
"Baiklah." jawab Aldrich Éclair dingin.
Hari sudah malam, Aldrich Éclair mengantarkan V ke kamarnya. Ia tidak pernah lupa dengan tradisi membacakan dongeng pengantar tidur. V mendengarkan suara berat Aldrich Éclair yang menggema di kamarnya.
Aldrich Éclair masih menunggu-nunggu penghakiman dari putrinya. Tapi hingga cerita usai V sama sekali tidak menyinggung apa yang ia lakukan. 'Baiklah, mungkin besok ia akan bertanya langsung kepadaku! Pikirnya.
"Papah? Maukah kau hari ini tidur bersamaku?" pinta V cepat-cepat sebelum Papahnya beranjak. Seutas senyum dengan anggukan pelan menjadi jawaban atas permintaannya.
Aldrich Éclair mengusap lembut rambut V agar V cepat memejamkan matanya. Tapi matanya tidak juga terpejam, justru terus menatap wajahnya tanpa ekspresi. Meskipun Aldrich Éclair telah mengernyitkan dahinya atau menaik turunkan alisnya, V tetap memandangnya tanpa ekspresi. Ia tidak bisa menebak-nebak apa yang tengah dipikirkan oleh putrinya hingga diam tertegun seperti itu.
"Kau tidak ingin bertanya?" Aldrich Éclair begitu tidak sabar mendengar tanggapan V.
V mengerti maksud dari pertanyaan Aldrich Éclair. V masih memandang wajah tampan dan berwibawa di hadapannya. Tangannya merapihkan rambut depan yang menghalangi wajah Papahnya.
"Papah, aku mengenal Papah sebagai orang yang bijaksana dan penuh pertimbangan. Aku tidak akan meragukan apa yang telah Papah putuskan." jelas V membuat Aldrich Éclair tersentak. Kalimat itu adalah kalimat yang selalu Lynelle Éclair gunakan ketika ia ragu dengan keputusannya.
"Kenapa?"
"Tentu saja karena kau Papahku!" jawab V dengan penuh keyakinan. Senyumnya mengembang menghiasi wajah mungilnya. Tatapan matanya yang hangat, memancarkan ketulusan di sana.
"Katakan dengan jujur siapa yang lebih kau sayayangi, Papahmu atau malah si brengsek itu?" tanya Aldrich Éclair membuat V terkejut bukan main, benar-benar terkejut, "Atau kau malah membenciku? Apa kau selama ini tidak bahagia menjadi anakku? Apa kasih sayang yang selama ini ku berikan kepadamu kurang?" tanya Aldrich Éclair cepat, ia begitu tersiksa dengan pertanyaan ini. V belum juga menjawab pertanyaannya, membuat hatinya terasa sesak.
"Papah" panggil V setelah diam beberapa menit, "Papah adalah alasan kenapa hingga detik ini aku masih mau membuka mataku, menyambut mentari pagi dengan kebahagiaan yang selalu menggetarkan jiwa dan ragaku." V menatap Aldrich Éclair semakin dalam. "Tentu saja Papah dan Mamah lebih berharga dibandingkan apapun dan siapapun."
"Apakah yang kau katakan itu benar?" tanya Aldrich Éclair tanpa menunggu lebih lama.
"Bagiku Papah adalah matahari, bola gas yang membakar semangatku hingga aku sekali lagi percaya dengan harapan. Dulu aku begitu takut melawan kekejaman dunia, membiarkan waktu meluluh lantakkan duniaku. Hingga Papah hadir memberiku keberanian untuk kembali membangun duniaku." V mengelus lembut wajah Aldrich Éclair
"Dan Mamah adalah kumpulan bintang gemintang. Aksesoris terindah yang dimiliki malam. Cahaya Mamah membuat malam yang tidak lagi memiliki kepercayaan diri, menjadi yakin bahwa terang tidak akan terlihat tanpa ada gelap."
Aldrich Éclair mencium kening V berkali-kali, "Maafkan Papah." air mukanya berubah dipenuhi rasa bersalah.
"Yang babak belur tak berbentuk itu paman Zac, bukan aku." jelas V tertawa kecil. Air muka Aldrich Éclair seketika berubah.
"Si brengsek itu tidak akan mati walau tidak mendengar permintaan maafku." ketusnya.
V tertawa melihat tingkah Aldrich Éclair yang kekanakan. Ia seperti melihat Papahnya memiliki gengsi yang begitu tinggi, apalagi terhadap Zac anak buahnya.
"Aku akan menemani Papah untuk menjenguk paman Zac besok." jawab V sebelum akhirnya memejamkan matanya untuk tidur.
