
"Master, aku telah mengumpulkan beberapa titik wilayah yang menjadi tempat mereka melakukan aksi. Kota Mars, Yupiter, dan Venus. Dari ketiga kota itu mereka hanya bermunculan di satu titik daerah, Mars di jalan Awan, Yupiter di jalan Bulan, dan Venus di jalan Meteor." jelas Tom.
"Seperti dugaan Master sebelumnya, mereka sindikat terpisah. Tidak memiliki hubungan antar wilayah. Sindikat yang berada di kota Mars menjadi pelopor dalam mengatas namakan Dark Shadow untuk memperlancar aksi mereka. Kemudian disusul dengan kota Yupiter dan Venus." tambah Alice.
"Baru-baru ini aku telah mendapatkan informasi, yang membenarkan mereka saling terhubung satu sama lain. Kota Mars menjadi pelopor tindakan ini, karena kita tidak melakukan tindak lanjut maka mereka membuat cabang di kota Yupiter dan Venus. Tindakan mereka di kepalai oleh satu orang bernama Joe Raymond. Ia dikenal sebagai gangster SMA Angkasa." tukas UMR.
"Kau memata-matai mereka tanpa seizinku? Kau dibebas tugaskan dari misi ini, kenapa kau turun tangan tanpa perintahku?" tanya Aldrich Éclair menatap tajam kearah UMR. Membuat yang lainnya terkejut.
UMR segera bangkit dari duduknya menundukkan kepalanya, "Maafkan aku Master. Aku bersedia dihukum."
Aldrich Éclair berjalan kearahnya. Tatapannya masih menusuk, "Tegak!" teriak Aldrich Éclair. UMR menuruti perintah Aldrich Éclair. Satu pukulan melayang ke wajah UMR membuatnya tak sadarkan diri di lantai. Tak ada yang berani beranjak dari kursi mereka. Semua diam tertunduk menatap meja.
Aldrich Éclair kembali duduk di kursinya, "Hancurkan sindikat ini dalam waktu satu malam!" perintahnya.
"Siap, laksanakan Master." ucap mereka serentak.
"Sebelum menutup rapat, aku ingin memperkenalkan anggota baru Dark Shadow dan dia yang akan memimpin kalian menyerbu sindikat ini." ujar Aldrich Éclair menatap kearah V, "Apa nama kodemu? Kau harus memiliki nama kode, agar tidak mencampur adukkan identitasmu yang satu dengan yang lainnya."
V diam sebentar berpikir nama apa yang cocok untuknya, "Dionysus! Nama kode ku Dionysus." balas V cepat penuh keyakinan.
"Baiklah Dionysus, selamat bergabung di Dark Shadow. Bersumpahlah bahwa kau akan tetap menutup mulutmu, jika masalah terjadi pada dirimu. Bersumpahlah bahwa kau akan menganggap Dark Shadow sebagai keluargamu. Bersumpahlah bahwa keluarga di atas segalanya. Bersumpahlah bahwa kau tidak akan menghianati keluargamu hingga akhir hayatmu."
"Aku bersumpah demi langit dan bumi bahwa aku akan menjaga kerahasiaan Dark Shadow, menjadikan saudara-saudaraku sebagai keluargaku, bersumpah bahwa keluarga di atas segalanya, bersumpah setia hingga akhir hayatku."
Mereka menyambut Dionysus dengan begitu riang dan terpukau sebab tidak menyangka bahwa Nona Muda Éclair akan menjadi Nona Muda Dark Shadow. Malam itu seluruh keluarga Dark Shadow di kota Yupiter merayakan pengangkatan Dionysus sebagai anggota. Sebuah tradisi yang tidak akan pernah terlupakan, dan akan terus dijalani turun temurun. Hal ini untuk memberi kesan pertama kepada anggota baru bahwa setiap anggota adalah saudara bagi anggota yang lainnya.
