Virgin (True Love)

Virgin (True Love)
Bab 54



"Siapa pria tadi?" Tanya Ian seolah mengintrogasi kekasihnya.


"Bukan orang yang penting, untuk apa kamu tau." Sahut Carla.


"Siapa aku untuk mu? kenapa kamu mencoba untuk merahasiakan sesuatu dari ku?" Ucap Ian.


"Astaga Ian sayang.. baiklah aku akan mengatakannya, dia Reno pria yang pernah aku sukai hanya saja dia bodoh karena telah memilih wanita lain yang tidak lebih baik dari aku, nyesel kan sekarang." Jelas Carla.


Bukannya cemburu atau marah namun Ian malah tertawa mendengar penjelasan kekasihnya itu ketika tau seorang Carla pernah di tolak pria yang tidak lebih tampan darinya. Ian tertawa sampai terbatuk-batuk hingga akhirnya Carla menyumpal mulutnya dengan sebuah roti yang di genggamnya untuk menghentikan tawa Ian. Seketika tawa Ian pun terhenti dan mengunyah roti yang telah memenuhi mulutnya.


"Puas kamu hah? kayak yang gak pernah di tolak aja!" Ucap Carla.


"Yee... mana ada aku di tolak? yang ada aku menolak mereka." Sahut Ian.


"Bagaimana dengan kak Vanya?"


Pertanyaan Carla langsung membuat Ian terdiam mematung, kini giliran Carla yang menertawakan kekasih malang nya itu sampai puas. Ya, hubungan diantara keduanya selalu di bumbui dengan renyah nya canda tawa agar tidak merasa bosan.


**


Bagaimana dengan kehidupan Michelle dan Joe? mereka telah menikah satu bulan yang lalu, kini Joe meneruskan perusahaan yang di pimpin ibunya selama ini sementara dengan Michelle menjalankan bisnisnya sesuai dengan skill yang di milikinya. Meski telah menikah dan mempunyai kehidupan masing-masing namun persahabatan antara dirinya dengan Vanya masih terjalin dengan baik sampai sekarang.


Jika Vanya masih belum ada tanda-tanda kehamilan, berbeda hal nya dengan Michelle setelah menikah dengan Joe, benih yang di tanam suaminya itu kini mulai tumbuh dan berkembang pada rahim istri tercintanya. Bagaimana bisa? karena kehidupan Michelle sebelumnya tidak seperti Vanya tentunya, jika Vanya selalu menjaga kevirginan nya berbeda hal nya dengan Michelle yang telah sering melakukannya bersama dengan pria yang kini menjadi suaminya.


"Vanya...." Teriak Michelle ketika bertemu dengan sahabatnya itu.


"Aaaaah... Michelle..." Balas teriak Vanya memeluk Michelle.


Mereka bertemu di salah satu cafe yang sering di kunjungi oleh keduanya, sambil melepas penatnya karena pekerjaan mereka menghabiskan waktu dengan bercanda tawa dan bercerita satu sama lain.


"Kapan nyusul? isi nih." ucap Michelle mengelus perutnya yang masih terlihat rata karena usia kandungannya yang baru menginjak dua bulan.


"Waahhh.. selamat ya akhirnya jadi calon seorang ibu." ucap Vanya yang ikut senang mendengar kabar baik dari temannya.


"Ayo dong semangat nyusul biar kita bisa jalan-jalan bareng bawa si kecil." Ucap Michelle.


"Hahhh.. entah lah, akhir-akhir ini Ernan terlalu sibuk dengan pekerjaan bahkan terkadang ia sampai menginap di perusahaan." Ucap Vanya.


"Apa di perusahaan nya ada masalah?" Tanya Michelle.


"Sepertinya begitu, aku tidak pernah menanyakannya dan dia gak pernah cerita mungkin agar aku tidak mencemaskannya." Sahut Vanya.


Selesai melepas rindu dengan sahabat yang kini menjadi saudaranya, Vanya bergegas menuju perusahaan Ernan dengan membawakan sebuah makan siang untuk suaminya itu. Di sebuah lobby Vanya melihat Shita yang kebetulan berada disana, ia tidak tau ada urusan apa diantara wanita itu dengan perusahaan suaminya, hanya satu yang dia tau kalau perusahaan papanya adalah saingan dari perusahaan yang di pimpin Ernan. Vanya mengikuti langkah Shita yang menuju ruangan suaminya.


