V

V
<[ EPISODE 7 ]>



Aldrich Éclair mengambil beberapa pistol laras pendek, menyelipkannya di kedua sisi pinggangnya. Ia menarik sebuah tas senjata, mengeluarkan senjata laras panjang dari dalamnya. V21 merupaka senjata terbaik yang dikembangkan oleh perusahaan ilegalnya. Senjata api ini memiliki jangkauan bidik hingga 1800 meter dengan menggunakan peluru kaliber 5,50 mm. Kekuatan daya tembaknya sebesar 2800 joule dengan kecepatan 680 meter perdetik.



Sebelum pergi Aldrich Éclair menatap wajah putrinya, "Kunci pintunya. Jangan biarkan siapapun masuk ke dalam." pesannya.



"Papah tidak perlu khawatir, aku akan menjaga Mamah dan adik." balas V yang membuat hati Aldrich Éclair terasa begitu perih. Ia tidak ingin kehilangan keluarganya sekali lagi.



Aldrich Éclair berjalan menghampiri Lynelle Éclair yang masih terbaring lemah pasca persalinan. Ia mencium kening Lynelle Éclair menghapus air mata yang perlahan keluar dari mata Lynelle Éclair. Ia beralih ke tubuh L yang sedang tertidur dalam pelukan Yuli. Ia mencium kening putranya. Pandangannya kini tertuju kepada V yang berdiri tidak jauh darinya. V melepaskan genggaman tangan Rozita, berjalan menghampiri Aldrich Éclair. Tangannya terjulur, Aldrich Éclair mengangkat tubuhnya. V mencium pipi Aldrich Éclair.



"Papah pergilah, aku akan menjaga keamanan di kamar ini. Papah bisa mengandalkanku." ujar V dengan penuh keteguhan. Aldrich Éclair hanya tersenyum sebagai balasan. Tangannya menurunkan tubuh V, kemudia ia menghilang di balik tembok.



Rozita mengunci pintu kamar setelah Aldrich Éclair keluar. Tiba-tiba terasa goncangan yang cukup kencang. Musuh menggunakan granat untuk menerobos pintu masuk. V menjadi pucat, ia tidak tahu pada menit keberapa musuh dapat menemukan mereka. V berlari ke sudut ruangan, mendorong rak buku yang sebelumnya digunakan oleh Aldrich Éclair. Rak berganti menampilkan gudang senjata, terlalu banyak senjata asing yang tidak ia kenal. Ia hanya mengambil senjata yang ia ketahui fungsinya. Mengisi magazin dengan butiran-butiran peluru. Di rak paling bawah berisi rompi anti peluru. V melemparkan beberapa rompi itu ke pada Rozita.



Seusai mengenakan rompi anti peluru, V mengikatkan sabuk berisi dua wadah senjata di pinggangnya. Ia juga menyelipkan sebuah pisau lipat di sabuknya. Mengaitkan sebuah tas kecil di kakinya, memasukkan beberapa kotak peluru kedalamnya. Goncangan demi goncangan terus terasa.



"Nona Muda? Haruskah kita ikut bertempur?" tanya Yuli mulai cemas melihat V menyiapkan beberapa senjata lainnya.



"Kita tetap harus bersiap menghadapi keadaan paling buruk sekalipun." tukas V menyerahkan pistol dengan ikat pinggang dan juga kotak peluru kepada Yuli dan Rozita.



"Mamah, aku akan mengambilkan kursi roda untuk bersiap-siap, jika sewaktu-waktu kita terpaksa harus pindah." jelas V memberitahu.



"Tapi di luar begitu berbahaya." bantah Lynelle Éclair.



Suara ledakan yang memekakkan telinga terdengar, disusul dengan guncangan yang lebih besar dari sebelumnya. Menandakan pihak musuh semakin dekat. V diam sejenak, ia tidak tahu harus membawa kemana adik dan juga Mamahnya. Ia juga tidak tahu tempat yang lebih aman di rumah ini. Bertahan di kamar ini terlalu beresiko jika musuh sudah menemukan keberadaan mereka.