Dionysus kini memiliki dua identitas yang sama-sama harus disembunyikan. Hubungan di antara ke-duanya tidak boleh sampai terlihat. Terlalu beresiko jika Dionysus tetap menggunakan karakternya sebagai V Éclair. Pada perannya di dunia bawah tanah, V membunuh habis segala bentuk afeksi yang akan menjadi kelemahannya. Dionysus akan melakoni tokoh antagonis yang jatuh cinta pada kekerasan. Demi menyukseskan pentas drama ini, ia akan menjalankan perannya sesuai skenario.
Seusai pesta ia tidak langsung tidur, melainkan bersiap-siap untuk memimpin penyerangan di kota Yupiter. UMR membantunya mengubah penampilannya sebagai Dionysus. Dionysus tengah mematut di depan cermin. Ia tampak berbeda dari biasanya, wajahnya menatap dingin pada dirinya di depan cermin. Ia mengenakan bandeau berwarna hitam dengan celana bermuda di atas lutut. Agar tubuhnya tidak terekspos secara sempurna, ia mengenakan coat hitam dengan tudung di kepalanya. Ia sedikit terganggu dengan penampilannya saat ini. Sudah dua puluh tiga kali ia mencocokkan pakaian yang sesuai seleranya, namun tidak ada yang sesuai. Ketika ia ingin mencoba baju yang ke dua puluh empat, kamarnya di ketuk tiga kali dari luar. Menandakan bahwa lima menit lagi mereka akan berangkat.
"Aishh!" keluh V mengacak-acak rambutnya frustasi.
Ia menyambar sisir di atas meja rias, menguncir kuda rambut panjangnya. Tangannya lihai memasang dua anting panjang berbentuk sebuah pedang berwarna silver dipadukan dengan warna hitam. Di anting itu terukir sebuah tulisan "Dark Shadow". Di lehernya telah terlilit kalung choker berwarna hitam dengan bandulan berbentuk pedang. Bandulan itu berisi alat perubah suara yang dapat di sesuaikan secara otomatis. Ia memakai sepatu sneakersnya, karena menurutnya sepatu ini lebih nyaman dan fleksibel dalam bergerak.
"Nona Muda, ini saatnya kita berangkat." Suara Alice terdengar dari luar mengingatkan.
Sebelum pergi Dionysus menatap dirinya lamat-lamat di depan cermin. Ia perhatikan lekuk wajahnya yang beberapa menit lagi akan membelah diri seperti amoeba. Ia meyakinkan dirinya sekali lagi bahwa apa yang ia pilih, adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan.
Pukul dini hari pagi di jalan Bulan. Sebuah gedung tua tak berpenghuni dicurigai sebagai markas mereka bersembunyi. Langit begitu indah dengan pesona bintang yang berkilauan bagaikan intan berlian. Rembulan tak berani tampak, pesona bintang membuatnya tak percaya diri. Meski begitu pesona bintang tidak membuat gentar Dark Shadow untuk menunjukkan taringnya. Mereka telah mengepung markas. Semua pasukan telah siap di posisi masing-masing.
Ketika malam hari lampu pelataran rumah memang sengaja dipadamkan untuk menutupi aktifitas mereka. Rumah tua yang terisolasi dari wilayah perumahan memang menjadi tempat yang cocok bagi markas rahasia sindikat kejahatan. Tim Alfa telah berhasil menerobos pagar, mengalahkan para penjaga gerbang dengan senyap. Menyelinap memasuki pekarangan dengan mengendap-endap. Mereka menghajar habis para penjaga di pekarangan tanpa menimbulkan satu suarapun. Pintu raksasa masih tertutup rapat. Suara musik dapat terdengar dari dalam, tampaknya mereka sedang melakukan sebuah pesta.
Sky -ketua tim Alfa- telah melaporkan jalur depan dan belakang telah diamankan. Kini giliran Tim Bravo menyusup melalui pintu belakang gedung. Untuk mengecoh lawan, Dionysus menjadikan Tim Bravo sebagai umpan agar mereka berkumpul di jalur belakang. Kemudian menekan mereka dengan kekuatan Tim Charlie dari depan.
