternyata Leo lah yang menghubunginya.


"Apa harus semalam ini kau mengganggu sang ratu hah?" Ucap nyonya Liu dalam sambungan telponnya.


"Maaf nyonya, kali ini ada berita penting yang harus nyonya tau." Sahut Leo.


"Berita apa? apa kau mendapatkan undian atau kau akan segera menikah? wanita mana yang mau sama kamu?" Tanya nyonya Liu yang tak memberikan Leo untuk menyela ucapannya.


"Bukan semuanya! tapi kali ini serius kayaknya nyonya akan segera memberikan cucu." Ucap Leo mulai bergosip yang belum pasti.


"Ch, saya gak butuh kabar burung! jangan bergosip di malam hari!" Ucap nyonya Liu.


"Kali ini serius mereka ada di dalam kamar tamu, tuan Ernan membawanya pulang ke rumah, jika nyonya tidak percaya nyonya bisa datang kesini besok pagi sebelum mereka bangun." Ucap Leo.


"Baiklah, besok saya kesana sebelum bangun." Ucap nyonya Liu.


"Gimana caranya kesini sebelum bangun?"


"Mimpi!" Ucap nyonya Liu yang mengakhiri telponnya.


"Gini amat ya punya nyonya besar, untung sabar." Gumam Leo yang kemudian pergi dari depan kamar Vanya.


Sementara dengan yang di dalam, setelah lelah bercanda ria Vanya menyandarkan tubuhnya dalam pelukan Ernan. Kini ia tidak peduli lagi dengan status dirinya siapa, satu hal yang penting dalam dirinya sekarang yaitu mencari kebahagiaan bersama dengan pria yang di cintai nya.


Ya, Vanya menemukan kesempurnaan di dalam diri Ernan yang selalu membuatnya nyaman dan bisa memberinya kebahagiaan.


***


Bersambung. . .


Jika ada typo atau kesalahan lainnya tolong kasih tau ya...


makasih buat pembaca setia πŸ™πŸ˜š