V

V
<[ EPISODE 12 ]>



Dionysus menari mengikuti langkah kaki Cole Harvey. Irama lagunya semakin cepat membuat pasangan lainnya menari dengan cepat namun tetap anggun. Cole Harvey memahami Dionysus yang tak pandai menari, jadi ia menari dengan lambat tanpa mengikuti irama. Ia tidak mempedulikan cemoohan dari para penontonnya karena tidak menari sesuai irama.


Tubuh Cole Harvey begitu tinggi walaupun Dionysus telah mengenakan heels tertinggi yang ia miliki, tinggi tubuhnya tak kurang dari bahunya. Dionysus hanya dapat mencium aroma parfum milik Cole tanpa bisa melihat wajahnya. Ia tak ingin repot-repot mendongakkan kepalanya seperti yang dilakukan kebanyakan wanita di pesta dansa. Berbeda dengan Cole Harvey yang sedang mengagumi keindahan karya Tuhan dihadapannya. Pipi Dionysus yang cukup berisi membuatnya tergoda untuk mencubitnya. Bibirnya berwarna merah terbentuk sempurna tidak tipis atau tebal. Jika tersenyum bibir atasnya akan menipis, membuat senyumnya terlihat sangat manis.


Beberapa kali Dionysus sengaja menginjak sepatu Cole Harvey agar ia dapat menarik jarum racun yang ia sembunyikan di balik gaunnya. Sebab jika bukan begitu, ia tidak akan memiliki alasan menurunkan tangannya dari pundak Cole Harvey. Laki-laki itu begitu tabah menerima siksaan tersebut. Senyum manisnya tak pernah pudar dari wajahnya.


"Kau tidak marah?" tanya Dionysus membuka suara setelah sekian lamanya.


"Kau bertanya pada siapa?"


"Tentu saja pada laki-laki tampan dengan pesona luar biasa yang diwarisi para dewa-dewi untuknya" puji Dionysus setengah hati.


"Lalu dimana dia sekarang?" Cole Harvey memancing Dionysus agar mau menatap wajahnya. Berbicara tanpa memandang lawan bicaranya merupakan salah satu perilaku tidak beradab.


Merasa digurui mengenai etika, Dionysus menatap lurus ke wajah Cole, "Dihadapanku" balasnya dengan senyum manisnya.


Ia menghentikan tariannya dengan tiba-tiba. Membuat Dionysus terkejut, khawatir rencananya akan gagal. Jari tangan kanannya masih memegang jarum di atas punggung Cole Harvey. Menilik posisi target berada di belakang Cole Harvey, Dionysus segera melemparkan jarum berisi racun tersebut. Jarum berhasil menusuk di leher belakang target, butuh lima belas menit agar racun menyebar ke seluruh tubuh.


"Jangan bergerak!" perintah Cole Harvey di telinga Dionysus dengan suara pelan secara tiba-tiba. Kalimatnya membuat detak jantung Dionysus tidak berirama.


Cole Harvey mengangkat tubuh Dionysus dengan satu tangan layaknya mengangkat sehelai bulu. Kakinya tak lagi menapak di atas lantai. Tangan kanan Dionysus memeluk erat bahu Cole Harvey, sedangkan tangan kirinya menggenggam tangannya. Dionysus kini dapat memandang wajah Cole Harvey tanpa harus mengangkat kepalanya. Tatapan hangatnya berubah menjadi waspada pada lawan jenis dihadapannya. Cole Harvey hanya tertawa kecil dengan tatapan penuh intimidasi itu.


"Tidak perlu takut. Aku akan membuatmu menari tanpa memerlukan tenaga. Jadi tenanglah bersandar pada bahuku." ia menaruh tangan kiri Dionysus di atas bahunya. Ia mengangkat tubuh V lebih tinggi lagi.