Baku hantam telah meledak di bangunan tua itu. Mereka hanyalah sekumpulan preman yang menjadikan pemerasan dan pencurian sebagai mata pencarian. Berbeda dengan Dark Shadow yang telah menguasai pasar ilegal dengan bisnis pembuatan senjata api, dan jasa pembunuh bayarannya. Kekuasaannya telah berhasil menundukkan dunia mafia di benua Eropa. Walaupun satu peleton pasukan Dark Shadow bersenjata api, mereka tidak sepengecut itu bertarung melawan musuh yang tanpa senjata api.
Joe Raymond bertarung melawan Dionysus secara individu. Ia benci mengakui kekalahannya melawan Dionysus. Meskipun tahu ia tidak akan menang melawan Dionysus, tapi tidak membuatnya berhenti menyerang. Kebenciannya semakin mendalam karena ia kalah dengan anak kecil yang ia tebak masih duduk di bangku dasar.
Joe Raymond membuang ludahnya setelah sebuah tendangan berhasil menyentuh pipinya, "Cuhh, siapa kalian? Aku tak pernah mendengar tentang kalian." tanyanya penasaran.
"Kau mengenal kami cukup baik. Tapi kami tidak ingin membuang-buang waktu untuk mengenal sampah seperti kalian." jawab Dionysus dingin.
Kalimat Dionysus berhasil menyulut emosi lawan. Pukulan demi pukulan datang membabi buta. Kali ini Dionysus benar-benar mematahkan kaki Joe Raymond. Suara erangan terdengar keras.
"Bedebah kecil! Kau mematahkan kakiku." keluhnya.
"Ya, dan yang memalukannya lagi kau kalah melawan bedebah kecil." jawab Dionysus ringan dengan nada arogan.
"Dengarkan baik-baik." katanya semakin angkuh, "Aku Dionysus tangan kanan Master Dark Shadow." kata-katanya bagaikan petir yang menyambar Joe Raymond.
"Ah, maafkan aku yang melupakan sopan santunku dihadapan ketua gengster SMA Angkasa, Joe Raymond." ucapnya memberi tabik. "Biarkan aku memberimu hadiah atas ketidak sopananku,"
Dionysus menatap wajah Joe Raymond lekat-lekat. Menatap seluruh anak buahnya yang kalah melawan Dark Shadow. Ia sungguh tidak tega melakukan hukuman ini. Tapi ia harus menghukum mereka demi menjalankan perintah. Dionysus membalikkan tubuhnya berjalan meninggalkan Joe Raymond dan anak buahnya yang masih terkapar tak berdaya di lantai.
"Bakar mereka hidup-hidup!" perintah Dionysus sambil berjalan keluar. Terdengar suara lirih mereka yang memohon ampun. Sungguh hukuman ini benar-benar menyiksa batinnya. Untuk menutupi kelemahannya ia meninggalkan rumah tua itu.
Dionysus pulang membawa keberhasilan pada misi pertamanya. Pasukannya telah berhasil membumi hanguskan mereka. Paginya sebuah berita muncul di koran mengenai pembantaiannya. Tetapi media menganggap kebakaran itu disebabkan oleh arus pendek listrik. Media tidak berhasil menguak apa yang terjadi di rumah tua itu.
Keberhasilan Dionysus dalam menjalankan misi pertamanya tidak membuat Aldrich Éclair membuka hati sepenuhnya untuk menerima kehadiran Dionysus di Dark Shadow. Ia masih mengkhawatirkan keamanan putri sulungnya. Dunia bawah tanah lebih keji daripada yang bisa dibayangkan oleh orang awam. Para penguasa di dunia bawah tanah selalu menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Meskipun banyak orang-orang kepercayaannya yang berdiri di sisinya saat menjalankan misi, tetap saja membuat detak jantungnya seperti dipermainkan roll coster.
Setelah misi pertamanya Dionysus mengambil alih seluruh eksekusi atas kasus pelanggaran perjanjian yang dilakukan beberapa oknum dalam melakukan transaksi jual beli.