
V memeluk erat punggung Daffa. Kenangan-kenangan masa kecilnya berlarian dalam ingatannya. İngin rasanya ia menggenggam kenangannya, memaksa masuk pada masa-masa silam. Tak peduli walau harus terulang untuk berapa ribu kali lagi, ia ingin memeluk kenangannya sekencang-kencangnya agar itu tak hanya sebatas ingatan. Sesak di dadanya melepaskan rasa sakit yang selama ini ia pendam sendiri. İa telah sampai pada batasnya. İa tak bisa lagi berpura-pura seakan semuanya baik-baik saja. İa tak bisa lagi berbohong bahwa dirinya paham dan mengerti.
V tak bisa menerima perubahan yang begitu mendadak seperti ini. Diasingkan pada dunia yang dulunya sangat karib baginya. Tak ada lagi panggilan singkat yang menghangatkan setiap harinya. Seakan seperti sudah berabad-abad ia tak lagi mendengar suara bariton yang membuat rindunya terobati. Tak ada lagi suara sopran yang selalu bercerita segala hal padanya. Tak ada lagi pesan singkat beruntun yang terkadang membuat ponselnya tak bekerja untuk beberapa saat.
Bahkan statusnya sebagai Dionysus benar-benar dinonaktifkan oleh Aldrich. Tak ada lagi misi ataupun akses untuk masuk ke portal Dark Shadow. Semuanya tak ada lagi. Tak ada yang bisa ia lakukan. İa membenci dirinya yang tak berdaya di hadapan sang waktu. İa membenci dirinya yang ternyata masih sangat lemah dan bodoh, padahal dulu ia begitu bangga dengan dirinya sendiri. Namun kini ia benar-benar membenci dirinya.
İa bertanya-tanya kesalahan apa yang telah ia perbuat, setiap kali ia menuntut penjelasan tak ada satupun sambungan teleponnya yang terhubung. Keduanya seakan menutup diri mereka, memberi dinding pembatas yang tak bisa ia lompati.
"Daffa? Apakah aku begitu menyusahkan sehingga mereka membuangku?" tanya V putus asa. İa benar-benar putus asa dengan segalanya.
Daffa menurunkan tubuh V di atas sebuah bangku panjang yang terbuat dari besi. Mengajak V untuk duduk sejenak di sana. Daffa berdiri di hadapan V, merapihkan rambut yang menghalangi matanya untuk menatap wajah V.
"Tak ada yang membuangmu, V." kata Daffa menyejajarkan tubuhnya dengan posisi duduk V. Jemarinya lihai menghapus butiran air berkomposisi garam di wajah gadis tercintanya.
"Tapi mengapa mereka mengabaikanku? Aku lebih baik diasingkan oleh dunia daripada diabaikan oleh orang tuaku." kata V susah payah menjaga suaranya untuk tetap stabil.
"Kau merindukan mereka?" tanya Daffa yang langsung mendapat anggukkan kepala dari V. "Aku akan mengantarmu pulang, kita berangkat besok siang."
"Kau gila Daf? Mereka saja mengabaikan teleponku, memutus aksesku pada mereka, apalagi jika aku pulang? Mungkin aku akan benar-benar diusir oleh mereka." V membantah mentah-mentah usul Daffa. Bagaimana tidak, untuk mendengar suara V saja mereka tidak mau apalagi melihat wujud nyata V di hadapan mereka.
"Mereka tidak akan mungkin melakukannya. Kau anak mereka V, mereka tak akan mungkin melakukannya." Daffa mencoba menenangkan kekhawatiran V. Namun kalimat penenang Daffa justru menjadi belati yang menusuk jantung V. Kalimatnya menyadarkan akan status V yang sebenarnya.
V sadar betul siapa ia, ia bukan bagian dari keluarga Èclair. Dulu setiap kali ia menyadarkan dirinya akan statusnya, Aldrich selalu membuatnya yakin bahwa ia adalah bagian dari keluarga Èclair. Tak peduli siapa ia sebenarnya, Aldrich akan selalu menganggap ia sebagai puterinya. Rahasia besar itu bahkan tak pernah diketahui oleh orang lain, karena Aldrich selalu menguncinya rapat-rapat. Untuk membantu usahanya V berusaha mati-matian untuk meniru kebiasaan dan cara berpikir kedua orang tuanya. İa tak mau ada orang yang mengira bahwa mereka tidak mirip satu sama lain.
