V

V
<[ EPISODE 19 ]>




Seorang gadis tegontai-gontai berjalan di dermaga kargo. Penampilannya begitu kacau berantakkan. Banyak luka di sekujur tubuhnya. Tidak hanya luka, serpihan kaca menempel di kulit dan pakaiannya yang sudah terkoyak. Bajunya basah kuyup, karena beberapa menit yang lalu ia tercebur ke laut bersama dengan mobil sedan hitamnya.


Setelah usai menjalankan misi bersama teman-temannya di gedung Neo Technology kota Orion. Wanita yang dikenal dengan nama Golden Assasin ini mendadak diburu oleh sekelompok orang yang tak dikenalnya. Ia adalah wanita yang berbakat di organisasi Noir. Tapi karena bakatnya itu ia dianggap sebagai ancaman oleh organisasi.


Golden Assasin yang telah bekerja selama lima tahun sebagai seorang pembunuh bayaran, merasakan aura membunuh yang begitu kental datang ke arahnya. Sebisa mungkin ia berusaha menyelamatkan nyawanya dari para pembunuh yang akhirnya ia ketahui bahwa mereka adalah teman-teman seperjuangannya di organisasi.


"Terkutuk kalian semua." teriaknya tertawa terbahak-bahak. Ada nada kecewa keluar dari suaranya. Ia tak peduli jika mereka menganggapnya gila, karena memang ia telah gila karena dikhianati oleh orang yang paling ia percayai.


Ia kembali menghujani musuhnya dengan senapan yang tergantung di punggungnya. Ia berjalan mengendap-endap ke arah parkiran mobil. Baku tembak melesat dengan cepat. Anak peluru yang tidak berhasil menghujani tubuh, membuat lobang di dinding dan juga kaca mobil.


Amunisinya hampir habis, ia memecahkan kaca sebuah mobil sedan hitam di depannya. Ia menghubungkan kabel yang terlilit di bawah setir kemudi. Mesin mobil menyala, ia melaju mobilnya secepat kilat. Di belakangnya tiga buah mobil besar mengikutinya. Sesekali sengaja menabrak bagian belakang mobil, membuatnya terguncang.


Di sebuah jalan layang ia di kepung oleh pasukan organisasi. Karena tak ingin tertangkap ia melaju mobilnya sekencang mungkin melewati mobil sedan yang terhenti di depannya. Mobilnya melompat ke laut yang gelap diikuti oleh hujan peluru. Mobil tenggelam ke dasar lautan, membuat mereka merutuki kegagalan misi mereka. Dan membuat Golden Assasin tertawa bahagia, setidaknya ia tidak mati oleh tembakan peluru mereka.


Ia kembali mengingat-ingat kejadian yang baru menimpanya. Tak disangkanya bahwa Tuhan mendengar do'a terakhirnya.


'Oh Allah? Haruskah aku mati dengan cara seperti ini? Aku belum menebus seluruh dosaku, setidaknya biarkan aku memohon ampun kepada Ibuku. Saat ini, aku hanya ingin bertemu dengan Ibuku. Wanita yang rela menangis demiku, anak yang tak tahu diuntung ini. Pintanya sebelum akhirnya kesadarannya menghilang.


Golden Assasin tersadar dari pingsannya di pinggir dermaga. Jaket hitamnya tersangkut pada sebuah kayu panjang. Kayu panjang ini yang menyelamatkannya. Ia terkekeh mengingat-ingat do'a terakhirnya.


"Sepertinya aku benar-benar harus bersimpuh di kaki Ibuku saat pulang nanti." gumamnya.


Ia berjalan lunglai, dengan lemah berusaha melepas jaketnya yang basah dan menusuk-nusuh tubuhnya karena banyak pacahan kaca menancap di sana. Sesekali ia terjatuh karena kegelapan menyergapnya, membuatnya mendadak terasa pening.


✌✌✌


Dini hari pagi, Zac bersama pasukannya berjaga di dermaga. Tiga hari yang lalu, dermaga diserang oleh sekelompok mafia baru di kota Orion. Zac diminta oleh Aldrich Éclair untuk mengamankan pelabuhan Orion Star.


Semenjak tujuh belas tahun yang lalu, pelabuhan Orion Star telah diserahkan pengelolaannya kepada badan usaha swasta. Karena krisis uang yang sedang dihadapi Negara Z, pemerintah melepas beberapa aset negaranya untuk dikelola oleh badan swasta. Hal ini tentu untuk menghemat anggaran negara.


Negara bisa berhemat karena biaya investasi untuk pengembangan aset dan operasional akan ditanggung pihak ketiga yang menjadi pengelola. Negara tidak takut merasa rugi, sebab negara juga tetap mendapat kontribusi dari pengelolaan pelabuhan. Aldrich Éclair berjuang mati-matian demi mendapatkan proyek tender tersebut. Jalur laut akan membantunya dalam pendistribusian barang dagangannya ke penjuru negeri.


