
"Aku akan menjawab pertanyaan kalian sekaligus. Jadi dengarkan setiap kalimatku baik-baik, aku tak pernah mengulanginya untuk yang kedua kalinya." jelas Cole Harvey.
Kesedihannya masih terus mengendalikan dirinya. Susah payah ia kembali mengambil alih kendali dirinya. "Keputusan mahkamah konstitusi yang terbaru menyatakan bahwa warga negara asing dan penasehat hukumnya tidak bisa mengajukan uji materi terhadap undang-undang. Adanya peraturan ini memberiku keterbatasan dalam lalu lintas hukum di negara S, sehingga aku tidak bisa melakukan peninjauan ulang terhadap ps.1 ayat 1 dan 2 UU Hukum Pidana.
"Aku tidak menyerah, terus mencari cara untuk menegakkan keadilan bagi keluarga tunanganku..." Cole terus menceritakan bagaimana gugatannya bisa menembus meja hijau tertinggi di dunia.
Cole Harvey mengatur nafasnya, matanya menatap seorang pemuda yang duduk di kursi tengah, "Mr. Archendhaud kau bertanya mengenai keterlibatanku dengan para oknum pelaku makar bukan?" tanya Cole Harvey dengan mata memerahnya karena tangis pada Percy Archendhaud. Percy yang emosionalnya ikut terbawa oleh suasana hati Cole menjawab dengan suara tergugu, "I-iya tu-tuan."
"Harus kau ketahui dahsyatnya cinta lebih hebat daripada kudeta yang dilakukan para pelaku makar saat ini. Aku lebih tertarik melanjutkan kisah cintaku dengan Nyx yang harus terputus daripada ikut bergabung dengan para pelaku makar." kata Cole Harvey kembali mengusap wajahnya dengan sapu tangan yang sudah basah karena air matanya. "Harus kau ketahui, aku orang yang perhitungan dengan apapun. Tapi kalau mengenai orang yang kucintai, lain lagi ceritanya."
✌✌✌
Usai dari acara konferensi pers yang dilakukan oleh Cole Harvey dan para petinggi negara S, membuatnya menjadi sorotan publik. Selain membuat namanya melejit, konferensi pers tersebut juga membuat harga jual sahamnya ikut melonjak naik tinggi. Banyak perusahaan ternama ataupun startup yang mengajukan kontrak kerjasama dengan beberapa anak perusahaan yang dipegang oleh Cole Harvey. Biasanya Cole tidak pernah termotivasi untuk melakukan kerjasama pada perusahaan yang baru dirintis karena tidak memiliki pengaruh yang signifikan pada perusahaannya. Namun kali ini, agar membuat dirinya lebih sibuk Cole menerima semua kontrak kerjasama yang diajukan kepadanya.
Cole Harvey yang gila bekerja sama sekali tidak memperhatikan kondisi fisiknya. Ia mengabaikan kesehatan tubuhnya. Berkali-kali Cole jatuh pingsan pada saat rapat bersama para kolega bisnisnya. Dan berkali-kali pula Cole menolak untuk pergi ke rumah sakit.
"Cole, mau sampai kapan kau seperti ini? Jika terus berlangsung seperti ini kau bisa mati Cole! Apa kata orang nanti, seorang pemuda konglomerat mati karena kelaparan?" ujar Antoine yang mulai geram melihat Cole lagi-lagi tidak menyentuh makan siangnya.
"Aku akan makan nanti, tapi tidak sekarang. Aku belum menyelesaikan laporanku."
"Kau harus tetap makan walau sesibuk apapun aktifitasmu, setidaknya buka mulutmu, kau hanya tinggal mengunyah makananmu." balas Antoine yang sudah menyodorkan satu suap sendok makan di depan mulut Cole. Detak jantung Cole semakin kencang. Apa yang diucapkan Antoine membuatnya kembali teringat dengan Magaly Nyx pada saat sarapan pagi terakhir mereka.
Pagi itu di meja makan Villa keluarga Harvey. Cole masih sibuk dengan kertas-kertas dan juga laptop di depannya. Ia sama sekali tidak menyentuh sarapannya. Jangankan menyentuh, melirik pun Cole enggan. Nyx yang melihat Cole merasa geram karena bagi Nyx, Cole sama seperti mendustakan nikmat yang diberikan oleh Tuhan. Nyx menghabiskan sarapannya lebih cepat dari waktu yang biasanya ia butuhkan.