✌✌✌
Benar saja dugaan V, Aldrich Éclair terlalu gengsi untuk meminta maaf terlebih dahulu kepada Zac. Dengan konyolnya ia berdalih bahwa Zac yang lebih dulu menyulutkan amarahnya.
Zac terbaring lemah dengan selang infus di tangannya. Nafasnya juga dibantu dengan selang oksigen di hidungnya. Wajahnya dipenuhi oleh lebam berwarna hitam. Dokter Gomer menjelaskan tidak ada luka berat di titik bagian vital, Zac hanya menerima luka memar yang tidak terlalu membahayakan tubuhnya.
Diagnosa ini mendukung Aldrich Éclair untuk meluncur pergi meninggalkan Zac yang masih terbaring lemah di kasurnya. V menggelengkan kepalanya, tak tahu harus melakukan apa agar Papahnya mau meminta maaf kepada Zac.
Sejak kemarin Zac memang belum sadarkan diri. Membuat para pelayan wanita semakin iba dengannya. Zac cukup populer di kalangan pelayan wanita keluarga Éclair. Meskipun peringai Zac yang dingin bagaikan bongkahan es, malah membuat para pelayan wanita makin menggilainya.
Zac membuka matanya saat V ingin beranjak meninggalkannya. Ia tersenyum tipis melihat V menunggunya. Selain senyum tak ada lagi percakapan di antara mereka. Melihat Zac yang sudah membuka mata, segala macam cara diakukan para pelayan wanita demi mendapatkan perhatian Zac. Melihat mereka yang berbondong-bondong memenuhi kamar membuat Zac enggan membuka matanya lebih lama. Zac memilih untuk kembali memejamkan matanya, berharap ia bisa tidur dengan cepat.
Seorang laki-laki mengetuk pintu kamar Zac. Ia berdiri di ambang pintu dengan wajah datar tanpa ekspresi. Jika bukan karena bakat luar biasa setiap anak didik Papahnya. Mungkin V akan berpikir bahwa selama ini Papahnya hanya mencetak es batu di freezer. Hampir seluruh anak didik Aldrich Éclair memiliki suhu dingin yang sama ekstrimnya dengan guru mereka.
Evan masih tak bergeming di ambang pintu, menunggu V mempersilahkannya masuk. V memperhatikan wajah Evan yang begitu kalut.
"Kak Evan tidak tidur lagi?" tanya V berjalan kearahnya. Terlihat dengan jelas kantung matanya yang menebal. Evan tak menjawab ia hanya mengulurkan berkas coklat di tangannya.
V membaca data diri seorang laki-laki tua berusia 53 tahun. Data yang sering diberikan oleh Evan lebih detail dan akurat. Sehingga ia selalu melibatkan Evan dalam misi-misi rahasianya. Beberapa tahun belakangan ini Dionysus telah merambatkan dirinya dalam urusan jasa pembunuh bayaran. Hal ini atas permintaan beberapa klien yang berpikir bahwa Dionysus merupakan agen pembunuh bayaran rahasia milik Dark Shadow. Tentu saja Dionysus menggunakan kesempatan ini untuk mengambil peluang memperkaya pengalamannya.
Kali ini targetnya merupakan seorang politikus dari negeri H, ia merupakan orang yang berpengaruh di parlemen. Keberadaannya mempersulit beberapa oknum dalam menerbitkan rancangan undang-undang. Sebab rancangan undang-undang ini akan mempersulitkan bisnisnya di masa mendatang. Dia juga tidak segan-segan menyewa agen Noir untuk membunuh seorang anggota parlemen yang mencetus ide rancangan undang-undang ini. Besok malam ia akan hadir dalam pesta pernikahan putri walikota di gedung Konfrensi kota Nebula.
Dari secarik kertas yang diberikan oleh Evan, laki-laki ini pantas untuk dibunuh. Kekejamannya dalam menyengsarakan rakyat harus segera dihentikan. Ia harus mendapat hukuman yang berat. Pikir V.
Tengah malam Dionysus berangkat ke negeri H bersama dengan Evan yang akan memantau dari jarak jauh. Mereka berangkat menggunakan pesawat pribadi keluarga Éclair. Dionysus telah menyiapkan segala macam perlengkapan yang ia butuhkan. Ia akan menyamar sebagai tamu undangan. Evan telah menyiapkan satu undangan yang telah ia duplikat. Segala macam keperluan yang menunjang aksinya malam itu telah dipersiapkan dengan sempurna.