"Bos, seorang wanita dengan luka-luka ditemukan di lapangan peti kemas." lapor seorang anak buahnya. Zac membenarkan posisi headset bluethooth-nya.


"Amankan, saya akan ke sana." balas Zac berjalan cepat menuju lapangan tempat penyimpanan peti kemas.


Zac tiba di lokasi beberapa menit kemudian. Seorang laki-laki berbadan lebih kecil dari Zac -yang dikenal dengan nama Fred, memberikan sebuah medali emas dan juga kartu emas dengan tulisan berwarna silver padanya. İa begitu mengenali dua identitas itu. İdentitas yang membawanya kembali pada masa lalu.


Zac tertawa melihat gadis dihadapannya, "Si brengsek itu masih hobi mengeliminasi anak buahnya ternyata."


"Siapkan mobil, jaga wilayah ini selama aku pergi. Perketat penjagaan di beberapa titik dekat dermaga." perintah Zac tanpa mengalihkan pandangannya.


Ia masih menatap gadis di depannya, karena merasa senasib, Zac akan membawa gadis itu kesebuah motel. Ia tak mungkin membawanya ke rumah sakit, akan memudahkan organisasi untuk membunuh gadis ini.


Ketika ia sedang berjalan menuju mobilnya, ponselnya berbunyi. Nama 'Master Sialan' tertera di kolom panggilan. Zac mengangkatnya tanpa menunggu dering ke dua.


"Selamat malam Master, ada yang bisa ku lakukan untukmu?" jawab Zac dengan formalitasnya. Ia masih berjalan tanpa menghentikan langkahnya. Laki-laki yang lebih kurus darinya, Fred berjalan sambil menggendong tubuh gadis itu di pelukannya.


"Eh, kau ingin ke mana heh?" tanya Aldrich menyadari suara deru nafas Zac.


"Aku sedang berjalan ke sebuah motel, kami menemukan seorang gadis mantan anggota Noir. Sepertinya dia mengalami apa yang penah ku alami." jawab Zac santai masuk kedalam mobilnya setelah seorang laki-laki membukakan pintunya.


Fred masuk bersama gadis itu dipangkuannya, ia merasa sedikit risih karena gadis itu begitu dekat dengannya. Zac yang melihatnya mengabaikan suara Aldrich Éclair sesaat.


"Jika kau risih, letakkan saja wanita itu di bawah kakimu. Kau tak akan merasa risih lagi." saran Zac kepada Fred yang membuat Aldrich Éclair sedikit tercengang tak menyangka Zac masih begitu sadis. Tak lama kemudian terdengar suara tawa di balik telepon.


"Hei Master bedebah, apa yang kau tertawakan?" tanya Zac tersinggung ditertawakan oleh Aldrich Éclair.


"Hentikan tawa menjijikanmu Master sialan, cepat katakan apa yang kau inginkan atau aku akan mematikan teleponmu." ancam Zac tak main-main.


"Baiklah. Aku hanya ingin bilang setelah kau kembali dari kota Orion, bersiaplah pergi ke Asia bersama dengan V akhir musim ini. Aku akan mengirimnya sekolah di Asia dan kau yang akan menjaganya." jelas Aldrich Éclair kembali pada topik pembicaraan awalnya.


Mereka terlibat dalam pembicaraan yang menyulutkan emosi bagi keduanya. Hal yang wajar bagi Zac dan Aldrich berseteru setiap kali mereka berbincang-bincang. Jika bukan karena persahabatan mereka, Zac tidak akan mungkin mempedulikan setiap keputusan Aldrich Èclair. Dan Aldrich tidak akan membiarkan Zac bernafas hingga detik ini.


"Ahh Zac, selera humormu semakin hari semakin seperti lelaki lanjut usia yang sudah bau tanah. Cepatlah pulang sebelum malaikat maut tak sengaja menarik nyawamu. Aku merindukan mu." suara Aldrich Éclair terdengar begitu manis hingga membuat Zac bergidik karena geli dengan nada suara menjijikannya.


"Kau menjijikan Master sialan! Selera humormu bahkan lebih parah daripadaku brengsek! Enyah kau sana!" makinya menutup telepon. Nafasnya terengah-engah karena tak siap berteriak dalam satu tarikan nafas.