"Cole?" panggil Nyx yang hanya mendapat balasan dehaman dari Cole Harvey. Matanya juga tidak lepas dari layar monitor.
"Cole? Aku memanggilmu, setidaknya lepaskan pandanganmu dari sana beberapa detik saja untuk memandangku." ucap Nyx lagi kesal karena diabaikan. Ia paling benci diabaikan, karena alasan itu ia selalu menghargai siapapun yang berbicara dengannya.
Cole tersenyum hangat mendengar amarah Nyx. Ia mengusap lembut pipi Nyx, "Ya, ada apa hmm?" ia masih mengusap lembut pipi Nyx yang kini sudah memerah karena tersipu malu. Ia tak menduga reaksi Cole yang merayunya pada titik terlemahnya. Nyx benar-benar lemah saat seseorang yang mengusap lembut pipinya.
"A-aku ti-tidak..." Nyx menjadi salah tingkah karena sikap Cole. "Tidak ingin pulang dengan pesawat pribadimu." lanjut Nyx yang telah berhasil menguasai dirinya kembali. Hanya saja ia malah langsung ke inti pembicaraan yang telah ia rencanakan semalam. Cole menatap Nyx bingung. "Apakah tidak boleh?" tanya Nyx kecewa dengan tanggapan Cole.
Cole menghela nafasnya panjang, ia kini kembali berkutat pada urusan pekerjaannya. Ia mengabaikan permintaan Nyx yang menurutnya itu tak masuk akal. Seorang Cole Harvey yang sejak masih dalam kandungan telah mewarisi kekayaan keluarga Harvey yang berlimpah ruah, harus naik pesawat penumpang umum yang harga tiketnya saja bahkan tidak bisa menandingi harga satu kaos kakinya? Itu tidak mungkin! Batinnya.
Hening beberapa saat. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga tanpa Cole sadari Nyx telah duduk di sampingnya. Tangannya menyodorkan roti isi yang sejak tadi Cole abaikan. "Kau harus tetap makan, sesibuk apapun pekerjaanmu." ucap Nyx memecah keheningan.
Saat Cole membuka mulutnya untuk melahap roti isinya, Nyx menarik kembali rotinya, menyuapkan ke mulutnya sendiri dengan sengaja. Cole menatap Nyx dengan seutas senyum yang mengembang di bibir kirinya. Dipermainkan oleh Nyx bukan membuatnya marah, melainkan membuatnya ingin cepat-cepat memiliki gadis di hadapannya. Nyx terkekeh melihat Cole yang menatapnya. Ia mengira Cole menutupi rasa geramnya dengan seutas senyum manisnya. Ah, senyum Cole memang benar-benar manis bak senyum para dewa-dewi.
"Anak pintar, buka mulutmu aaaaa" Nyx menyodorkan kembali roti isi ke mulut Cole. Cole menerimanya, ia mengunyah roti isinya. Kalimat Nyx terdengar begitu lembut di telinganya, membuatnya tak bisa menahan hasratnya lebih lama. Nyx benar-benar membuatnya dimabuk cinta. Cole menarik tangan Nyx yang memegang roti isinya, ia kembali menggigit habis roti isinya.
Tanpa diperintah Nyx mengambil sisa potongan roti isi di atas piring, kembali menyuapkannya ke mulut Cole yang telah kosong, "Karena aku sudah menyuapimu makan, kau harus mengabulkan permintaanku."
"Tidak." jawab Cole cepat. Ia tahu permintaan Nyx tak akan jauh dari permintaan awalnya.
"Aahh Cole, kau harus mengabulkannya." rengek Nyx tidak terima permintaannya ditolak mentah-mentah. Penolakan Cole Harvey dapat menggagalkan rencana yang telah ia susun susah payah semalam.
