
V mengeluarkan ponselnya, membuka halaman Dark Shadow untuk memeriksa proses transaksi yang sedang berjalan. Sistem data perusahaan Dark Shadow memang dikelola melalui jaringan daring, dengan menggunakan sistem manajemen basis data Oracle dari perusahaan Light Èclair. Ia memperhatikan daftar tugas yang statusnya dialihkan, sebab dirinya masih dibebas tugaskan oleh Aldrich Èclair.
Matanya sibuk membaca nama-nama agen yang mengambil alih tugasnya. Tak lupa juga memperhatikan keterangan akhir misi mereka. Ia juga membaca laporan misi yang ditulis langsung para agen pembunuh bayaran itu. Sebenarnya yang menarik berada di catatan ini, sebab secara tidak langsung mempelajari kasus dan bagaimana cara penyelesaiannya akan menambah pengetahuan baru baginya. Setiap laporan kejadian memang tidak disembunyikan oleh server karena hal itu dapat membantu para agen dalam meningkatkan kemampuan mereka.
Semakin tinggi tingkatan mereka, semakin menarik pula cara mereka menyelesaikan tugas. V begitu bernafsu ingin mengkonfirmasi seluruh permintaan klien padanya. Sudah lama sekali ia tidak bertugas, tubuhnya sudah gatal karena tak juga mendapat izin untuk menjalankan misi. Apalagi setelah membaca laporan mereka, membuat imajinasinya sibuk menciptakan rancangan-rancangan baru yang ia yakini akan lebih efektif dan efisien daripada aksi sebelumnya.
V sebenarnya tidak mengerti alasan Papahnya membebas tugaskan dirinya, bahkan jabatannya sebagai underboss masih dinonaktifkan. Posisinya dibiarkan kosong, karena tak ada yang mau dipimpin selain oleh Dionysus. V sempat merasa terharu anak buahnya begitu royal dan setia padanya, bahkan secara diam-diam mereka masih suka mengirim laporan perkembangan setiap divisi pada Dionysus. Bahkan mereka masih sering meminta V yang mengambil keputusan akhir dalam setiap permasalahan mereka.
V merasakan seseorang sedang berjalan ke arahnya. Dengan tindakan secara alami, V menutup ponselnya. Memasukkannya ke saku blazer. Saat orang itu lewat V berpura-pura merenggangkan otot-otot tubuhnya. Bel pulang sekolah berbunyi, suara instrumen piano fur elis membuatnya menikmati alunannya. Seluruh murid berhamburan keluar kelas sambil bercanda gurau atau sekedar berbincang ringan dengan teman-temannya.
Suara riuh mereka seketika berubah menjadi teriakan histeris dari siswi SHSM. Dari keramaian anak-anak yang berkumpul di koridor, Daffa berjalan dengan wajah dingin dan arogannya bersama para ajudan dan seorang kasim di sisi kirinya. Mereka sama sekali tidak menanggapi sapaan yang diarahkan untuk mereka, jangankan menanggapi melirik saja mereka tidak.
Daffa kini sudah berdiri di hadapan V, namun kali ini tidak sedekat sebelumnya. Ia sengaja memberi sedikit jarak di antara mereka. Daffa tidak ingin mengumbar perasaannya di depan banyak orang, hal ini bukan karena Daffa malu mengakui V sebagai pacarnya. Melainkan karena Daffa begitu menghormati V, sehingga saat di depan umum Daffa lebih memberi sedikit jarak. Sedangkan di belakang mereka banyak sepasang mata yang memperhatikan.
"Pulangnya dijemput atau mau ku antar?" tanya Daffa pada V saat keduanya saling memandang satu sama lain. Daffa tidak langsung mengatakan akan mengantarnya, sebab ia menghargai pendapat kekasihnya.
"Aku dijemput Pamanku. Terima kasih atas tawarannya." balas V memberikan Daffa senyuman manisnya. Senyuman yang selalu membuatnya berdebar. Daffa membalas senyumannya, mengusap puncak kepala V dengan lembut.
"V?" panggil Melody yang berjalan ke arah mereka, di tangannya telah tersampir tas ransel putih milik V. Ia juga membawa tas kotak makan siang miliknya.
V menatap melodi dengan perasaan campur aduk. Apalagi saat Melodi menyerahkan tasnya. Demi menjaga sopan santun V mengabaikan perasaannya.
"Terima kasih." ucap V memberikan senyuman terindahnya kepada Melody. Sebenarnya V sempat kesal dengan Melody yang hanya diam melihat dirinya ditindas.
Melody tidak langsung menjawab, ia diam menatap V dan Daffa secara bergilir, "Ya sama-sama, kau akan pulang bersama Daffa?" tanya Melody yang langsung mendapat balasan sungut dari Daffa.
