
Aldrich Èclair mendidiknya agar memiliki kepribadian ganda, hal ini demi mendukung dirinya dalam memerani dua penokohan sekaligus. Saat dirinya menjadi V Èclair, keadaan memaksanya menjadi seorang remaja yang ceria dengan pembawaan yang lemah lembut. Seorang wanita penyayang dengan jutaan kasih sayang yang siap ia bagi-bagikan kepada siapapun. Namun saat ia harus mengenakan jubah hitam dengan aroma bubuk mesiu, ia dituntut menjadi seorang wanita tangguh berdarah dingin. Nama Dionysus dan identitasnya memaksa V membunuh seluruh afeksi dalam dirinya.
Bukan hanya sekali atau dua kali ia bertanya pada dirinya sendiri, mana dirinya yang sebenarnya? Apakah ia adalah Dionysus, wanita bengis dengan aura gelap yang selalu menyelimutinya. Ataukah ia adalah V, wanita lemah lembut yang tampil selalu ceria di depan publik. Ingatannya kini beralih pada saat masa kecilnya, saat Aldrich Èclair membawanya ke pesta pernikahan anak rekan bisnisnya. Untuk pertama kalinya Aldrich membawa V ke acara sosialita kelas atas. V yang setiap harinya selalu dilatih untuk menjadi petarung tak terima saat Papahnya dicemooh oleh sekelompok anak lelaki seusianya. Tanpa ragu-ragu V mematahkan kedua lengang mereka.
"Kau yang mematahkan lengan mereka?" tanya Aldrich Èclair yang sudah menyejajarkan tinggi tubuhnya dengan V. Banyak sepasang mata yang kini memperhatikan mereka. Apa yang dilakukan V memancing perhatian khalayak ramai. Mulut mereka juga tak bisa diam untuk terus membicarakan tingkah laku V.
V takut-takut menganggukkan kepalanya. Ia begitu takut Papahnya akan marah dan kecewa padanya.
"Kenapa kau mematahkan tangan mereka sayang?" dengan nada lemah lembutnya Aldrich Èclair bertanya agar V tak merasa diintimidasi. Ia menatap V dengan tatapan penuh cinta yang selalu mendamaikan suasana hati V setiap kali melihatnya.
"Mereka bilang bahwa Papahku seorang kuda pejantan yang suka dengan banyak wanita. Aku tak suka mendengarnya, jadi aku mematahkan tulang mereka." ucap V yang langsung membuat wajah Aldrich Èclair berubah menghitam legam. Jiwanya memanas siap membakar hidup-hidup sang pemilik mulut yang dengan lancangnya menyebar rumor tak sedap tentang dirinya.
"Aku tidak akan sudi meminta maaf pada mereka, Pah. Itu hukuman untuk mereka karena ketidak sopanan mulut mereka." ucap V menatap tajam wajah kedua orang tua anak-anak itu secara bergantian. V tahu tatapan mata mereka menuntut tanggung jawab. Tak peduli apakah anak mereka yang benar atau salah, mereka akan tetap menganggap anak mereka benar.
Namun jelas V tahu betul bahwa kekuasaan Papahnya lebih kuat daripada kekuasaan mereka. Sehingga mereka tidak akan mungkin berani menaruh seluruh kesalahan pada keluarga Èclair, bunuh diri namanya.
"Papah tidak akan menuntutmu untuk meminta maaf. Kau tidak melakukan sebuah kesalahan."
"Aku tidak akan segan-segan menghancurkan seluruh tulang belulang milik kalian, jika mulut kalian masih lancang berbicara tentang Papahku." V berseru dengan lantangnya. Meski ancaman itu keluar dari mulut anak berusia tujuh tahun, tapi ancaman itu tidak bisa dijadikan omong kosong.
Aldrich Èclair memejamkan matanya sebelum akhirnya ia tersenyum ramah usai mendengar ancaman putrinya. "Kemari sayang, kita pulang." ucapnya sambil merentangkan kedua tangannya. V melompat kepelukan Aldrich tatkala kedua tangan itu terulur ke arahnya. Ia tak bisa memungkiri bahwa ia begitu menyukai setiap kali kedua tangan itu terbuka lebar menyambutnya.
"Papah tidak akan marah. Tapi kau harus ingat, kau harus tetap tampil lemah lembut saat di depan publik apapun yang terjadi. Sembunyikan wajahmu, pakai topengmu, dan jangan biarkan mereka tahu siapa dirimu." bisik Aldrich Èclair sambil berjalan menghiraukan setiap sepasang mata menatap ke arahnya. "Selesaikan setiap urusanmu dengan rapi dan anggun. Jangan perlihatkan raut wajahmu, agar mereka tak bisa membacamu. Kau bisa melakukannya?" tanya Aldrich Èclair masih berbisik di telinga putrinya.