Cole menelan hasil kunyahannya besar-besar, "Dengar, pesawat pribadiku memiliki fasilitas yang lebih lengkap, bahkan perawatan mesin pesawat ku itu lebih baik sepuluh kali lipat daripada pesawat yang kau inginkan. Jadi pesawat pribadiku lebih aman dan nyaman daripada pesawat penumpang." ujar Cole meyakinkan Nyx. Namun penjelasan Cole tidak membuat Nyx puas begitu saja.
Sambil menyuapkan sisa potongan roti, Nyx menatap Cole dengan memasang wajah menggemaskannya. Ia berusaha merayu Cole Harvey, persetan dengan segala kemewahan dan kenikmatan yang disajikan pesawat pribadinya, "Tapi Cole, aku tidak mau menggunakan kemewahan yang kau miliki." Cole menaikkan satu alisnya, sedangkan Nyx terus memutar otaknya.
Melihat di piring sudah tidak tersisa roti isi lagi, Nyx mengambil selembar roti dari dalam stoples kaca. Melumaskan selai kacang ke atasnya sambil berkata, "Aku ingin mengajakmu menikmati hidup tanpa harus mengandalkan kemewahan yang kau miliki. Kebahagiaan tidak diukur dari seberapa mewah fasilitas hidup yang kau terima Cole. Karena kebahagiaan datangnya dari sini." ujar Nyx menunjuk letak hati Cole Harvey. "dan diterima oleh ini." tambahnya menunjuk kening Cole, tak lupa juga tangannya menyupkan potongan roti baru ke mulut Cole.
"Kebahagiaan itu saat hati dan pikiranmu dapat menyuarakan satu kata yang senada. Uang dapat membeli fasilitas mewah yang kau rasakan saat ini, tapi uang tak akan pernah bisa membeli kebahagiaan yang aku tawarkan untukmu Cole." tambah Nyx dengan memasang wajah yakinnya. Nyx tengah menggunakan kekuatannya sebagai perempuan untuk membujuk Cole Harvey.
"Jadi kebahagiaan apa yang kau tawarkan kepadaku?" tanya Cole Harvey mengangkat satu alisnya.
'Brengsek! Harusnya aku tak usah mengutip perkataan pengarang dari novel itu! batin Nyx yang pusing dengan pertanyaan Cole yang menyerang setiap sisi argumennya. Tanggapan Cole di luar ekspektasinya.
"Aku menawarkan kebahagiaan yang tak akan pernah kau dapatkan seumur hidupmu, selain bersamaku." jawab Nyx cepat.
"Bukankah di pesawat pribadiku aku akan tetap bersamamu?" tanya Cole Harvey yang membuat Nyx merutuki kebodohannya dalam berargumen. Ingin rasanya ia mengubur dirinya dalam-dalam.
"Berbeda Cole" bantah Nyx.
"Bedanya?"
"Cole aku malu." kata Nyx pelan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Cole mendekatkan tubuhnya membantu menyembunyikan tubuh Nyx dalam pelukannya. Nyx mencubit perut Cole karena tiba-tiba memeluknya, Cole tertawa terbahak-bahak sebelum akhirnya mencium kening Nyx begitu lama. "Baiklah, aku akan menyuruh asistenku menyiapkan dua tiket untuk kita."
"Terima kasih." jawab Nyx senang karena berhasil merayu Cole Harvey. Ia memeluk sekaligus mencium pipi Cole sebelum akhirnya menyuapkan kembali roti isi yang entah sudah keberapa kali dibuatnya untuk Cole.
"Aku tahu kau begitu sibuk seperti Papahku, tapi paling tidak kau tidak boleh mengabaikan kesehatanmu. Kesehatanmu itu lebih penting dari segala apapun yang kau miliki, karena tanpa kesehatan kau tidak akan bisa memiliki apapun yang kau gapai hari ini."
Cole melahap kembali roti isinya tanpa memikirkan sudah keberapa kali roti itu memadati mulutnya. Cole merasa kerongkongannya kering, ia ingin menyesap kembali kopinya. Anehnya kopi di cangkirnya telah habis, ia tak sadar telah meneguk habis kopinya. Tanpa menunggu perintah Cole, Nyx menuangkan kembali kopi panas ke cangkirnya.
"Terima kasih." balas Cole sebelum meniup-niup cangkirnya. Cole juga tak lupa mendaratkan ciumannya di pipi Nyx.