Semua orang yang telah mengenal Zac dan Aldrich Éclair selama bertahun-tahun, dapat mengerti apa yang terjadi dengan kedua atasannya. Meskipun terlihat begitu berwibawa tanpa celah, jika sudah saling berinteraksi di antara keduanya, naluri kekanakkan mereka secara tidak mereka sadari akan keluar dengan sendirinya. Perdebatan konyol mereka berdua terkadang menjadi hiburan cuma-cuma bagi para anak buahnya yang setiap hari selalu merasa tegang karena tekanan aura dari para atasannya.


Fred yang baru beberapa minggu bekerja dengan Zac menatapnya tak percaya. Ia penasaran seperti apa sosok Master dari Dark Shadow, kenapa Zac begitu berani bersikap tak sungkan seperti itu. Ia mulai membandingkan siapa yang lebih hebat, atasannya Zac, atau atasan dari atasannya Master yang lebih hebat.


✌✌✌


Zac merawat setiap luka-luka Golden Assasin di Motel yang telah ia pesan. Sudah tiga hari ia tak sadarkan diri. Sambil menunggunya sadar, Zac memantau keadaan dermaga melalui layar hologram dari ponselnya. Benar dugaan awalnya pasukan Noir berjaga di sekitar dermaga, mereka mencari keberadaan Golden Assasin.


"Aahhh." ucap sebuah suara yang memecah keheningan. Zac hanya memperhatikannya yang berusaha bangun tanpa membantunya.


"Siapa kau?" tanyanya yang menyadari keberadaan Zac.


"Zac." jawabnya singkat. Tak mempedulikannya, ia mulai sibuk mengemasi barang-barangnya.


"Apa yang terjadi padaku?" tanyanya memperhatikan keadaan tangannya dengan selang infus.


"Kau tak mengingatnya?" pertanyaan Zac mendapat gelengan kepala.


"Aku juga tak tahu. Kau sudah sadar, maka aku akan pergi." kata Zac yang sudah berdiri di ambang pintu. Ia telah mengemas seluruh barang-barang miliknya.


Golden Assasin yang melihat kepergian Zac mencoba mencegahnya. Setelah sadar dari pingsannya, ia kehilangan beberapa memori dalam ingatannya. Ia tak tahu mengapa, namun ia merasa, ia membutuhkan kehadiran Zac. Ia merasa aman hanya dengan keberadaan Zac di sisinya, "Kumohon jangan pergi."


"Alasannya?"


"Aku tak tahu, tapi aku merasa bahwa aku membutuhkanmu." kalimatnya membuat Zac tertegun. Ini bukan sikap yang seharusnya ditunjukkan oleh seorang pembunuh bayaran. Zac tak meragukan kehebatan gadis dihadapannya, tapi sikap ketidak waspadaannya membuatnya bertanya-tanya.


"Apakah kau ingat siapa dirimu?" tanya Zac penasaran.


"Aku Céllina Countess." jawabnya tampak berpikir.


"Apa kau tahu apa yang menimpamu tiga hari yang lalu?" tanya Zac menginterogasi. Ia tampak kebingungan, membuat Zac semakin yakin bahwa ia telah kehilangan ingatannya.


Tiba-tiba terdengar suara baku tembak dari luar Motel. Zac bertanya pada rekan-rekannya yang berada di luar, namun tak ada jawaban dari mereka. Zac menatap wajah Céllina yang membalas pandangan matanya dengan tatapan tak mengerti. Tanpa pikir sekali lagi, Zac melepas selang infus di tangan Céllina, mengangkat tubuh Céllina kedalam rengkuhannya. Ia keluar melalui jendela Motel.


Sebelumnya Zac telah mengamati secara menyeluruh bentuk bangunan Motel tempatnya bermalam. Kamar mereka berada di lantai dua, di bawahnya terdapat sebuah atap teras yang berbentuk cembung. Zac meluncur dengan Céllina dipelukkannya.


✌✌✌✌✌


Terima kasih untuk kalian semua yang udah ikutin cerita V hingga detik ini. Bagi kalian yang suka sama novel gw, kalian bisa klik, like di bar paling bawah. Kalo kalian gak suka atau merasa ada yang ganjil, kalian bisa tulis kritik dan saran kalian di kolom komentar.


Seseorang pernah bilang sama gw Writing is Loving, gw gak ngerti maksud dia apa tapi karena janji gw sama dia untuk terus menulis jadi gw masih terus menulis hingga detik ini. Cerita V awalnya gw persembahin untuk dia, karena janji kecil kita yang kadang buat gw ketawa sendiri. Tapi karena ada suatu hal yang buat gw, ah bukan gw tapi dia gak mampu merealisasikannya, jadi cerita gw gak bisa sampai di tangan dia. Sekarang gw persembahin karya gw untuk kalian semua yang dengan tabah mau baca cerita aneh gw.


Mohon maaf gw emang suka jadi melankolis kalo bahas masa lalu.


Salam hangat gw,


-L.E.O