V

V
<[ EPISODE 38 ]>



"Apakah semuanya sudah siap?" tanya Cole Harvey pada Antoine Richardo, sahabat karibnya yang juga merangkap sebagai sekretaris pribadinya.


"Ya, Direktur Harvey. Semua yang dibutuhkan sudah saya persiapkan dengan baik." jawab Antoine sambil menunjukkan tas kulit berwarna hitam di tangan kirinya. "Kita bisa berangkat sekarang." katanya lagi.


Cole Harvey hanya menanggapi dengan anggukkan kepalanya. İa berjalan keluar ruangannya. Penampilannya begitu menawan dengan jas berwarna abu-abu yang dibuat khusus mengikuti lekuk tubuhnya. İa berjalan dengan begitu berwibawa. Senyumnya selalu mengembang setiap kali ada yang memberi hormat padanya. Seperti hari-hari sebelumnya Cole memang sengaja berdandan sebelum keluar dari ruangannya. Namun sehebat apapun ia menutupi keadaan fisiknya, tetap saja sinar matanya tidak dapat berbohong. Hari ini Cole terlihat pucat pasi walau ia menutupinya dengan riasan yang cukup tebal.


Cole berjalan lebih lambat dari biasanya, ia sedang berjuang menahan rasa pening di kepalanya. Sebisa mungkin ia tak membiarkan tubuhnya berjalan gontai. Antoine yang mengetahui pasti keadaan sahabatnya merasa begitu miris melihatnya terus-menerus menyiksa tubuhnya.


Cole Harvey merangsek dalam mobil sedan hitam miliknya. Seketika pening menghantam kepalanya lebih dahsyat dari sebelumnya. Cole Harvey tak berkata sepatah katapun, ia hanya diam memandang pada jendela di sisinya. İa tak sedikitpun membiarkan matanya terpejam begitu lama selain berkedip. Pikirannya melayang-layang meninggalkan tubuhnya. Sesekali ia tersenyum dengan apa yang dipikirkannya.


"Nyx?" panggilnya sambil tersenyum. Antoine ataupun mereka yang berada di dalam mobil tak menggubris apa yang dikatakan Cole Harvey. Mereka membiarkannya, sebab mereka tahu mereka tak bisa mengobati kerinduan tuan mereka pada kekasih hatinya. Mereka tahu dengan pasti bahwa rasa cinta tuan mereka sudah begitu mendalam, jadi sekuat apapun mereka berupaya membuat tuan mereka lupa pada kekasihnya semua itu hanya akan sia-sia.


Cole mengangkat tangannya di sela-sela jendela, menumpu kepalanya yang perlahan terasa semakin berat. İa merasakan panas dari suhu tubuhnya melalui jemari-jemari yang menyentuh kulitnya. Tapi ada panas selain demamnya yang semakin tinggi membakar tubuhnya, rindunya semakin memanas, "Nyx. Aku masih merindukanmu. Sangat merindukanmu." katanya lagi dengan suara yang mulai serak.


Entah sudah berapa miliar air mata yang Cole teteskan setiap kali ia merindukan Magaly Nyx. Tangisnya tak pernah mereda setiap kali ingatannya kembali pada satu titik. Demam yang ia rasakan saat ini tidak sebanding dengan gigil yang selalu merasukinya setiap kali ia mengingat apa yang telah ia rencanakan terpaksa bertempat pada masa lalu. Namun ia tak peduli dengan kenyataan, ia masih tetap setia menunggu sesuatu yang begitu mustahil untuk kembali pulang.


Pada cinta segala keegoisannya dimusnahkan dalam sekejap. Tak ada lagi penganut paham egoisme menyertai dirinya, sebab cinta berhasil membuatnya luluh dan tunduk pada hakikatnya. Keangkuhannya diberangus tanpa permisi, agar ia tak semakin pongah menganggap dirinya yang paling berarti.


"Direktur? Kau belum makan siang bukan?" tanya Antoine menyerahkan kotak makan yang memang sengaja ia bawa. "Di dalamnya ada ..."


"Apakah kau membawa roti selai milikku?" potong Cole.


"Tubuhmu membutuhkan asupan yang bergizi! Kau bisa memakan rotimu setelah memakannya."