Ingatan itu perlahan menghilang seiring berjalannya waktu. Bara menatap V menunggu jawabannya. Ia sangat penasaran dengan jawaban yang akan diberikan oleh V.
"Aku tidak tahu." elak V. Ia tak mungkin menjawab bahwa ia memang harus menjadi malaikat saat menjadi V Èclair dan menjelma menjadi iblis saat harus menjadi Dionysus.
"Kau terlalu naif." Bara menatap tak percaya pada gadis dihadapannya. "Tidak semua orang itu baik, V."
"Dan tidak semua orang itu jahat, Bara." bantah V yang seketika mengingat dirinya sebagai Dionysus. Ada kalanya orang jahat juga menjadi orang baik.
"Kau tidak bisa memukul rata semua orang itu baik V."
"Apa kau bukan orang baik?"
Bara menatap V lamat-lamat, "Aku bukan orang baik V." Jawabnya cepat. Tak ada keraguan saat ia mengungkapkan dirinya sendiri. "Aku bisa kapanpun melukai orang ataupun membunuhnya saat itu juga. Aku bahkan lebih dari kata mampu membunuhmu dan juga supirmu detik ini juga."
Kalimat terakhir Bara yang terdengar serius membuat bulu kuduk Genta meremang. Posisinya yang sedang mengemudi dengan kecepatan tinggi membatasi ruang geraknya. Tangannya dengan gesit menggeser-geser layar TFT.
"Tidak perlu paman." V tahu apa yang akan dilakukan oleh Genta, sehingga ia mencegahnya sebelum panggilan itu tersambung.
"Kau ingin membunuhku?"
"Kenapa tidak? Aku tidak tahu apa niatmu sebenarnya membantuku. Kau tidak mengenalku, begitupun juga aku. Aku tidak akan percaya kau murni ingin membantuku."
V membuka kotak penyimpanan yang berada di belakang tuas transmisi. Mengambil sebuah pistol berwarna putih yang tersimpan di sana. Tanpa ragu ia menyerahkannya pada Bara.
"Nona?" panggil Genta yang mulai berkeringat dingin. Sesekali ia melirik melalui kaca belakang. Memperhatikan apa yang akan mereka lakukan dengan perasaan was-was.
Bara tertawa saat V dengan begitu mudahnya memberikan senjata api kepadanya. Tanpa ragu Bara mengarahkan senjata apinya ke otak V.
"Brengsek! Apa yang kau lakukan?!" maki Genta yang sudah naik pitam melihat Bara menodongkan pistol ke arah puannya.
V baru akan menoleh ke arah Genta, namun dicegah oleh Bara. "Lihat ke arahku. Aku akan menarik pelatuknya jika kau berani memalingkan wajahmu satu senti saja dariku." ancam Bara.
"Bocah gendeng! Turunkan senjatamu sialan!" kata Genta menarik slide pistol semi otomatisnya. Tangan kanannya dengan cepat mengarahkan pistolnya.
"Apa aku boleh takut?" tanya V dengan nada dibuat-buat agar terdengar lirih. Ia ingin tahu lebih kejam dirinya sebagai Dionysus atau lebih kejam Bara yang akan menembak mati orang yang akan menolongnya.
Bara tertawa puas melihat air mata yang telah mengambang di sudut mata V. "Kau yang memberikanku senjata, jadi jangan menangis ataupun menyesalinya."
"Apa kau benar-benar akan membunuhku?" tanya V dengan wajah memelasnya.
"Kemari." perintah Bara dengan anggukkan kepalanya. V mendekatkan tubuhnya ragu-ragu.
"Nona menyingkir!" teriak Genta.
"Lebih dekat."
V mendekatkan tubuhnya hingga keningnya mampu menyentuh bibir pistol. Mata mereka saling beradu pandang. Belum sempat Genta menarik pelatuk, satu peluru telah ditembakkan ke arah pistol Genta. Bara masih menampilkan senyum manisnya ke arah V usai menembak. Terdengar suara meringis dari mulut Genta. V ingin memalingkan wajahnya, namun kembali dicegah oleh jemari Bara.
"Bodoh!" ucap Bara memaki kebodohan V yang sudah tak bisa ia klasifikasikan lagi. "Jangan pernah menantangku atau siapapun seperti itu lagi." kata Bara sebelum akhirnya ia benar-benar ambruk dalam pelukan V.
