
Setelah selesai makan Vanya dan Michel pun terpisah, gadis itu segera pulang ke rumahnya untuk membersihkan diri dan bersiap sebelum menemui nyonya Liu. Ia bergaya layaknya seorang gadis dari kalangan konglomerat untuk menutupi kehidupan yang sebenarnya.
Dalam sebuah rumah kediaman tuan Richard, terlihat seorang gadis yang tengah berbincang dengan nyonya Liu dan putrinya. Walau tak suka dengan Shita, namun sebuah bukti yang di berikan gadis itu membuat Carla dan mama nya marah pada Vanya yang telah membohongi mereka.
Beberapa jam berlalu malam pun tiba, Vanya yang telah sampai bersama dengan Ernan bergegas masuk dan menghampiri nyonya Liu yang telah menunggu nya bersama dengan dua orang gadis yang menemaninya. Dengan penuh etika dan sopan santun Vanya membungkuk memberikan hormat dan salam pada ibu nya Ernan.
"Siapa kamu sebenarnya?" Tanya nyonya Liu.
"Aku Vanya, salah satu mahasiswi di Global university jurusan desainer semester akhir." Jawab Vanya.
"Dimana orang tua mu?"
"Untuk apa mama menanyakan hal itu?" Ucap Ernan menjawab pertanyaan ibunya.
"Mama bertanya padanya bukan sama kamu!"
Vanya hanya melirik Ernan dan tersenyum tipis, ia telah mengetahui kemana arah pembicaraan itu. Vanya pun mengangguk kecil pada pria di sampingnya memberikan isyarat kalau ia bisa mengatasi semuanya sendiri.
"Kedua orangtua aku telah meninggal semenjak aku kecil dalam kecelakaan." Jelas Vanya.
"Baiklah, bagaimana dengan kehidupan mu sekarang?"
"Aku bekerja di salah satu minimarket untuk membayar kuliah ku." Jawab Vanya.
"Bukan di sebuah bar sebagai wanita malam yang menghibur para pria?" Ujar nyonya Liu.
Mendengar pertanyaan itu membuat Vanya ingin tertawa, bukan tegang ataupun takut ia justru terlihat begitu santai dalam menyikapi semua pertanyaan yang di ajukan nyonya Liu itu. Wanita lemah lembut yang terkadang tegas itu menyodorkan sebuah ponsel yang berisi sebuah foto dimana Vanya sedang berbincang dengan para pria dalam sebuah bar dan beberapa botol minuman di hadapannya.
"Astaga... Apa Tante menyuruh orang untuk menguntit ku?" Ucap Vanya yang berakting seolah dia tidak tau apa-apa.
"Jawab aja Vanya! Apa itu benar kamu?"
"Jika iya, kamu lihat sendiri Ernan, bagaimana kamu bisa menikahi seorang gadis penghibur?" Sambung nyonya Liu.
"Tante hanya salah paham, itu memang benar aku tapi kejadiannya bukan seperti itu."
"Malam itu Shita menghubungi ku dan dia mengajak aku bertemu di tempat itu, aku juga gak tau siapa para pria itu mereka datang bersama dengan Shita, lalu dia bilang ijin ke toilet dan mungkin dalam kesempatan itu dia mengambil fotonya." Jelas Vanya yang memutar balikan fakta.
"Benar kan Shita?" Tutur Vanya dengan senyuman nya.
"Hei! Apa yang kau katakan? Kenapa kamu memutar balikkan fakta?!" Bentak Shita.
"Ahh... Jika aku memutar balikkan fakta, lalu apa ini?" Ucap Vanya menunjukkan foto dalam ponselnya.
"Kau!" ucap Shita dengan kesal menunjuk Vanya.
"Itu semua gak benar Tante, aku yang telah di jebak olehnya, dia memberikan minuman sampai aku mabuk." Ucap Shita membela dirinya.
"Cukup Shita! Sekarang kamu pergi dari rumah saya!" Bentak nyonya Liu.
Dengan wajah yang kesal dan penuh amarah, gadis itu pun keluar dari kediaman nyonya Liu. "Bye bye" ucap Vanya melambaikan tangannya dengan senyuman kemenangan. Setelah mendengar penjelasan Vanya, nyonya Liu dan Carla pun meminta maaf padanya. Ia bahkan menyuruh Vanya untuk menginap di rumahnya bersama dengan Ernan. Tidak enak untuk menolak, Vanya pun menerima tawarannya untuk bermalam di rumah itu.
