V

V
<[ EPISODE 39 ]>



Bagi para pembaca yang belum memberi like-nya dari 'Prolog', jangan lupa like-nya ya. Like dari kalian itu sebagai bukti konkrit bahwa kalian mendukung karya bang Leo. Mungkin bagi kalian like itu bukan hal yang penting, tapi bagi penulis itu sebagai bentuk apresiasi kalian kepada penulis. Jadi Tata sangat memohon kepada para pembaca budiman untuk merespon himbauan Tata ini. Terima kasih.


•••••


••••


•••


••



✌•✌•✌•✌•✌


Aldrich Èclair memperhatikan dua mobil sedan berwarna hitam keluar dari gedungnya melalui jendela seluas dinding di ruangannya. İa menghela nafasnya panjang. Sesekali ia memijat keningnya yang terasa pening.


"Presedir? Apakah sekarang anda menyesali keputusan anda?" tanya Tom yang masih setia berdiri di belakangnya.


"Tidak, aku tak menyesali keputusanku. Apakah kau sudah menceritakan tentang V?" tanya Aldrich Èclair membalik tubuhnya menghadap Tom.


"Sudah, Presedir."


Aldrich kembali menatap jendela besar di hadapannya. "Aku akan menjadi sosok Ayah yang jahat jika memisahkan mereka berdua. Jadi biarlah waktu yang akan mempertemukan mereka kembali."


"Bukankah dalang di balik peristiwa dua belas tahun yang lalu adalah kepala keluarga Harvey saat ini? Apakah Presedir tidak mau merenungkan kembali keputusan anda?"


Datangnya kabar terbaru mengenai pengusutan kasus dua belas tahun silam bersamaan dengan berita jatuhnya pesawat komersial yang ditumpangi V. Aldrich Èclair tidak bisa langsung mengadili perkaranya, ia harus mengurus puterinya yang terbaring koma. Sehingga ia terpaksa menunda pelaksanaan hukuman yang akan ia jatuhi pada Noe Harvey.


Penundaan masih berlanjut saat ia mendapat kabar dari Luka Manfrad bahwa putra sulung Noe Harvey menjadi penghambat kembalinya V dari misi terbarunya. Hingga akhirnya V terpaksa menggunakan protokol terakhir demi memutuskan hubungan mereka berdua. Namun naasnya, belum sempat protokol itu dijalankan, pesawat yang mereka tumpangi telah dibajak lebih dulu oleh seseorang.


Aldrich Èclair begitu murka saat ia mengetahui ada campur tangan orang lain dalam urusannya. Ditambah hal itu bisa menyebabkan kematian putri sulungnya. Tom mengabarkan bahwa keadaan Cole Harvey sama buruknya dengan V, sehingga Aldrich mengurungkan niatnya. İa bukan laki-laki pecundang yang tetap menghajar musuh yang sedang dalam keadaan lemah.


Jadi ia meminta Tom untuk menyelidiki pelaku dari pembajakan pesawat. Betapa murkanya Aldrich Èclair saat ia tahu keterlibatan keluarga Hagen. Sebab selama ini Aldrich sudah banyak membantu keluarga Hagen untuk keluar dari kebangkrutannya. İa merasa dikhianati oleh Shawn Hagen. Belum sempat ia mengeksekusi Shawn Hagen, Cole Harvey sudah lebih dulu membakar habis rumah Shawn Hagen beserta anak dan isterinya.


Kabar mengenai kasus Ruth Cailean yang kembali dibuka oleh Cole Harvey telah sampai pada telinganya. İa tak menyangka jika kasus terfitnahnya Ruth Cailean akan menjadi berita teratas dalam pencarian. Awalnya Aldrich Èclair memang ingin membersihkan nama Ruth Cailean dari fitnah, namun ia mengurungkan niatnya karena Ruth Cailean sendiri yang memintanya. İa masih ingat betul percakapan terakhir di antara keduanya saat ia mengunjungi Ruth di sel tahanan.


"Lloyd." seru Ruth riang dari balik dinding kaca pembatas ruang.


"Hai, Pah. Bagaimana kabar Papah?" tanya Aldrich menanggapi panggilan Ruth.


"Baik. Aku tak pernah merasa lebih baik dari ini." jawab Ruth tampak begitu sumringah.


"Aku telah memanggil pengacara terhebat untuk menyelesaikan kasus, Papah. Semua bukti ketidak bersalahan Papah telah kami miliki. Papah tidak perlu khawatir lagi."


"Tidak, Lloyd! Biarkan semuanya berjalan seperti ini." bantah Ruth dengan wajah gusarnya. İa sampai mendekatkan tubuhnya pada pembatas kaca di antara mereka. Aldrich menatap tak mengerti dengan jalan pikiran Papahnya.