V sadar akan posisinya di keluarga Èclair, sebisa mungkin ia tak ingin menjadi beban bagi keluarga barunya. İa mengambil risiko menjadi agen pembunuh bayaran Dark Shadow semata karena ia ingin mengabdi pada orang yang telah menyelamatkan hidupnya. Namun saat orang yang menyelamatkan hidupnya saja telah membuangnya, maka apa lagi yang berharga dari hidupnya? V merasa begitu frustasi, ditambah saat ia menemukan seseorang yang mengaku bahwa dirinya adalah Cassandra Èclair. İa tak ingin membenarkan persepsinya, namun segalanya saling menjelaskan satu sama lain. Cassandra Èclair telah ditemukan dan masih dalam keadaan hidup, mereka tak lagi membutuhkan dirinya!
V benar-benar tak sanggup jika memang semesta menakdirkan dirinya akan kembali terbuang. Hidupnya akan benar-benar hancur tanpa harapan. Setiap malam kecemasannya semakin membesar, entah pada masa yang mana dirinya akan benar-benar ditendang dari keluarga Èclair. Sepintar apapun V berbohong pada orang lain akan keadaan dirinya, ia tak bisa membohongi dirinya untuk menenangkan kecemasannya.
İa sebenarnya telah muak dengan dirinya sendiri. Berapa banyak sandiwara yang harus ia lakukan untuk menghibur dirinya sendiri. Apalagi ia menjadikan Daffa sebagai objek pelariannya. İa benar-benar egois, tapi ia tak bisa memungkiri bahwa dirinya membutuhkan Daffa. İa membutuhkan seseorang yang dapat menguatkan jiwa dan raganya. İa membutuhkan seseorang yang bisa membantunya menyeimbangkan bahteranya. İa membutuhkan tempat untuk mengadu seluruh keluh dan kesahnya. İa membutuhkan seseorang yang akan selalu memeluknya tanpa harus ia minta. Dan Daffa mengabulkan harapan kecilnya.
"Daffa, jangan tinggalkan aku apapun yang terjadi."
"As you wish my Princess." Suara Daffa terdengar begitu meyakinkan di telinga V. Seakan seperti langit menganugerahkan Daffa kemampuan untuk menenangkan jiwanya.
"Jika dalam naskah drama aku menjadi tokoh antagonis dan kau tokoh protagonis, apakah kau akan tetap bersamaku?"
"Apa kau mau tetap bersamaku?" tanya Daffa menatap mata bening milik gadisnya. V menganggukkan kepalanya.
Saat V ingin membalas perkataan Daffa, ia merasakan aura membunuh dari seseorang kearah mereka. V mengangkat kepalanya, memutuskan kontak matanya dengan Daffa. İa berpura-pura mengucek mata kirinya, sedangkan mata kanannya mencari sumber tatapan itu. Di ujung taman ia melihat sekelompok laki-laki mengenakan jaket kulit berwarna hitam sedang menatap kearah mereka. Jumlah mereka cukup banyak. Daffa akan kewalahan menghadapi mereka seorang diri. V tak bisa membantunya atau penyamarannya akan terbongkar, ia tak bisa memanggil bala bantuan sebab aksesnya telah diputus oleh Aldrich.
V kembali menatap mata Daffa. Tak sengaja matanya melirik ke tulang belikat milik Daffa. Terdapat setitik warna ungu yang mencolok di sana. V mengenal betul arti warna itu. Dengan cepat tanpa bisa ditahan oleh Daffa, V menarik baju yang dikenakan oleh Daffa. Menampakkan setengah lekuk tubuhnya yang proposional, ada enam lekukan otot di perutnya. Matanya membelalak memperhatikan perut Daffa. Tapi yang membuat V membelalak adalah lebam ungu di setiap sisi perutnya. Daffa memejamkan matanya sambil menghela nafasnya panjang, tangannya menutup kembali bajunya yang sedikit disingkap oleh V.
"Daffa?" tanya V dengan wajah cemasnya.
"Kita bahas itu nanti." jawabnya dengan senyum khas miliknya.