"Ku mohon, jaga Mamah dan adikku sebentar. Aku akan kembali secepatnya." pinta V berjalan menuju pintu.



"Tidak V, itu terlalu beresiko. Aku masih mampu berjalan." ujar Lynelle Éclair bangkit dari posisi tidurnya. Ia berusaha berdiri walau ada rasa sakit yang membuatnya tidak nyaman. Ia memahami tabiat V yang sama kerasnya seperti Aldrich Éclair, jika tidak dibuktikan mereka akan semakin keras.



V berjalan mencegah Lynelle Éclair untuk bangun dari tidurnya, "Mamah, berbaringlah. Aku tahu pembengkakan itu masih terasa begitu nyeri. Jangan memaksakan dirimu. Aku akan menjaga agar mereka tidak menerobos ..." belum sempat V selesai berbicara pintu kamar mereka dibuka dengan cara paksa oleh sebuah granat.



Suara ledakkan membuat L kembali menangis kencang. Jarak pintu dengan tempat tidur cukup jauh, terhalang oleh sebuah tembok yang dibuat setengah tertutup. V menarik sebuah lemari pakaian yang tersembunyi di balik bufet untuk menutupi keberadaan mereka. V mengangkat senjatanya, berjalan perlahan diikuti oleh Rozita.



Seluruh pelayan keluarga Éclair telah dibekali bertarung menggunakan senjata api untuk menghadapi kondisi darurat. V mengintip dari celah pakaian, menyelipkan senjatanya. Lima orang bersenjata berjalan mengendap-endap menelusuri kamar. V menarik pelatuk, menembak ke arah jantung mereka. Rozita mengikuti di samping V.



Nyaringnya suara baku tembak memancing musuh yang lainnya untuk berdatangan. V memaksa keluar dari lemari pakaian, karena posisi mereka yang sangat terbatas. Ditambah dengan hujan peluru mengarah ke tubuh mereka. V masih terus menembak musuh yang ada di hadapannya, terkadang ia harus berguling menghindari peluru musuh. Rozita melindungi V di belakang. Meski mereka kalah jumlah dengan musuh, tapi tidak membuat mereka gentar untuk tetap melawan.



Tembakan beruntun membuat mereka terpaksa memisahkan diri. V kini bersembunyi di balik kamar mandi, sedangkan Rozita bersembunyi di balik bufet. Tangis L masih menjadi lagu wajib yang menemani aksi perjuangan mereka. Seorang laki-laki dengan senjata tempur, menembak membabi buta. Rozita menelungkup di atas lantai, tangannya membidik ke arah kaki laki-laki itu. Peluru Rozita membuat laki-laki itu sesaat kehilangan pengendaliannya. V memanfaatkan peluang, ia keluar dari kamar mandi. Peluru hangat menancap di jantungnya.




"Aku baik-baik saja." jawab V berjalan memperhatikan sekeliling, "Astaga! Bibi kau terluka!" teriak V terkejut melihat darah mengalir membasahi baju pelayannya. V berjalan mendekat melihat luka Rozita.



"Tidak apa-apa Nona Muda, keselamatan anda dan Nyonya Besar adalah perioritas ku."



Lynelle Éclair berjalan tertatih membawa L tanpa Yuli. Mereka bisa menebak apa yang terjadi pada Yuli.



"Kita bawa Mamah dan L ke basecamp. Kurasa itu tempat teraman untuk saat ini."



Rozita memapah Lynelle Éclair berjalan keluar kamar dengan senjata mengacung di tangan kirinya. V berjalan di depan dengan posisi siaga. Tangis L telah berhenti sejak tadi. Suara baku tembak sudah tidak lagi terdengar. Sepanjang jalan banyak mayat tergeletak bersimbah darah. Dinding-dinding terlihat retak, bahkan ada beberapa yang telah keropos akibat ledakan. Lampu kristal yang sempat tergantung di atas plafon kini pecah berserakan di lantai.