Shita langsung menerobos masuk tanpa permisi atau mengetuk pintu terlebih dulu, ia meminta Leo untuk meninggalkan mereka berdua, Ernan pun mengangguk menyetujui kemauan Shita dan menyuruh Leo untuk keluar sebentar.


"Untuk apa kamu datang kemari?" Tanya Erman.


"Aku ingin mengajukan sebuah kerjasama untuk memulihkan kondisi perusahaan kamu." Sahut Shita.


"Jika pelaku itu adalah perusahaan yang di pimpin adik kamu, lalu untuk apa kamu repot-repot membantu ku? bukankah itu sebuah trik yang untuk mencapai tujuan mu?" Ucap Ernan.


"Aku tidak mendukung Nic, dan aku ingin membantu kamu terimalah." Ucap Shita.


"Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, sebaiknya kamu keluar dan ingat satu hal aku bisa mengatasinya sendiri!" Ucap Ernan.


Dengan cepat Ernan mendorong Shita agar tidak terjadi salah paham dengan istrinya. Gadis itu pun bergegas keluar dan melewati Vanya yang masih berada di ambang pintu. "Tunggu." Ucapan Vanya seketika menghentikan langkah Shita, ia mengambil jepitan rambut yang terjatuh tepat di dekat suaminya dan memberikannya pada Shita.


"Lain kali pandai lah dalam bermain, dengan cara mu yang seperti itu hanya akan membuat Ernan semakin membenci mu, paham?" Ucap Vanya yang berbisik di telinga Shita dan mengembalikan jepitan rambutnya.


Shita hanya menatap Vanya dengan tatapan yang terlihat begitu kesal, sementara Vanya hanya membalasnya dengan senyuman miring dan menatap rendah gadis di hadapannya.


"Sayang... kamu pasti belum makan siang kan? aku bawakan makanan buat kamu." Ucap Vanya yang berjalan ke arah Ernan dan sengaja membuat Shita semakin panas.


Shita pun mendengus kesal dan pergi dari ruangan itu. Setelah semuanya aman, dengan segera Vanya menginterogasi suaminya dan minta penjelasan apa yang tadi di lihatnya.


"Hei.. kenapa mendadak menjadi seorang polisi yang menginterogasi tersangka?" Tanya Ernan.


"Karena kau telah melakukan kejahatan terhadap istri mu sendiri " Sahut Vanya.


Alih-alih menjelaskan, pria itu menarik Vanya dan mendudukkan di atas pangkuannya.


"Aku gak yakin istriku sedang cemburu karena hal kecil seperti itu." Ucap Ernan yang di lanjutkan dengan mengecup bibir Vanya.


"Bagaimana kau tau?" Sahut Vanya.


"Karena kamu bukan tipe wanita yang mudah percaya tanpa sebuah bukti." Sahut Ernan.


"Bukannya barusan itu bukti nyata? aku melihatnya sendiri loh." Ucap Vanya.


"Kamu tau sendiri Shita seperti apa." Ucap Ernan.


"Haha.. sudahlah, ayo makan jangan karena sibuk bekerja kamu sampai lupa makan." Ucap Vanya yabg hendak beranjak dari posisinya yang masih dalam pangkuan suaminya.


Namun Ernan menariknya hingga Vanya kembali terduduk di pangkuannya.


"Bagiamana jika.... aku memakan mu untuk makan siang ini?" Ucap Ernan dengan suara yang menggoda Vanya.


"Yak! jangan macam-macam, ini perusahaan." Ucap Vanya.


"Disini tidak ada siapapun kecuali kita." Sahut Ernan.


Tanpa berkata lagi, ia menggendong Vanya dan mendudukkannya di sebuah meja, Ernan langsung melahap bibir mungil istrinya dengan penuh gairah, tangan yang mulai menyelusup ke dalam baju yang di kenakan Vanya membuatnya menggelinjang kegelian.


Ceklek...


Di tengah suasana yang panas, seseorang membuka pintu ruangan Erman dan melihat apa yang sedang di lakukan bos nya itu bersama dengan istrinya.


"Maaf tuan, aku gak lihat apapun lanjutakanlah." Ucap Leo yang langsung memutar balik dan menutup kembali pintu ruangan bosnya.


"Sudah ku bilang apa? ayo makan." Ucap Vanya merapikan pakaian nya.


"Dasar Leo sialan." Gumam Ernan.


***


Bersambung. . .