
"Kau sudah bangun?" Tanya Ernan yang melihat Vanya telah terduduk di atas ranjangnya.
"Hm.. huaahhh... badan ku pegel semua." Sahut Vanya meregangkan badannya.
Melihat tubuh seksi istrinya, Ernan menghampiri Vanya dan mendekapnya dari depan, saat wajahnya terus mendekat dengan cepat Vanya melarikan diri dan berlari menghindarinya.
"A-aku mau mandi." Ucap Vanya yang melesat ke kamar mandi.
Sementara dengan Ernan, ia hanya tersenyum tipis melihat tingkah istri kecilnya itu. Beberapa menit berlalu, Vanya keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah ia menyalakan hair dryer untuk mengeringkan rambutnya, melihat Vanya mengeringkan rambutnya sendiri dengan inisiatif nya Ernan membantunya, helai demi helai rambut ia keringkan hingga rata.
"Kenapa diluar begitu berisik? apa biasa ada tamu sepagi ini?" Tanya Vanya.
"Hanya tamu tidak penting." Sahut Ernan.
"Biar aku melihatnya." Ucap Vanya yang berdiri dan hendak pergi.
Ernan menarik tangan Vanya hingga ia terjatuh tepat di atas pangkuan suaminya. Kedua tangan Erman mengunci tubuh Vanya hingga ia tidak bisa berdiri.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Vanya.
"Menurutmu? apa aku terlihat puas semalam?" Sahut Ernan yang balik bertanya.
Apa yang di katakan suaminya itu membuat Vanya malu sendiri, ia sadar jika permainan yang di lakukan nya sangatlah buruk karena belum ada pengalaman sama sekali dan bahkan ia sangat tidak menyangka jika dirinya akan merasakan hal itu dalam waktu yang begitu cepat.
"Hei.. kenapa kau terdiam? apa kau memikirkan sesuatu?" Tanya Ernan.
"Emm... tidak, t-tapi itu.. aku..." Ucap Vanya gugup dan terbata-bata.
Cup... Sebuah kecupan mendarat di bibir Vanya, pria itu mengulas senyum nya dan menyelipkan rambut istrinya yang sedikit menutupi wajah cantiknya.
"Ayo kita keluar, kamu pasti lapar." Ucap Ernan.
Vanya hanya tersenyum dan mengangguk, sepasangan suami istri yang baru menikah itu keluar dari kamarnya secara bersamaan yang di sambut langsung oleh suara terompet serta letusan beberapa balon hingga membuat keduanya kaget.
"Surprise..." Teriak dari beberapa orang.
"Tante.. eh maksud aku mama, kalian ngapain?" Tanya Vanya yang melirik suaminya.
Ernan hanya mengangkat bahunya dan menggeleng tidak tau dengan apa yang di lakukan keluarganya.
"Eyoo... kita disini untuk menyambut calon cucu mama." Ucap nyonya Liu.
"Dan calon keponakan aku." Sambung Carla.
"Haaa?? cucu? keponakan? tapi..." Ucapan Vanya terputus ketika nyonya Liu merangkulnya dan membawanya pergi menuju ruang makan.
Hidangan sarapan pagi telah siap di atas meja dengan beberapa menu dan minuman, dan tidak hanya itu nyonya Liu telah menyiapkan beberapa makanan untuk mempercepat Vanya mendapatkan keturunan.
Selesai sarapan mereka berbincang di sebuah ruang keluarga, nyonya Liu, tuan Richard serta Carla tidak datang dengan tangan kosong, mereka membawa beberapa kado untuk Vanya sampai perlengkapan bayi.
"Ma.. Vanya bahkan belum hamil, lalu untuk apa semua ini?" Tanya Ernan.
"Untuk persiapan, karena mama yakin dalam waktu yang singkat Vanya akan segera mengandung anak kamu, benar kan pa?" Ucap nyonya Liu.
Tuan Richard yang memang tidak hanya bicara hanya tersenyum tipis dan mengangguk mengiyakan ucapan istrinya itu yang terkadang bersikap absurd.
"Haahhh.. lalu kapan kalian akan menikahkan ku?" Celetuk Carla yang keceplosan.
Keempat orang yang berkumpul disana dengan kompak melirik ke arah Carla yang tiba-tiba ingin menikah dengan cepat. "Oops.. keceplosan, bagaimana aku mengelak nya?" Batin Carla yang menutup mulutnya.
