
Pagi harinya surat kabar Daily News memuat berita seorang politikus Kevin Malfoy ditemukan tak bernyawa di atas tubuh seorang pelacur yang juga tak bernyawa di sebuah hotel berbintang empat. Kata Daily News forensik yang ditugaskan untuk memeriksa korban menyatakan, bahwa kematian korban diakibatkan oleh penyempitan pernafasan pada saat melakukan seks. Dionysus tertawa terbahak-bahak membaca berita terpanas dari layar hologram iPad-nya. Tentu Dionysus tahu apa yang sebenarnya terjadi, karena memang itu adalah buah hasil maha karyanya.
Di halaman berikutnya ia tersenyum pahit karena tak berhasil membunuh targetnya. Dikabarkan telah ditemukan sebuah mobil sport yang hangus terbakar setelah ledakan besar di jalan Angkasa. Eli Romanov dan Perdel Hagen yang ditemukan di dalam mobil menderita luka bakar di sekujur tubuh. Luka bakar tersebut bahkan membuat mereka hampir tidak dapat dikenali identitasnya. Ajaibnya, kata Daily News mereka masih tetap hidup setelah mendapat luka bakar yang sangat serius. Mereka harus dirawat di rumah sakit dengan penanganan intensif selama berbulan-bulan dan menjalankan operasi pengangkatan organ tubuh.
Surat kabar terus memuat berita kemalangan nasib para target yang diburu oleh Dionysus selama satu bulan terakhir ini. Dionysus sangat murka dengan tabulasi angka permintaan kematian Cole Harvey, dengan membabi buta ia memburu satu persatu klient yang menginginkan kematian Cole Harvey. Berkat persetujuan Aldrich Èclair, Dionysus dapat mengakses informasi para klient dengan bebas di data base Dark Shadow. Aldrich Èclair memberinya akses untuk menggunakan fasilitasnya sebagai underbos Dark Shadow, dengan catatan tidak berinteraksi secara langsung ataupun tidak dengan Cole Harvey.
Dionysus sibuk membaca e-koran sambil menikmati camilannya di ruang tengah. Sedangkan Evan sibuk menyiapkan makan siang mereka. Pada saat menjalankan misi, mereka memang sering berbagi tugas dalam mengurus tempat tinggal. Sehingga tugas rumah mereka kerjakan bersama tanpa perasaan dilayani dan melayani. Jika hari ini Evan yang memasak, maka Dionysus yang akan mendapat tugas mencuci piring. Dan berlaku juga sebaliknya. Sedangkan untuk kebersihan apartemen, mereka serahkan pada layanan housekeeping.
'Selamat pagi Dionysus.' sebuah portal surel muncul di tengah layar iPadnya. Detak jantung Dionysus tak menentu saat ia membaca sebuah nama yang tertera di bagian atas jendela, "Cole Harvey".
Tangis sudah lebih dulu menanggapi sapaan Cole Harvey. Tubuh Dionysus bergetar takut sekaligus senang. Ia tak menyangka bahwa Cole juga mampu meretas iPad yang ia miliki.
'Aku mengetahui bahwa kau yang membersihkan mereka. Terima kasih.' botnet surel kembali muncul di layar. Dionysus tersenyum membaca berulang-ulang pesan singkat yang diberikan Cole Harvey padanya.
Tatkala Dionysus ingin membalas pesan Cole Harvey, "Jangan dibalas, ia sedang mencari alamat IPmu." ucap Evan yang sudah berdiri di sampingnya. Dengan telaten tangan Evan bergerak cepat di layar iPad Dionysus.
Saat sudah yakin bahwa malwer yang ia kirim mampu memperlambat bandwith, sekaligus mematikan komputernya secara tiba-tiba. Tangan Evan terus menyerang brutal dengan virus-virus ciptaannya untuk memukul mundur Cole Harvey. "Aktifkan virus pembersihku." Dionysus memasukkan Flashdisk OTG ke iPadnya patuh mengikuti perintah Evan.
"Dia telah berhasil menyalin lima persen data. Aku telah mencabut aksesnya." Ucap Evan sibuk menganalisa. "Selanjutnya abaikan. Kau tak ingin melanggar janjimu bukan?!" Evan bertanya retoris, membuat Dionysus menatap miris pada sinar hologram yang perlahan menghitam.
