V

V
<[ EPISODE 30 ]>



"Daffa?" panggil V lagi dengan suara yang terdengar kekanakkan. Namun Daffa tidak segera menjawab panggilannya ia diam dengan segala pikirannya sebelum akhirnya menatap V dengan mata teduhnya.


"Daffa? Siapa kau sebenarnya? Kenapa mereka begitu takut padamu? Bahkan untuk membela diri mereka sendiri mereka tidak sanggup. Siapa kau sebenarnya Daffa?" tanya V menuntut penjelasan dari Daffa.


"Aku Radent Daffa Anantha, V. Kekasihmu." jawab Daffa mengelak ia tahu bukan ini jawaban yang diinginkan V, tapi ia juga tak bisa menjelaskan dirinya. Ia juga memberikan senyuman hangat ciri khasnya untuk meyakinikan V.


"Kau tahu bukan itu maksudku. Kau tidak mungkin sesederhana itu!" bantah V tak terima dirinya dibodohi begitu saja. Jelas bukan itu jawaban yang ingin ia dengar dari Daffa.


"V, maukah engkau mengenalku sebagai seorang Daffa Anantha? Bukan sebagai apapun atau siapapun seperti yang orang lain kenal." balas Daffa dengan suara lemah lembutnya. Sebuah tuntutan yang bukan permintaan melainkan permohonan dilayangkan oleh bibir merahnya.


Daffa menundukkan kepalanya di hadapan V. Tangannya menggenggam tangan V erat-erat, seakan tak ingin dilepasnya. Di lain sisi V tidak menyangka bahwa Daffa akan memohon kepadanya sampai seperti itu. Seorang laki-laki yang baru beberapa menit lalu menghajar anak buahnya dengan begitu bengis, menundukkan kepalanya di hadapan gadis yang ia anggap begitu lemah.


V sangat yakin jika Daffa bukanlah lelaki sederhana yang selalu memohon sampai menundukkan kepalanya. Harga diri lelaki sepertinya pasti teramat tinggi. Melihat Daffa dapat melakukan apapun sesuai keinginannya, bukan perkara sulit untuk mengenali betapa besar kekuasaannya di sekolah ini. Dengan kekuasaannya Daffa tidak membutuhkan sosok V yang lemah sebagai wanitanya. Lelaki yang kuat pasti juga menginginkan wanita yang kuat untuk berdiri di sampingnya. Membantunya memberi kekuatan, bukan malah menjadi beban bagi hidupnya.


"Adakalanya aku lelah bersandiwara menjadi manusia kuat. Adakalanya diriku tidak lagi dalam masa baik-baik saja. Adakalanya aku penat dengan seluruh aktifitasku. Saat semua itu terjadi aku hanya ingin pulang, beristirahat dalam pelukan hangat yang selalu menanti kepulanganku." kata Daffa dengan suara lemahnya, "Dan saat di rumah, aku tidak perlu lagi berpura-pura bahwa aku tegar. Aku bisa melepas seluruh tangisku yang selama ini selalu kutahan. Dan aku ingin kau yang menjadi rumah bagiku."


Kini Daffa menjatuhkan tubuhnya di lantai, bertumpu pada kedua lututnya, "Aku bersumpah akan selalu menghormatimu melebihi aku menghormati diriku sendiri." ujarnya menatap wajah V dari bawah.


Pikiran V melayang-layang, teringat akan akhir cerita dongeng yang dibacakan Papah dan Mamahnya. Kisah penaklukkan Raja Es yang tentu saja ia bisa menebak dengan mudah siapa-siapa saja tokohnya.


"Jika suatu saat ada orang yang hebat seperti Raja Es mau menundukkan kepalanya kepadamu. Itu artinya kau telah berhasil memenangkan hatinya, ia akan memberikan jiwa dan raganya hanya untuk mengabdi padamu." jelas Lynelle Èclair usai bercerita.


"Lalu apa yang harus aku lakukan, Mah, Pah?" tanya V membayangkan hal itu terjadi di hadapannya. Matanya berbinar-binar membayangkan sosok ksatria hitam yang gagah perkasa menyerahkan jiwa dan raganya untuk melindungi dirinya.


"Memang bukan perkara mudah seseorang mau membuang egonya demi orang lain. Mengabdikan dirinya untuk satu tuan yang ia anggap begitu berarti di hidupnya. Tindakan mereka pantas mendapatkan apresiasi. Namun mengenai bagaimana kau bersikap, itu kembali lagi pada hatimu, apa kau mau menerimanya atau tidak. Pilihan akhir tetap berada pada dirimu. Ia tak bisa memaksamu untuk memberikan jawaban yang memuaskannya." jawab Aldrich Èclair mengusap rambut V dengan jemarinya.