Waktu memulai aksi telah tiba. Dionysus telah mengenakan gaun mewah berwarna biru muda. Gaun itu didesain khusus anti peluru, agar tidak ada peluru yang langsung menusuk jantungnya. Dionysus tampak anggun dan mempesona malam itu. Kalung berwarna perak dengan sentuhan beberapa permata kecil mengelilingi lehernya. Di bandulannya terdapat intan permata berwarna biru berkilauan. Kalung yang pernah digunakan oleh Ratu Cassandra ini telah melegenda dan hanya ada satu di dunia. Dionysus sengaja memilih kalung ini, agar orang yang melihat penampilannya lebih fokus pada kalung yang ia kenakan dibandingkan dengan anting yang ia pakai.
Dionysus anggun berjalan memasuki gedung aula Konfrensi kota Nebula. Ia melihat targetnya sedang berbincang-bincang dengan koleganya. Malam itu Dionysus menarik perhatian para tamu undangan. Dionysus memang memiliki tubuh lebih besar dari anak seusianya. Meski begitu perawakan wajahnya tidak dapat menutupi wajah kanak-kanaknya. Beberapa pemuda dari keluarga terpandang menghampirinya mengajak berkenalan. Dionysus menyambut mereka dengan ramah, mereka membagikan kartu nama mereka dengan harapan dapat menjalin hubungan dengannya.
Ketika musik dansa mengalun, Cole Harvey adik dari mempelai pria mengajaknya berdansa. Terdengar sorak sorai kala tangan besarnya terulur. Uluran tangan itu sekaligus mengusir para lelaki lainnya yang mengajaknya berdansa.
Cole Harvey memiliki perawakan yang lebih dewasa tujuh tahun dari Dionysus. Ia memiliki kaki yang jenjang. Ia begitu tampan dengan aura maskulin yang memikat. Tapi bagi V, Papahnya tetap yang paling tampan dan hebat dari yang terhebat sekalipun.
"Tuan Harvey, aku tidak ingin mempermalukanmu." tolak Dionysus halus karena ia tidak ingin kehilangan target.
"Tenang saja Nona Nyx, aku pasti akan menutupi kelemahanmu. Kau tak perlu sungkan padaku." bujuknya dengan senyum tipis. Dionysus memperhatikan target berjalan ke arah lantai dansa dengan pengantin wanita. Hal itu menunjukkan kedekatan keluarga mereka.
Cole Harvey memiliki kepribadian buruk, ia gemar memaksa orang lain untuk melakukan apa yang ia inginkan. Melihat arah pandangan Dionysus bukan kepadanya, ia menarik pinggang Dionysus agar lebih dekat dengannya. Tentu saja hal itu membuat Dionysus menggenggam tangannya.
"Pria licik!" umpat Dionysus dalam hati.
V tidak ingin dengan mudahnya menerima tawaran dari orang yang tidak ia kenal, "Kau memaksaku." katanya menggerutu.
Cole Harvey terkekeh mendengarnya, "Aku tidak memaksamu, aku hanya membujukmu." elaknya dengan lembut.
V menatap ke arahnya, namun ia tak berpaling dari pandangan lurusnya.
"Kalau begitu, mari kita ulangi penawarannya." tantang V. Kalimatnya membuat Cole Harvey menarik pinggangnya. Tubuhnya semakin dekat dengan Cole Harvey.
"Kau wanita pertama yang berani menolakku, menarik!" ia membisik di telinga V.
Ia mengikuti Cole Harvey yang berjalan ke lantai dansa dengan banyak pasang mata yang menatap. Kehadiran mereka di lantai dansa memutar gravitasi perhatian orang-orang. Dewi keberuntungan berpihak padanya. Cole Harvey memilih tempat yang tidak jauh dari target, bahkan mereka berdiri disebelahnya.
✌✌✌✌✌✌✌✌✌✌✌✌✌✌✌✌✌✌✌✌✌✌✌
*Terima kasih banyak buat kalian yang masih setia baca novel gw. Jangan lupa klik, "👍" kalo kalian suka dengan cerita gw. Biar kalian selalu dapet notif up dari novel V, kalian bisa klik, "💜". Kalo kalian gak suka sama cerita gw, kalian bisa kirim kritik dan saran di "🗯". Agar gw bisa review kembali cerita gw. Jangan bully* gw ya ㅠㅠ.
Jangan lupa berdamai dengan diri sendiri sebelum berdamai dengan orang lain. Tua itu hal yang pasti tapi dewasa itu pilihan.
💜 Salam hangat dari gw,
-Leo.**