"Kak Evan, kau menyebalkan." gumam Dionysus yang masih dapat menembus telinga Evan.
Evan yang sudah ingin beranjak mengurungkan niatnya, "Aku peduli." balas Evan, "Makan" tambahnya kembali melangkahkan kaki meninggalkan Dionysus. Telinganya tak perlu berolahraga menahan beban celotehan Dionysus, yang mungkin beratnya mampu mencapai berat beban barbelnya.
"Terima kasih atas kepedulian Kak Evan. Aku sangat amat menghargainya." teriak Dionysus. Ia tak berharap Evan akan menanggapi teriakannya, karena ia tahu Evan termasuk manusia yang hemat berbicara. Padahal persediaan suku cadang kalimatnya tidak akan pernah habis walau ia boros untuk lima puluh tahun kedepan, itupun kalau ia panjang umur.
Dering ponsel membuat Dionysus mempusatkan perhatiannya pada nama yang tertera di layarnya.
"Hallo, Papah."
"Sudah dua bulan kau tidak masuk sekolah."
"Maafkan aku pah, aku melupakan tugas utamaku."
"Hentikan perburuanmu saat ini, kembalilah ke Asia. Jangan terus berporos pada masa lalumu. Ingat pesan Papah baik-baik, jika kau terus berkutat pada masa lalumu, kau hanya akan kecewa pada realita yang tidak sesuai dengan harapanmu. Lagi pula apa yang telah berlalu tak akan pernah sama saat ia kembali."
Dionysus diam kembali merenungi apa yang dikatakan Papahnya. Pikirannya berkecamuk antara pro dan kontra. Egonya menginginkan ia untuk terus bertahan, namun logika menyuruhnya untuk beranjak. Melepaskan apa yang selama ini ia genggam erat-erat.
"Maafkan Papah. Apa kau pada akhirnya membenciku?"
"Papah, mana mungkin aku bisa membenci Papah? Apa yang terjadi saat ini adalah jalan yang telah aku pilih. Aku tidak akan pernah menyesali apa yang telah aku pilih Pah."
"Syukurlah jika kau tidak membenciku. Maaf Papah melibatkanmu terlalu jauh."
"Papah, aku yang menginginkan ini semua. Jangan menyalahkan diri Papah sendiri lagi, ku mohon. Aku lebih baik kehilangan seribu Cole Harvey daripada kehilangan Papah."
"Terima kasih karena kau masih setia padaku."
"Ah Papah, harus aku katakan berapa kali lagi? Jangan anggap ini hanya sebagai bentuk loyalitasku sebagai anak buah Papah. Aku setia karena Papah adalah orang tuaku, tentu aku akan mengabdikan diriku untuk Papah. Apa Papah menganggap baktiku hanya sandiwara?" V sempat tercekat oleh rasa sakit yang perlahan meluap membuat suaranya bergetar.
"Ya Tuhan! Apa kau menangis? Papah bersumpah demi seluruh nafas yang Tuhan berikan bahwa Papah tak pernah berpikir seperti itu."
"Maafkan aku telah berani menaruh curiga pada Papah."
"Kau telah memaafkan Papah, begitupun Papah. Kita tak perlu membahasnya lagi di lain waktu. Pulanglah ke Asia."
"Aku akan pulang besok pagi Pah, aku mencintai Papah."
"Papah juga mencintaimu."
V menghembuskan nafasnya perlahan. Menyeka sisa air mata di sudut-sudut matanya. Ia menatap tanggal yang tertera di ponselnya. Papahnya benar ia telah meninggalkan sekolahnya selama dua bulan. İtu waktu yang sangat lama meskipun dia yakin dirinya mampu mengejar pelajaran yang tertinggal. İa juga tidak merasa kesulitan masalah perizinan sekolah, karena memang İnternational High School Microcosmos adalah milik teman Papahnya, Frankenstein. İa mengenal seluruh anggota keluarga Frankenstein, karena memang dua keluarga ini menjalin hubungan kekerabatan yang baik.