"Tidak, aku hanya ingin roti selaiku."


Antoine menghela napasnya dengan begitu kasar. Memberikan kotak makan lainnya yang berisi roti selai milik Cole Harvey. Memang akhir-akhir ini Cole Harvey sudah mau membiarkan makanan masuk ke dalam mulutnya, tapi itu hanya untuk roti selai! İa tak mengizinkan makanan lainnya untuk masuk ke dalam mulutnya. Sebab bagi Cole, roti selai membuatnya merasakan kehadiran Magaly Nyx.


"Terima kasih."


"Ya, sama-sama."


Cole memakan roti selainya sambil kembali menatap jendela. Menikmati roti selainya sambil kembali bernostalgia.


✌•✌•✌


Di kantor pusat Light Èclair, Aldrich Èclair sedang duduk bersama dengan kolega bisnisnya di ruang rapat. Mereka sedang sibuk menandatangani sebuah kontrak kerjasama. Aldrich Èclair menyerahkan surat perjanjian yang telah ditanda tangani kepada Tom untuk di simpannya.


"Senang bekerja sama dengan anda, Tuan Èclair." kata kolega bisnisnya setelah keduanya bangkit. İa menjulurkan tangan kanannya pada Aldrich. Sudut bibirnya terangkat, mendoktrin siapapun yang melihatnya untuk membalas senyumannya.


"Ya, saya juga merasa begitu bangga bisa menerima kepercayaan yang begitu besar dari anda, Tuan Harvey." balas Aldrich Èclair sekaligus menyalami kolega bisnisnya yang tak lain adalah Cole Harvey.


"Jika anda tidak keberatan, saya ingin mengajak anda untuk makan malam bersama saya." ajak Cole Harvey. Mengajak kolega makan bersama sudah menjadi adat istiadat dalam berbisnis, jadi Cole tidak pernah melupakan mengajak setiap koleganya untuk makan bersama.


Belum sempat Aldrich Èclair menjawab, perhatiannya teralihkan saat mendengar suara dering telepon masuk. Aldrich menatap pada Tom yang berdiri di belakangnya, isyarat bertanya siapa yang menghubunginya.


"Nona muda yang menelpon, Presedir." jawab Tom menyerahkan ponsel yang berdering pada Aldrich.


"Ah, maafkan aku." kata Aldrich Èclair pada Cole Harvey. İa tak menunggu perizinan dari Cole, tangannya sudah lebih dulu menggeser layarnya.


"Ya, sayang." seru Aldrich Èclair menjawab telepon. "Tidak, Papah tidak sedang sibuk." katanya lagi sambil melenggang pergi meninggalkan ruangan.


Cole Harvey menatap punggung Aldrich Èclair yang semakin lama semakin menjauh darinya. İa melihat sosok Ayah hebat yang begitu mengutamakan kepentingan anaknya daripada pekerjaan. Seakan Aldrich Èclair tidak takut akan kehilangan pekerjaannya. İa lebih takut kehilangan anak-anaknya daripada pekerjaannya. Cole merasa jika Aldrich Èclair pantas menjadi seorang panutan bagi keluarganya. İa pun akan merasa begitu beruntung jika memiliki sosok Ayah seperti Aldrich Èclair.


Saat kecil Cole Harvey hanya melihat punggung Papahnya yang sibuk dengan pekerjaan. Sedangkan Mamahnya sibuk dengan urusan sosialita kalangan atas. Kedua orang tuanya selalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing, tanpa sedikitpun mempedulikan masa pertumbuhan Cole. Mereka merasa menitipkan Cole pada seorang pengasuh merupakan tindakan yang benar, sebab kebanyakan rekan mereka pun melakukan hal yang sama. Tak salah jika ia selalu merasa asing dengan kedua orang tuanya. Sebab mereka hidup pada dunia mereka masing-masing.


Tanpa diketahui oleh siapapun Cole mulai meneliti bagaimana cara mengelola uang, ia memulai dengan mempelajari siklus perputaran uang di bank. Merasa tertarik ia mulai mengumpulkan uang pribadinya. Sebelum membuka rekening di salah satu perusahaan sekuritas atau broker, Cole membuka rekening di salah satu bank swasta untuk tempat penyimpanan uang keduanya. Saat umurnya mencapai dewasa, ia menginvestasikan seluruh tabungan miliknya di kantor Bursa Efek. İa berhasil memiliki 40 lot saham di salah satu perusahaan go public, dengan harga beli jika dirupiahkan mencapai Rp. 35.000 perlembar.