"Berani sekali kau ingin menikah cepat hah! siapa pria yang ingin kau nikahi?" Tanya nyonya Liu memukul t
tangan Carla.
"Aku hanya bercanda ma, kenapa kau menganggapnya begitu serius?"
"Jika ada pria yang serius dengan kamu, besok papa nikahkan kalian!" Ucap Richard.
"Benarkah? aahhh.. papa keren.." Sahut Carla mengacungkan jempolnya.
"Ehh... tidak tidak, aku ingin mengejar cita-cita ku baru menikah." Ucap Carla.
Kehangatan suasana canda tawa dari keluarga Ernan membuat Vanya merasa begitu beruntung karena bisa menjadi bagian dari keluarganya. Tak terasa waktu terus berlalu, kedua orangtua Ernan bersama dengan adiknya itu pamit pulang karena tidak ingin mengganggu hari libur mereka berdua.
Setelah mereka pergi, suasana rumah kini menjadi sunyi kembali hanya ada pemilik dan asisten rumah tangga. Vanya menggunakan waktu luangnya hanya dengan bermain ponsel atau sekedar mendesain sebuah gaun untuk tokonya. Sementara dengan Ernan sibuk mengurusi pekerjaannya meski itu di hari libur.
"Arhhh... kenapa begitu bosan." Ucap Vanya yang mendongakkan kepalanya di atas sandaran sofa.
Mendengar ucapan istrinya, Ernan menghampiri Vanya dan berdiri di belakangnya dengan wajah yang menunduk menatap wajah Vanya.
"Apa kau ingin pergi keluar?" Tanya Ernan.
"Hm, aku bosan di rumah, kemana kamu akan mengajak ku pergi?" Sahut Vanya yang bertanya balik.
"Suatu tempat, yang tidak ada orang lain dan hanya ada kita berdua." Ucap Ernan.
"Bukan kah itu sama aja? disini juga cuma kita berdua." Sahut Vanya.
"Ekhem.." Terdengar suara orang berdehem sambil melewati Vanya dan juga Ernan. Ya, dia adalah salah satu pelayan rumah itu yang tak sengaja mendengar ucapan Vanya. Mendengar suara yang di keluarkan pelayan itu membuat Vanya tertawa geli.
"Masih mau bilang gak ada orang lain hm?" Ucap Ernan.
"Hahaha.. iya iya aku lupa ada mereka disini, yaudah aku ganti baju dulu." Ucap Vanya yang kemudian masuk kedalam kamar.
Vanya mengambil sebuah hotpants dan sebuah t-shirt yang di lengkapi dengan sweater over size, ia mengikat rambutnya ke atas dan menyisakan poni tipis di sisi kiri kanan nya.
"Ayo, aku udah siap." Ucap Vanya yang terlihat begitu senang.
Melihat dandanan istrinya itu membuat Ernan menatapnya dari atas hingga bawah.
"Kenapa? ada yang salah kah?" Tanya Vanya yang terlihat bingung dengan tatapan suaminya.
"Diluar cukup dingin, apa kamu akan keluar dengan pakaian yang seperti itu?" Sahut Ernan.
"Emm..." Vanya terdiam sejenak sebelum akhirnya Ernan menyuruh dia untuk mengganti pakaiannya dengan yang cukup tebal.
Vanya kembali masuk kedalam kamarnya, ia mengganti celananya dengan jeans panjang dan sebuah mantel, serta menguraikan rambutnya.
"Sekarang gimana?" Tanya Vanya.
"Lebih baik, ayo." Sahut Ernan menyodorkan tangannya.
Mereka berjalan bergandengan keluar rumah, Ernan mengemudikan mobilnya sendiri tanpa menggunakan asisten pribadinya, ia memberikan Leo waktu luang untuk berlibur sekaligus mencari calon istri karena telah cukup lama Leo melajang hanya untuk mengurusi Ernan.
Sebuah mobil berwarna silver melaju dengan kecepatan sedang menuju sebuah tempat yang menurut Ernan itu cocok untuk mendapatkan inspirasi Vanya.
"Ehh.. bukannya sebentar lagi akan turun salju?" Ucap Vanya.
"Hm, kenapa? apa kamu ingin mengunjungi suatu tempat di saat turun salju pertama?" Sahut Ernan.
"Ya, nanti akan ku beritahu, kemana aku ingin pergi." Sahut Vanya.
***
Bersambung. . .
Mohon selalu dukungannya.. Trims ☺️🙏