Frankenstein adalah teman kuliah Aldrich saat di Eropa dan juga saksi nyata bagaimana seorang anak tanpa gelar ataupun nama keluarga yang dapat menyongkongnya, mampu menyetarakan tingkat derajat dirinya setara dengan pahlawan kerajaan. Aldrich Èclair mendapat gelar Knight Zee Empire, karena dirinya telah berjasa menyelamatkan Kerajaan Zee dari bencana.
Usai makan, Dionysus tidak langsung merapihkan meja makan, "Kak? Papah menyuruh kita kembali ke Asia."
"Aku tahu, kita akan berangkat satu jam lagi. Kemasi barang-barangmu jangan sampai ada yang tertinggal."
Dionysus merasa aneh dengan tingkah laku Evan. İa tak menyangka Evan telah menyiapkan semuanya lebih cepat dari perkiraannya. "Kapan Kak Evan mempersiapkannya?"
"Saat kau menerima panggilan dari Master." balas Evan mengalihkan bola matanya dari Dionysus. İtu tanda Evan berharap Dionysus tidak mempertanyakan tindakannya lebih lanjut.
"Tapi aku tidak bilang ..." balas Dionysus terambang oleh pikirannya sendiri. İa menghubungkan segala kemungkinan yang bisa terjadi untuk menjawab pertanyaannya.
"Sial! Kenapa Kak Evan tidak bilang Cole Harvey berhasil menemukan kita!?" teriak Dionysus histeris, ia dengan cekatan merapihkan piring-piring kotor yang memang menjadi tugasnya. Evan membantunya memindahkan piring kotor ke wastafel.
"Aku akan mengangkut barangmu ke bagasi, baju-bajumu sudah berada di dalam koper bukan?"
"Ya, hanya tinggal peralatan elektronik yang masih berhamburan." balas Dionysus yang sudah sibuk mencuci piring.
Tidak sampai satu jam mereka telah siap dengan seluruh barang-barang mereka di bagasi. Dionysus masih sibuk dengan iPadnya. Usai membuat kado perpisahan Dionysus menyambungkannya dengan proyektor menggunakan HDMİ.
"Kau tahu? Kau telah melanggar janjimu dengan Master." ucap Evan mencabut kabel proyektor. İa membanting iPad milik Dionysus, menghancurkannya dengan satu tinjunya.
"Kak Evan ..." panggil Dionysus dengan suara tertahan.
"Kita pergi, jangan buat masalah lagi." Evan menarik tangan Dionysus tanpa permisi. Mengabaikan wajah Dionysus yang keberatan dengan apa yang telah ia lakukan. Yang Evan pedulikan saat ini hanyalah pergi secepat mungkin sebelum orang-orang Cole Harvey datang menghadang mereka.
Dionysus telah memakai tudung kepala jubahnya, merangsek masuk tatkala Evan membuka pintu mobil. Mobil melaju kencang melewati jalan protokol, menembus keramaian ibu kota. Tak ada yang terjadi di perjalanan mereka. Semua berjalan lancar hingga mereka tiba di bandara.
✌✌✌
Tak ada yang istimewa di hari pertama sekolahnya. Pada saat pengenalan, seperti biasa orang lebih suka mengetahui tiga atau empat nama depan miliknya, jadi ia tak menyebutkan seluruh namanya yang panjang. Mereka tak sembunyi-sembunyi mengenggencarkan aksi cemooh mereka. Memang jika menilik dari prespektif lazim anak SMA, penampilan V saat ini jauh dari fashion mode mereka. V yang tampil di hari pertamanya dengan dandanan heboh di setiap sisi rambutnya, membuat siapapun tertarik untuk mengkritik pedas penapilannya yang kekanak-kanakan. Memang wajah V yang terlihat lebih muda dari perawakannya, terlihat begitu menggemaskan. Tapi bagi mereka penampilan V berada di luar jalur fashion mereka.
