
Seorang gadis kecil berumur enam tahun berjalan tertatih-tatih di tengah hiruk pikuknya metropolis. Kekejaman dan keangkuhan dunia sudah begitu akrab dengannya. Ia hidup sebatang kara, kedua orang tuanya telah meninggal dunia akibat kecelakaan beruntun. Kehilangan kedua orang tua baginya bagaikan tertimpa reruntuhan dunia. Ia harus menanggung beban hidupnya seorang diri. Tidak ada yang mempedulikan dirinya, bahkan sanak saudara terdekatpun menganggapnya ikut terkubur bersama kedua orang tuanya. Karena faktor ekonomi yang serba mahal membuat mereka enggan untuk menafkahinya.
Langit gelap dengan hembusan angin malam yang menusuk tulang menemani gadis cilik itu mencari makanan. Meminta belas kasih dari orang lain adalah hal biasa yang ia lakukan untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Namun sangat jarang ada orang yang berbaik hati memberinya sedikit uang. Umurnya yang masih begitu belia menjadi penghalangnya untuk bekerja. Semangatnya untuk harus tetap hidup memaksanya melakukan apapun untuk bisa makan. Jika sudah benar-benar terdesak ia terpaksa mencuri makanan pedagang di pinggir jalan. Ia tidak mempedulikan pukulan bertubi-tubi yang akan datang menghajar seluruh tubuhnya ataupun cacian dari orang lain akibat perbuatannya. Kedua hal itu telah menjadi teman karib yang harus ia kunjungi setiap hari.
Setiap kali ingin mengambil makanan tanpa bayar, ia selalu mengatakan, "Aku meminta sedikit milikmu." kemudian lari sekencang yang ia bisa. Di dunia yang begitu kejam dan angkuh ini se-perakpun masih memiliki harga, sehingga walau hanya sepotong roti, pemilik kedai akan berlari mengejar siapapun yang berani mengambil roti miliknya. Setelah berhasil menangkap pencuri barang dagangannya, tidak segan-segan ia menghajarnya.
Entah untuk berapa puluh kali tubuhnya menerima pukulan-pukulan dari orang-orang. Ia tidak pernah melawan, selalu menerima pukulan-pukulan itu dengan tangan terbuka lebar. Karena ia paham bagi kebanyakan orang tidak semua kesalahan bisa dibayar dengan kata 'maaf'. Perkataan orang tuanya selalu terngiang-ngiang di telinganya ketika ia berkelahi dengan teman seusianya. Ada beberapa organ vital yang sangat rentan bila terkena pukulan. Ia selalu melindungi bagian kepalanya dengan kedua tangannya, menurutnya kepala adalah aset yang paling berharga. Jadi kepalanya tidak boleh sampai terkena pukulan. Ia juga mengingat ada beberapa organ vital di bagian perut dan dada yang tidak boleh dipukul secara sembarang. Sehingga ia meringkukkan tubuh agar setiap pukulan itu tidak mengenai bagian perutnya. Ia selalu merelakan tangan dan kakinya yang menjadi objek pukulan.
Malam itu, hal yang tidak biasa terjadi. Pemilik kedai mengeluarkan sebilah pisau tajam dari balik bajunya. Jika saja cahaya tidak memberikan pantulan ke wajahnya, mungkin malam itu ia telah menemui ajalnya.
Melihat sebuah pisau terangkat, membuat detak jantungnya berdebar tidak karuan. Pikirannya mulai saling bertabrakan satu sama lain. Keringat dingin mengalir deras dari sekujur tubuhnya. Yang ia pikirkan hanya satu, "Harus tetap hidup!". Maka ia tidak membiarkan pisau itu mengenai tubuhnya.
Pemilik kedai memberikan serangan pertama tepat ke arah perutnya. Gadis cilik itu menggulingkan tubuhnya ke samping. Nampaknya pemilik kedai masih begitu amatir dalam menggunakan pisau. Saat pemilik kedai sadar bahwa pisaunya hanya menusuk angin, ia menjadi begitu geram. Air mukanya menjadi masam dan aura hitam seperti keluar dari tubuhnya. Merasakan hawa membunuh yang begitu mencekam, gadis cilik itu beranjak dari posisi duduknya. Karena belum mendapat asupan sejak pagi, tubuhnya sedikit terhuyung. Jubah hitam lusuhnya berhasil ditarik oleh pemilik kedai. Tanpa belas kasih ia menggeretnya ke sela-sela bangunan tua dengan cahaya remang. Melempar tubuh kecil tak berdaya itu ke dalam sebuah jalan lebih sempit dan terpencil.
Di dalam gang itu tidak hanya sunyi melainkan juga gelap tanpa ada satupun cahaya lampu. Keberuntungan yang berpihak di antara mereka hanyalah 50:50. Derap langkah kaki dari sepatu bot yang dikenakan pemilik kedai memecah keheningan. Ia hanya bisa mendengar suara langkah kaki itu, tanpa bisa melihat tubuhnya dengan jelas.
"Sial!" keluh pemilik kedai itu dengan begitu keras. Gadis itu tersenyum puas, karena tidak hanya dia yang tidak dapat melihat penyerangnya, penyerang juga tidak dapat melihat targetnya dengan jelas.
"Hei anak bedebah! Dimana kau! Sial!" makinya sekali lagi.
Gadis cilik itu menaikkan penutup kepala yang ada di jubahnya. Menunggu kembali derap langkah dari pemilik kedai, sambil memikirkan cara melarikan diri.