"Apa pedulimu dia mau pulang dengan siapa? Kau urus saja dirimu sendiri. Pergi sana!"
V menatap tak percaya pada Daffa yang berbicara tajam kepada Melody, padahal Melody bertanya kepadanya secara baik-baik.
"Daffa..." tegur V dengan nada suara rendahnya. Ia tak ingin meninggikan nada suaranya sebab ia bersyukur Daffa melampiaskan sedikit amarahnya.
'Jangan ragu untuk menghardiknya, lanjutkan Daffa!' tambah V dalam hatinya melanjutkan kalimatnya yang terpotong.
"I-iya i-ini mau pulang." ucapnya sedikit bergetar karena bentakan Daffa. Melody tidak berani melawan perkataan Daffa, sehingga ia hanya diam. "A-aku pu-pulang ya V..." ucapnya masih terbata-bata, ia melirik ke arah Daffa yang juga masih menatapnya, "Daffa." tambahnya yang membuat Daffa menatapnya semakin sinis.
"Jangan sok mengakrabkan diri. Kau memuakkan!" sinis Daffa yang langsung menohok Melody.
'Kerja bagus Daffa!' batin V tersenyum bahagia. Demi mendukung perannya sebagai siswi baik-baik V memukul pelan perut Daffa, menyatakan sikap tidak sukanya pada Daffa. Sedangkan Daffa mendecak tak suka dengan sikap V yang baginya terlalu naif.
"Hati-hati di jalan, Melody. Dadahh." balas V melambaikan tangannya saat Melody pergi. Melody yang masih menengok ragu-ragu jadi ikut melambaikan tangannya.
Daffa menatap tak suka pada Melody. Wanita dengan banyak tipu daya seperti dirinya harus lebih diwaspadai daripada sekumpulan wanita bar-bar. Daffa tak tahu apa yang tengah direncanakan wanita itu, tapi yang pasti rencana liciknya akan menyulitkan Daffa nantinya. Menilik V yang tidak membahas mengenai sikapnya pada Melody lebih lanjut, Daffa tak berani buka suara untuk membahasnya. Ia hanya memperhatikan gadisnya yang sudah membongkar kotak makannya di atas bangku panjang.
Makan siang yang dibawa V begitu banyak, itu bukan porsi makan untuk satu atau dua orang saja. Belum lagi ditambah makanan di dalam kotak camilannya. Menu makan yang disajikan adalah makanan khas Asia. Daffa dengan mudahnya mengenali makanan apa saja yang dibawa oleh kekasihnya.
"Kau membawa ini untuk makan bersama teman-temanmu?" tebak Daffa yang langsung mendapat anggukkan kepala dari V.
"Baiklah, apa kau tidak masalah kalau kita makan di tempat tanpa alas?" tanya Daffa yang lagi-lagi hanya dijawab dengan anggukkan kepala.
"Bantu bawa ke taman hijau belakang sekolah." titah Daffa kepada para ajudannya.
Di bawah pohon yang rimbun dengan rerumputan menghijau di setiap mata memandang. Tak ada semak di taman itu, yang ada hanya ilalang yang tumbuh semakin tinggi. Mereka duduk di atas rerumputan tanpa alas. Daffa memperkenalkan para ajudan dan kasimnya, yang ternyata adalah sahabatnya sejak kecil.
Laki-laki yang memiliki tinggi sama dengan Daffa bernama Gitar, nama panjangnya Albero Gitara Gaffari. Ia memiliki wajah yang begitu cantik seperti wanita. Bulu matanya panjang dengan alis mata yang berbentuk seperti sulaman. Mungkin jika ia dilahirkan menjadi wanita, Gitar akan menjadi primadona SHSM.
Laki-laki dengan anting keping di telinga kirinya bernama Affandi Fadli, Daffa biasa memanggilnya Fandi sedangkan yang lain memanggilnya Fadli. Kulitnya tidak seputih teman-teman yang lainnya, meski begitu Fandi malah terlihat begitu maskulin dengan kulit coklatnya.
Mereka makan dengan tenang di bawah pohon rindang. Tak ada yang membuka suara, lebih memilih menikmati makanan mereka. V memperhatikan Gali yang duduk di depannya, bukan karena ia menyukai Gali. Tapi karena ia merasa ada sepasang mata yang memperhatikannya saat makan. Jadi mau tak mau V juga melihat ke arahnya, tapi saat itu Gali malah membuang pandangannya. V memperhatikan keempat laki-laki yang duduk bersamanya. Tidak sulit untuk memperhatikan mereka, karena memang mereka duduk membentuk lingkaran.
