
"Ku peringatkan satu hal, mulai sekarang jangan pernah dekat dengan pria mana pun!"
"Dan satu lagi, berhenti dari pekerjaan mu!" Tutur Ernan dengan suara yang menekan dan mencengkeram kedua bahu Vanya hingga gadis itu meringis kesakitan.
Ernan yang terlihat seperti kesetanan membuat Vanya benar-benar bingung sendiri, entah hal apa yang membuatnya marah sebesar itu.
"Atas dasar apa kau mengatur hidup ku?" Tanya Vanya.
"Karena aku menginginkan mu." Jawab Ernan yang mulai mereda.
"Ch, sungguh menggelikan, kau bahkan pernah mengatakan kalau aku hanya wanita malam yang begitu licik, kenapa kau tiba-tiba menginginkan ku?"
"Gak ada alasan! Cepat bersiap aku akan mengantar mu ke kampus."
Gadis itu pun bergegas masuk kedalam kamarnya dan segera bersiap. Di depan sebuah cermin Vanya berdiri ia menatap wajahnya sendiri "Haahh... Sepertinya masalah hidup mu akan bertambah berat Vanya." Gumam gadis itu. Setelah rapi, Vanya pun bergegas keluar dan menghampiri Ernan yang tengah duduk di sebuah sofa sambil menatap layar ponselnya.
Menyadari akan kehadiran Vanya, pria itu pun meliriknya dari bawah hingga atas sampai tatapannya terhenti ketika melihat wajah cantik Vanya serta leher mulusnya karena rambut yang terikat.
"Kenapa?" Tanya Vanya.
Tanpa sebuah kata pria itu berdiri dan menyerbu Vanya layaknya seekor serigala menemukan mangsanya. Kini tangan besar Ernan berada tepat pada rahang gadis itu yang kemudian menyelusup ke tengkuk lehernya serta bibir yang tak berhenti menyapu habis bibir mungil Vanya menjadikan suasana pagi hari yang awalnya terasa dingin menjadi sedikit lebih panas.
Vanya yang semula berontak menolak perlakuan Ernan perlahan ia mulai melemas dan mengikuti alur permainannya, gadis itu begitu menikmati sentuhan demi sentuhan yang pria itu berikan. Entah sihir apa yang di berikan nya sampai membuat gadis itu begitu terbuai, dengan perlahan Ernan menggiring Vanya ke sebuah sofa tanpa melepaskan pautannya hingga kini posisi Vanya terbaring dan Ernan berada di atasnya.
Setelah beberapa menit pria itu bermain di bibir Vanya, ia pun melepaskan pautannya dan menatap gadis yang berada di hadapannya dengan penuh gairah, dengan perlahan Vanya membuka matanya dan kedua pasang mata pun saling beradu tatapan. Tak berhenti sampai disitu, Ernan kembali melanjutkan aktivitasnya menelusuri leher Vanya dengan beberapa kecupan hingga membuat gadis itu menggeliat geli, tangan yang tak berhenti menyelusup masuk kedalam t-shirt gadis itu hingga membuat Vanya semakin menggeliat. "Ahhhh~" satu desahan pun lolos dari mulut gadis itu hingga membuat Ernan mengeluarkan smirk nya dan bermain semakin liar.
"Keluarkan lebih dari itu, aku menyukai suara mu." Bisik Ernan dengan suara berat.
"Ini semua gak benar, cepat sadar Vanya! Och... Tapi kenapa seolah aku menginginkannya lagi dan lagi." Batin Vanya yang ingin menolak perlakuan Ernan tapi tidak dengan raga nya yang selalu menerima sentuhan lembut pria itu.
Semakin panas sebuah permainan, semakin tidak kuat rasanya gadis itu untuk menahan semuanya. "Ini salah! Sadar Vanya!" Teriak batin gadis itu hingga akhirnya ia pun tersadar dan membuka matanya, perlahan Vanya mendorong dada Ernan hingga pria itu menghentikan semuanya.
"Kenapa? Apa aku terlalu kasar?" Tanya Ernan yang masih berada di atas Vanya.
"Hentikan! Aku gak mau melakukan semua itu! Cepat minggir!" Ucap Vanya.
