
Mobil yang ditumpangi V menembus keramaian ibu kota. Dua mobil sedan lainnya mengiringi dari depan dan belakang. V duduk di sebelah bangku pengemudi, memperhatikan keramian kota melalui kaca jendela di sisi kanannya. Hingga perhatiannya teralihkan saat mendengar suara Chaterine -sebuah perangkat lunak asisten virtual yang dirancang dengan kecerdasan buatan sehingga dapat menjalankankan perintah pengguna melalui percakapan dua arah- dari audio speaker mobilnya. Ia membacakan laporan terbaru mengenai kondisi lalu lintas. Hal itu juga bersamaan dengan perubahan jalur pada sistem navigas di layar TFT adaptifnya.
Perkelahian antar gangster secara besar-besaran di jalan Lembayung Mega membuat kemacetan panjang di sepanjang jalan menuju Lembayung Mega. Aksi brutal para gangster yang terkenal saat bertarung membuat para pengguna jalan memilih jalur memutar daripada memaksa menerobos jalan. Sudah banyak pengguna jalan yang menjadi korban, karena senjata mereka tak mempunyai mata saat diayunkan ke depan.
"Paman, ikuti jalur yang ada di GPS saja. Itu lebih dekat daripada harus memutar ke jalan Angkasa Pura." usul V yang lebih terdengar memerintah.
"Baik, Nona." jawab Genta Prayoga, sopir pribadi V yang merupakan penduduk lokal negara A.
"Paman Genta? Bagaimana keadaan adik paman yang sakit minggu lalu? Kudengar sampai harus diopname."
"Semua berkat kebaikan keluarga Nona, kondisi adik saya kini semakin membaik. Terima kasih Nona Muda, Nona begitu memperhatikan kami."
"Ah, tidak Paman! Semua itu berkat kasih sayang Tuhan. Ia-lah yang pantas mendapatkan rasa syukur dari Paman, karena Ia yang menyembuhkan penyakit adik Paman. Aku dan dokter yang merawat hanyalah perantara, Paman." bantah V keras. "Aku senang keadaan adik paman sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya. Semoga lusa ia bisa kembali bersekolah."
Genta merasa malu setelah mendengar kalimat V. Betapa malunya ia diingatkan oleh anak yang usianya jauh di bawahnya. Terkadang ia merasa heran dengan pemikiran dan sikap Nona Mudanya yang jauh lebih dewasa dari umurnya. Ia merasa setiap kali berbicara dengan V seperti bukan berbicara pada anak yang berumur belasan tahun. Tapi seperti berbicara dengan orang tua yang telah banyak makan asam garam kehidupan.
Mobil melaju di jalan yang lenggang, hampir semua pengendara memilih memutar ke jalan Angkasa Pura daripada berbelok ke jalan Kaldera. Hanya beberapa yang memilih menggunakan jalan yang juga mereka lewati. Hingga tanpa diduga seorang laki-laki berseragam putih abu-abu berlari menabrak mobil V.
"Ya Tuhanku. Apa yang terjadi Paman?" tanya V yang tidak memperhatikan kaca depan.
"Ada pelajar yang nekat berlari ke arah mobil Nona." jawab Genta sedikit bergetar ini untuk pertama kalinya ia menabrak seseorang.
Tak ada yang keluar dari mobil selama beberapa detik. Bukannya mereka tidak peduli, tapi menurut prosedur yang bertugas untuk memastikan keadaan adalah pengawal yang berada di mobil depan atau belakang mereka. Operasi ini bertujuan untuk menjaga keamanan keluarga bangsawan.
Mobil sedan yang di depan belum juga menyadari apa yang terjadi dengan mobil V, sedangkan mobil Sergio masih jauh di belakang mereka. Di sisi lain dari arah jarum jam dua, sekelompok pelajar berlari kearah mereka dengan senjata tajam di tangannya. Analisa V menjabarkan bahwa laki-laki itu bukan nekat, tapi tak sempat menengok ke kiri dan ke kanan saat ia menyebrang. Ia terlalu sibuk berlari agar tak tertangkap segerombolan orang yang mengejarnya. Pilihan laki-laki itu sangat tepat, risiko luka tertabrak mobil masih lebih baik daripada tercabik-cabik oleh senjata tajam.
Bagi V satu detik pun begitu berharga. Ia tak punya waktu sedetikpun untuk menunggu para pengawalnya untuk datang memastikan keadaan laki-laki yang tak kunjung terlihat batang hidungnya setelah tertabrak. V berjalan keluar, menghiraukan panggilan Genta dan panggilan masuk di layar TFT. Mau tidak mau Genta ikut keluar menemani V.
"Paman, tolong bantu aku mengangkat tubuhnya."
"Nona tidak berencana untuk membawanya ke dalam mobil bukan?" tanya Genta yang sudah bisa menebak jalan pikiran V. Ia hanya mencoba menolak dugaan-dugaannya. Sehingga ia menjadikan kalimat positif menjadi kalimat negatif dengan menambahkan tanda tanya di akhir kalimatnya.