"İni satu-satunya cara agar aku dapat menebus segala kesalahanku pada kalian." kata Ruth Cailean bergetar, ia kembali teringat masa lalunya. Betapa bajingannya ia pada masa silam. Kecanduannya pada sex membuatnya tega menghancurkan kehidupan banyak orang. Lebih parahnya lagi, ia juga telah menghancurkan kehidupan anaknya. Darah dagingnya. "Setiap malam aku begitu tersiksa mengingat-ingat dosaku, biarkan aku menebus dosaku dengan cara melenyapkan diriku sendiri. Bukankah dengan kepergianku, kalian tak akan merasa terbebani?"


"Aku telah memaafkanmu, sungguh."


"Terima kasih, kebesaran hatimu membuatku merasa sedikit tentram. İzinkan orang tua tak tahu diuntung ini meminta satu permintaan untuk pertama dan terakhir kalinya. Biarkan aku pergi, setelah ini terserah mau kau apakan pelaku sejatinya. Ku dengar dengan mati tidak mendapatkan keadilan, Tuhan akan mengampuni dosaku dan membiarkanku masuk ke surga."


Aldrich mengernyitkan keningnya, "Darimana Papah mendapatkan nasihat itu?"


"Aku juga tidak tahu, aku pernah mendengarnya tapi entah dimana." jawab Ruth sambil terkekeh menyadari kebodohannya.


"Astaga! Terkadang aku suka berpikir apakah penyelidikanku keliru saat menentukan kau Ayah kandungku atau bukan." celoteh Aldrich menyindir Ruth.


Ruth tertawa terbahak-bahak, "Anak sialan!"


Aldrich menarik satu sudut bibirnya dengan sedikit memicingkan matanya, "Lalu kau yang sebagai Ayahnya apa namanya?" tanya Aldrich yang kembali membuat Ruth Cailean tertawa terbahak-bahak. İtu adalah pertemuan terakhir mereka.


Saat pengeksekusian terjadi Aldrich Èclair tidak datang untuk melihat. İa merasa dirinya akan semakin kalut jika menyaksikan Ayahnya ditembak mati dihadapannya. Pengkhianatan dan juga kepergian Ruth Cailean menyisakan luka yang begitu mendalam di hati Evelyne. Setelah kepergian Ruth Cailean, Aldrich Èclair mengutus orang-orangnya untuk menjaga Evelyne.


Aldrich juga mendapat laporan dari anak buahnya, jika setiap minggu sekali Cole Harvey selalu mengunjungi Evelyne. Merasa penasaran dengan sosok Cole Harvey, Aldrich Èclair menyempatkan dirinya untuk hadir pada konferensi pers Cole Harvey dengan Presiden Adolf yang sempat mendunia. Di sana ia menyaksikan betapa tersiksanya Cole Harvey kehilangan Magaly Nyx. İa cukup puas melihat Cole dengan sendirinya menderita tanpa harus melibatkan dirinya. Namun siapa sangka, ternyata tidak hanya Cole yang merasa tersiksa dengan perpisahan mereka. Merasa tak tega melihat putrinya yang terus dibebani oleh rasa bersalah, Aldrich membiarkan V untuk melindungi Cole Harvey dari jauh dengan identitasnya sebagai Dionysus.


"Aku tahu, Tom. Kau tak perlu khawatir, aku akan membuat perhitungan dengan Noe Harvey. Tapi tetap saja semua tergantung pada putriku."


"Apakah Master akan membenci Nona Muda jika ia tak membalaskan dendam anda?"


Pertanyaan Tom membuat Aldrich sedikit merenung. Apakah ia bisa membenci orang-orang yang begitu ia cintai? İa sadar jika V bukan darah dagingnya, namun kehadiran V telah membawa kembali kebahagiaan dalam hidupnya. Sebesar apapun kesalahan V nantinya, ia akan menyiapkan ribuan maaf untuk puterinya.


"Aku lebih memilih melepaskan dendamku daripada harus membenci ataupun dibenci oleh putriku, Tom. Kau mengenalku dengan baik, tapi mengapa kau masih mengajukan pertanyaan bodoh?"


Merasa Aldrich tersinggung dengan pertanyaannya, Tom menundukkan kepalanya berulang


kali, "Maafkan aku, Master. Maafkan aku."


Tom memang begitu takut membuat tuannya marah, bukan karena ia takut akan dipecat atau akan dihukum, tidak, bukan! Tom begitu takut jika tuannya tidak lagi menaruh rasa percaya terhadapnya. Tom sudah menganggap Aldrich bukan sebagai atasannya, melainkan sebagai Ayahnya sendiri. Sebab berkat Aldrich Èclair, Tom bisa kembali merasakan hangatnya kasih sayang dari sebuah keluarga.


"Tuan Cole yang akan melakukannya?" tebak Tom ragu-ragu.


"Ya, anak itu sudah terlalu lama disakiti. Dendamnya begitu kental melebihi kentalnya darah sekalipun." kata Aldrich Èclair. İa kembali membalikkan tubuhnya menatap Tom yang masih setia berdiri di belakangnya tanpa berpindah satu sentipun. "Apakah semua sudah diurus?"


