
Satu setengah jam yang lalu saat Cèllina mengendap-endap keluar dari kamarnya. İa sebenarnya tak tahu alasan mengapa dirinya dilarang keluar kamar oleh Zac. Tak pernah ada yang menjelaskan alasan ia dilarang untuk keluar kamar semenjak V membawa temannya ke rumah itu. Zac hanya bilang, jika ia masih menyayangi nyawanya, maka ia harus mematuhi perintah Zac. Saat di koridor dekat dapur, ia tak sengaja bertemu dengan Rozita, atau lebih tepatnya tertangkap basah oleh Rozita.
"Hi Rozita!" sapa Cèllina bersikap senatural mungkin. İa berharap Rozita tak menyadari kesalahannya, sehingga tak akan ada yang melaporkannya kepada Zac. Sebisa mungkin ia bersikap normal tanpa merasa bersalah walau keringat dingin mulai mengalir deras di tubuhnya.
Rozita menghela nafasnya lega, ia menyodorkan buku display pada Cèllina. "Kau pasti diminta oleh Kapten untuk membawakan berkas ini bukan? Syukurlah, berarti benar berkas ini memang sangat penting." kata Rozita mengambil paksa tangan Cèllina karena tak ada tanggapan. "Oh, bawa makan siang ini juga. Kapten memang tidak terbiasa makan masakan luar." tambah Rozita sambil memberikan goodie bag berwarna coklat padanya.
Mau tidak mau Cèllina mengiyakan ucapan Rozita dan di sinilah ia sekarang. Di dalam sebuah gedung pencakar langit di jalan Sagitarius. Cèllina menatap sekeliling. İa memperhatikan setiap sudut ruangan di sekitarnya. Banyak manusia berlalu lalang di hadapannya dengan jas tuxedo dan blazer terbaik mereka. Namun tak ada yang memperhatikan kebingungannya dalam menentukan arah, kecuali seorang wanita cantik berwajah Asia yang duduk di balik meja resepsionis. Wanita itu tersenyum sambil memberi salam sesuai prosedur yang berlaku.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya seorang resepsionis setelah Cèllina menjawab sapaannya..
"Bisa kau panggilkan Zac?" tanya Cèllina yang membuat wanita itu langsung mengernyitkan dahinya seakan bertanya 'siapa'. "Aku tak tahu ia bekerja di bagian apa tapi yang pasti ia masih muda dan tingginya sekitar 185 cm." kata Cèllina lagi sedikit ragu-ragu. İa tak tahu apakah informasi tambahannya akan membantu wanita resepsionis itu mengenali Zac atau tidak.
"Maaf Nona, aku tidak tahu siapa yang kau maksud." kata wanita resepsionis dengan wajah penyesalannya karna tak dapat membantu.
Cèllina tampak berpikir begitu keras agar ia dapat bertemu dengan Zac, "Kalau tidak salah ingat, nama lengkapnya Zac Ewald." balas Cèllina tidak mau menyerah, sebab ia datang untuk mengantarkan berkas dan makan siang milik Zac. İa juga berharap kebaikannya akan membawanya terbebas dari hukuman.
"Apa Nona sudah membuat janji temu dengan Direktur Ewald?" tanya wanita itu masih dengan nada ramah.
"Tidak belum." jawab Cèllina, "Tapi bisakah kau menghubunginya untuk memberitahu kedatanganku?" ia memberi sedikit usul, tak ingin usahanya untuk terbebas dari hukuman sia-sia.
"Maaf Nona, Direktur Ewald bukan sembarang orang yang bisa anda temui begitu saja." bantah wanita itu masih bersikap ramah. Namun Cèllina bisa melihat air wajahnya mengungkapkan hal yang sebaliknya.
"Kau bisa menyebutkan namaku. Zac pasti langsung mengenalinya."
"Maaf Nona tidak bisa, anda harus membuat janji temu terlebih dahulu."
"Apa susahnya tanganmu untuk menghubunginya? Aku harus bertemu dengan Zac." kata Cèllina lantang, amarahnya terpacu karena penolakan wanita itu.
"Maafkan saya Nona, saya hanya menjalankan prosedur yang ada." kata wanita itu membela diri. İa juga sudah terpancing amarahnya karena Cèllina memaksa bertemu Zac.
"Menunggu janji temuku dikonfirmasi oleh kalian hanya akan membuat makananku basi! Katakan pada Zac bahwa Cèllina datang mencarinya!" İa tak menyangka bertemu dengan Zac di luar rumah harus memakan prosedur yang begitu rumit.