"Aku tahu ini kisah kalian. Jadi apa yang dikatakan Mamah pada Papah saat itu?" tanya V yang membuat wajah keduanya memerah karena malu. Aldrich Èclair terbatuk kecil demi menekan rasa malu di wajahnya. Sedangkan Lynelle Èclair tak henti-hentinya ia tersenyum sambil menutup kedua matanya dengan satu lengan.


"Kau benar-benar ingin mendengar apa yang dikatakan Mamahmu?" tanya Aldrich Èclair yang sudah lebih dulu mengendalikan dirinya. V menganggukkan kepalanya, sedangkan Lynelle sudah mengancam dengan mencubit perut Aldrich berkali-kali.


"Sayang, biarkan putri kita mendengar sejarah indah tentang kita." kata Aldrich Èclair meyakinkan isterinya. "Nah, V kau masih ingin mendengar jawaban Mamahmu bukan?" ia bertanya pada puterinya yang sudah pasti akan menganggukkan kepalanya kuat-kuat. "Kau tidak perlu menundukkan kepalamu padaku. Angkat kepalamu Lloyd. Sekarang kita sudah sejajar, tidak ada yang berada di atas ataupun berada di bawah. Kau dan aku akan berjalan beriringin di bawah langit yang sama." ucap Aldrich meniru Lynelle, "Romantis bukan Mamahmu V?."


Kisah yang dulunya hanya bisa ia bayangkan, hari ini dongeng itu sedang berlangsung di hadapannya. Seorang laki-laki yang beberapa jam lalu menyatakan sumpahnya, kemudian kini menundukkan kepalanya di hadapan V. Membuat detak jantungnya berpacu di luar irama dan membuat wajahnya merah merona.


"Kau tidak mengenalku, jangan melakukan ini." ucap V yang salah tingkah dibuatnya. Ia membantu Daffa untuk berdiri.


"Kau juga tidak mengenalku, tapi kau sudah berani bersumpah padaku." balas Daffa menampilkan senyum rupawannya. Senyum meyakinkan yang seakan membuat segala keraguan runtuh saat melihatnya.


"Aku selalu percaya kepada siapapun, sampai akhirnya mereka sendiri yang membuktikan dirinya tak dapat dipercaya." kata V yang tak menunggu tanggapan dari Daffa, "Aku hanya ingin mencoba sesuatu yang pernah ku lewatkan sekali seumur hidupku. Aku tak ingin lagi tersiksa dengan penyesalan."


Daffa tersenyum miris mendengar kalimat V, "Kau menerimaku karena berpikir aku bisa membantumu melupakannya, benar?"


"Aku tidak membutuhkanmu untuk melupakannya. Karena pada akhirnya aku tidak akan pernah bisa melupakannya." balas V yang membuat Daffa tertawa kecil. Ia kini memalingkan pandangannya dari V.


'Betapa lucunya aku ini, apa yang kuharapkan?' batin Daffa.


"Daffa?" panggil V sambil menuntun wajah Daffa untuk kembali menatapnya.


"Apa?" tanyanya dengan nada sarkasme. Ia menatap V dengan tajam namun V masih bisa merasakan keteduhannya. Di matanya tak ada sinar kebencian, yang ada malah kesedihan.


V mendekatkan wajahnya, meninggalkan kecupan hangat di pipi Daffa, "Manusia sejatinya tidak akan pernah bisa melupakan orang-orang yang pernah singgah dalam hidupnya. Mereka hanya bijak dalam memilih kepingan mana yang harus direlakan." ia menjelaskan dengan harapan memadamkan sedikit api amarah di hati Daffa. "Kau bukan tempat pelarianku, melainkan tempat baruku untuk berlabuh. Perkenalkan pesonamu padaku, agar aku hanya akan memandang kearahmu."


Tidak membutuhkan waktu dua puluh empat jam untuk membuatnya mencintai wanita di hadapannya. Ia begitu amat menyayangi wanita yang telah berhasil meluluhkan hatinya. Wanita berpenampilan kekanakkan dengan suara nyaring namun malah terdengar menggemaskan. Wanita lemah tak berdaya yang bisa kapan saja remuk tertabrak masa. Ia begitu menggilai segala apa yang ada pada diri V.


Daffa mengusap puncak kepala V, sedikit mengacak-acak rambutnya. Tersenyum manis menyambut senyuman V yang begitu menggemaskan. "Kau belum makan siang bukan? Aku akan menyuruh orangku mengantar makan siang untuk mu."