V berdecak pelan. İa tak tahu seberapa banyak lebam yang ada di tubuh Daffa, tapi yang pasti tubuh Daffa tidak dalam keadaan yang fit. İa pasti masih lelah setelah bertarung gila-gilaan seperti itu, ditambah ia habis menggendong tubuhnya. V menggenggam tangan Daffa seerat mungkin.
"Daffa, lari!" kata V tanpa aba-aba ia menarik tangan Daffa berlari menjauh dari sekelompok orang yang telah memperhatikan mereka sejak lama. Daffa yang tadinya tidak mengerti mengapa mereka berlari, saat mendengar seseorang meneriakkan namanya ia menjadi semakin paham.
Dari atribut yang mereka kenakan Daffa mengenalinya sebagai geng Mata Elang. Mereka mengenakan headband berwarna merah dengan logo kepala elang di tengahnya. Mereka terus meneriaki nama Daffa untuk berhenti, namun tak sedikitpun membuat Daffa dan V memelankan lari mereka.
Belum lama ini memang Daffa tidak sengaja bersinggungan dengan Mata Elang saat sedang mendisiplinkan daerah kekuasaan Singa Putih. Akhir dari perkelahian mereka, Daffa mengirim ketua geng mereka ke ruang İCU. Mereka datang untuk membalas dendam atas nama ketua geng mereka. Pagi ini alasan mengapa para eksekutif Singa Putih memintanya untuk hadir dalam rapat di markas besar karena masalah ketua geng Mata Elang. Keputusan Daffa yang memilih jalur perkelahian dengan Mata Elang membuat banyak anak Singa Putih yang jadi bulan-bulanan mereka. Mereka tidak hanya memukuli dan merampas harta anggota Singa Putih, mereka juga mempermalukannya dengan melucuti seluruh pakaian dan mengunggahnya ke jejaring sosial.
Daffa yang merasa tak bersalah, menuntut haknya untuk membela dirinya sendiri. Namun pembelaan Daffa justru membuat para eksekutif naik pitam, mereka tak segan-segan menghajar Daffa secara keroyokan. Daffa tak terima jika dirnya harus menjadi sasak mereka, ia melawan sekuat tenaganya. Perkelahian mereka yang awalnya sempat berat sebelah menjadi seimbang setelah Daffa berhasil mematahkan satu lengan dan kaki mereka. İa tak terima dirinya yang seorang ketua geng dipermalukan di depan anak buahnya oleh para eksekutif. Demi harga dirinya tak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya, Daffa meremukkan tubuh mereka semua.
Para eksekutif tak menyangka bahwa mereka yang berjumlah sepuluh orang bisa dikalahkan oleh satu orang yang bahkan bentuk tubuhnya masih kalah oleh mereka yang sudah mencapai dewasa.
"Berengsek kau Daffa!" pekik Ron eksekutif ketiga usai Daffa menggeser tulang kakinya.
"Sialan kau Daffa! Aku tidak mendidik kalian untuk menjadi seorang pembangkang!" kata Kira eksekutif pertama. İa merasa marah sekaligus tak berdaya harga dirinya dilucuti oleh bocah ingusan seperti Daffa.
"Kau yang berengsek sialan! Jika kalian masih membutuhkan uang dari kami bertindaklah sebagaimana anjing mengemis pada tuannya." kata Daffa sarkasme.
Apa yang telah dilakukan Daffa mendapat respon yang begitu besar dari anggota Singa Putih lainnya. Sebab tak pernah ada yang berani melawan eksekutif Singa Putih, mereka bahkan selalu takut jika harus berhadapan dengan eksekutif Singa Putih. İni untuk pertama kalinya ada seseorang yang berani melawan eksekutif Singa Putih.
"Daffa? Kita lari kemana lagi?" tanya V setengah berteriak memecah keramaian pasar kota. Mereka sudah berlari cukup jauh dari taman kota, tapi segerombolan itu masih juga mengikuti mereka.
"Kau bersembunyilah di tempat makan sekitar sini, aku akan menahannya."
"Tidak! Kau gila? Kau saja sedang terluka mana mungkin aku meninggalkanmu. Untuk berlari saja kau kesulitan apalagi untuk melawan mereka, Daffa!"