Cole Harvey dapat merasakan debaran kencang dari jantung Dionysus, ia tertawa kecil. Sebab berpikir bahwa Dionysus mulai menyukainya. Cole Harvey begitu senang bermain-main dengan pikiran egoisnya, menebak-nebak apa yang tengah dipikirkan oleh gadis ini. Wajah Dionysus yang menggunakan make up dan juga bentuk tubuhnya yang berisi bagaikan wanita dewasa membuat Cole Harvey berpikir umur mereka berpaut tidak terlalu jauh. Andaikan Cole Harvey tahu bahwa gadis yang membuatnya jatuh hati baru berumur 15 tahun, mungkin ia akan membenturkan kepalanya ke dinding.


"Pria brengsek, ku pikir rencanaku akan gagal begitu saja! Kau membuatku hampir terkena serangan jantung." umpat Dionysus dalam hati.


Gerakan dansa yang begitu lambat tanpa percakapan lagi, ditambah dengan kurangnya waktu tidur yang ia miliki. Dionysus merasa kantuk yang teramat besar. Matanya berusaha untuk tetap terbuka. Sedangkan Cole Harvey menikmati waktu sunyinya dengan mati-matian berusah menahan dirinya sendiri. Tanpa Dionysus sadari ia menguap.


Cole Harvey tertawa, Dionysus dapat merasakan getaran di tubuhnya, "Kau mengantuk? Atau aku yang terlalu membosankan?" tanyanya.


Tidak lama setelah Cole Harvey berkata, tiba-tiba terdengar suara teriakkan dari belakang. Dionysus sudah menduga apa yang terjadi. Namun demi mendukung perannya malam ini, ia juga ikut terkejut membuat tangannya memegangi mulutnya. Target tergeletak di atas tanah dengan darah keluar dari mulut, hidung, mata dan telinganya. Kematiannya sangat mengerikan.


"A-apa ya-yang ..." belum selesai Dionysus berkata dengan penuh rasa gugup dan tubuh bergetar. Cole Harvey memeluknya dengan erat.


"Jangan dilihat, oke?" perintahnya masih memeluk tubuh Dionysus agar tidak kembali melihat jenazah mengenaskan dihadapannya.


"Ke-kenapa ..." demi mendukung jalan cerita Dionysus tergugu karena isak tangisnya.


Cole Harvey menurunkan tubuh Dionysus, "Tidak perlu takut, ada aku di sini." ia berusaha menenangkan Dionysus, sambil membantu menghapus air matanya.


"Kita pulang ya, aku akan mengantarkanmu pulang." jelas Cole Harvey menenangkan Dionysus agar ia berhenti menangis.


"Ya, aku ingin pulang." jawab Dionysus masih dengan air mata palsunya.


Cole Harvey membawa Dionysus keluar dari aula tanpa harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Dirinya dianggap bersih dari tuduhan pembunuhan dari Inspektur Kepolisian kota Nebula. Tentu saja hal ini sangat menguntungkan bagi Dionysus.


Cole Harvey mengantar Dionysus benar-benar sampai di kamarnya, bahkan menunggu Dionysus sampai terlelap dalam tidur. Untungnya Evan bersih keras memilih hotel dibandingkan dengan apartemen, dengan alasan ia ingin lebih memiliki privasi. Sehingga Dionysus tidak perlu repot-repot mencari alasan untuk menjelaskan keberadaan Evan.


Segala macam alasan telah Dionysus lakukan untuk mengusir Cole Harvey dari kamarnya, alhasil beribu-ribu alasan keluar dari mulutnya. Dionysus menyerah dengan sikap keras kepala yang dimiliki oleh Cole Harvey.


"Aku hanya menemanimu sampai kau benar-benar tertidur, setelah itu aku berjanji akan pulang."


"Kau berencana ingin membunuhku?" tanya V sembarang yang mendapat balasan gelak tawa.


"Jika aku ingin, aku sudah melakukannya sejak kita berdansa." balasnya.


V memejamkan matanya berpura-pura tidur, sedang Cole Harvey duduk di sebelah ranjang V. Hanya menatap dengan menyanyikan sebuah lagu pengantar tidur. V tidak tahu pada menit keberapa dirinya benar-benar terlelap. Setelah Dionysus tertidur, barulah Cole Harvey pergi meninggalkan hotel. Ia kembali ke aula Konfrensi kota Nebula mencari tahu penyebab kematian paman keduanya.