"Tidak perlu, pelayanku telah menyiapkan makan siang untukku. Aku hanya ingin makan bersama dengan mu, kau belum makan siang juga kan?" tanya V yang langsung menutup mulut Daffa saat ia ingin menjawab pertanyaannya. "Aku akan menunggumu. Kita akan makan bersama, aku tidak ingin makan sendiri."


"Baiklah, aku akan mencarimu setelah urusanku selesai." balas Daffa yang sudah melepaskan tangan V dari mulutnya, ia juga tak lupa mengecup tangan V.


Sebelum bel pulang berbunyi masih ada satu mata pelajaran yang tersisa. V dapat mengikuti kelas Biologinya berkat penjelasan panjang kali lebar sama dengan persegi panjang dari Daffa. Tapi kelasnya tidak berjalan lancar. V tidak bisa duduk tenang saat timpukan kertas melayang ke arahnya. Dengan mudahnya V menghindari kepalan kertas yang dilayangkan dari teman-temannya secara alami. Namun ternyata bukan itu tujuan mereka, tujuan mereka adalah membuat kotor tempat duduk V. Sehingga akan menarik perhatian guru Biologinya yang begitu disiplin dengan kebersihan.


"Nona Cassandra Luvy ..." panggilnya menggantung masih menilik buku presensi yang ia pegang, takut-takut salah dalam mengeja. "Mengapa kau membuat kotor ruang kelasku? Apa kau tidak menyukai kelasku?" tanya Bu Ayu dengan sinis. "Kau bisa keluar dari kelasku!" tambahnya begitu tegas.


"Tidak begitu, Mrs. Ini murni bukan perbuatan saya." kata V membela dirinya, ia tidak terima dirinya dituduh begitu saja.


"Lalu perbuatan siapa itu? Apa kau menuduh teman sebangkumu yang melakukannya padamu?" tanya Bu Ayu menatap tajam pada Melodi yang sudah beringsut karena banyak sepasang mata menghunuskan tatapan tajam mereka.


"Bukan, Mrs.." jawab V yang belum selesai tapi sudah dipotong oleh Bu Ayu, "Lalu apa mungkin perbuatan teman-teman sekelasmu?" tanyanya mengedarkan pandangannya mencari jawaban.


Belum sempat V menjawab salah seorang wanita berdiri, ia Bianca, "Kau ingin melemparkan masalahmu pada kami? Atas dasar apa? Lagi pula untuk apa kami melakukan itu padamu, toh kami sudah mengenal betul bagaimana Bu Ayu disiplin dengan kebersihan. Jadi untuk apa kami menenggelamkan diri kami sendiri?"


"Tapi memang itukan kenyataannya." kata V membela dirinya.


"Wah, kau percaya diri sekali ya. Memangnya kau pikir siapa dirimu sampai kami harus sibuk memperhatikanmu? Memangnya apa untungnya untuk kami?" bantah seorang wanita yang duduk tak jauh dari V, namanya Thalita.


V melirik ke arah Melody yang hanya duduk diam di kursinya. Ia tak bersuara untuk membela ataupun melirik ke arah V. Saat ini V membutuhkan seseorang untuk mendukungnya. Tapi orang yang diharapkannya hanya berpura-pura tidak tahu-menahu dengan masalah ini.


"Jika memang kami melakukannya, atas dasar apa kami harus mengganggumu? Kami saja baru mengenalmu hari ini. Hidupmu terlalu banyak drama ya?" sahut seorang wanita berambut pendek se-bahu, ia ketua kelas Cendrawasih 2. Argumennya mendapat banyak dukungan dari teman-teman yang lain. Sehingga mereka juga ikut membela diri.


Mendapat serangan bertubi-tubi membuat V merasa disudutkan, ditambah mereka saling membela memberi argumen yang tentu saja orang yang tidak tahu duduk perkara awalnya akan percaya begitu saja. V baru menyadari ternyata produk virus nyinyir yang dikembangkan Zac akan sangat berguna di saat seperti ini.


"Cassandra Luvy, bereskan sampah-sampahmu. Jangan harap kau bisa mengikuti kelasku hari ini!" titah Bu Ayu yang mendapat senyuman puas dari yang lainnya, kecuali V dan Melody.


V merapihkan sampah-sampah sialan yang berserakan di lantainya. Ia merutuki seluruh teman sekelasnya yang menyudutkannya, yang melemparinya dengan kepalan kertas, dan termasuk yang hanya diam saat melihat dirinya ditindas. V sangat marah dirinya kalah dalam pertarungan mulut. Ia menarik-narik rambutnya sendiri karena kesal. Ia mengandai jika buka melawan mereka dengan pertarungan mulut V tentu saja tidak akan kalah telak begini.


"Wah, selamat kalian berhasil menendangku dari kelas." ujar V memberi tepuk tangan atas keberhasilan drama memuakkan mereka.