V memperhatikan setiap lencana yang mereka gunakan. Mereka menggunakan lencana berwarna kuning keemasan. Ia menebak bahwa mereka mempunyai posisi yang tinggi. Setiap lencana menandakan tingkatan mereka, lencana perunggu yang paling terendah, kemudian disusul oleh lencana perak dan terakhir lencana kuning keemasan. Bukan perkara yang pelik untuk menebak struktur lencana mereka. Karena memang pada dasarnya perunggu mendapat kelas logam terendah, sedangkan emas masuk kedalam logam tertinggi dibandingkan perunggu dan perak.
Daffa menarik dagu V dengan jari telunjuknya. "Kenapa kau malah sibuk memperhatikan Gitar?" tanya Daffa tak senang melihat V tidak memandangnya. Sedangkan Gitar dan Gali tersedak dengan makanan mereka.
"Aku hanya penasaran saat melihat lencana di baju mereka." kata V yang membuat mereka saling pandang satu sama lain. "Daffa bolehkah aku melihat lencanamu?" tanya V penasaran seperti apa lencana ketua organisasi mereka.
"V, bukankah aku sudah ..." V tahu apa yang akan dikatakan Daffa, ia menutup mulut Daffa rapat-rapat.
"Ehm... ehm... ehm" deham V sambil menggerakkan kepalanya secara horizontal. "Aku hanya ingin melihatnya, apakah tidak boleh?" tanya V menggunakan jurus andalannya dengan memasang wajah memelasnya. "Jika tidak boleh, baiklah aku tidak akan menuntut untuk melihatnya lagi." lanjut V membuang pandangannya dari Daffa. Ia menundukkan kepalanya sambil menghitung sampai sepuluh. Belum selesai hitungannya sampai sepuluh Daffa sudah mengusap lembut puncak kepala V.
"Tanganmu kotor Daffa, jangan menyentuh rambutku. Nanti Ibu pengasuh marah-marah." elak V mendorong tangan Daffa. Bukan hanya Daffa yang dibuat gemas olehnya, tapi keempat-empatnya merasa gemas melihat tingkah V yang begitu kekanak-kanakkan.
Daffa tertawa sambil mencubit kedua pipi V yang memang tidak tirus, V mengerang kesakitan, "Dahava, sahakhit phiphikhu." omel V yang berusaha mencubit perut Daffa.
'Ya Tuhan! Perut lelaki ini keras sekali, aku sampai tak bisa mencubitnya!'
"Dahava, kahau kehetuhurunan bahadak yaha? Kuhulitmuhu keheras sepeherti bahadak." komentar V yang malah membuat Daffa semakin tertawa.
"Fa, kasihan Fa. Pipinya sudah memerah." bela Gali yang melihat tak tega pada V. Rengekan kesakitannya membuat Gali tidak senang melihat perlakuan Daffa terhadapnya.
Daffa melepaskan cubitannya, "Dasar tiran, kau membuatku ingin menangis rasanya." gerutu V menyeka air matanya. Ia memang benar-benar ingin menangis setiap kali Daffa mencubit pipinya. Sedangkan Daffa malah tertawa terpingkal-pingkal.
'Nah kan, sepertinya aku memang harus bersabar mempunyai kekasih kampret sepertinya.' batin V menggerutu berkepanjangan.
"Baiklah kau ingin melihat lencanaku bukan?" tanya Daffa yang tentu saja membuat V tergoda.
"Ada syaratnya, kau harus menciumku terlebih dahulu."
"Mati saja kau sana!" balas V yang langsung mengambil lencana milik Daffa dari tangannya. Daffa kembali tertawa mendengar jawaban dari V. Tapi kali ini bukan hanya Daffa saja yang tertawa, melainkan ketiga temannya juga ikut tertawa.
"Jika aku mati kau pasti akan sedih setelahnya." bantah Daffa yang sudah bisa mengendalikan dirinya sendiri.
"Bodoh! Setelah mati ya dikubur." jawab V yang kembali membuat Daffa tertawa. "Kenapa kau sebegitu bahagianya mendengar perkataanku?"
V mengabaikan suara tawa mereka. Ia fokus memperhatikan lencana milik Daffa. Lencananya berbeda dengan yang pernah V lihat sebelumnya. Lencana Daffa berwarna bening dengan kilauan indah bermunculan setiap kali V menggerakkannya. Cahaya kemilau yang tampak di lencananya menggambarkan bahwa itu adalah berlian. Di bawah lencana milik Daffa terdapat tulisan 'Leader', berwarna hitam tebal. V mengusap gambar yang timbul di lencana Daffa.
Pandangan V kini teralihkan oleh sekelompok orang berjas hitam dengan dasi merah terikat rapih di leher mereka. Tak lupa juga kaca mata hitam tersampir di batang hidung mereka. Tidak hanya V yang memperhatikan mereka, Daffa dan teman-temannya juga ikut memperhatikan mereka.
.
.
.
.
✌✌✌✌✌
Foto penampakkan Galaksi Galilei