"Jaga baik-baik wanita yang ada di dalam kamar. Jika ia sampai terluka, kalian akan mati tragis di tanganku." perintah Cole Harvey dengan ancaman kepada para pengawalnya.


Ia memberikan 1 ID card kepada pengawalnya, "Utus beberapa penjaga untuk menjaga di atap dan luar hotel."


✌✌✌✌✌


Pagi harinya sebelum V membuka mata, Cole Harvey telah datang membawa sarapan pagi untuknya. Melihat V yang masih tertidur membuat Cole Harvey tersenyum. Di matanya V terlihat lebih menggemaskan ketika sedang tertidur.


V membuka kedua matanya menggeliat di atas ranjang, sesekali ia menguap. Ia menggosok kedua matanya dengan punggung tangannya. Kebiasaannya memang tidak pernah berubah setelah bangun tidur, ia memeluk bantal dan gulingnya satu persatu.


"Selamat pagi Semesta, terima kasih Kau mengizinkanku untuk bernafas pagi ini." ucap V dengan senyum. Sesaat ia memejamkan matanya beberapa detik. Ia merasakan kenikmatan untuk kembali tidur.


V melambaikan tangannya, "Selamat tidur kembali dunia." ia kembali merebahkan tubuhnya.


"Ehhh, jangan tidur lagi. Aku telah menyiapkan sarapan untukmu." ucap Cole Harvey mencegah V kembali tertidur.


V masih belum menyadari sosok yang ada di kamarnya, ia berpikir bahwa sosok itu adalah Evan.


V menepuk punggung tangan orang yang mencegahnya tidur, "Kakak tenang saja, walaupun aku kembali tidur sarapanku tidak akan berani menghianatiku."


"Bagaimana jika sarapanmu mulai dingin?" tanyanya.


Detak jantung V berdebar dengan kencangnya. Lembar cerita tentang hari kemarin muncul dalam ingatannya. Ia mengumpat dalam hatinya. Ia tidak menyadari ada orang lain di dalam kamarnya. Suara laki-laki di belakangnya terdengar begitu asing. Dengan cepat V menggulingkan tubuhnya ke depan sejauh mungkin.


Cole Harvey menghela nafas sebelum akhirnya menggurui, "Lihat betapa bodohnya dirimu, kau bahkan tidak bisa menjaga dirimu sendiri. Kau tidak menyadari kehadiran orang lain yang menyelinap dalam kamarmu semalam. Bagaimana jika semalam kau benar-benar mati, hah?!"


V diam mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulutnya. Ia menatap sekelilingnya, kamarnya yang berantakan. Sebuah meja kayu terbelah menjadi dua, alat-alat make up-nya berantakan, sebuah figura jatuh di lantai, dan yang membuatnya lebih terkejut adalah lubang- lubang kecil di pinggir kasurnya. Ia jelas tahu bahwa itu adalah lubang bekas peluru.


"Kau bahkan berani berbohong kepadaku, sejak tadi aku tidak melihat temanmu. Aku sudah memeriksa ke bagian resepsionis bahwa kau tinggal seorang diri di kamar ini."


"Tidakkah kau tahu apa arti dari bahaya? Kau seorang diri datang ke negara ini, tanpa menyadari bahwa sejak kakimu tiba kau telah menjadi target perdagangan manusia! Jika bukan karenaku kau sudah di jual ke luar negeri!"


"Kalau kau masih bersih keras untuk liburan di sini, aku akan membawamu pulang bersama denganku. Kau akan aman di rumahku. Aku akan menjamin keamananmu saat berada di rumahku."


"Apa orang tuamu tahu kau pergi ke sini?" tanyanya yang langsung mendapat gelengan kepala dari V. Sebenarnya V juga bingung kenapa ia menggelengkan kepalanya.


Tatapan mata Cole Harvey menjadi sangat tajam, "Kau benar-benar gadis nakal! Sebenarnya apa isi otakmu itu hah?"


"Aku telah menyuruh orangku untuk menghubungi keluargamu. Aku tahu kau tidak akan melakukannya, jadi aku terpaksa melakukannya." tukasnya.