Wanita Asia itu sudah menekan tombol cepat untuk memanggil seseorang. Awalnya Cèllina merasa senang sebab permintaannya diindahkan oleh wanita itu, namun tidak sampai satu menit dua orang petugas penjaga keamanan datang menghampiri meja resepsionis. Cèllina benar-benar marah, merasa ia ditolak dengan cara tidak terhormat seperti itu.
"Maaf Nona, tolong jangan membuat keributan di kantor kami." kata salah seorang penjaga keamanan sambil menarik tangan Cèllina.
"Apa-apaan ini?!" sergah Cèllina tak terima. İa tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya, namun ia merasa dirinya bergerak di luar kendalinya.
Saat laki-laki itu menggenggam tangannya, tangan kirinya bergerak dengan cepat. İa menggunakan goodie bag coklat untuk memukul wajah laki-laki itu. İa juga menarik tangan lelaki itu, mengangkat tubuhnya hingga ia menukik ke lantai. Sedangkan lelaki satunya lagi bingung melihat temannya meringkuk kesakitan di lantai. Kaki kanan Cèllina bergerak tanpa diperintah, menendang kuat-kuat kearah perut dan wajah lelaki itu bertubi-tubi. Tendangan memutarnya berhasil menjatuhkan tubuh laki-laki itu.
Suara pekikkan semakin nyaring terdengar saat petugas keamanan terakhir berhasil dirobohkan oleh Cèllina. Tindakan Cèllina membuat kacau lantai basement. Petugas keamanan lainnya datang semakin banyak mengepung Cèllina. Sebagian orang yang ketakutan memilih mengungsikan diri ke tempat yang lebih aman, sedangkan sebagian yang lain memilih menonton sebab penasaran dengan apa yang terjadi selanjutnya.
Pukulan Cèllina datang bertubi-tubi dengan cepat, membuat mereka kesulitan melihat gerakan Cèllina. Tubuhnya bergerak begitu gesit dan lincah. İa merasa tertangtang oleh dirinya sendiri, seberapa hebatkah dirinya di masa lalu. İa jadi semakin penasaran dengan masa lalunya.
Di sisi lain Zac yang baru tiba dari supervisi proyek terbarunya dikejutkan oleh kekacauan yang dibuat oleh Cèllina. "Hentikan!" teriak Zac dengan lantangnya hingga menggema ke sudut ruangan.
"Apa yang terjadi? Dan mengapa kau malah berada di sini? Bukankah sudah ku bilang untuk tetap berada di kamarmu?" tanya Zac yang dapat didengar oleh banyak orang. Kalimatnya melahirkan banyak asumsi-asumsi miring bermunculan.
"Aku ingin mengantarkan berkasmu yang tertinggal." jawab Cèllina masih membela dirinya. "Ah, aku juga membawakan makan siang untukmu. Rozita bilang kau tidak biasa makan masakan luar." kata Cèllina yang malah membuat Zac melipat tangannya di atas dada. İa juga menaikkan satu alisnya, "Mereka mengusirku padahal aku sudah bilang mengenalmu, tapi mereka tidak percaya padaku."
"Sergio, bereskan kekacauan ini. Beri mereka pengobatan yang layak dan putuskan hubungan kerja mereka pada perusahaan tanpa pesangon sepeserpun. Bila mereka perotes perusahaan bersedia menggunakan jalur hukum untuk menyelesaikan masalah ini." perintah Zac yang langsung mendapat rintihan dari karyawannya.
"Direktur? Bukankah ini agak berlebihan?" tanya seorang kepala divisi lapangan merasa keberatan. Sebenarnya bukan hanya ia, Cèllina dan yang lainnya juga merasa keberatan, apa yang diputuskan Zac sedikit berlebihan.
"Aku melakukan ini bukan secara pribadi, apa yang telah mereka lakukan akan berdampak pada kemajuan perusahaan ini ke depannya. Jika perlakuan mereka seperti ini, bagaimana jika ternyata dia adalah klien penting perusahaan? Kita bukan hanya akan kehilangan proyek besar tapi juga bisa kehilangan reputasi, nama baik perusahaan akan jatuh. Hanya tinggal menunggu tanggal perusahaan ini dikatakan pailid oleh pengadilan." jelas Zac. Usai Zac menjelaskan tak ada lagi yang berani meragukan keputusannya.
✌•✌•✌
"Apa kau sempat membaca isi berkas ini?" tanya Zac yang sudah membuka isi berkas yang dibawa oleh Cèllina.
"Tidak, itu pasti menyangkut pekerjaanmu. Aku tidak tertarik." jawab Cèllina tanpa mengalihkan perhatian dari makan siangnya.
"Jadi, kapan kau akan kembali mengingat siapa dirimu?" kata Zac bangkit dari duduknya. İa berjalan pelan ke arah Cèllina sambil membawa berkas coklat itu di tangannya.
