
Sebuah kecupan lembut mendarat di bibir Vanya, pria yang telah lihai dalam sebuah permainan perlahan menyapu habis bibir mungil seorang gadis yang kini telah berada dalam genggamannya, Ernan menarik pinggang Vanya dan mendudukkannya di atas ranjang dengan perlahan ia mendorongnya tanpa melepas pautannya.
Permainan yang awalnya lembut perlahan berubah menjadi nakal dan brutal seiring bertambahnya nafsu dalam diri pria itu. Semakin panas diantara keduanya Ernan mulai menelusuri setiap inci leher Vanya dan sedikit mengigit nya dengan begitu nakal. "Aahhh~" sebuah desahan pun lolos dari mulut Vanya hingga membuat pria itu semakin liar dan menikmati aroma tubuh Vanya yang begitu wangi.
"Shit! aku menginginkan lebih dari ini." Teriak dalam batin Vanya.
Dengan perlahan Ernan mulai melucuti pakaian Vanya mulai dari baju hingga tangan nya yabg berhasil menyelusup masuk kedalam rok mini yang di kenakan nya. "Lakukan Ernan, ku mohon." ucap Vanya dalam batinnya dengan tubuh yang menggelinjang kegelian yang di akibatkan oleh setiap sentuhan Ernan.
Tok tok tok. . .
Sebuah ketukan pintu membuat kaget gadis itu hingga langsung terbangun dan membuyarkan mimpinya itu.
Tok tok tok. . .
"Iya aku bangun." Teriak Vanya dari dalam kamarnya.
"Haish sial! ku benci dengan pikiran ku!" Desis Vanya sambil mengusap wajahnya.
"Sepertinya aku mulai gila! apa aku harus menjaga jarak dengannya agar tidak bermimpi aneh seperti itu lagi?" Ucap Vanya yang bicara sendiri.
Ia pun melenggang menuju wastafel kamar mandinya untuk mencuci muka dan menggosok gigi, sesekali Vanya melihat dirinya dalam sebuah cermin dan memperhatikan body nya dengan begitu seksama.
"Apa aku benar-benar menginginkannya?" gumam Vanya yang teringat dengan mimpi terkutuknya itu.
Ia pun kembali mendesis dan menyelesaikan aktivitas nya, setelah mengeringkan wajahnya dengan handuk kecil, gadis itu pun bergegas keluar dan menuju sebuah meja makan, langkahnya tiba-tiba terhenti ketika melihat sosok pria yang ada dalam mimpinya tengah duduk untuk sarapan.
"Ingin rasanya aku masuk kedalam lubang cacing." Batin Vanya yang langsung memutarkan badannya dan hendak melarikan diri.
Melihat tingkah laku Vanya yang cukup aneh tentu saja membuat Ernan kebingungan sendiri.
"Berani bergerak satu langkah, lihat apa yang akan aku lakukan!" Ucap Ernan dengan tatapan elang nya.
Gadis itu pun kembali memutar balikkan badannya dan berlari kecil menghampiri Ernan, ia duduk di sampingnya dengan wajah yang sedikit menunduk tidak berani untuk menatap wajah tampan pria di sampingnya.
"Hey.. apa kau sakit?" Tanya Ernan yang hendak menyentuh tangan Vanya.
Dengan segera gadis itu menarik tangannya dan seolah menghindar dari sentuhan tangan Ernan.
"Apa aku telah berbuat salah pada mu? kenapa kau terlihat seperti menghindari ku?" Tanya Ernan.
"Tidak, bukan seperti itu hanya saja..." Ucapan Vanya terputus.
"Kenapa tidak di lanjutkan?"
"Bukan apa-apa, ayo makan aku sudah sangat lapar." Ucap Vanya yang langsung menyuap sarapannya.
"Ini gila! kenapa otak ku tidak mau diam?! kenapa harus selalu terbayang mimpi sialan itu?" Batin Vanya.
Waktu berlalu begitu cepat, acara yang telah di rencanakan pun akan segera di mulai, Vanya yang telah siap dengan sebuah gaun serta tataan rambut dan make up yang menjadikannya tampil sedikit berbeda ditambah dengan perhiasan yang melengkapinya sehingga membuat Vanya terlihat layaknya istri Ernan.