Malam itu dewi fortuna terbang dari olympus, datang menemuinya secara khusus untuk memberikan berkat. Pisau yang digunakan pemilik kedai terbuat dari perak yang dapat mengeluarkan cahaya ketika gelap. Ia tidak melewatkan keberuntungan itu begitu saja. Ia menganalisa bahwa tinggi tubuhnya sekitar sepinggang pemilik kedai itu. Tinggi pisau yang terangkat ke langit itu membuatnya harus tetap mendongak untuk melihatnya.
Gadis cilik itu berjalan pelan sambil meraba-raba apa yang ada di depannya. Jarak cahaya yang dipantulkan pisau itu mulai dekat dengan tubuhnya. Ia mulai mengambil ancang-ancang untuk memukul apapun yang ada di depan wajahnya. Karena itu tepat dengan bagian vital pemilik kedai tersebut.
Suara pukulan terdengar disusul oleh suara teriakan dan suara logam jatuh ke tanah. Ia berjalan mundur agar tubuhnya tak bisa diraih oleh pemilik kedai itu. "Malam ini mungkin ia bisa selamat, tapi malam-malam berikutnya belum tentu ia bisa selamat!" kalimat itu melayang dalam pikirannya. Tanpa pikir panjang ia mengambil pisau yang ada di atas tanah. Melayangkannya dengan membabi buta. Teriakan dan makian terdengar begitu nyaring di telinganya.
"Mau kemana kau bocah sial !" ujarnya dengan suara serak.
Dengan sisa-sisa tenaganya ia mencoba menarik kakinya. Tarikannya yang begitu kuat membuatnya terhuyung ke belakang. Gadis kecil itu berlari menuju cahaya remang-remang. Tubuhnya terhuyung-huyung karena memar di sekujur tubuhnya. Cahaya remang-remang menyinari tubuhnya, betapa terkejutnya ia melihat seluruh telapak tangannya bersimbah darah. Ia terjatuh ke atas tanah, tangannya melepas pisau yang sedari tadi ia genggam dengan erat.
Seorang laki-laki tinggi berseragam rapih layaknya seorang bangsawan, berjalan kearahnya. Pertanyaan datang bertubi-tubi memenuhi sel otak gadis kecil itu. Membuatnya cukup sibuk hingga matanya tak kunjung terpejam. Ia mengamati wajah laki-laki yang kini tengah bersimpuh dengan satu kaki yang masih terangkat. Ia berusaha sekuat tenaga untuk melarikan diri dari laki-laki itu. Tapi tenaganya telah terkuras habis dalam pertempuran mematikan beberapa waktu lalu.
Wajahnya begitu tampan. Bola matanya yang berwarna biru laut senada dengan rambutnya yang panjang sampai di atas bahu. Rambutnya yang setengah tergerai melambai mengikuti hembusan angin. Hidungnya sangat mancung, tapi tidak besar. Terdapat bekas luka panjang dari dahi sebelah kiri hingga alisnya. Luka itu tidak menutupi ketampanan di wajahnya, melainkan seperti membuka kesan gagah perkasa. Tubuhnya terlihat sangat proposional, meskipun dibalut dengan jas biru laut tanpa kancing yang dikaitkan dan sebuah rompi biru laut yang menutup rapih tubuhnya.
Untuk pertama kalinya gadis itu bertemu dengan Aldrich Éclair. Tanpa sepatah katapun ia mengangkat tubuh gadis cilik yang sudah tak berdaya, menaruhnya dalam dekapan tangan yang begitu hangat malam itu. Tidak ada kata ataupun gerakan dari tubuh gadis cilik yang menolak perlakuannya. Ia membawanya masuk ke dalam sebuah mobil mewah, mendudukkan gadis cilik itu di atas pangkuannya.
Mobil mewah itu memasuki pelataran dengan gerbang utama yang begitu tinggi menjulang. Beberapa orang penjaga berdiri menjaga gerbang itu. Beberapa meter dari gerbang terdapat sebuah gazebo besar dengan pilar berwarna putih. Mobil terus melaju melewati perkebunan dengan warna-warni dari bunga-bunga yang sengaja di datangkan dari pelosok negeri. Tidak jauh dari kebun itu sebuah kolam air mancur dengan patung-patung orkes di tengahnya. Dari alat musik mereka keluar sebuah air yang mengalir sangat deras.
Di ujung pelataran berdiri bangunan megah dengan luas yang begitu lapang. Perpaduan dari gaya klasik dan modern dalam eksterior memancarkan harmonisasi yang membuat rumah itu begitu indah dan mempesona. Terdapat tiga lantai dengan beberapa balkon di lantai dua dan tiga. Dari balkon lantai dua berdiri gagah dua buah anak tangga yang sengaja dibentuk setengah putaran. Setiap sisi bangunan dilengkapi dengan jendela lengkung yang begitu besar. Setelah menaiki tangga melingkar, berdiri sebuah pintu berukuran besar menjulang tinggi dengan aksen kayu berwarna coklat.
Sekumpulan laki-laki berjas hitam dengan dasi berwarna merah, mengenakan kaca mata hitam berdiri menyambut.
"Selamat datang Tuan Besar Éclair, selamat datang Nona Muda" tabik mereka. Yang diberi salam hanya diam tetap melangkah. Seorang kepala pelayan datang menghampiri, dengan niat membantu Aldrich Éclair menggantikannya mengangkat tubuh gadis kecil itu.
"Tidak Fernandez! Biarkan aku saja. Dimana Lynelle?" tolaknya secara halus tanpa berhenti melangkah.
"Nyonya besar berada di kamarnya ia sudah tertidur, Tuanku." jawab pelayan tersebut mengekor di belakang.
"Panggilkan dokter Gomer segera! Pastikan ia datang malam ini. Antarkan ia ke kamar V." perintahnya.
"Baik Tuanku." jawabnya sambil memberi tabik, ia melangkah mundur.