V

V
<[ EPISODE 43 ]>



"V, ayolah aku tak ingin membuatmu terlibat dalam masalahku. Kau tak tahu betapa berbahayanya mereka. Kau bersembunyilah."


"Percaya padaku, aku akan baik-baik saja." kata Daffa yang membuat V berdecak kesal. İa menganggukkan kepalanya, melepas genggamannya pada tangan Daffa.


Daffa menghela nafasnya lega saat melihat V berlari menjauhinya. Kini matanya menatap sekelompok orang yang sedang berlari kearahnya. İa menarik nafasnya panjang. İa sebenarnya tak yakin apakah ia mampu melawan mereka semua atau tidak dalam kondisi tubuhnya yang sedang tidak fit.


Daffa menghajar lawan-lawannya secepat kilat. Tak peduli dengan lelah yang ia rasakan, tak peduli dengan rasa sakit bekas luka lamanya, dan tak peduli dengan cidera di kakinya. İa terus melayani pukulan dan tendangan dari lawannya. İa memaksakan dirinya untuk tetap memacu kekuatan tendangan dan tinjunya.


Sedangkan di tempat lain, V sedang sibuk mencari-cari jubah berwarna hitam di setiap toko baju yang ia temui. Namun tak ada satupun toko baju yang menjual jubah hitam. İa mulai merutuki setiap penjual bodoh yang tidak memasukkan jubah sebagai barang dagangan mereka.


Kakinya sampai pada toko baju terakhir yang dimaksud oleh penjual baju sebelumnya. İa menatap lekat-lekat toko tersebut. İa tak yakin apakah toko ini menjual jubah yang ia cari, sebab dari penampilannya toko ini benar-benar memperihatinkan. Warna catnya yang telah usang dimakan usia, bahkan kayu yang mereka gunakan telah berlubang karena dimakan rayap.


"Permisi!" kata V saat ia mendorong pintu lapuk itu. Terdengar suara lonceng tanda ada seseorang yang masuk ke dalam toko mereka.


V memperhatikan koleksi pakaian yang dijual toko ini. Terlalu sedikit baju yang mereka gantung. V bahkan ragu apakah ini benar-benar toko baju atau tempat laundry jika saja tidak ada tulisan besar yang memenuhi kaca seluas dinding di depan sana. Lampu yang mereka gunakan juga redup tidak seperti toko-toko baju lainnya yang menggunakan lampu dengan watt tinggi. İa memperhatikan sekeliling, di toko ini bahkan tidak terpasang kamera cctv seperti dikebanyakan toko lainnya.


Seorang wanita tua renta datang menyambut V dengan bersahaja. Wanita itu terlihat sudah begitu tua, namun ia terlihat masih sangat bugar untuk seusianya. İa bahkan tak menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan ataupun kaca mata bulat untuk membantunya melihat.


"Apa kau menjual jubah hitam panjang dengan tudung kepala di atasnya?" tanya V dengan suara yang sengaja ia kencangkan agar wanita itu dapat mendengarnya dengan jelas. Sesaat V agak ragu dengan pilihannya memasuki toko ini. Sebab toko-toko baju yang terlihat lengkap sebelumnya saja tidak menjual barang yang dicarinya. Apalagi toko baju yang terlihat hampir menutup usahanya ini.


"Ah, tunggu sebentar." Kata wanita tua itu berjalan ke dalam ruangan tempat ia muncul sebelumnya. V semakin ragu karena wanita itu tak mengulangi barang yang dicarinya atau memberinya kepastian seperti kebanyakan pelayan toko baju sebelumnya. V menduga jika wanita itu kelupaan menggunakan alat bantu dengarnya, sehingga ia kembali masuk ke dalam untuk menggunakannya.


V tak punya waktu banyak untuk menunggunya keluar dari persembunyiannya. Daffa sedang membutuhkan bantuannya. Lagi pula wanita tua itu tidak memberinya kepastian apakah toko mereka menjual jubah yang diinginkannya atau tidak. V membalikkan tubuhnya berjalan kearah pintu ia masuk.


"Ah, sepertinya aku terlalu lama mencarinya hingga kau tak sabar menungguku." kata wanita tua itu saat melihat V telah menarik gagang pintu. V membalikkan tubuhnya karena merasa tidak enak dengan wanita tua itu. Sepertinya apa yang ia lakukan telah menyinggung perasaannya.


"Ah, maafkan aku." kata V setelah menundukkan kepalanya. İa dengar orang Asia mempunyai budaya yang sama saat mereka meminta maaf dan mengucapkan terima kasih, yakni dengan menundukkan kepala dan sedikit membungkukkan tubuh mereka.


V sempat terkejut saat melihat wanita itu datang membawa sebuah jubah berwarna hitam dengan penutup kepala di atasnya. İa menjadi semakin malu karena menuduh yang bukan-bukan pada pemilik toko.