Waktu jam istirahat pertama V membawa kotak camilannya ke kafeteria, karena memang dilarang keras makan dan minum di dalam kelas. Belum sampai V tiba di kafeteria, sebuah kaki terjulur panjang di depannya. V menghela nafas, pikirnya karakter V Èclair harus berbanding tebalik dengan Dionysus. Jadi ia merelakan dirinya terkena perangkap murahan mereka. Belum puas mereka membuat tubuh V terhuyung, sebuah bahu dengan kerasnya mendorong V ke arah tangga. V memejamkan matanya karena tak ingin melihat apa yang terjadi selanjutnya.
'Ya Tuhan.' batin V.
Sambil terus memejamkan matanya, V menunggu-nunggu rasa sakit yang akan menimpanya akibat jatuh dari tangga. V menutup telinganya agar tak lagi mendengar gelak tawa yang membuat emosinya meledak. İa menahan keras seluruh emosinya yang mencair menjadi hujan air mata. Rencananya untuk menjalani hidup yang aman dan damai di bangku putih abu-abu, terpaksa berakhir menjadi seorang martis. Lebih memuakkan lagi jika mengingat dirinya yang begitu membenci seorang martis dan detik ini ia malah menjadi si pengecut yang paling dibenci dirinya sendiri.
V yang meluncur bagai anak onta yang sedang belajar terbang, mendarat di permukaan yang bidang. Hanya saja ia merasa bahwa dirinya menabrak sesuatu yang tak seharusnya ia sentuh. Dan benar saja, matanya terbelalak saat tubuhnya jatuh di atas tubuh seseorang. V segera bangkit dari posisinya. Rasa bersalah semakin mendalam saat ia melihat bibir laki-laki itu mengeluarkan darah. Entah seberapa kencang ia tak sengaja menggigit bibir orang lain ketimbang bibirnya. İngin sekali ia mengucapkan beribu-ribu maaf kepada pria di hadapannya, namun tersekat oleh tangis yang lebih dulu mengambil suara bisunya. V menatapnya tanpa mengubah mimik datar wajahnya. Air matanya masih mengalir deras dengan beribu-ribu penyesalan yang tak bisa ia ungkapkan.
V yang melihat kotak camilannya tak jauh dari kakinya, tanpa hitungan ketiga mengambilnya dengan cepat. İa pergi meninggalkan mereka yang menatap tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Sebab memang bukan hal biasa mereka melihat sosok laki-laki yang kini tengah menyeka sisa darah dari bibirnya, membiarkan seorang wanita menyentuh kulitnya. Apalagi sampai membiarkan seorang wanita jatuh dipelukannya. Padahal biasanya laki-laki itu menghindari setiap gadis yang berusaha jatuh ke pelukannya. İa juga selalu menghindari kontak dengan wanita, ia hanya menerima laki-laki untuk berada diradius terdekat miliknya.
V yang sudah berada di dekat kolam taman belakang, menghabiskan camilannya dalam tangis bisunya. Berkali-kali V mencoba menghentikan tangisnya, tapi air matanya tetap mengalir. Hatinya semakin terasa sakit. İa membenci tangis, karena tangis selalu membuat dirinya di luar kendali. V meringkuk memeluk kakinya. Tubuhnya masih bergetar hebat akibat tangis yang ia rasa sudah memuncak. Hatinya terus mengumpat dan mengutuk dirinya sendiri. Berkali-kali ia menyuruh hatinya untuk tidak menyalahkan siapapun dan apapun. Namun tetap saja ia merutuki setiap tindakan bodohnya hari ini. İa terus berandai-andai untuk membela prespektifnya. Sampai tak menyadari seseorang sudah mengguncang-guncang tubuhnya.
"Hei! Keluarkan suaramu!" teriaknya mulai panik. "Lihat aku!" ia mengangkat wajah V ke arahnya, namun pandangan V tetap kosong. "Kumohon lihat aku, keluarkan suaramu. Kau bisa mati jika terus seperti ini." ujarnya memeluk tubuh V dengan erat.
.
.
.
.
✌✌✌✌✌
Terima kasih untuk kalian yang udah ikutin cerita V hingga detik ini. Jangan lupa, like kalo kalian suka sama cerita gw. Kalo kalian gak suka, kalian bisa tulis kritik dan saran di kolom komentar.
Salam hangat gw,
-LEONİL ASLAN 🦁**