"Kita tidak ada waktu paman." balas V yang sudah berlari membuka pintu mobil. Ia melipat jok kulit yang sebelumnya ia duduki.
Dengan perasaan tidak senang Genta membopong tubuh laki-laki itu ke dalam mobil. Mobil kembali melaju bertepatan dengan mobil Sergio yang sudah berada di belakang mereka. Melihat Genta yang melaju dengan kecepatan tinggi, membuat mereka ikut melaju dengan kecepatan tinggi. Beberapa detik kemudian gerombolan itu tiba, mereka mengumpat kepergian mobil yang membawa targetnya.
Di mobil V sudah sibuk menekan luka lebar di perut laki-laki itu untuk menghentikan pendarahannya. Darahnya masih saja merembes keluar padahal V sudah mengikat kencang lukanya dengan kain. V membaca bet nama di seragamnya yang hanya tertulis, BARA, dengan huruf kapital. Laki-laki itu hanya diam di tempatnya sambil menggigit bibir bawahnya menahan perih.
"Chaterine, sambungkan ke pc V2 alfa zulu." teriak V yang masih sibuk menekan luka Bara dengan kasa.
"Perintah sedang diproses, mohon tunggu..." belum sempat Chaterine selesai bicara sudah terdengar suara Sergio.
"Paman Sergio, tolong hubungi tim medis rumah sakit perusahaan Papah dan katakan juga pada mereka untuk mempersiapkan transfusi darah. Jemput mereka dengan helikopter, aku ingin mereka sudah tiba sebelum aku tiba. Minta bantuan juga dengan polisi lalu lintas terdekat untuk memandu jalan kita."
Benar saja perkiraan V, di depan sana sudah terlihat kemacetan lalu lintas yang begitu panjang. V memperhatikan wajah laki-laki di sebelahnya yang sudah terlihat begitu pucat karena kehilangan banyak darah. Tak ada cara lain pikir V, ia berlari keluar mengetuk kaca mobil yang berada di depannya. Penampilan V yang berantakan dengan banyak bercak darah di seragam dan juga di wajahnya membuat siapapun merasa terkejut saat V mengetuk kaca mereka. Ditambah lagi dengan noda darah yang tertinggal di kaca mobil mereka.
"Tuan, tolong buka jalan agar mobil saya bisa lewat. Saya harus membawa Kakak saya kerumah sakit. Kakak saya sudah terlalu banyak kehilangan darah saat diperjalanan. Tolong bantu saya." ujar V memohon dengan suara bergetar. Saat itu V benar-benar sedang panik, tidak ada kebohongan dalam tindakannya.
Semua merasa iba mendengar cerita V, sehingga mereka tidak ragu untuk meminggirkan mobil mereka memberi jalan. Genta tidak menunggu perintah dari Nonanya untuk jalan saat ia melihat mobil-mobil di depannya mulai membuka jalan. Mobil-mobil yang lain juga memberi isyarat serentak untuk membuka jalan dengan klakson mereka.
Sergio keluar dari mobilnya membantu V mengetuk kaca mobil di depannya untuk membuka jalan. Genta sudah menjelaskan kejadian yang sesungguhnya kepada Sergio. Beberapa menit kemudian, tanpa perlu V mengetuk kaca mobilnya. Mereka sudah lebih dulu memberikan jalan kepada V.
"Nona Muda, anda masuklah. Biar aku yang menyelesaikan sisanya." kata Sergio yang sudah membuka pintu untuk V. Jelang beberapa menit kemudian polisi lalu lintas yang bertugas memandu mereka tiba di lokasi.
"Kau masih sanggup bertahan beberapa menit lagi kan?" tanya V yang sudah diselimuti oleh kecemasan.
"Ya." jawabnya terdengar begitu lemah.
"Tetap di posisi sadarmu, jangan tidur."
"Kau sudah mengingatkanku untuk yang kelima kalinya."
V terus mengingatkannya hanya untuk memastikan bahwa ia masih berada di alam sadarnya. Matanya yang terus saja terpejam dan mulutnya yang terus terkatup rapat, membuat V harus berulang-ulang memeriksanya. Ia tak menyangka ternyata sikapnya malah membuat Bara merasa risih.
"Ah, maaf. Aku hanya takut kau tertidur tanpa sengaja."
"Kenapa kau menangis?"
"Aku tidak tahu, aku hanya merasa sedih."
"Kau menangisiku?"
"Aku tidak ingin menangisimu, tapi tidak bisa. Jangan marah-marah kepadaku." jawab V yang merasa seakan ia dimarahi karena cara bicaranya yang selalu ketus.
"Aku tidak marah kepadamu."
"Kau galak sekali, hingga nada suaramu saja hampir meninggi seluruhnya."