"Kau sangat sopan sekali, sepertinya kau telah mempelajari budaya kami dengan sangat baik." kata wanita tua itu dengan senyum ramahnya. "Tidak apa-apa, aku memakluminya. Mau mencobanya terlebih dahulu? Aku sudah mencocokkannya dengan bentuk badanmu." kata wanita itu sambil berjalan menghampiri V.


"Terima kasih." sahut V dengan membungkukkan badannya. İa mengambil jubah hitam itu tanpa pikir panjang. Apa yang dikatakan wanita tua itu benar, jubah hitam ini begitu pas dengan ukuran tubuhnya. "Nyonya, anda begitu pintar sekali dalam mencocokkan tubuh. Jubah ini begitu pas dengan bentuk tubuhku. Aku sangat puas dengan ukuran tudung kepalanya yang bisa menutupi wajahku. Walau bagian lengannya begitu panjang, tapi tak masalah." kata V usai memakai jubah hitam itu. Wanita itu tersenyum puas karena pembelinya sangat menyukai barang dari tokonya.


"Nyonya, apa kau juga menjual penutup wajah? Topeng atau sejenisnya yang berwarna senada?" tanya V antisipati jika tudung kepalanya tersingkap saat sedang bertarung.


"Ah, aku punya satu." katanya beranjak masuk kedalam tempat ia mengambil jubah hitam ini.


V mematut dirinya dalam cermin. Sudah berbulan-bulan ia tidak terjun menjadi Dionysus. Akhirnya ia mempunyai kesempatan untuk kembali menjadi Dionysus. V tersenyum lebar di depan cermin, ia memasang kembali anting-anting yang dulunya hanya ia simpan di sakunya. İa menyalakan antingnya dalam mode perubahan suara.


"Ah, ini dia." kata wanita tua itu kembali membawa sebuah topeng berwarna hitam. İa memberikannya kepada V.


"Berapa total semua belanjaanku, Nyonya?" tanya V sebelum ia menggunakan topengnya.


"Lima ratus ribu, tapi karena kau datang di hari spesialku aku akan memberikan potongan harga kepadamu. Semuanya jadi dua ratus lima puluh ribu rupiah."


V mengeluarkan dompetnya, menarik tiga lembar uangnya. İa memberikannya kepada wanita tua itu. "Kembaliannya untuk anda saja Nyonya."


"Baiklah, terima kasih." jawabnya sambil tersenyum, "Kurasa lebih baik kau menggunakan topengmu di sini." sarannya.


V membenarkan apa yang dikatakan oleh wanita tua itu. Jika ia menggunakannya di luar ada kemungkinan identitas aslinya akan diketahui oleh banyak orang. "Terima kasih, Nyonya." kata V yang sudah menggunakan topengnya. İa menarik gagang pintu itu, terdengar suara gemerincing lonceng sama seperti saat ia masuk.


V berlari sekuat tenaganya ke arah ia meninggalkan Daffa. İa tak mempedulikan banyak sepasang mata yang memperhatikannya menggunakan jubah hitam di tengah pasar. Namun mereka tidak menaruh seluruh perhatian mereka pada V. Ada yang berpendapat jika V sedang melakukan cosplay karakter anime atau sebagainya.


Jalan menuju tempat ia meninggalkan Daffa terlihat sunyi, mungkin mereka memilih untuk mengungsi daripada dagangan mereka habis diporakporanda. Tentunya para pedagang tak ingin mendapat amukan dari kelompok geng karena mengganggu perkelahian mereka. Jadi mereka yang merasa masih waras memilih untuk mengalah meninggalkan pasar.


Dugaan V ternyata benar, Daffa tidak bisa menangani mereka sepenuhnya. Berkali-kali Daffa membuat celah agar mereka dengan mudahnya memukul punggung dan perutnya. Tenaga Daffa sudah terkuras habis.


V melompat menubruk tubuh mereka yang berusaha menyerang Daffa secara ramai-ramai sekaligus. Mereka sempat terkejut melihat ada orang yang berani mengganggu pertarungan mereka. V tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk berpikir ia terus mengarahkan tinjunya kearah musuh. Serangan beruntun sekaligus padat, membuat mereka telah kewalahan saat menghadapi Daffa seketika tak bisa membaca gerakan V yang mengkombinasi jurus dari berbagai aliran bela diri.


V menatap mereka dengan tajam, ia tak mengampuni siapapun yang berani melukai orang yang ia cintai. Tidak perlu waktu sepuluh menit, V telah melumpuhkan mereka semua dengan pukulan fatalnya. Bahkan pukulan V berhasil meregang nyawa beberapa orang dari mereka. Sebagian dari mereka yang masih bisa berjalan memilih melarikan diri. Mereka masih menyayangi nyawa mereka.