Aldrich Éclair berlari terburu-buru menaiki anak tangga. Penyerangan satu batalyon musuh berhasil ia padamkan setelah satu peleton pasukan khusus Dark Shadow datang membantu. Beberapa musuh yang masih hidup telah di bawa ke penjara bawah tanah untuk diinterogasi. Para pelayan dan pengawal yang terluka telah mendapatkan penanganan khusus di basecamp. Mereka saling bahu membahu membawa saudara-saudara mereka yang belum terevakuasi. Beberapa dokter kepercayaan keluarga Éclair telah didatangkan dari beberapa daerah.



Ketika di koridor lantai tiga V berpikir suara derap langkah yang mendekatinya adalah musuh, ia sudah siap menarik pelatuknya. Jika bukan karena Aldrich Éclair berhasil menendang pistol yang digenggam oleh V, mungkin peluru panas telah menancap di tubuhnya.



"Papah!" teriak V begitu riang melihat sesosok Aldrich Éclair di balik tikungan koridor. V melompat ke pelukan Papahnya. Aldrich Éclair memeriksa tubuh V dengan seksama, takut-takut ada peluru yang tertancap di tubuhnya. Rasa lapang memenuhi dadanya tatkala melihat tidak ada satupun luka di tubuh V ataupun di tubuh Isteri dan anak bungsunya.



Hampir seluruh ruangan di rumah itu kacau balau. Keadaan rumah mewah itu benar-benar mengenaskan. Basement bagaikan posko evakuasi bagi korban bencana alam. Tersusun rapih tempat tidur beroda dengan tiang infus di sisinya sepanjang koridor basement. Seorang laki-laki bertubuh kekar mengenakan tongkat berjalan ke arah V, kondisi Zac tidak cukup baik. Terdapat balutan perban di kepalanya.



Fernandez terlihat terbaring tak sadarkan diri dengan selang oksigen di hidungnya. Sebuah alat monitor detak jantung berdiri di sebelah ranjangnya, menandakan lukanya cukup parah. Selain Fernandez masih ada beberapa pelayan dan pengawal yang mendapatkan penanganan intensif seperti Fernandez.



Seorang laki-laki mengenakan jas hitam dan kaca mata hitam memberi tabik kepada Aldrich Éclair. "Master, ada berita penting yang ingin saya sampaikan."



"Baiklah." balas Aldrich Éclair berjalan mendahuluinya, ia mengerti berita apa yang ingin disampaikan.



Mereka berjalan ke ruang bawah tanah. Di dalam sebuah sel, berdiri tergantung lima orang tahanan. Sekujur tubuh mereka telah bersimbah darah. Wajah mereka dipenuhi oleh memar dan luka-luka. Setelah melakukan interogasi, salah seorang dari mereka akhirnya mengatakan orang yang menjadi dalang di balik peristiwa penyerbuan rumah utama keluarga Éclair.



"Master, mereka anggota organisasi Bintang Delapan. Organisasi kriminal yang berbasis di negara F, mereka yang memberi perlindungan kepada perusahaan Zero Corp., salah satu kompetitor anda." jelas Tom salah satu informan sekaligus anak didik Aldrich Éclair. Ia memilih terjun dalam dunia informasi dan teknologi, menjadi seorang hacker kelas kakap untuk membantu organisasi.



"Sampaikan salam hangatku kepada Bintang Delapan, buat mereka tunduk pada Dark Shadow." perintah Aldrich Éclair kepada Tom.



"Dark shadow..." gumam salah seorang tahanan seperti berpikir. "Ah Master, Master ... Anda ketua Dark Shadow, ku mohon ampunilah aku dan saudara-saudaraku." pintanya membuat Aldrich Éclair mengerutkan keningnya. Tanpa pikir panjang ia menarik sebuah pistol di sabuk kirinya, menembakkannya ke kepala mereka.



Saat ingin kembali sekelabat Aldrich Éclair melihat tubuh V dibalik dinding pemisah sel, "Apakah di luar tidak ada yang berjaga?" tanyanya.