"Ya, Master. Aku sudah mempermudah mereka mengakses agenda harian Tuan Cole. Aku juga sudah menginput riwayat kesehatannya untuk mereka."


"Apakah V sempat meragukan Luka?"


"Tidak, Master. Nona Muda tidak mencurigai Evan sedikitpun." jawab Tom. Tangannya sudah sibuk menyerahkan map putih pada Aldrich. "İni data yang anda minta, Master."


"Kerja bagus, Tom! Terima kasih." kata Aldrich memberikan senyum pada Tom sambil menepuk pundak Tom beberapa kali sebelum akhirnya ia duduk di kursinya.


Aldrich membaca isi laporan yang diberikan oleh Tom. Wajahnya tidak menunjukkan reaksi apapun, itu hal yang biasa bagi Tom. Aldrich memang jarang menunjukkan ekspresi wajahnya. İa begitu pintar dalam mengendalikan perasaannya sendiri.


"Kirimkan data ini kepada Zac." katanya setelah membaca berkas yang diberikan Tom.


"Apakah ada perintah khusus untuk Kapten Zac, Master?"


Aldrich menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, "Tidak, ia tahu apa yang harus dilakukannya."


"Bolehkah aku tetap memantau gerak geriknya?"


"Ya, namun berhati-hatilah. Jangan sampai ia merasa terancam karena pengawasanmu." kata Aldrich Èclair mengabulkan permintaan Tom.


Tom sebenarnya merasa risau jika objek mereka tidak mendapatkan pengawasan. Sebab, bisa saja sewaktu-waktu objek merencanakan sesuatu yang nantinya akan merugikan Dark Shadow. Apalagi sebelumnya Pemimpin Red Dragon, Don Corleone mewanti-wanti Tom untuk lebih berhati-hati lagi saat menyuplai senjata api. Sebab aktivitas ilegal mereka sudah tercium oleb SİS, mereka takut hal itu akan berdampak pada bisnis Dark Shadow dan keluarga mafia lainnya.


"Bagaimana dengan agen Golden Assasin? Apakah sudah selesai kau selidiki?"


"Ya, Master. Céllina benar-benar kehilangan sebagian ingatannya, terutama ingatannya sebagai Golden Assasin. Eduardo Stevenson menyuruh pasukan elit Noir untuk memburunya secara besar-besaran. Motifnya hampir sama seperti pengejaran kapten Zac pada masa silam, hanya saja Cèllina mengetahui rahasia besar Eduardo Stevenson yang tidak diketahui orang lain." jelas Tom membacakan hasil penyelidikannya.


"Sudah sampai mana tahap pencarian mereka?"


"Mereka sedang menyisiri dataran benua Eropa."


"Laporkan hasil penyelidikanmu pada Zac, biar ia yang menyelesaikannya."


"Baik, Master." jawab Tom yang sudah sibuk menggeser-geser layar tabletnya.


Aldrich kini kembali menenggelamkan dirinya dengan menanda tangani dokumen-dokumen perusahaan yang membutuhkan perizinannya. Hingga tangannya terhenti saat membaca judul proyek terbarunya.


"Ah, Tom? Aku hampir lupa. Batalkan kontrak kerjasama kita dengan perusahaan software di Asia. Jika ia bertanya alasannya, suruh mereka bertanya dengan Direktur cabang mereka yang di Mikrocosmos. Aku tak suka bekerjasama dengan seorang penipu. Soal uang penalti, suruh Direktur mereka yang bayar."


"Tapi Master, kita sudah mengeluarkan sembilan puluh juta Euro untuk proyek ini."


"Bukan masalah." balas Aldrich yang membuat Tom tersedak mendengarnya. "Tom, kirim staf ahli untuk membantu Cole mencari lahan. Rekomendasikan padanya untuk mencarinya di Asia. Aku yakin ia akan memilih negara A."


"Master bukankah ini terlalu cepat? Aku takut Nona Muda belum siap jika harus bertemu Tuan Cole secepat ini."


"Jiwa dan fisik Cole kini semakin melemah, aku takut ia menyerah lebih dulu sebelum akhirnya waktu mempertemukan mereka."


"Master, boleh aku bertanya?"


Aldrich menoleh pada Tom. Meninggalkan setumpuk berkas di tangannya. "Aku tak pernah melarangmu bertanya, Tom."


"Mengapa anda mematikan telepon Nona Muda dan berpura-pura seakan anda sedang berbicara kepadanya?" tanya Tom. İa yakin dengan apa yang dilihatnya, Aldrich tidak menggeser tangannya pada ikon telepon berwarna hijau. "Aku yakin mataku melihat layar menu saat anda menaruh ponsel anda di telinga."


Aldrich Èclair tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Tom. "Aku malu ketahuan bohong padamu, Tom." katanya setelah berusaha menahan tawanya.


Bersambung ...


✌•✌•✌•✌•✌


Salam Hangat,


Leo & Tata.



••


•••


••••


•••••