"Aku berani memberimu senjata karena aku tahu kau tidak akan mungkin menembakku, Bara." bisik V di telinga Bara sambil memeluk tubuhnya yang sudah kehilangan kesadaran.
"Nona! Tolong jangan pernah melakukan hal seperti itu lagi. Saya yang bertanggung jawab dengan keamanan, Nona. Jika... Jika..."
"Ya Paman. Aku minta maaf telah membuat Paman cemas. Aku melakukan ini karena sudah mempertimbangkan apa yang akan terjadi nantinya. Dia adalah laki-laki yang tahu bagaimana caranya berbalas budi, jadi dia tidak akan mungkin menembak kita." jelas V memotong kalimat Genta. V harus memotong kalimat Genta sebelum akhirnya kalimat itu menjelma menjadi deretan kata yang tak berujung.
"Bagaimana Nona bisa yakin kalau ia tak akan melukai kita?"
"Intuisiku yang mengatakannya."
✌✌✌
Tatapan tajam terarah kepada V sejak ia melangkahkan kakinya ke gerbang sekolah. Sebab tak ingin mendengar lebih jelas isi gunjingan mereka, V mempercepat langkah kakinya. Mendengar cibiran mereka hanya akan membuat V semakin geram, ia takut kali ini tidak bisa menahan amarahnya. Karena memang suasana hatinya sudah begitu buruk pagi ini. Aldrich Èclair menunda pertemuan mereka sampai waktu yang tidak ditentukan dengan alasan pekerjaan, padahal sebelumnya ia tak pernah membatalkan janji dengan anak-anaknya. Ditambah Zac juga ikut sibuk dengan pekerjaannya sebagai direktur cabang, padahal ada begitu banyak yang ingin V sampaikan.
Saat tiba di kelas V dikejutkan dengan coretan spidol permanen di atas mejanya. İsi dari coretan tersebut membuat darahnya mendidih. V menatap ke sekeliling kelas. Semua berpura-pura tak tahu-menahu dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kalian yang mencoret mejaku?" tanya V setengah berteriak. Namun tidak ada yang menggubrisnya, semua sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing. V memegang ujung roknya, menahan amarahnya agar tidak terlepas.
V tidak melepas tas ranselnya dari bahu. İa berjalan menyusuri koridor sekolah, mencari letak UKS. V memang sengaja tidak meninggalkan tasnya, sebab jika ia tinggalkan, tasnya akan menjadi sasaran empuk keusilan mereka selanjutnya.
"Kau mau kemana?"
Sebuah suara tiba-tiba terdengar menghentikan makiannya pada diri sendiri. V menatap ke asal suara, seorang laki-laki berwajah tampan berdiri di sebelahnya.
"Daffa! Selamat pagi." sapa V begitu riang melihat siapa yang bertanya kepadanya.
V menyambut Daffa dengan wajah cerianya. Tatapan damai dari mata beningnya selalu saja menentramkan hati Daffa. Daffa tertawa melihat V menyambutnya dengan begitu gembira. Sebenarnya Daffa sangat senang sekaligus malu dengan tanggapan V. Meskipun memang wajah ceria itu yang selalu ia impikan menyambutnya di pagi hari, namun tetap saja ia belum terbiasa dengan sapaan itu. Rasa senang dan malu itu juga yang membuatnya berpikir, daripada ditertawakan orang lain karena salah tingkah, lebih baik menertawakan dirinya sendiri.
"Selamat pagi, sayang. Kau belum menjawab pertanyaanku."
"Oh, iya, maaf. Aku ingin ke UKS." jawab V yang dengan impulsif membuat Daffa menaruh telapak tangannya di atas kening V. İa juga menaruh tangannya yang lain di atas keningnya, membandingkan suhu tubuh mereka.
"Aku baik-baik saja." balas V menurunkan tangan Daffa dari keningnya. İa tak langsung melepasnya, melainkan menggenggamnya dengan kedua tangannya. "Aku hanya ingin mengambil alkohol."
"Kau terluka?" tanya Daffa menghentikan langkahnya. Lantas ia langsung memeriksa tubuh V untuk memastikan seberapa parah lukanya. "Bagian mana yang terluka?"
"Aku juga tidak terluka. Aku baik-baik saja." kata V tertawa melihat Daffa yang begitu mencemaskannya. "Tapi apa kau tahu? Kau terlihat begitu manis saat mencemaskanku." tambah V yang seketika membuat Daffa kembali salah tingkah. Daffa menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, menutupi rona merah di wajahnya.