"Ya, memang aku begini. Lalu aku harus bagaimana?"
"Pelankan suaramu kalau begitu."
Ia menghela nafasnya, "Siapa namamu?" tanyanya menurut dengan suara pelan hingga V tak mendengar apa yang ia katakan.
"Kau bicara apa?"
"Astaga! Siapa namamu?"
"Aku Bara."
"Aku tahu."
"Kau sok tahu." balas Bara yang masih ingin melanjutkan percakapan dengan wanita yang menolongnya. Ia tak tahu bahwa berbicara dengan wanita bisa semenarik saat ini. Sebelumnya ia selalu menghindari berbicara dengan wanita.
"Tidak, aku membaca bet namamu."
"Benarkan kau sok tahu."
"Tidak, kau juga membenarkan namamu Bara."
"Kapan aku mengatakannya?" tanya Bara dengan wajah tak bersalahnya menantang V.
"Baiklah lalu siapa namamu?"
"Bara." jawabnya yang membuat V ingin menjitak kepalanya. Sebelum V melayangkan kepalan tangannya Bara sudah melanjutkan kalimatnya, "Bayu Prawira Dirgantara."
"Jadi kau ingin ku panggil apa?"
"Sayang." balasnya terkekeh yang langsung membuat V jengkel. Sedangkan Genta terbatuk-batuk mendengar jawaban Bara.
"Kau bersekolah dimana?"
"SMA Harapan Bangsa."
"Ohh, SMA Harapan Bangsa." balas V yang seakan mengenal betul dimana sekolah itu. "Aku tidak tahu." tambahnya lagi terkekeh.
Bara tertawa karena mendengar tawa V yang baginya terdengar begitu lucu, "Bodoh!" katanya mengumpat kebodohan V.
"Tidak apa-apa yang penting kau tertawa."
"Kau punya hewan peliharaan?" tanya Bara yang asal memilih topik pembicaraan. Ia juga tak tahu mengapa ia memilih masuk ke topik ini. Ia hanya asal memilih tema, agar percakapan di antara mereka semakin panjang.
"Tidak. Kau mau menawarkan diri?" tanya V menggoda. Ia tahu Bara sedang mencoba agar percakapan mereka tidak putus.
"Sialan!"
Bukannya marah Bara malah tertawa sambil terus memegangi perutnya yang terasa semakin perih karena tawanya. Sesekali ia meringis karena tak dapat menahannya. Sedangkan V dibuat semakin khawatir dengan wajah Bara yang semakin pucat. Darah terus merembes keluar dari kain yang V lilitkan.
"Berapa menit lagi kita sampai Paman?" tanya V tak sabar. "Persetanan dengan apapun! Tambahkan kecepatan lajunya."
"Baik Nona." balas Genta yang menambah kecepatan laju mereka berlari seperti kuda liar.
Mobil yang ditumpangi V memang memiliki kecepatan hingga 482 km/jam atau 301 mil/jam. Mesin turbocharger V8 yang terpasang di mobil sport ini juga mampu menghasilkan tenaga maksimal 1600 tenaga kuda. Akselari mobil ini begitu fantastis untuk mencapai kecepatan 0-60 mph hanya membutuhkan waktu 2,1 detik. Kini Genta sudah sibuk mengatur drift di instrumen panel. Ia mengaktifkan race mode, membuat speedometer digitalnya terlipat. Menyisakan sebuah layar kecil yang berisi dial takometer.
"Bertahanlah sedikit lagi."
"Tenang, aku masih bernafas."
"Kalau begitu pastikan juga jantungmu masih berdetak."
"Aku belum mau mati V. Masih ada hal yang harus ku lakukan sebelum mati." Bara terkekeh mengingat apa yang harus ia lakukan.
"Memang apa yang kau inginkan? Balas dendam?" tanya V menebak jalan pikiran Bara. Tidak terlalu sulit menebak jalan pikiran orang yang sedang terluka parah akibat perkelahian.
"Tidak melulu tentang dendam V. Ada yang lebih penting dari itu." jelas Bara mengelak, ia tak ingin jalan pikirannya semudah itu dipahami.
"Seperti?"
"Menikah misalnya. Aku tak ingin mati dengan status lajang V." balasnya kembali tertawa.
"Ya, baiklah terserah kau saja."
"Ah, bagaimana kalau kau saja yang menjadi pengantin wanitaku V?" goda Bara mengalihkan pembicaraan. Ia tak ingin V terlalu mengorek tentang dirinya.
"Tidak mau. Aku sudah punya kekasih." V langsung menolak. Meski ia tahu kalimat Bara hanya untuk menggodanya. Namun ia ingin menegaskan kepada dirinya dan juga orang lain bahwa ia sudah mempunyai kekasih.
"Kenapa kau mau menolongku?" tanya Bara yang membuat V diam seribu bahasa. "Jika aku mati, kau tidak akan rugi."
.
.
.
.
.
.
✌✌✌✌✌