Awalnya ia berpikir untuk memulai dari risiko terendah di reksadana saham. Namun pikiran gilanya tergiur dengan keuntungan investasi saham, yakni pendapatan dividen -bagian keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham- tiap bulan. Jadi tidak hanya keuntungan dari harga saham yang bisa ia peroleh tiap bulannya, melainkan pendapatan dividen juga bisa ia dapatkan. Pendapatan perbulannya nanti bisa ia gunakan kembali untuk memutar uang.


Cole Harvey tidak hanya memikirkan keuntungan yang akan diperolehnya saja, ia juga menimbang-nimbang kerugian yang akan ia dapat. Apalagi risiko fluktuasi harga pada investasi saham lebih tinggi hingga puluhan persen dalam hitungan hari. Sebab Manajer İnvestasi tidak diwajibkan untuk melakukan diversifikasi seperti di reksadana.


Selain fluktuasi ia juga akan dikenakan pajak final jika memilih investasi saham. Perhitungan pajaknya adalah 0,1 persen atas nilai penjualan saham yang sudah termasuk dalam biaya penjualan. Sedangkan atas dividen yang diterima, Cole juga akan dikenakan pajak final sebesar 10 persen dan sudah dipotong pada saat pembayaran.


İnvestasi saham membuat Cole harus lebih mengakrabkan diri pada waktu. Sebab jika ia menginginkan hasil yang tinggi, ia tak bisa mendapatkannya secara instan hanya dengan sembilan bulan atau setahun. Jika dilihat dalam jangka pendek, maka fluktuasinya cenderung radikal dimana naik turunnya nilai saham terlihat terjadi begitu cepat. Sebaliknya dalam jangka panjang, fluktuasi nilai saham walaupun mengalami kenaikan dan penurunan, namun terus bergerak naik dengan tren meningkat.


"İa sosok Ayah yang begitu menyayangi anak-anaknya." puji Cole Harvey.


Tom tersenyum ramah mendengar Cole Harvey memuji tuannya. "Presedir memang begitu mencintai keluarganya. Walaupun mereka jarang bertemu, Presedir selalu mengusahakan untuk tetap menghubungi keluarganya walaupun hanya untuk beberapa detik."


"Ya, aku sudah mendengar berita itu dari salah satu kolegaku. Kudengar Tuan Èclair pernah membatalkan seluruh agenda pentingnya demi melihat keadaan putri sulungnya."


"Ya, saat itu Nona Muda mengalami kecelakaan yang cukup parah. Nona sampai mengalami trauma hebat karenanya, sehingga Presedir terpaksa menghapus sebagian ingatannya demi mental Nona." jelas Tom membenarkan.


"Benarkah? Lalu bagaimana keadaannya sekarang?"


"Keadaan Nona Muda perlahan berangsur membaik. İa kini sudah bisa beraktivitas seperti biasanya."


"Syukurlah jika begitu."


"Kalian membicarakan apa?" tanya Aldrich Èclair yang tiba-tiba muncul dari pintu masuk.


"Tuan Harvey sedang memuji anda, Presedir. İa bilang anda begitu memperhatikan keluarga anda." jelas Tom.


Aldrich Èclair tersenyum. "Maafkan aku Tuan Harvey. Aku tak bisa menerima tawaranmu, sebab isteriku sudah menyiapkan makan malam untukku. Dua jagoan kecilku menginginkan aku tiba di rumah lebih cepat malam ini."


"Tidak apa-apa Tuan Èclair. Justru saya yang merasa tidak enak menahan anda lebih lama di sini. Kalau begitu saya pamit undur diri dulu." katanya sambil tersenyum. "Senang bisa bertemu dengan anda, Tuan Èclair." tambah Cole mengulurkan tangan kananya.


Aldrich Èclair menyambut uluran tangan Cole, "Senang bertemu denganmu, Tuan Cole. Mari ku antar."


Bersambung ...








✌•✌•✌•✌•✌


Salam hangat,


Leo & Tata