Melihat pesona Vanya yang begitu memukau membuat Ernan begitu ingin menggodanya, ia menyambut kedatangan Vanya yang baru keluar dari kamarnya.
"Kenapa kau terlihat berbeda hari ini?" Tanya Ernan.
"Apa aku mirip seekor bunglon yang akan berubah warna di setiap tempat yang ia tempati?" Sahut Vanya.
Mendengar ucapan Ernan yang seperti itu membuat Vanya teringat akan mimpinya semalam.
"Oh my God.. apa mimpi ku akan menjadi nyata?" Batin Vanya.
*
Di sebuah aula gedung perusahaan, beberapa tamu undangan telah mengisi tempat itu termasuk semua keluarga besar Ernan dan juga Michel yang salah satunya adalah putri dari rekan bisnis keluarga tersebut. Kedatangan Ernan bersama Vanya di sambut dengan begitu antusias oleh semua orang yang berada disana.
"Gaya mu sudah terlihat seperti bagian dari keluarga Addison, bagaimana kau bisa terlihat cantik seperti ini hm?" Tanya Michelle.
"Sentuhan magic yang membuat aku seperti ini." Sahut Vanya.
"Ku kira kau wanita lain, aku bahkan sampai tidak mengenali mu." Ucap Joe yang menggoda Vanya.
"Ch, sialan! gak ada wanita lain satupun yang bisa menggantikan posisi Vanya untuk berada di samping pria yang akan menjadi CEO ternama." Ucap Vanya.
Setelah memberikan sambutannya, Ernan kembali menghampiri Vanya dan membawanya untuk menempati tempat yang telah di sediakan, kini saatnya untuk nyonya Liu mengumumkan pernikahan putra nya itu yang akan di selenggarakan dalam waktu dekat.
"Tunggu! pengalihan perusahaan ini tidak sah! selain dari Ernan yang memiliki saham tertinggi dia harus mempunyai istri yang sah dan melahirkan keturunan seorang putra." Ucap Lingga.
"Kau tidak perlu cemas lingga, dia akan menikah dengan wanita di sampingnya." Sahut nyonya Liu.
"Pernikahan mereka tidak akan sah karena tidak cinta dan kemauan dari mereka! apa kau tau siapa gadis itu sebenarnya?" Ucap Lingga.
"Sudahlah Tante, kali ini apa lagi yang ingin kau katakan tentang keburukan aku?" Tanya Vanya.
"Kalian semua tolong lihat ke layar itu!" Ucap Lingga menunjuk sebuah layar.
Terlihat beberapa foto Vanya ketika bekerja di sebuah bar dan sedang berbincang dengan para tamu nya, terlihat juga ia sedang menyesap rokok hingga membuat para tamu undangan tercengang kaget termasuk nyonya Liu, Carla dan tuan Richard yang selaku papanya Ernan.
"Sial! bagaimana bisa dia punya semua foto itu?" gumam Vanya yang mengepalkan kedua tangannya.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja." Bisik Ernan menggenggam tangan Vanya.
"Ernan! jelaskan semua ini sama mama!"
"Aku bisa menjelaskan semuanya Tante." Ucap Vanya.
"Diam kamu! aku hanya butuh penjelasannya, bukan omong kosong dari mulut mu!" Sahut nyonya Liu yang begitu tegas.
"Ernan! apa kau sudah gila ingin menikahi wanita malam sepertinya? apa kau ingin menjatuhkan harga diri keluarga kita?!" Ucap Richard yang tidak tinggal diam.
Vanya menarik nafas yang terasa sesak di dadanya dan menghembuskan nya dengan perlahan. Sementara Michelle dan Joe yang melihat semua itu tidak bisa berbuat apapun karena lawan mereka begitu kuat.
Dengan inisiatif nya Shita yang bekerjasama dengan lingga perlahan menghampiri Ernan dan memisahkan genggamnya dari tangan Vanya.
"Mimpi mu sudah berakhir, kini saat nya kamu untuk bangun." Bisik Shita yang menyeringai.
"Oh Tuhan... apa semua ini akhir dari kisah ku?" Batin Vanya.
***
Bersambung. . .