"Dasar queen drama." Bisik Ernan pada Vanya.
"Jika tidak seperti itu, semua gaji ku akan lenyap dalam sekejap, bukan begitu tuan?" Jawab Vanya berbisik kembali.
"Kakak jangan lupa antarkan kakak ipar ke kamarnya, atau gak satu kamar dengan kakak juga gak papa sekalian buatkan aku keponakan." Ujar Carla yang melangkah pergi dan tertawa setelah menggoda kakak nya.
"Kau dengar itu?" Ucap Ernan mendekati Vanya.
"Lalu?"
"Tentu saja aku ingin mengabulkan permintaannya." Sahut Ernan menarik pinggang Vanya kedalam pelukannya.
Gadis itu pun tersenyum dengan sedikit menggigit bibir bawahnya dan menatap Ernan, tentu saja hal itu membuat Ernan tergoda dan terpesona melihat Vanya yang seolah sengaja menggodanya, di saat Ernan mendekatkan wajahnya dan ingin mencium bibir mungil Vanya, dengan cepat gadis itu mnginjak kaki Ernan hingga membuatnya meringis kesakitan.
"Gimana? Enak bukan?" Ucap Vanya menggerakkan kedua alisnya yang di sertai senyum nakal.
"Yashh! Dasar gadis menyebalkan!" Teriak Ernan.
Vanya pun berlari menuju ke sebuah kamar. Beberapa pelayan yang melihat kejadian itu hanya tertawa kecil.
"Diam kalian!" Bentak Ernan.
Seketika mereka pun terdiam dan kembali ke tempatnya masing-masing. Sementara di dalam sebuah kamar, tanpa mencuci muka dan mengganti baju Vanya terbaring di atas sebuah ranjang yang cukup besar sampai akhirnya ia terlelap dalam tidurnya tanpa sebuah selimut dan baju yang sedikit menyingkap hingga terlihat begitu seksi.
Ceklek. . . Sebuah pintu terbuka, Ernan pun masuk kedalam kamar itu tanpa tau kalau Vanya tidur di dalam kamarnya. Di saat ia membuka kemejanya ia baru tersadar kalau ternyata seorang gadis telah tertidur di atas ranjang nya.
"Sial, kenapa dia selalu menggoda seperti ini?" Gumam Ernan yang hendak menutupi tubuh Vanya dengan selimutnya.
Gadis itu pun membuka matanya dan melihat Ernan yang telah berada di hadapannya, kedua mata saling bertemu dan bertatap beberpaa detik.
"Kyaaaaa....!!" Teriak Vanya yang langsung terduduk dan mundur sambil menarik selimutnya.
"Dasar mesum! Apa yang kau lakukan di kamar ku?" Ucap Vanya.
"Sungguh gak tau malu, apa kau gak lihat semua barang yang ada di kamar ini?" Sahut Ernan.
Gadis itu pun melihat ke sekeliling kamar dan terlihat beberapa barang milik Ernan serta foto dirinya yang terpajang.
"Tapi kenapa kau membuka baju mu? Apa itu bukan sebuah bukti kalau kamu adalah pria mesum yang memanfaatkan situasi?"
"Karena aku gak mungkin tidur dengan pakaian yang seperti ini!" Sahut Ernan.
"Aahh... Atau jangan-jangan kamu sengaja masuk ke kamar ku untuk tidur bersama ku?" Ucap Ernan.
"Khayalan mu terlalu tinggi tuan! Tidur sana sama makhluk astral!" Ucap Vanya melempar sebuah bantal ke arah Ernan.
Ketika Vanya membuka pintu, lankahnya terhenti ketika melihat dua orang wanita berada tepat di balik pintu itu. Dengan wajah yang kikuk nyonya Liu serta Carla mengalihkan pandangannya dan berpura-pura melakukan hal lain. Sementara dengan Vanya yang bingung sendiri melirik ke arah dua wanita itu dan juga Ernan, pria itu mengangkat kedua bahunya yang juga tak mengerti dengan apa yang di lakukan oleh ibu dan adiknya.
"Keluarga absurd." Gumam Vanya yang kemudian masuk kedalam kamar tamu.
***
Bersambung...
Mohon dukungan like, vote, gift, komen nya makasih ☺️🙏