"Kenapa kau menyuruhku untuk menghentikannya? Tubuh mu bahkan tidak menolak sedikitpun."
"Aku harus ke kampus, sebentar lagi kelas aku di mulai, dan hari ini aku ada presentasi." Sahut Vanya mengeluarkan sebuah alasan.
"Baiklah, ayo pergi." Ucap pria itu yang langsung pergi dan seolah tak punya dosa.
"Astaga Vanya... Dasar bodoh! Kenapa kau tidak menolak nya dari awal? Kenapa kau malah menikmati sentuhannya?" Gumam Vanya yang masih terdiam di tempat.
"Hei ayo.. katanya ada presentasi? Kenapa masih terdiam di situ?" Teriak Ernan dari ambang pintu.
Dengan segera Vanya pun berlari kecil menghampiri pria yang telah menunggunya. Dalam sebuah perjalanan Vanya memutar sebuah musik dari mobil Ernan, dengan wajah imutnya ia bernyanyi serta mengerakkan sebagian tubuh nya dan tangan yang kesana kemari hingga membuat Ernan gagal fokus dalam mengemudikan mobilnya.
"Bisa kah kau diam?" Ucap Ernan yang sesekali melirik gadis di sampingnya.
"Tidak, aku gak mau diam, kenapa? Apa kau merasa terganggu?" Sahut Vanya.
"Kau! Apa yang kau lakukan?" Tanya Vanya.
"Karena kamu yang terus menggodaku, maka kamu harus bertanggung jawab!"
Saat pria itu akan mendaratkan bibirnya, dengan sebuah ide gadis itu menggagalkan semuanya. "Polisi!" Ucap Vanya menunjuk ke kaca spion dan melihat mobil polisi berada di belakang mobil mereka. Dengan cepat pria itu pun kembali duduk dan memasang seat belt nya, ia pun melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan sedang. Sementara dengan mobil polisi yang berada di belakang mereka hanya lewat begitu saja menyalip mobil yang Ernan kemudikan.
"Apa kau mengerjai ku hah?" Tanya Ernan.
"Tidak, aku bahkan berkata benar kalau ada mobil polisi di belakang kita." Sahut Ernan.
"Tapi mereka hanya lewat!"
"Aku tidak bilang mereka akan berhenti."
"Awas aja kamu! Tunggu balasan dari ku!" Ucap Ernan yang sedikit kesal.
Sesampainya di kampus, Vanya bergegas turun dari mobil Ernan dan berlari menuju kelasnya dengan terburu-buru sampai tak sengaja ia menabrak beberapa mahasiswa lainnya.
"Kebiasaan putri tidur yang selalu telat saat masuk kelas." Ucap Michel.
"Ssttt.. tadi ada sedikit insiden yang membuat aku telat." Sahut Vanya bisik-bisik.
"Insiden apa? Ayo cerita."
"No! Insiden ini begitu privasi gak ada seorang pun yang boleh tau."
"Ch, dasar pelit!"
Kelas telah berakhir Vanya dan Michel pun bergegas menuju sebuah kantin untuk makan siang, di tengah langkah mereka dengan tak sengaja Vanya melihat dua orang yang sedang bercumbu mesra dalam sebua ruangan yang kosong, dengan sengaja ia membuka pintu ruangan itu dan mengagetkan keduanya.
"Wow. . sebuah tontonan live gratis yang menggairahkan." Ucap Vanya.
"Vanya.." ucap Nic yang kepergok tengah bercumbu dengan Sheila.
"Gak usah kaget seperti itu, aku hanya ingin membuktikan semua rumor tentang mu, dan ternyata semua itu benar, setelah gagal mendapatkan ku kini dia yang menjadi sasaran mu?" Ucap Vanya.
"Jaga bicaramu Vanya! Dia bukan pria yang seperti itu!" Ucap Sheila membela Nic.
"Jika cinta yang telah bicara, maka ia akan sulit untuk melihat kebenaran "
"Kalian lanjutakanlah, maaf telah menganggu." Sambung Vanya yang kembali keluar.
"Hampir aku terjerumus kedalam lubang yang sama, ternyata Tuhan masih menyayangi ku telah membuka kebenaran semuanya." Ucap batin Vanya yang berjalan menyusul Michel.
***
Bersambung. . .