V bisa merasakan bahwa laki-laki yang ada dihadapannya bukanlah orang biasa. Ia bisa menyelidiki identitas V hanya dengan waktu beberapa jam. Walaupun yang tersingkap bukanlah identitas aslinya. Entah berapa banyak pengawal yang menjaganya semalam.


"Tuan Harvey, sebelumnya terima kasih anda telah mempedulikanku. Tuan Harvey, apakah anda sadar dengan apa yang telah anda lakukan melanggar privasi orang lain? Aku sungguh kecewa dengan apa yang anda lakukan." tukas V berjalan ke arah lemarinya. Ia mengeluarkan kopernya.


"Kau masih berani berkata begitu setelah apa yang terjadi?" erang Cole Harvey, amarahnya meletup-letup.


"Anda tidak perlu repot-repot mengurusku, detik ini juga aku akan pulang ke negaraku." V melihat wajah Cole Harvey berubah melunak.


"Aku akan mengantarmu." balasnya. V menebak bahwa Cole Harvey adalah orang yang sulit untuk mengucapkan kata 'maaf'.


"Tidak!" bantah V cepat. Ia ingin mengakhiri keterlibatan Cole Harvey dalam hidupnya.


"Aku bisa melakukannya sendiri, karena anda bisa masuk sesuka hati anda. Sepertinya anda sudah hafal dimana letak pintu keluarnya." ucap V sarkasme. V menutup resleting kopernya. Ia berjalan ke arah kamar mandi dengan sengaja membanting pintu kamar mandi.


Seusai membilas tubuh dan mengganti pakaian, Cole Harvey masih berada di dalam kamarnya. V menghela nafas panjang. Cole Harvey menahan tangan V untuk mendengarkan perkataannya. V kembali mengabaikan Cole Harvey. Menganggap tidak ada orang di depannya. Namun Cole Harvey tidak menyerah begitu saja, tekadnya membuat V kehilangan kesabaran. V mengingat kisah percintaan dari drama yang pernah ia tonton bahwa laki-laki lemah dengan air mata wanita.


"Tuan Harvey, aku ingin pulang. Biarkan aku pulang." ucap V mulai terisak dengan tangisnya. Pada saat menangis wanita pada dasarnya melampiaskan segala emosinya.


V memukul-mukul dada Cole Harvey yang bidang, "Memangnya dirimu siapa? Bahkan Papahku sekalipun tidak pernah menghakimku seperti ini! Aku membencimu!"


'Astaga! Begitu menjijikannya kalimatku. Argh, harga diriku. batinnya.


Kalimat terakhir V mampu meluluhkan keras kepalanya Cole Harvey. Begitu hebat memang wanita dengan segala macam intriknya dalam meluluhkan hati pria.


Cole Harvey mengantar V hingga ke bandara. Ia telah memesan tiket pesawat untuk V kembali ke negara S. Ia sudah menebak bahwa Cole Harvey telah mengatur keberangkatannya saat ia di kamar mandi. Bukan perkara sulit menebak jalan pikiran Cole Harvey pada saat itu.


✌✌✌✌✌


*Terima kasih untuk kalian yang udah ikutin novel gw dan terima kasih untuk kalian yang udah support gw untuk terus tulis cerita V. Jika kalian suka dengan cerita gw, jangan lupa klik, "👍" di bar paling bawah. Untuk kalian yang ini dapet notif cerita selanjutnya, klik "💜" atau favorite. Jika kalian gak suka sama cerita gw, kalian biasa tulis kritik dan saran untuk gw di kolom komentar. Agar next time* gw bisa bikin cerita yang lebih baik lagi. Gw tunggu ⭐5 dari kalian (:


Cukup kambing, domba, kerbau, sapi, dan unta aja yang jadi korban. Perasaan kalian jangan ikutan jadi korban. Gw Leo mengucapkan "Kurban Bayramınız Mübarek Olsun Arkadaşlar!" bagi para sobat yang merayakan, dan Selamat hari minggu buat kalian yang tinggal di bumi.


Salam hangat gw,


-*Leo.***