Kalimat Zac murni membuat nafsu makan Cèllina menghilang. Mengingat kembali siapa dirinya berarti masa ia harus pergi meninggalkan rumah yang kini ia tempati telah tiba. Membayangkannya saja sudah melukai perasaannya. Lucu memang saat sakit hati dengan pikiran sendiri.
"Belum." jawabnya cukup lama. "Aku belum mengingatnya." katanya lagi, ia menutupi kecemasannya dengan mengaduk-aduk makanannya.
"Mau aku bantu agar kau ingat?" tanya Zac dengan seringai liciknya. İa melambai pada Sergio untuk meninggalkan mereka berdua.
Belum sempat Cèllina menjawab, Zac sudah lebih dulu membacakan riwayat hidupnya. "Nama lengkapmu Cèllina Countess benar?" tanya Zac yang tak mendapat jawaban dari Cèllina, "Atau Lakhaesa Seymour nama sebelum akhirnya kau dijual oleh orang tuamu ke rumah bordir. Kau menghabiskan sepuluh tahun masa remajamu sebagai seorang pelayan seksuil. Kau kerap disapa dengan panggilan Eden oleh para klienmu dan di tempat itu juga kau bertemu dengan seseorang yang akhirnya mengubah jalan hidupmu, Eduardo Stevenson."
Perlahan kepingan masa lampau yang selalu ingin dilupakan olehnya bermunculan bagai telegram. Semakin Cèllina menolaknya, semakin tajam kepingan itu menusuk-nusuk kepalanya. Jika saja ia memiliki dua kepala, mungkin ia sudah menghancurkan satu kepalanya untuk meringankan rasa sakitnya.
"Ed begitu menyukaimu, ia menginginkanmu untuk dirinya saja. Kau begitu disayang oleh Ed. Dari Ed kau belajar banyak hal, termasuk membalas rasa sakitmu terhadap keluargamu dan Ed juga yang membawamu pada organisasi terkutuk itu, Noir. Kau memanfaatkan rasa cinta Ed sebagai batu loncatan untuk kebebasanmu. Awalnya aku berpikir Ed murka karena penolakanmu, sehingga ia berusaha agar kau kembali bergantung padanya. Namun ternyata analisisku salah, kau terlalu mengetahui banyak hal tentang dirinya, kau menjadi ancaman baginya."
Cèllina tampak semakin pucat, ia menolak seluruh ingatan masa lalunya. Semakin ia mengingatnya, semakin ia ingin melupakan masa lalu kelamnya. Kini ia mensyukuri masa-masa dirinya tak mengingat masa silam. "Hentikan!" rintihnya yang sudah kesekian kalinya.
"Kau harus mengingatnya Cèllina! Kau harus ingat bahwa dirimu adalah Lady Assassin!" ujar Zac terus mengentak-entak ingatan Cèllina. Sedangkan Cèllina terus bergetar karena udara dingin yang terus mencekam tubuhnya.
Rasa takut yang merangsek semakin lama semakin berkembang biak. Kekhawatirannya terus bercabang menekan jiwanya. Jika dahulu ia takut bahwa Zac akan mengusirnya, kini rasa takutnya tidak hanya berhenti sampai di sana. İa takut jika Zac akan membenci dirinya sama seperti ia membenci dirinya sendiri. İa benci pada dirinya yang lemah di masa lalu, hingga harus membuat coakan yang begitu dalam untuk catatan hidupnya. Tangisnya pecah ruah karena pilu telah mengingat kembali rasa sakit yang terus bersarang di dalam hatinya.
"Apa kau akan mengusirku?" tanyanya dengan terbata-bata. Suaranya terdengar begitu serak.
Meski pertanyaan itu menyakitkan bagi Cèllina, namun tidak bagi Zac. İa justru tertawa terpingkal-pingkal, "Dari sekian banyak pertanyaan dalam dirimu kau malah bertanya 'apa aku akan mengusirmu?', itu lucu sekali."
"Aku tidak menyuruhmu untuk mengkritik pertanyaanku, kau hanya perlu menjawabnya, Sialan!" gerutu Cèllina karena Zac malah menertawakan pertanyaan yang selalu membuatnya sakit hati dengan pikirannya sendiri.
"Baiklah, sebelum aku menjawabnya. Aku ingin kau menjawab pertanyaanku terlebih dahulu." kata Zac. Tak ada tanggapan dari Cèllina untuk beberapa saat, "Apa kau mau ikut bersamaku? Mengabdikan dirimu untuk keluarga Èclair?" tanya Zac yang akhirnya membuat Cèllina tersipu malu.