"Kau bau kopi." keluh Nyx sambil menyuapkan kembali roti isi ke mulut Cole.
Cole melahapnya sebelum akhirnya berkata, "Nyx, aku tak tahu ini untuk yang keberapa. Kau ingin membuatku melewatkan makan siang?"
"Cole, kau harus makan yang banyak agar tubuhmu sehat."
"Kau cerewet, seperti Ibuku. Membuatku semakin mencintaimu." balas Cole mencium kening dan pipi Nyx.
"Kata Papah, kalau ada orang yang mengatakan cinta terus menerus kepadamu. Jangan dipercaya."
"Eh?! Kenapa?" tanya Cole terkejut dengan pernyataan Nyx. Pemahaman yang dianut Papah Nyx begitu bertentangan dengan pemikirannya.
"Karena cinta tak perlu disuarakan, melainkan dibuktikan." kata Nyx sambil menyuapkan potongan roti isi terakhir ke mulut Cole.
Hening beberapa saat. "Tapi kata Papah lagi, kalau ada orang yang mencintaimu, namun tidak pernah mengatakannya barang sekalipun. Berarti dia bisu." kata Nyx lagi yang membuat Cole Harvey tertawa.
"Aku jadi bingung sebenarnya Papahmu ingin aku mencintaimu seperti apa?"
Kini gantian Nyx yang tertawa melihat wajah serius Cole, "Itu hanya lelucon yang Papah lontarkan saat makan malam."
"Aku tahu. Aku hanya bertanya-tanya, agar aku bisa mendapatkan kepercayaan dari Papahmu."
"Kau tak perlu mencemaskan hal itu. Papahku pasti tahu jika setiap orang memiliki cara masing-masing dalam mencintai orang yang berharga di hidup mereka."
"Kalau begitu bagaimana caranya kau mencintaiku? Jika kau yakin bahwa aku dan kamu memiliki cara yang berbeda dalam mencintai."
Sebelum menjawab pertanyaan Cole Harvey, Nyx memejamkan matanya beberapa detik, ia memikirkan kalimat yang tepat untuk digunakan, "Aku akan mencintaimu seperti mentari yang mencintai rembulan."
Pernyataan cinta Nyx yang begitu dalam membuat Cole semakin mencintainya. Cole Harvey yang belum pernah menjatuhkan cintanya pada wanita manapun, bertekuk lutut dihadapan wanita yang baru ia temui beberapa hari yang lalu di pesta pernikahan sepupunya.
Kalimat Nyx kini terngiang-ngiang dalam telinga Cole Harvey. Jika dulu Cole akan mengartikannya sebagai cinta seorang kekasih yang saling melengkapi satu sama lain. Namun kini Cole mengartikannya sebagai matahari yang membiarkan rembulan bersinar di langit, walau ia harus meredupkan dirinya sendiri demi sang rembulan.
Cole mulai merangkum setiap kalimat yang pernah disuarakan oleh Nyx kepadanya. Kalimat-kalimatnya semakin jelas menguak dugaan Cole Harvey selama ini, bahwa Nyx telah mengetahui jika mereka tak akan mungkin bersama layaknya rembulan dan matahari di satu waktu. Kebersamaan mereka bagaikan suatu bencana yang akan melanda jika hal itu sampai terjadi. Hingga semesta terpaksa mengakhiri cerita satu tokoh di antara mereka.
Cole Harvey kembali merutuki takdirnya. Tidak terima jika cintanya harus padam begitu cepat. Tangisnya kembali meledak karena tak dapat membendung emosionalnya yang terus meluap. Antoine yang mengetahui penyebab tangisan dari sahabatnya, hanya bisa mengusap bahu sahabatnya agar ia bisa lebih tegar. Karena tak ada yang bisa ia lakukan untuk menghentikan tangis sahabatnya.
.
.
.
.
.
✌✌✌✌✌
**Terima kasih buat temen-temen yang masih setia baca cerita absurd gw. Jangan lupa klik, like kalo kalian suka sama cerita gw. Buat kalian yang gak suka sama cerita gw, kalian bisa tulis kritik dan saran kalian di komentar agar kedepannya cerita gw bisa lebih baik lagi.
Salam hangat gw,
-L.E.O ✌**