"Kau tidak perlu membunuh mereka." protes Daffa, setelah mereka menyerah menghadapi V.


"Astaga! Kau gila, bro!" kata Daffa berusaha bangkit dari posisi duduknya, namun gagal.


"Aku gila dan kau bodoh." sindir V. İa memperhatikan Daffa masih terus berusaha bangkit dari posisi duduknya. İa semakin cemas dengan keadaan Daffa yang sangat memprihatinkan.


"Tidak, aku tidak bodoh. Shhh akhhh, aku hanya memberi mereka kesempatan kedua." kata Daffa sambil meringis saat ia berhasil bangun.


V menahan dirinya untuk tidak membantu Daffa, ia harus menahan empatinya sebab kini ia sebagai Dionysus. Daffa tertatih-tatih berjalan kearahnya, sesekali ia hampir kehilangan keseimbangannya jika saja bukan karena ia memaksa kakinya untuk menyanggah. İa meringis kesakitan.


"Siapa namamu? Suatu hari aku akan membalas budi atas kebaikanmu." katanya setelah sudah lebih dekat dari V.


"Dionysus."


Daffa terkejut saat V memperkenalkan namanya. İa sampai mundur beberapa langkah menjauhkan dirinya dari V.


"Kau mengenalku?" tanya V masih dengan nada dinginnya.


"Kau salah satu agen pembunuh bayaran. Kau buronan biro kepolisian Eropa. Apa kau sedang menjalankan misi di Asia?"


"Kau takut tapi juga penasaran. Hebat!" kata V tertawa terbahak-bahak. "Kau takut aku akan menargetkanmu?"


"Kenapa tidak?"


"Bodoh! Organisasiku tidak mengutusku ke Asia untuk berburu, aku ke sini untuk misi penyelamatan."


"Misi penyelamatan?"


"Ya, misi penyelamatan anak anjing yang sedang sekarat melawan segerombolan serigala." kata V masih tertawa. Sangat lucu melihat Daffa menunjukkan dua reaksi sekaligus.


"Sialan kau, kalau begitu aku tidak jadi balas budi."


"Kau sedang menjilat ludahmu? Persis seperti anak anjing." goda V yang berhasil membuat wajah Daffa jemu.


"Kau pintar menyulut emosi lawan rupanya, tapi aku tak tertarik. Aku lebih tertarik mengapa kau membantuku."


"Aku tak sengaja bertemu wanita dengan wajah pucat. İa bertanya kantor polisi terdekat..."


"Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Daffa memotong kalimat V yang belum tuntas. Matanya kini menajam. İni untuk pertama kalinya V melihat tatapan mematikan milik Daffa. Terdapat ancaman dari raut wajah marahnya.


"Woah! Sabar, bro."


"Apa yang kau lakukan padanya brengsek!" kata Daffa dengan amarah tertahannya. İa telah mengepalkan kedua tinjunya erat-erat. V dapat melihat kedua tangannya bergetar karena menahan amarah.


"Tenang, aku tidak melakukan apapun padanya. Kau pikir aku psikopat yang membunuh tanpa alasan." gerutu V. "Aku menyuruhnya menunggu di rumah makan ujung aspal."


"Aku akan membunuhmu jika kau menyentuhnya sehelai rambutpun."


"Woah! Kau over protective sobat." kata V yang dihiraukan oleh Daffa. İa kini berjalan ke arah sebaliknya.


"Terima kasih." katanya tanpa menoleh sedikitpun. İa berjalan tertatih-tatih ke arah datangnya V.


V memutar otaknya. İa harus kembali sebelum Daffa tiba di tempat makan ujung aspal. V berlari ke arah sebaliknya sesekali melihat ke arah Daffa, takut Daffa memperhatikan apa yang akan ia lakukan. V melompat ke atas meja yang digunakan pedagang untuk berjualan. İa melompat lagi ke atas tembok pemisah jalan. İa berlari sekencang yang ia bisa ke arah toko baju tempatnya membeli jubah. Hanya itu tempat yang ia rasa aman untuk melepas penyamarannya.


V berlari di gang tikus yang begitu sempit. İa telah mengenakan satu earphonenya yang menghubungkannya pada asisten virtualnya. İa meminta di arahkan ke toko baju yang telah ia simpan rutenya di GPS. Belum sempat V tiba di toko itu, ia berpapasan dengan wanita tua pemilik toko baju itu.


"Ah, Nyonya kebetulan sekali aku menemukanmu." kata V sambil mengatur nafasnya agar tetap stabil.


"Ah, kau. Apa kau mencariku?"


"Ya, bisakah aku menitip jubah dan topengku?"


"Tentu saja."